
Bukan bom, yang meledakkan mobil Rose. Akan tetapi lemparan tong minyak kevin pada mobil Rose, sehingga menyebabkan dentuman yang sangat dahsyat. Aneh sekali, orang ini tiba tiba mengamuk tanpa alasan. Seperti orang yang depresi, dan prustasi.
Tingkah Kevin, yang lama-kelamaan semakin aneh. Membuat rose, Jennie, Jisoo, dan Lisa ketakutan. Tapi mereka tak tahu harus kemana, karena mereka terjebak oleh si jago merah yang terus melahap pintu markas yang sangat besar itu.
"Huh...huh...huh!" Teriak Jisoo, yang nampaknya kehabisan oksigen.
"Kenapa, so????" Tanya Jennie, yang panik.
"Omaygat! Si Jisoo kan punya asma!!!!" Jawab rose, spontan.
"Ya amsyonggg!! Gimana ini!!??? Kalo si Jisoo mati gimana!!!" Panik, Lisa.
"Huh...hah...huh...hah! G...gue!!! Ga.....ga......gak.....b..bi....s....sa....na....pas!!!!" Jisoo, yang merintih.
"WADUHHH!!! Gimana ini!!!!!" Teriak Rose.
Jisoo ternyata mempunyai riwayat penyakit asma, yang membuatnya sulit bernapas jika oksigen sedikit. Semakin lama, Jisoo tidak sadarkan diri. Ia pingsan di pangkuan Rose, keadaan semakin panik saat Kevin Argya Sanjaya ingin mencoba menerbos api.
"Astoge!!!! Itu si orang gila, mau nerobos apiii!!!!!!" Teriak Jennie, panik.
"Ihhhhh!!!!! Itu orang Gilak beneran kalik, yaaa!!!!!???" Rose, kesal karena kelakuan Kevin yang seperti orang gila. Karena tak tahu, bahwa Kevin adalah orang depresi, dan mempunya riwayat prustasi tinggi.
"DASARR!!!!!" Lisa, kesal.
Sampai akhirnya Kevin menerobos api, saat sudah di lelap si jago merah. Kevin berteriak meminta tolong, dan meminta untuk Rose menyelamatkannya. Namun, Rose enggan menyelamatkan Kevin. Karena siapa tahu setelah Kevin ia selamatkan, bisa saja ia menjadi sasaran Kevin Argya Sanjaya.
Teriakannya, semakin lama, semakin keras. Sampai sampai terdengar seperti anak perempuan, yang manja. Rose, Jennie, dan Lisa ketakutan melihat bang Kevin yang nampaknya sudah gosong, dan tak berdaya. Tubuhnya gosong, rambutnya rontok di lahap api, bajunya habis, dan kulitnya melepuh di penuhi akan luka bakar yang sangat menjijikan.
"Astagaaa!!!!!! Gimana, nih????!!! Gue takut masuk penjara!!!" Lisa, khawatir akan tuduhan.
"Tenang, kita kan kagak ngebuat Kevin kayak gitu! Tenang, aja!" Rose, menenangkan Lisa.
"Tapi, Ros!!!!!! Ini gimana sama jisooo!!!!!" Jennie, yang khawatir akan keadaan Jisoo.
"Ya ampun!! Iya! Haduhh!! Gue harus telfone ambulan!!!" Rose, memegang hpnya.
"Ampun dah, lu! Ngape baru sekarang ngeluarin hendpon!" Jennie, kesal.
"Abis gue lupa!" Jawab Rose, tanpa basa-basi.
Rose menelfone ambulan, supaya Jisoo bisa langsung di rawat dengan intensif. Namun setelah itu, badan Kevin tiba tiba bergerak. Dan mulai mendekati rose, dengan membawa kayu dan besi.
"ROSSSSS!!!! DI BELAKANG LOHHHH!!!!!" Teriak Jennie.
"APAAN!!!!??" Rose bingung, dan kepalanya ke belakang.
Dan alangkah terkejutnya Rose melihat Kevin, dengan luka bakar yang sangat di penuhi dengan darah. Sedang memukul kepala Rose, dengan kayu dan beberapa besi lainnya.
"JDUKKKKKKKK!!!!!!"
Rose terkena sasaran Kevin, darah mulai mengalir dari pelipis kepala Rose. Rose bergemetar hebat, sampai akhirnya ia pingsan di pangkuan Jennie, dan Lisa. Sementara itu Kevin Argya Sanjaya, semakin membabi buta. Ia ingin menyerang Jennie, dan Lisa dengan kayu, dan beberapa benda tajam di tangannya.
