Cacat Pergaulan

Cacat Pergaulan
Chapter 4 Kenangan Bersama Jari Manis


__ADS_3

Terdengar suara laki-laki yang sangat lantang, yang nampaknya mendekati rose. Badan rose mulai bergemetar melihat betapa kekar-nya laki-laki itu, tak lain, dan tak bukan dia adalah kakak rose sendiri. Yang salah pergaulan, memilih hidup di jalanan dan di coret dari akte keluarga, oleh keluarganya sendiri.


Rizky nazar, nampaknya nama yang terlalu halus untuk orang sepertinya. Karena dengan berpenampilan layaknya berandalan, dan preman pasar. Dia kerap kali berfoya-foya, di diskotik. Ia berumur 16 tahun, meskipun masih cukup baya. Otot-ototnya sangat kekar, dan sangat tinggi-besar seperti orang yang berada di GYM setiap pagi.


Dengan memakai jaket, dan pakaian setengah pundak berwarna hitam. Rizky, mendekati rose. Yang nampaknya sedang mencari, Rizky.


"Ada apa lu kesini?" Tanya Rizky, kepada rose.


"B....bang, gue mau minta tolong sama Lo...." Jawab rose, agak ketakutan.


"Minta tolong? Hah? Gak salah denger gua? Lu minta tolong apa, neng?" Terkekeh Rizky nazar, yang meremehkan perkataan rose.


"Lo pengen ada member baru kan di geng laba laba hitam? Gue ada Mangasa nih buat lo, bang.." Ujar Rose.


"Hah? Gimana lu bisa tau, kalo gue butuh member baru di geng punk gue?" Tanya Rizky, kepada rose.


"Gue tau dari status Facebook Lo, bang... Hmmmm...gimana, bang? Lo minat, kagak?" Tanya rose, lagi.


"Minat, sih. Tapi siapa?" Tanya Rizky, cukup serius.


"Nih orangnya..." Ujar rose, sebari memperlihatkan foto Ilma kepada abangnya.


"HAHAHAHAHAHAHAHHAH!!!!!!!" Saat melihat wajah Ilma, yang nampaknya wajahnya sangat alim, dan sangat rajin. Rizky nazar, dan salah satu perempuan di sampingnya itu terkekeh.


•••


"Ihhhh...ketawanya, serem banget! Liat ituu!! Giginya di kasih behel, sama di kasih rantai....hiiii kalo karatan, dia kan bisa kena penyakit bahaya! Hiiihhhh" jijik Lisa, yang berbisik kepada Jennie.


"Huh, iya! Dasar orang kagak bersyukur! Apalagi tuh si bang Rizky, udah di kasih fasilitas banyak sama orang tuanya. Eh, sikapnya malah kek gitu. Dasar anak kurang ngajar!!!" Gumam Jennie, kesal.


"Hustt...jangan ngomong kek gitu! Kalo mereka denger, Bakalan kacau balau! Bisa aja mereka bertiga bakar mobilnya si rose...hihhh!!" Jisoo, yang mengalihkan perhatian.


"Iya, iya. Lebih baik, kita masuk ke mobil aja, dari pada kita ngehirup udara malam, yang penuh karbondioksida ini. Iuhhh...bisa bisa kita kena asma, Ihhh!" Jijik Lisa, sebari masuk ke dalam mobil rose.


••••


"Yang kayak gini mau di jadiin member grup kita???? Hahahaha!!!! Pernah mikir gak lu, ros!! Hahahaha!!! Udah deh ya, adek gue yang polos.... Mendingan lu pergi dari sini sama temen-temen alay lu itu!!! Gue gak butuhhh bantuan dari lu, dasar GJ banget lu!" Teriak Rizky, yang nampaknya suaranya lebih keras dari sebelumnya.


"Hadeh, adek lu polos bener! Haha!" Kekeh, perempuan aliran hitam itu.


"Justru itu!!! GUE KESINI, UNTUK MINTA BANTUAN KE ELO!!!!! SUPAYA JADIIN TUH ANAK PUNK, SAMA KAYAK LO!!! BIAR DI KELUARIN DARI SEKOLAH SECARA GAK PANTES!!!!! NGERTI, LO?????" Teriak rose, yang nampaknya menantang Rizky.


"OHHHH, LU BERANI BENTAK GUAAA!!! SINI LUUU!" Teriak Rizky.


