BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
LOST MEMORY


__ADS_3

HARI KE-9 DI RUMAH SAKIT


"Gimana, Dok?" tanya Rayla cemas.


"Tubuh pasien sudah membaik. Namun—." Dokter Farah sedikit menundukan pandanganya.


"Namun apa, Dok?"


Dokter Farah menepuk pundak Rayla. "Namun, pasien mengalami Amnesia, Bu. Dia hilang ingatan. Mungkin karena benturan yang sangat keras sehingga terjadinya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Sistem limbik tersebut berperan dalam mengatur emosi dan juga ingatan seseorang," terangnya.


Rayla mengerutkan dahinya. Dia terkejut dengan apa yang di jelaskan dokter Farah. "Tap-Tapi, orang itu bisa sembuh, Dok?" tanyanya penuh kecemasan.


"Bisa. Kemungkinan besar bisa, Bu," jawab dokter Farah sedikit membuat Rayla hilang gelisah.


"Ibu bisa membantunya dengan Terapi okupasi. Terapi yang mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada. Dengan begitu, semoga saja pasien segera mendapatkan ingatanya kembali," sambung dokter Farah.


"Baiklah, Dok. Boleh saya menemui pasien, Dok?" tanya Rayla.


Dokter Farah tersenyum. "Silakan, Bu. Tapi saya sarankan untuk pelan-pelan berbicara kepada pasien. Karena dia pasti akan merasa bingung dengan kehadiran Ibu Rayla."


"Terima kasih, Dok," ucap Rayla sebelum beranjak masuk keruangan Tristan dirawat.


Didalam ruangannya, Tristan sedang disuapi oleh seorang suster. Tristan sudah bisa mengangkat tubuhnya hingga duduk di atas kasur pasien. Namun, kesehatannya belum pulih sepenuhnya.


Di bagian kepala, masih ada balutan perban yang melingkari batok kepalanya. Dan juga di lengan sebelah kiri masih ada luka yang belum kering.


"Permisi, Sus," kata Rayla setelah berada di dalam ruangan Tristan di rawat.


"Mari silakan, Bu," jawab suster cantik itu dengan ramah.


Tristan memandang asing seorang perempuan cantik yang ada dihadapannya. "Siapa kamu?" tanya Tristan apa adanya.


Rayla menghela nafas. Dia sempat melirik suster yang ada di sebelah kanannya. "A-Aku, Rayla," jawabnya memperkenalkan diri.


Keresahan dalam hati gadis itu belum hilang sepenuhnya. Rasa takut juga masih ada sedikit menganggu benaknya. Apalagi, ditambah dengan kasus baru. Dimana laki-laki itu mempunyai penyakit baru setelah sadar dari koma panjang.


"Silakan, Bu. Mari, saya tinggal dulu," kata suster cantik itu berpamitan.


Rayla pelan-pelan mendekati Tristan yang sedang menatapnya.


"Rayla," sapa laki-laki separuh baya yang itu adalah ayahnya. Yang baru saja tiba di ruangan Tristan.


Gadis itu menoleh ke arah ayahnya. "Pa," katanya dengan nada pelan. Dan kemudian ayah Rayla mendekati anaknya.

__ADS_1


"Pa, orang ini..."


"Iya, papa sudah mendengar penjelasan dokter Farah, Nak," sela ayah Rayla setengah berbisik ke telinga anaknya.


"Siapa kalian?" tanya Tristan merasa heran ada dua orang asing yang sedang mengunjunginya.


"K-Kami yang menolong anda dari kecelekaan, Mas," jawab papanya Rayla.


"Oh. Kalau begitu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan juga Ibu karena sudah membantu saya," ujar Tristan.


Ayah Rayla menoleh ke arah anaknya.


"I-Iya, Mas. Sama-sama," balas Rayla. "Bagaimana keadaanya, Mas?" sambungnya.


Tristan memegang kepalanya yang masih terasa sakit. "Tubuh saya sudah sedikit membaik, Bu. Tapi, saya tidak ingat apa-apa. Bahkan nama saya saja, saya tidak tau," jawabnya.


"Ngga apa-apa, Mas. Pelan-pelan saja. Kami nanti akan membantu Mas memulihkan ingatan Mas kembali," kata papanya Rayla memberi sedikit semangat kepada Tristan.


"Terima kasih, Pak, Bu," ucapnya dengan ramah.


Rayla dan ayahnya mengangguk dengan tersenyum.


Suasana di ruangan itu sudah sedikit mencair. Rayla sudah sedikit lega karena melihat laki-laki yang hampir membuatnya masuk penjara, kini, dia sudah sadarkan diri. Walaupun, laki-laki itu tidak mengenali siapa dirinya.


