BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
PERKELAHIAN DI BAR MALAM


__ADS_3

"Aku jadi nggak enak sama Non Rayla."


Pemuda itu nampak gelisah. Mondar-mandir di taman belakang rumah milik bapak Aditya. Dia merasa cemas menunggu kedua tuan rumahnya selesai berdiskusi di lantai atas.


Kicauan burung Lovebird yang sedang bersahut-sahutan di dalam sangkar, menggelitik perasaan Tristan untuk memandangnya. Suara emasnya sedikit menenangkan dari hatinya yang resah.


Di pelataran halaman yang bernuansa hutan kecil, mencuri perhatiannya sejenak. Membuatnya merasa seperti ada di alam liar.


"Kalau aku jadi Non Rayla, pasti aku akan sangat betah di dalam rumah," gumamnya mengungkap kagum dengan pemandangan air yang mengalir dari dinding berbatu yang terletak di tengah-tengah taman ini. Yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan juga rumput gajah yang sangat terawat. Membuat taman belakang rumah Rayla semakin nikmat dipandang mata.


"Kalau kamu suka, kamu boleh selamanya tinggal disini, Tristan," seru pak Radhitya yang berdiri dibelakang Tristan sambil tersenyum.


"Ah, Pak. Umm—. Ma-Maaf, Pak. Saya cuma kagum saja dengan rumah bapak. Mewah. Besar. Tapi juga indah. Enak dipandangnya. Ya nyaman lah, Pak," tutur Tristan.


"Pak, saya jadi nggak enak dengan Non Rayla. Gara-gara saya, Bapak sama Non Rayla jadi bertengkar."


"Sebelum ada kamu, kami juga sering bertengkar. Ya namanya orang hidup, Nak. Pasti akan ada kalanya marah, sedih, bahagia, menangis, tertawa, apapun itu. Pasti akan kita lalui. Jadi." Pak Adytia merangkul Tristan sambil memandang ke arah air yang mengalir di kolam kecil. "Semua itu adalah hal wajar yang semua manusia pernah mengalaminya. Kamu tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang terjadi tadi, Nak," ujarnya membuat Tristan sedikit terenyuh hatinya.


"Iya, Pak. Saya cuma nggak enak aja sama Non Rayla. Saya nggak mau dianggap pengadu yang bukan-bukan."


"Iya, kamu memang pengadu Mas. Sebagai hukumannya, sekarang kamu antar saya kerumah Rina," sambar Rayla dengan penampilannya yang sangat mempesona.


"M-Maksudnya–." Tristan mendadak bingung. Dia melihat Rayla yang sudah rapih dengan pakaian pesta. Dan kemudian Tristan melirik ke arah Pak Adytia yang tersenyum. "Tolong jagain anak saya, Nak Tristan," ucapnya.


Apa yang dilihatnya ini, adalah sebuah ungkapan dari sikap seorang ayah kepada anaknya yang sudah mengizinkan Rayla untuk menghadiri acara temannya.


Tanpa bertanya lagi, Tristan sudah memahaminya. Dengan menggunakan setelan rapih. Pemuda tampan itu mengawal anak dari pengusaha besar di negri ini.


Hmm ... bolehlah, gumam Rayla dalam hati. Memuji Tristan yang gagah menggunakan kemeja lengan panjang dilapisi blazer dan celana jeans. Casual Formal. Itulah penampilan pertama Tristan yang terlihat keren di mata Rayla.


"Pa, Rayla jalan dulu, ya," ucapnya dengan mencium pipi papanya. Disusul Tristan yang mencium tangan bapak yang sudah menampungnya itu.


"Kok diem, Non? ayo jalan," kata Tristan menangkap mata Rayla yang memandangnya sambil memegang stir kemudi mobil di dalam garasinya.


****


DUG—JEDAG-JEDUG


Irama musik EDM menendang gendang telinga sangat kencang. Ratusan manusia berkumpul dalam satu tempat yang sama. Hembusan angin yang berasal dari mesin pendingin udara, terasa lekat menyengat kulit.


Lampu sorot warna warni memercikan segelintir cahaya di tempat yang remang ini. Tristan, salah-satu pemuda yang menjadi pusat perhatian para gadis seusia Rayla di dunia anak muda menghabiskan malam dengan berbotol-botol minuman.

__ADS_1


Wajah bingung karena merasa asing di tempat yang baru dijumpainya. Dan juga mata yang selalu memperhatikan Rayla tidak lepas dari tatapan seorang Tristan. Dia benar-benar amanah menjaga pesan papanya Rayla sebelum pergi tadi.


