BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
PERJODOHAN MANTAN KEKASIH


__ADS_3

KUNINGAN, JAWA BARAT.


"Sudah lah, Aulia. Lebih baik kamu lupakan Tristan, ya. Ibu juga sudah memaafkan keluarga kamu. Ayahmu benar, Lia. Kalau Tristan memang tidak layak untuk kamu."


Gadis itu menunduk nangis. Air matanya membasahi pipinya yang mulus alami. Aulia, meratapi hatinya yang luka.


"Tapi aku masih mencintai Tristan, Bu. Aku nggak mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan bapak, Bu," ujar Aulia sesegukan.


Ibu paruh baya yang merupakan ibu kandung Tristan mengusap lembut kepala gadis cantik berhijab itu.


"Sabar, Nak. Kamu sebagai anak haruslah menurut dengan orang tuamu. Orang tuamu pasti punya penilaian tersendiri untuk kebaikan kamu, Lia," tuturnya.


"Aulia!" pekik seorang laki-laki dengan suara lantang terdengar keras dari luar.


Deegh!


Membuat debar jantung gadis itu terkejut.


"Bapak," gumamnya.


"Aulia! keluar kamu. Bapak tau kamu ada di dalam rumah ini."


Suara yang bising, membuat beberapa warga kampung keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka melihat seorang laki-laki paruh baya, menggunakan topi bulat dan memakai kaos. Serta cerutu menempel di jari-jari tangannya. Sedang berteriak memanggil anaknya.


"Lia, bapakmu sudah marah-marah. Sebaiknya kamu pulang ya, Nak," seru Ibunda Tristan mengingatkan.


Dengan langkah berat, gadis itu keluar dari gubuk Tristan.


Wajah laki-laki paruh baya itu mengerut geram, melihat anaknya keluar dari pintu rumah laki-laki yang sangat di bencinya.


PLAK!!!


Tanpa perasaan, laki paruh baya itu menampar anaknya di depan rumah Tristan.


"Astagfirullah!" ucap Ibunda Tristan dengan mengelus dada.


Gadis itu berlari dengan menangis pulang ke rumah. Dia menahan pipinya yang sakit dengan telapak tangan kanan.


****


"Aulia! buka pintunya!" pekik Bapaknya dari depan pintu kamar anaknya.


DDAARRR!!! DDAAARR!!!


Bapak Aulia mengedor pintu kamar anaknya dengan sangat keras.


"Astaga, Bapak! ada apa, Pak?" tanya perempuan paruh baya yang merupakan istri dari bapaknya aulia.


"Lihat itu kelakuan anakmu! bikin malu saja!"


"Ya Allah gusti. Memangnya Aulia kenapa, Pak?"

__ADS_1


"Berani-beraninya dia masih berhubungan dengan pemuda miskin itu!" seru-nya dengan nada tinggi.


"Ya Allah, Pak. Jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga Tristan anaknya baik, Pak," ujar Suminah lembut menasehati suaminya.


"Woalah. Ibu kok malah membela dia. Pokoknya Bapak tidak akan merestui Aulia berhubungan dengan pemuda miskin itu." Narendra, selaku bapaknya Aulia semakin geram. Dia meninggalkan istrinya dan pergi ke ruang depan.


Aku harus mendesak keluarga Benny untuk meminta putranya menikah dengan Aulia segera, gumamnya bersamaan dengan kebulan asap cerutu keluar dari mulutnya.


Didalam kamar, gadis itu menangis dengan menutup wajahnya tenggelam di dalam bantal. Dia banjir dengan air mata.


"Lia, buka Nak. Ini ibu, Nak." Suminah mengetuk lembut pintu kamar anaknya.


CEKLEK ... KREK ... pintu terbuka.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibunda setelah berada di dalam kamar anaknya.


"Lia nggak mau menikah dengan anaknya pak Benny, Bu," jawab Aulia dengan sesegukan.


Suminah mengusap air mata yang mengalir dari pipi anaknya. "Sabar ya, Nak. Coba nanti Ibu bicara sama bapakmu."


"Lia hanya ingin menikah dengan Tristan, Bu," sambungnya.


"Hheeeufss ... " Suminah menghel nafas. Dia merasa iba melihat anaknya menderita hanya karena cinta. Hanya karena kemauan keras bapaknya.


Gadis itu menangis, meluapkan kesedihannya di dalam dekapan ibunya.


Kenangan cinta Aulia bersama Tristan memang membuat kisah tersendiri untuk gadis kampung pemilik wajah ayu. Salah satu bunga desa yang banyak diperebutkan laki-laki tampan di desa sukarapih ini.


Keegoisan Narendra, selaku bapak dari gadis itu yang harus membuat hubungan dua sejoli ini kandas di tengah jalan.


****


Esoknya, Narendra mengundang keluarga Benny Pusaka datang kerumahnya untuk melamar Aulia. Dua laki-laki berkumis itu terlihat asik melempar kata saling berbincang ria.


