
Bus antar kota antar propinsi itu melaju dengan cepat membelah jalan. Melewati bukit-bukit yang berkelok-kelok dengan sedikit curam.
Tristan duduk di kursi pojok sebelah kanan. Dengan tas ransel yang dipegang di atas kedua pahanya. Dia memandangi daratan yang luas membentang.
"Mau kemana, Mas?" tanya seseorang di sebelah tempat duduknya.
"Ke Jakarta, Mas," jawab Tristan apa adanya.
"Hahaha. Masnya lucu. Ya jelas mau ke Jakarta. Kan bus ini arahnya ke Jakarta, Mas. Maksud saya, mau ke Jakarta mananya."
Tristan tersenyum tipis. "Iya juga ya, Mas. Oh. Kalau Jakarta mananya saya kurang tahu, Mas. Cuma saya diberikan alamat ini saja sama teman saya." Dia menunjukkan sebuah kertas yang dimana itu adalah alamat Bayu.
Laki-laki yang berada di sebelahnya, melihat tulisan yang tertera di kertas itu. "Oo alah. Alamat kita nggak beda jauh, Mas. Saya tau ini tempatnya dimana. Nanti Mas bisa sama-sama saya naik angkutan umum setelah bus ini sampai di terminal Jakarta," ujarnya.
"Ah serius, Mas? terima kasih sebelumnya," ucap Tristan dengan sangat ramah.
****
Lebih dari 10 jam perjalanan, bus kota tiba di terminal Jakarta. Hiruk pikuk kota Jakarta sudah mulai terlihat dari dalam terminal ini.
"Mas, Mas." Seseorang yang berada disebelah mencoba membangunkan Tristan yang terlelap tidur.
"Iya, Mas." Tristan mengucek kelopak matanya. "Ini sudah dimana, Mas?" tanyanya dengan menutup mulut karena menguap kantuk.
"Sudah sampai di Jakarta, Mas. Mari mas siap-siap. Biar sekalian bareng sama saya. Mas baru toh, di Jakarta," ujar orang itu.
"Iya, Mas. Terimakasih," ucap Tristan dengan merapihkan sedikit sweaternya. Mengusap wajahnya dan mencantolkan tas ransel di pundak.
Kemudian Tristan bersama laki-laki itu beranjak keluar dari bus kota menuju angkutan umum kecil perkotaan.
"Nah, kita naik angkot ini, Mas," kata pemuda itu. Dan Tristan menyusul di belakang. Menapakan kakinya masuk kedalam mobil kecil berwarna biru. Dengan nomer 121 yang tertera di kaca depan dari angkot itu.
Mereka duduk di kursi panjang. Saling berhadap-hadapan. Diujung pojok dekat kaca belakang mobil.
"Nah, nanti. Di pemberhentian terakhir angkot ini. Nggak jauh dari situ alamatnya, Mas," ujar pemuda yang bersamanya.
"Oh, begitu Mas. Hanya satu kali naik angkot saja?" tanya Tristan memastikan.
"Iya, Mas. Alamatnya nggak jauh kok dari terminal ini. Cuma, ya kalau jalan kaki pegal juga Mas, haaha."
Tristan menarik pipinya. Dia tersenyum tipis.
Setelah penumpang di dalam angkutan umum ini penuh. Mobil pun jalan sesuai dengan rute nya.
"Ya beginilah Mas kota Jakarta. Sudah semakin sesak dan padat. Penduduknya sudah semakin ramai," seru pemuda itu di tengah-tengah kemacetan.
Dari balik kaca belakang mobil, Tristan memperhatikan suasana kota yang sangat tidak teratur. Banyak kendaraan yang memadati. Hampir semua trotoar jalan digunakan sebagai lapak usaha. Tidak sedikit juga kendaraan roda dua yang melawan arus. Benar-benar sesak. Tapi, inilah kota Jakarta. Kotanya orang-orang untuk menggantungkan nasibnya.
"Nah, Mas. Kita sudah sampai."
"Terima kasih banyak, Mas," ucap Tristan setelah berada di luar angkot.
"Sama-sama, Mas. Hati-hati di Jakarta. Jakarta berbeda dengan di kampung, Mas. Semoga nasib keberuntungan berada di pihak Mas," ucapnya dengan menerima juluran tangan dari Tristan.
Dan kemudian, Tristan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan menyusuri perumahan-perumahan kecil.
__ADS_1
"Syukur ada yang membantuku. Masih ada juga orang yang baik," gumam Tristan sembari berjalan dengan kertas di tangan kanannya.
Jalan pemuda nomer empat belas. Tristan membaca tulisan yang ada di kertas itu.