"Rayla," sapa seorang temannya yang baru saja datang. Rayla berada di tengah-tengah sekolompok para gadis di sofa ujung.


"Hei, Kimmy," sahutnya dengan memberi ciuman pipi kanan dan kiri. "Anak rantau dari negeri paman sam. Hahaha. Kapan datang, Kim?"


"Baru aja kemarin tiba di jakarta, Ray," jawabnya sedikit berteriak karena musik yang bersaingan dengan suaranya.


"Wah—. Makin cantik aja, Kim," puji Rayla yang tidak kalah kencang suaranya.


"Kamu sama siapa, Ray?" tanya Kimmy. Gadis pemilik bola mata berwarna biru pekat.


Rayla menunjuk Tristan yang duduk di sofa sebelah dengan jari yang sama dengan segelas minuman yang digenggamnya. "Sama dia," jawabnya.


Kimmy menatap takjub. Setelah mendapatkan matanya melihat pemuda tampan sedang duduk sendiri sambil menikmati segelas cola. "Serius! ganteng banget," ungkapnya dengan wajah berbinar.


"Itu mah, mantan kamu yang playboy itu tenggelam jauh, Ray," tutur Kimmy dengan senyum menggoda.


"Apa aku bilang, jauh gantengan Tristan kemana-mana," sela Rina menimbrungi dua sahabatnya yang sedang bergosip ria.


"Hahha. Apaan sih kalian," bantah Rayla karena tersipu malu.


"Kamu mau?" Rayla menunjuk Kimmy.


"Ambil sana. Aku rela—." ujarnya.


"Bener ya, kalau dia juga suka sama aku. Kamu nggak boleh iri. Hahaha," seru Rina dengan tertawa geli.


"Iri sama siapa?" sahut seorang laki-laki berjambang dengan dua orang temannya dari arah belakang Rayla. Dan membuat suasana menjadi hening seketika.


"Hadi!" Mata Rayla terkejut melihat sosok laki-laki itu.


"Hei, Rin. Hei, Kim," sapa laki-laki itu menegur dua sahabat Rayla.


Dan kedua sahabat Rayla hanya melambaikan tangan menjawab sapaan Hadi dengan senyum tipis.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Rayla dengan nada tidak suka.


"Memangnya kenapa? ini tempat umum. Semua orang bisa masuk kesini. Lagian, Risa yang mengundang aku kesini. Bener kan Ris," ujarnya sambil menunjuk Risa yang sedang duduk di sofa.


Rayla menoleh ke arah Risa dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Ya udah aku mau pulang," kata Rayla dengan menaruh gelas di atas meja.


"Woo—. Woo. Mau kemana?" Hadi menahan Rayla yang hendak meninggalkannya dengan memegang tangan Rayla.


"Lepasin!"


"Kamu kenapa sayang?" seru Hadi.


"Sayang! sayang!" ketus Rayla.


"Minggir! aku mau pulang!" seru Rayla dengan nada tinggi kepada Hadi yang menghalangi jalannya.


Namun, Hadi tetap menghadangnya. Dia semakin berani dengan memegang bokong Rayla.


PLAK!!!


"Jangan kurang ajar ya kamu!" bentak Rayla keras dengan meenampar laki-laki yang sudah kelewat batas itu.


Hadi memegang pipinya yang sakit. Dia mendengus geram.


"Siaaaalaa-." Tangan Hadi melayang. Ingin menampar gadis cantik itu. Namun, dengan cepat ditahan oleh Tristan dari belakang.


"Jangan kurang ajar sama perempuan, Mas," ucap Tristan dengan nada datar.


"*******! siapa lo! ikut-ikut campur urusan orang," hardik Hadi kesal.


"Saya bukan siapa-siapa, Mas. Tapi saya nggak suka kalau ada laki-laki yang kasar terhadap perempuan. Itu sama aja laki-laki itu pengecut, Mas," ujar Tristan semakin membuat Hadi naik pitam.


"Sialan!"


PRANG!!


Sebuah botol minuman beralkohol mendarat keras di kepala Tristan.


"Hadi! Stop!" pekik Rayla setelah melihat kucuran darah menetes dari kepala Tristan.


Kepalan tangan Hadi melayang lurus ke wajah Tristan. Namun, dengan cepat di tepis Tristan dan dibalas dengan pukulan swing. Tepat terkena di telinga Hadi.


"*******!" pekik Hadi kesakitan. Telinganya pengang karena terkena bogem mentah dari Tristan.


Perkelahian pun terjadi.

__ADS_1


__ADS_2