Jennie shock, dan langsung berlari sebari memegang tangan Lisa dengan erat. Mereka berlari menuju dapur yang sempit untuk menemukan celah-celah jendela supaya mereka bisa menyelamatkan diri lalu menghubungi polisi. Namun, semuanya nihil. Mereka tak menemukan sedikit titik celah pun untuk keluar dari markas besar Kevin. Mereka berteriak ketakutan melihat Kevin yang berada di dapur, Lisa, dan Jennie terpojok. Mereka sudah pasrah jika mereka harus mati konyol di tangan Kevin Argya Sanjaya, mereka berdua berpelukan. Menangis, menantikan pertolongan yang akan mendatangi mereka seperti malaikat. Namun, Kevin terus mendekati mereka, semakin mendekat.....semakin mendekat.....semakin mendekat.......dan....
"Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"
Kepala Lisa yang terkena pukulan Kevin terlebih dahulu, sebelum tembakan mendarat di kepala Kevin.
"DOOOUUUURRRRRRRRRR!!!!!!!!"
Lima polisi menembak Kevin Argya Sanjaya, supaya ia lumpuh. Di balik itu ada Bu guru mentari, Friska, Baskara, Bastian, dan Irene yang membawa polisi ke markas Kevin. Jennie menangis akan sahabatnya yang terkena pukulan yang sangat kencang. Ia menjerit, dan menangis. Jennie memeluk Friska, dan mengucapkan ribuan kata maaf. Jika mereka tak datang, nasib Jennie, rose, Jisoo, dan Lisa akan ruyam. Bisa-bisa mereka mati, di tangan Kevin dengan menggunakan benda benda tajam lainnya yang berada di markasnya itu.
Jennie bingung mengapa bisa mereka semua masuk ke markas yang pintunya sudah di kerumuni api yang sangat besar. Ternyata Bu Mentari, Friska, Bastian, Baskara, dan Irene sudah berada di sana sebelum kepala rose di pukul. Mereka semua melihat kejadian yang sebenarnya. Yang menimpa Kevin, dan lainnya. Seketika itu Bu Guru Mentari langsung menelfon ambulan, polisi, dan pemadam kebakaran untuk mengevakuasi keadaan.
Dan sampai pada akhirnya Jennie, dan Lisa yang berlarian. Pemadam kebakaran langsung gerak cepat, memadamkan si jago merah. Setelah itu tim kepolisian, dan team ambulans datang menyelamatkan rose, dan Jisoo yang tergeletak di samping lemari. Lalu di bawa ke mobil ambulan, sementara itu polisi langsung menembak Kevin yang sedang memojokkan Lisa, dan Jennie.
•••
__ADS_1
Rose, Jisoo, dan Lisa di bawa ke rumah sakit terdekat. Mereka bertiga di rawat intensif. Rupanya Rose, dan Lisa hanya ada luka sedikit di bagian kepala. Dan tidak memicu geger otak. Sementara Jisoo, hanya memerlukan oksigen. Sekarang Jisoo di rawat intensif, dengan menggunakan oksigen, dan impussan yang melilit tangannya.
Setelah di selidiki lebih lanjut, ternyata Kevin mengalami prustasi, dan depresi yang sangat kacau, dan tinggi. Akibat terlalu banyak mengonsumsi narkoba, nikotin, narkotika, dan sejenisnya. Sekarang Kevin Argya Sanjaya, di rawat di rumah sakit jiwa untuk mengobati kegilaannya, dan mengobati luka bakar nya.
Jennie menunggu Rose, Jisoo, dan Lisa pulih. Jennie benar-benar menyesal atas perbuatannya, coba saja waktu itu ia melarang Rose untuk membalaskan dendam-nya kepada Ilma. Tetapi.... Begitulah. Jennie menceritakan semua rencana gengnya, kepada Bu guru Mentari, Friska, Baskara, Irene, dan Bastian. Supaya mereka semua mengerti kejadian yang sebenarnya, dan di jelaskan kepada polisi rewat rekaman suaranya.