Tristan memang tidak mengenali siapa dirinya. Dia seperti bayi yang baru lahir kedunia ini. Semua yang ada di sekitaran nampak seperti baru untuknya.


"Silakan, Mas," jawab ayah Rayla.


"Boleh saya tau dimana keluarga saya? siapa tau itu bisa membantu ingatan saya kembali dengan cepat."


"K-Kalau itu... Kami tidak tahu, Mas. Di saat kecelekaan itu terjadi—. K-Kami hanya membawa tubuh mas saja. Dan—. Kami tidak menemukan identitas Mas," tutur Rayla sedikit gugup menjelaskan kepada Tristan.


"Ya mungkin saja terjatuh di tempat kejadian, Bu. Saya tidak bisa mengingat apa-apa. Itu pun saya diberi tahu dokter, kalau saya baru sadar dari koma akibat kecelakaan mobil," ujar Tristan.


"Pa, nanti setelah dia sadar, dia mau tinggal dimana?" tanya Rayla berbisik di telinga ayahnya.


"Di rumah kita," jawab papanya Rayla cepat.


"Kenapa harus di rumah kita, Pa?"


"Lantas, mau tinggal dimana? kita aja nggak tau dimana keluarganya."


"Tap-Tapi, Pa..."

__ADS_1


"Udah, kamu harus bertanggung jawab sampai orang ini kembali mengingat semuanya," seru ayahnya Rayla.


"Jangan sampai warga-warga itu tahu, kalau pemuda ini hilang ingatan. Kamu mau urusannya menjadi semakin panjang," sambung ayah Rayla menegaskan.


"Hheeuufs..." Gadis itu membuang nafas. Dan menyibak rambutnya yang lurus sebahu.


"Lantas, kita mau panggil dia siapa?" tanya Rayla.


Laki-laki paruh baya itu mengerutkan keningnya. Sedikit berpikir. "Tristan. Kita kasih nama dia, Tristan," jawabnya.


"Ya udahlah terserah papa aja," balas Rayla pasrah.


Sementara itu, Tristan hanya memperhatikan dua malaikat penolongnya yang sedang berbicara bisik-bisik dari tempatnya.


****


Malamnya, Tristan sudah diizinkan dokter Farah untuk kembali pulang. Setelah urusan administrasi selesai, Rayla, Papanya Rayla dan Tristan masuk kedalam mobil pulang ke rumah gadis itu.


Aduh hari-hari gue akan semakin susah sepertinya nih, keluh Rayla dalam hati dengan melirik ke arah Tristan yang duduk di kursi sebelahnya dalam perjalanan pulang.


"Nah, ini rumah kami, Mas," kata papanya Rayla setelah membuka pintu utama dari rumah yang berluaskan 1000 meter persegi di kawasan jakarta selatan.


Tristan yang sudah kembali dalam hidupnya yang baru. Dia menyapu sekeliling ruang tamu yang bisa masuk lebih dari 7 buah mobil sedan. Sangat luas. Indah. Dan sangat artistik dengan lukisan-lukisan bersejarah di jaman perang kuno terpampang besar di dinding-dinding yang terbuat dari material keramik. Terlihat sangat unik.


"Kamu mau kemana, Rayla?" tegur ayahnya ketika melihat anaknya yang melenggang bebas begitu saja.


Rayla menghentikan langkahnya. Dan menoleh kebelakang. Ke arah ayahnya dan Tristan yang masih berdiri di depan pintu.


"Mau kekamar lah, Pa," jawabnya sekenanya.


"Kamu ajak sekalian dong Mas Tristannya," ujar papanya Rayla.


"Ha! maksudnya dia tidur di kamarku juga." Rayla melongo mendengar itu.


"Ngaco kamu. Ya nggak lah. Ajak Tristan ke kamarnya. Kita kan masih punya banyak kamar di lantai dua," terang papanya Rayla.


"Heeufs... kenapa jadi aku yang ribet," gerutu Rayla pelan.


"Ayo." Rayla mengajak Tristan. Namun, Tristan masih diam. Dia masih belum selesai menatap sekeling pemandangan indah yang memanjakan matanya.


"Mas Tristan. Ayo," seru Rayla dengan suara sedikit tinggi.


"Nak Tristan," tegur papanya Rayla. "Mari, biar diantar sama anak saya ke kemarnya Mas."

__ADS_1


"Iya, Pak. Terima kasih," balas Tristan dengan wajah sedikit ceria.


"Nah ini kamarnya Mas. Ya udah saya ke kemar dulu, ya," kata Rayla setelah mengantar Tristan sampai ke ruangan yang sepertinya tidak pantas di sebut kamar di dalam rumah. Mungkin lebih tepatnya, kamar hotel bintang lima.


__ADS_2