Kakinya terus melangkah, melewati lorong-lorong jalan. Menelusuri pingiran jalan dengan banyak bangunan-bangunan baru yang masih setengah jadi di sebelah kanannya. Hingga dia mulai merasa bingung karena alamat tak kunjung ditemukan. Tristan berada di persimpangan. Di hadapanya, ada sebuah bangunan besar yang masih dalam proses pembangunan. Nampak seperti bangunan apartemen. Karena terlihat pondasinya yang berlapis-lapis.
"Aku dimana ya?" gumamnya dengan menyeka dahi yang sudah mulai berkeringat. Pandangnya menyebar keseluruh tempat ini. "Ah coba ke jalan itu. Nanti aku tanyakan saja sama warga setempat." Tristan menuju ke arah kiri dari posisi tempatnya. "Kenapa disni sepi sekali. Hanya bangunan-bangunan ini saja yang aku lihat," gumamnya.
Dari posisi dimana dia berjalan, Tristan melihat tiga orang laki-laki dewasa dengan berjaket hitam. Sedang melakukan sesuatu kepada seorang Pria setengah baya di dekat sebuah mobil SUV berwarna hitam. Dari penampakannya. Pria itu sedang di rampok.
"Astaga! kasihan sekali bapak itu. Tapi, ini bukan urusanku," kata Tristan yang sejenak menghentikan langkahnya lalu dia berbalik arah.
"Nak Tristan, bapak sudah mengajarkan apa yang bapak punya semuanya kepadamu. Jangan kamu salah gunakan ilmu bela diri yang kamu kuasai. Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua. Dan bantulah sesama. Buatlah dirimu bermanfaat untuk orang banyak. Karena tidak ada gunanya hidup jika hanya memikirkan diri sendiri." Perkaataan eyang guru yang melintas di benaknya, seketika mengetuk hati nurani Tristan.
"Hei!" pekik Tristan dari kejauhan. Membuat tiga orang laki-laki yang berada di ujung sana menoleh secara bersama ke arah Tristan. Termasuk Pria separuh baya yang sedang dalam ancaman bahaya, ikut menolehkan pandanganya dengan wajah yang penuh ketakutan.
Tristan mendekati orang-orang itu dengan berjalan cepat.
"Hahahaa. Bocah ingusan! Mau ngapain lo?" seru salah seorang laki-laki itu.
Tristan memandangi ketiga orang itu dengan wajah datar.
"Mending lo pulang. Nyusu sana sama emak lo! jangan sok jadi pahlawan kesiangan," seru seseorang yang sedang menodongkan sebilah belati tajam kepada pria separuh baya.
"Lepaskan bapak itu!" seru Tristan dengan nada datar dan tampang yang dingin.
"*******! banyak bacot lu!" sergah laki-laki bertubuh besar dengan kumis dan jambang yang lebat. Dia menikam Tristan dengan belati. Namun, dengan cepat Tristan menghindar dengan menggeser sedikit tubuhnya ke arah kanan. Perkelahian dua melawan satu pun terjadi.
Satu orang di kanan Tristan, satunya lagi di kiri. Mereka menggunakan belati dan melawan Tristan yang hanya menggunakan tangan kosong.
Dua orang itu mengerang kesakitan dan bangkit kembali. Mereka saling pandang setelah merasa musuhnya bukan lawan yang mudah dilumpuhkan.
"Boleh juga lo!" seru seorang bertubuh besar yang berada di sebelah kanan dengan tawa sinis dan tangan kirinya memegang wajahnya yang sakit akibat tendangan Tristan.
"AAAAAAAAA!" Kedua orang itu secara bersamaan menyerang Tristan dari dua sisi. Tristan mendapati serangan bertubi-tubi. Namun, dia dapat menghindarinya. Dan memberikan serangan balasan kepada kedua orang yang menyerangnya.
BRUAAK!!! BUKKK!!!
Salah seorang laki-laki itu berhasil menggoreskan belati dan melukai lengan Tristan. Darah mengucur di bagian kanan lengan Tristan. Namun, tidak membuatnya takut.
Tristan mengikat lengannya yang tergores luka dengan sapu tangan yang ada di sakunya.
"Hahahaha! ****** kau!" pekik seseorang yang sedang menodongkan senjata tajam kepada bapak separuh baya. Yang melihat dua rekanya menghadapi Tristan.
Keringat deras membanjiri sekujur tubuh Tristan. Namun, hatinya tidak gentar sedikit pun.
"Heuhh ... Hah ... " Tristan mendengus. Dia sudah siap menghadapi kembali musuh-musuhnya.
"Hajar!" kata laki-laki berkumis tebal.