"OHHH, MAU PUKUL GUA!!! OHHHHH....KALO LU MUKUL GUE, SIAP SIAP GUE TUNTUT LU KE MEJA HIJAU!!! BIAR KALIAN SEMUAAA....DI TANGKEP SAMA POLISI!!!! JANGAN SOK DEH, KALIAN!!! GUA TAU SELUK BELUK GENG LABA LABA HITAM!!! DI MARKAS INI, LU PERNAH NGELAKUIN PERZINAHAN, KANN!!!??? NGAKU LU BERDUA!!!!" Teriak rose, dengan lantang.


•••

__ADS_1


"Wkwkwkwkwk....liat nih, rose berani banget... Hahaha!" Puas, lisa.


"Hahaha...tuh orang punk dua, wajahnya melas banget, sih...kasian, DECH! Makannya ya, mas, mbak!! Jangan katain kita geng alay!!!!" Puas, Jennie.


"Wikwiiiiww!! Bagaikan langit di malam hari, berwarna hitam. Se-hitam wajah mereka berdua hahahaha!" Jisoo, Senang.


"Ahayyy! Jotos tuh, si anak anak punk! Dasar! Generasi kagak punyak etika!" Jennie.


"EHHH...Kita rekam, yuk! Kalo si abangnya rose, nonjok rose... Bisa di laporin ke polisi. Hahaha!" Ide cerdas, Lisa.


"Capcusss, keluarin hp manjah dari tas!" Ujar Jisoo.


•••


Seketika itu mereka berdua terdiam. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Rizky, dan kakinya mulai bergemetar hebat. Sampai-sampai rose, Jisoo, Jennie, dan Lisa melihat keadaan Rizky yang seperti anak perempuan. Sementara perempuan yang berada di samping Rizky, hanya menunduk malu. Tak disangka rose yang di sangka mereka berdua adalah anak mamih, yang polos, dan alay. Menjadi tahu seluk-beluk mereka berdua di markas Laba laba hitam, dengan sangat cepat.


"IYAAA!!!! IYAAA!!!! GUE BAKALAN NURUTIN KEMAUAN LO!!!!!" Teriak Rizky, yang nampaknya ketakutan terhadap perkataan adiknya.


"Hahaha....Gitu, dong! Nih kartu nama si Ilma.... Kalo mau tau infonya, buka aja Kartu namanya. Nih...." Ujar rose, sebari memberikan kartu nama Ilma. Yang berisi info lengkap, Ilma.


"Gua harus ngapain? Jadiin dia anak punk? Gampang! Supaya dia keluar dari sekolah? Gampang! Urus aja semuanya, ke gua!" Ujar Rizky.


"Hahaha...gitu dong, bang! Oke, deh! Gue balik dulu ya, udah malem! Bayyyy!" Rose, sebari masuk ke dalam mobil.


•••


Khairunnisa menjawab telefon dari pak Ujang Iskandar, di ruang tamu. Jauh sekali dari kamar Ilma, sengaja ia pilih ruang tamu. Karena ruang tamu-lah tempat yang aman, supaya suaranya tidak di dengar oleh Ilma.


"Halo... Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh....???" Khairunnisa.


"Waalaikumsalllam....Ini Khairunnisa? Mana Ilma?" Tanya pak Ujang, heran. di dalam telefon.


"Iya, pak. Ini saya Khairunnisa, Ilma sengaja nyuruh saya untuk jawab telepon dari bapak...Ummm... katanya sih, Ilma gak kuat denger berita yang bapak sampaikan." Jawab Khairunnisa, yang nampaknya sedih.


"Ohh....begitu. bapak hanya mau menyampaikan, kalo Azhar butuh donor ginjal! Karena selain kepala yang terbentur, dan harus di jait, tetapi perut juga terbentur, sampai ginjalnya rusak parah! Kata dokter Azhar butuh donor ginjal! Stok ginjal di rumah sakit manapun kosong melompong! Jadi kita butuh donor ginjal secepat-cepat-nya!" Jelas pak Ujang Iskandar, tegang.


"Apaaaa! Azhar butuh donor ginjal??? Serius, pak?" Tanya Khairunnisa, resah.


"Iya...."


"Kalau begitu semoga saja Azhar bisa mendapatkan donor ginjal, pak.. saya doakan disini, hiks hiks..." Tangis Khairunnisa.