"Ohhh, jadi begitu ceritanya! Hmm..... Kamu ini, Jen! Jangan aneh-aneh, dong! Kamu tau gak kalo kalian semua ngelakuin rencana yang tadi, bisa membuat semua orang rugi? Termasuk semua keluarga Ilma, dan keluarga kalian! Kalian tak sepantasnya berbuat seperti itu! Sekarang, kejadiannya jadi begini kan? Untung cuman ibu, sama OSIS OSIS aja yang tahu tentang ini! Tapi, kalo pak Muadzin tau? Gimana? Bisa-bisa kalian di keluarkan dari sekolah secara gak hormat! Sekarang ibu ngasih kompensasi ke kalian ber-empat! Karena kamu udah mau ceritain kejadian yang sebenarnya! Kalo nggak, ibu udah gak bisa apa-apa lagi! Tapi ingat loh, Jen! Jangan lakuin ini lagi! Kalo lakuin lagi, ibu bakalan laporin kejadian ini ke kepsek Muadzin!" Tegas Bu Mentari, dengan nada bicaranya yang pelan.
"Iyah, Bu! Jennie janji gak akan ulangin kejadian ini lagi, kita udah kapok!" Jennie, menyesal.
"Nih, makan! Gue ada ketoprak sama es teh untuk lo... Siapa tau Lo lapar, atau haus.... Nih, makan!" Ujar Friska, sebari memberikan sekotak ketoprak, dan segelas es teh dingin yang di belinya di kantin rumah sakit.
"Iya, makasih, Fris! Lu emang baik:))" Senyum Jennie, kepada Friska.
Jam menunjukkan pukul.16.30 sore. Bu Mentari, Friska, Bastian, Baskara, dan Irene akhirnya pulang. Dan menitipkan sejumlah uang, dan makanan untuk biaya rumah sakit, dan keperluan Jennie. Jennie berterimakasih kepada semuanya, yang telah peduli.
Namun, sebelum pulang Bu Mentari mengajak Irene, Friska, Baskara, dan Bastian untuk makan sore di sebuah mall terdekat. Dan belanja keperluan sekolah, dan OSIS. Mereka berempat senang, karena biasanya Bu guru Mentari adalah sosok guru yang menjadi sorotan para siswa, dan siswi karena terkenal galak. Bu Mentari juga, kerap di sebut mulut sundel bolong oleh para siswa laki-laki. Yang jika berbicara, nadanya sangat membuat sakit hati. Namun hari ini berbeda, mungkin ini Hadiah untuk Friska, Bastian, dan Baskara karena sudah memecahkan kasus. Friska pun di Lantik sebagai anggota OSIS, oleh Bu guru Mentari secara langsung. Bastian, dan baskara sedang membeli beberapa baju, dan celana. Sementara irene, dan Friska sedang membeli beberapa buku paket, dan penunjang pendidikan. Dan Bu Mentari menunggu mereka di restoran dalam mall.
"Owalah-owalah! Irene, and Friska belanja bujuknya banyak buanget!" Ujar Bu Mentari, sebari memperlihatkan wajah comelnya.
"Hehehehe...kita beli yang diskon kok, buk!" Jawab Irene, malu.
"Hwhwhwhw....Ini, buk... Kartu kreditnya.. jangan heran sama jumlahnya yang, buk hwhwhwhw.." Friska, mengembalikan kartu kredit Bu mentari kembali.
Tak beberapa kemudian, setelah Irene dan Friska duduk bersama Bu guru Mentari. Tiba tiba saja, Baskara, dan Bastian membawa borongan belanjaan baju, celana, dan keperluan OSIS.
"Ya amsyongg!! Banyak bat!" Irene, melongo.
"Etttdahhh!!! Ini yang perempuan aja belanjanya dikit, kok laki laki banyak bangettt!! Udah kayak ibuk-ibuk pasar aja!" Ujar Bu guru Mentari, terkekeh.
"Hoalah, hehehehe...." Keduanya, tersipu malu.
"Oh, yak! Kalian tuh kalok di rumah ngapain aja, shayyy???" Tanya Bu guru Mentari, kepada mereka berempat.
"Kalo lagi segang sih... aku sih jagain perpustakaan Ochobot, sama ngajarin mereka untuk nulis bukuk... Buk" Jawab Friska.
"Kalo saya...Gak ada, deh... Palingan habis pulang sekolah, kan malam. Jadi habis sholat, n makan ya tidur dehhhh..." Baskara.
"Kalok saya, biasanya main sama adek, buk!" Jawab Bastian.
"Ouhhhhhhh, gitu toh!"
"Iya, toh.." Jawab, mereka serentak.