Kembali, perkelahian terjadi. Mereka menyerang secara bersama. Tapi, kali ini kesabaran Tristan nampaknya sudah habis. Dia mengeluarkan teknik bela diri yang dia kuasai. Benar-benar sangat indah. Pukulan dan tendangan kombinasi yang menjadi ciri khas dari ilmu bela diri yang dipelajarinya, mampu membuat kedua orang itu mendarat di aspal dengan luka-luka. Dan kali ini mereka tidak mampu lagi berdiri. Karena hidung yang banyak mengeluarkan darah dan juga nyeri di tubuh yang menyakitkan, membuat kedua orang itu tidak mampu bangkit kembali.
Tinggal satu orang yang berada di dekat bapak separuh baya itu. Tristan maju mendekatinya. Terlihat wajah yang mulai cemas dari laki-laki yang sedang menodongkan belati tepat di leher bapak itu.
"Mundur! atau gue mampusin ini orang," seru laki-laki itu dengan tangan yang siap menggariskan belati di leher bapak yang wajahnya mengkerut ketakutan.
__ADS_1
Tristan mengangkat kedua tanganya, menandakan kalau dirinya tidak akan menyerang. Namun, di balik itu otaknya berpikir. Untuk bagaimana caranya mengatasi laki-laki bertubuh besar itu.
"Lepaskan dia, saya nggak akan melakukan apapun kepada anda," kata Tristan mencoba untuk bernegosiasi dengannya.
Tanpa diduga, bapak separuh baya itu mendorong laki-laki tersebut setelah melihat celah yang memungkinkan untuk dia melakukannya.
Dengan cepat Tristan berlari dan melakukan tendangan memutar yang membuat laki-laki itu menyusruk di atas pasir yang menumpuk dari sisa-sisa bangunan yang belum jadi.
Ketiga perampok tersebut lari ketakutan tanpa membawa hasil apapun.
"Bapak nggak apa-apa?" tanya Tristan kepada si bapak korban perampokan.
Dia menghela nafasnya. Menyeka keringat di dahinya dan merapihkan sedikit kerah baju. Lalu bapak itu menjawab, "terima kasih, Nak. Saya nggak apa-apa. Untung ada, Nak-."
"Tristan, Pak. Nama saya Tristan," ucap Tristan menyambungi.
"Bagaimana dengan lukanya, Nak?" tanya bapak itu ikut prihatin.
Tristan memegang lengan kanan yang sudah terasa sedikit nyeri. "Ah, tidak apa-apa, Pak. Hanya tergores sedikit."
"Apa perlu saya antar ke dokter untuk diperiksa, Nak," kata bapak itu dengan wajah penuh ke khawatiran.
"Ah—ah. Tidak usah, Pak. Terima kasih," ucap Tristan menolak dengan santun.
"Siapa orang-orang itu, Pak?" sambungnya.
"Mereka perampok, Nak. Memang, di jalan ini agak sedikit rawan. Karena ini adalah jalan baru dan juga banyak bangunan yang belum jadi. Membuat jalanan ini sedikit sepi," ujar bapak itu.
"Oh ya. Nama saya Aditya. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada kamu, Nak Tristan," ucapnya dengan bersalaman kepada Tristan.
"Iya. Sama-sama, Pak. Kebetulan saja saya berada di tempat ini. Karena saya sedang mencari–."
"Astaga! alamat Bayu. Kertasnya. Dimana kertasnya?" Secara mendadak Tristan mengingat kalau dia sudah tidak memegang kertas alamat temannya.
"Kenapa, Nak?" tanya bapak itu bingung.
"Tadi saya memegang kertas alamat teman saya, Pak. Saya kebetulan baru sampai di Jakarta."
"Nah ... aduh dimana ya kertasnya?" Tristan mencari-cari kertas itu di sekitar area ini.
"Kamu ingat alamatnya? Di jalan apa?" tanya bapak separuh baya yang melihat Tristan sedang kebingungan.
Tristan mencoba mengingat tulisan yang ada di kertas itu. "Aduh—. Jalan. Jalan—. Jalan pemuda!" ucapnya setelah sedikit mengingat.
"Kalau jalan pemuda tidak jauh ada dibelakang sana, Nak. Mari saya antar sekalian," ujar bapak menawarkan tumpangan.
"Saya tidak merepotkan, Pak?"
"Ah, merepotkan bagaimana. Malah saya sudah berhutang nyawa kepadamu, Nak."
"Jangan seperti itu, Pak. Saya cuma manusia biasa. Tadi itu masih beruntung saja. Mungkin, belum tentu esok-esok saya bisa selamat," tutur Tristan dengan rendah hati.
"Mari Nak." Bapak berjas hitam mengajak Tristan masuk kedalam mobilnya yang mewah.
"Terima kasih, Pak," ucap Tristan ramah setelah berada di dalam mobil.
__ADS_1