Benny Pusaka datang bersama anak tunggalnya, Jaka. Dan istri mudanya, Nadia, juga turut hadir memeriahkan keramaian di rumah Narendra Permana.


"Hahaa—. Jadi bagaimana, Nak Jaka. Apa sudah siap untuk berumah tangga?" tanya Narendra memastikan di tengah-tengah obrolan santai yang sedang mengalir.


Pemuda berkacamata dengan rambut sebahu, berkulit coklat, dan bermata sipit ini, menjawab, "Siap, Om. Jaka memang sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, Om. Om tau kan, usaha Jaka dimana-mana. Ya, pastinya Aulia nggak akan sengsara kalau hidup dengan Jaka, Om," ujarnya meyakinkan ayah Aulia.


"Hahaa—. Memang, pilihan Om nggak pernah salah." Narendra tertawa bahagia.


"Bu, mana anakmu! Suruh dia keluar. Jangan ngerem aja di kamar. Suruh kesini. Katakan, calon suaminya menunggu," seru Narendra kepada istrinya yang baru menampakan diri keluar dari kamar.


Perempuan paruh baya itu menghampiri Aulia yang sedang meratap nangis di dalam kamar.


"Hahaa—. Biasa itu. Anak perawan suka malu-malu kalau bertemu calon suami. Hahaha—." ujar Narendra kepada keluarga Benny.


"Nak, Bapakmu menyuruh ibu memanggilmu. Ada keluarganya Pak Benny di ruang tamu, Nak," kata Suminah berbicara lembut kepada anaknya.


"Aku nggak mau keluar, Bu. Aku nggak mau menikah dengan Jaka. Aku hanya ingin menikah dengan Tristan, Bu," ujar Aulia dengan menangis.

__ADS_1


"Iya, Nak. Tapi kemauan bapakmu itu keras. Ibu sudah berbicara, tapi tetap saja tidak bisa mempengaruhi bapakmu. Dia bersikeras untuk tetap menikahkanmu dengan anaknya pak Benny."


"Aulia!" seru Narendra dengan geram dari pintu kamar gadis itu. "Kanapa masih belum ganti pakaian?"


"Aku nggak mau menemui mereka, Pak. Aku nggak mau dinikahkan dengan Jaka," tegas Aulia.


"Woalah. Berani kamu melawan Bapakmu!" Narendra mendekati anaknya yang duduk di atas pinggiran tempat tidur.


"Cepat ganti bajumu dan temui keluarga pak Benny segera!" perintahnya dengan keras.


"Bapak! jangan keras-keras begitu sama anakmu, Pak," seru Suminah mengingatkan suaminya.


"Woalah. Ibu sama anak sama saja. Biarkan saja, Bu. Anak ini memang harus dikeraskan. Kalau nggak semakin membangkang dia."


"Sudah, ganti bajumu, Lia. Dan temui keluarga pak Benny, ya Nak," ujar Suminah kepada anaknya.


Dengan isak tangis. Dengan terpaksa, gadis itu menuruti kemauan bapaknya.


****


JAKARTA


HARI KE-6 DI RUMAH SAKIT.


Gadis itu tertidur lelap di atas kursi panjang di dalam ruang ICU. Lelah menunggu pemuda yang tak kunjung sadar.


Rayla terpaksa harus mengambil cuti kuliah karena tanggung jawab yang menuntutnya harus selalu ada di samping Tristan. Laki-laki yang ditabrak oleh mobilnya beberapa hari yang lalu.


"Aaaaaaa ... " Tristan mulai bergumam. Bibirnya mulai sedikit bergerak. "Aaaaa ... "


Rayla rupanya mendengar gumaman Tristan yang pelan. Dengan cepat dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Tristan.


"Bagaimana, Dok?" tanyanya berharap-harap cemas.


"Syukur, Bu. Pasien sudah sedikit siuman," ujar dokter Farah membuat Rayla mulai bernafas lega.


Gadis itu mengucap syukur dengan mengelus dada.


"Namun, pasien belum pulih benar. Mungkin 2 atau 3 hari lagi, baru pasien bisa di ajak sedikit berbicara," tutur dokter Farah menjelaskan kepada Rayla.


"I-Iya, Dok. Tapi orang itu pasti akan sembuh kan, Dok?" tanya Rayla memastikan karena dia masih dalam ketakutan.


"Kemungkinan besar, iya. Doakan saja, Bu." Dokter Farah menepuk pundak Rayla. "Ya sudah, saya kembali memeriksa pasien yang lain ya, Bu."


"Iya, Dok. Terima kasih, ya," ucap Rayla dengan wajah yang sudah bisa sedikit senyum.


Gadis itu mendekat ke arah Tristan yang masih memejamkan mata. Dia memandang pemuda itu dengan rasa khawatir.


"Sayang. Tadi Papa ketemu dokter Farah di depan. Katanya, pemuda ini sudah siuman. Benar, Nak?"


"Oh. Iya, Pa. Baru aja dia siuman, Pa," jawab Rayla.

__ADS_1


"Syukurlah, Nak. Kalau begitu," ucap ayah Rayla.


__ADS_2