"Bapak udah putus asa!!!!! Bapak hanya pasrah!!! Kalau sampai besok pagi Azhar belum mendapatkan ginjalnya.....maka....nyawa Azhar yang aka. Menjadi taruhannya!!!" Teriak pak Ujang Iskandar, yang nampaknya melampiaskan kesedihannya kepada Khairunnisa.


"Bapak jangan putus asa! Pasti Azhar selamat! Kita disini akan mendoakan Azhar! Supaya dia selamat! Dan sehat wal-afiat! Aamiin...."


"Aamiinn..." Sambung pak Ujang Iskandar.

__ADS_1


Obrolan terputus, saat mendoakan Azhar. Entah mengapa Ujang Iskandar, menutup telepon tanpa salam. Namun Khairunnisa hanya bisa berpikir positif pada Ujang, karena mungkin disana pak Ujang sibuk.


•••


"GOMBBBBRAAAAANGGGGGGGGGG!!!!!" Terdengar suara pecahan figura besar di kamar Azhar. tak-lain, dan tak-bukan itu adalah foto Azhar sendiri.


Khairunnisa mencoba membereskan pecahan kaca dari figura itu, meskipun ia sangat panik. Keringat dingin mulai bercucuran, di lubuk hatinya rasanya ingin mendonorkan ginjalnya untuk Azhar. Namun, ia masih memikirkan kedua orang tuanya. Yang pasti akan sedih.


"Azhar...Teteh doain, kamu cepet sembuh. Dan semoga.....Hiks hiks....Akkhhhh!!!" Belum saja Khairunnisa mendoakan Azhar, jari-manisnya teriris oleh pecahan kaca itu.


"Astaghfirullahalazim! Pertanda apa ini???? Rasanya.....Ingin sekali...Namun...."


Angin berhembus kencang, bersamaan dengan darah yang terus menerus bercucuran dari jari Khairunnisa. Air mata hangat, mulai bercucuran dari matanya. Yang mulai membasahi jari manisnya, karena dahulu jari manisnya selalu di buat candaan oleh Azhar.


•••


Saat Azhar masih duduk di kelas empat, semester 1, sekolah dasar. Pada masa itu-lah, geng belajar Friska, Ilma, dan Khairunnisa terbentuk. Suatu hari Friska, dan Khairunnisa datang ke rumah Ilma, untuk membuat Pekerjaan kelompok. Disana ada Azhar yang selalu membaca komik, dan ribuan dongeng kancil. Di saat Ilma sedang ingin membawa minuman, Friska iseng menggoda Azhar.


"Wek...Dek, lagi apa seh? Serius bett_-" Ujar Friska, dengan wajah datar.


"Friska...Jangan pake bahasa singkat, kalo mau ngomong banget ya, yang ikhlas! Jangan ngomong banget itu Bett! Emangnya topi Pramuka apa, hahaha!" Terkekeh Khairunnisa. sebari menelunjuk, dan menutup mata seperti layaknya guru.


"Loh, apaan nih?" Tanya Khairunnisa dalam hati.


"Hahaha! Jangan merem lu, zeyeng! Liat noh jari manis lu, di pake ngupil sama si Azhar. Hahahaha!!!" Ilma, yang terkekeh.


"Etttdahhh??Busyeeettt!!! Ihhhhhh!!!!" Teriak Khairunnisa, yang melepaskan genggaman tangan Azhar.


"Hehehe....Maaf teh, soalnya tangan teteh wangi banget. Wangi jeruk, hehe..." Polos Azhar.


"Ihhhhh, dasar lu! Bocah songong!" Goda Khairunnisa, sebari kesal.


•••


"Jangan..........Jangan, Khairunnisa!!!! Pikirkan Abi, dan ummi!" Teriak hatinya.


"Tapi....Ingat! Azhar, dia adalah anak yang periang! Cukup dengan mendonorkan ginjalnya, masa depan akan cerah!" Teriak batinnya.


"TIDDDAKKKKKKKKK!!!!!!!!!"


Karena sangking bimbangnya, khairunnisa memukul figura Azhar yang sudah penuh dengan kaca kaca yang berserakan.


"GOMMMBBBRANGGGGGGGGGG!!!!!!"


Seketika itu, tangan Khairunnisa memukul figura Azhar hingga semakin sangat pecah. Sampai-sampai kedua tangan Khairunnisa, berdarah.


"Khairunnisa!!!!!!" Teriak Ilma, dan Friska. Yang nampaknya baru berada di sana.

__ADS_1


• TO BE CONTINUED


__ADS_2