"Oh, ya... Ibuk, punyak teka teki buat kalian!" Ujar Bu Mentari.
"Hah? Apaan, buk?" Tanya Baskara, Spontan.
"Apa? Apa?" Tanya irene, tak sabar.
"Kecoa apa, yang bisa masuk rumah sakit?????"
"Hah? Kecoa apa, ya???" Bingung Friska.
"Lu tau kagak, Bas?" Tanya Irene, yang bingung.
"Hmm... Apa ya???" Baskara bingung.
"Taluk? Taluk? Tanya Bu Guru Mentari, sebari tertawa licik.
"Hmmmm... Taluk deh, buk." Bastian.
"Kecoalakaaannn, huahahahahaha!" Bu guru Mentari, yang terkekeh.
"OMG... Receh banget, tekak-tekiknya!" Ujar Baskara, dalam hati.
"Ya, biar dong! Haha!" Terkekeh lagi.
__ADS_1
"OMG hwhwhwhw" Irene, yang nampaknya sedang mencubit bahu Friska. Karena kesal, dan gregetan.
"Etdahhh!!!! Jangan cubit, dong!" Teriak Friska, kepada Irene.
"Hehehehe" Irene.
"Huuuuuuuh!" Bastian.
"Owalah-owalah......Ada lagi, nih!" Bu Mentari, yang nampaknya ingin memberikan satu pertanyaan lagi.
"APAAA, buk!! Penasaran!!!" Girang, Friska.
"Nah....Monyet-monyet apa yang nyebelin?"
"Hmmmmm.....apa yak????" Bingung Friska.
Lagi-lagi keadaan di buat bingung oleh Bu Guru Mentari, yang memberikan teka-teki yang sangat mengasah otak.
"Ohhh! Ya!!! Monyet.....Liar, kan?" Jawab Irene, yang bersemangat.
"Salah!" Ujar Bu Mentari.
"Lah..."
"AYOO...siapa yang mau jawab lagi???" Tanya Bu guru mentari.
"Hmmmm...monyet hantu???" Jawab Friska, asal.
"Ohhhh salah!"
"Taluk lah, buk! Kami gak tau!" Ujar baskara.
"Yakin, Taluk????" Tanya Bu Mentari.
"Yakinnn!"
"Jawabannya monyetel tv gak bisa-bisa, hahahahahahaha!" Ujar Bu Mentari, sebari terkekeh lebar.
"OMG, whahahahah!" Terkekeh, Irene.
"Buk, buk... Kirain kami ibuk itu guru yang paling galak, ehh...ternyata humoris banget! Wkwkwk.. iya nggak, guys???" Ujar Baskara, bahagia.
"Hehe, bener banget!" Frisca.
"Hwhwhw...nggak, kok!" Ujar Bu mentari, tersipu malu.
"Oh, ya! Mulai sekarang ibuk akan panggil nama kalian.... Pake nama nama yang hits banget!"
"Hah? Apa, Bu?" Tanya mereka berempat.
"Irene nama panggilannya jadi koala imut, Friska nama panggilannya jadi panda lucu, Baskara nama panggilannya jadi kambing hitam, nah Bastian nama panggilannya jadi kambing baperan... Hwhwhw"
"OMG, nama saya kok gitu banget, buk?" Bastian, yang tersipu malu.
"Ya, abisnya lu kan baperan, bas!" Irene, menjawab.
"Ihhh!"
Sore itu, waktu di habiskan dengan Bu Mentari yang sangat humoris. Saat ini mereka masih bersalah menganggap bahwa Bu Mentari adalah guru yang paling galak, dan paling sadis. Karena di balik itu semua, ia adalah guru yang paling humoris.
"Treetttt....Trettttt.....!"
"Eh, bentar ya! Ada wa, nih!" Bu Mentari.
Bu Mentari membuka HP-nya, dan memasuki WhatsApp. Namun, tak beberapa lama kemudian Bu Mentari kaget setengah mati. Melihat chat WhatsApp dari grup guru, yang mengatakan bahwa kelas akan di acak kembali. Sesuai rangking masing-masung, tidak hanya rangking umum. Seketika itu wajah Bu Mentari kaget, dan Irene, Friska, Baskara, dan Bastian sangat shock melihat wajah Bu Mentari.
"Ada apa, buk!!!!" Teriak Friska.
__ADS_1
• • • • 🔥T O B E C O N T I N U E D🔥• • • • •