Can I Be Happy?

Can I Be Happy?
Part 1


__ADS_3

Kisah dimulai saat musim semi. Ketika seorang pria kutu buku yang bernama Radeva Arkatama. Sedang menunggu ibunya cek kontrol paska operasi usus buntu. Saat ia menunggu ibunya, secara tak sengaja ia menemukan sebuah buku. Ia pun mengambil buku tersebut dan membukanya. Ia menyadari bahwa ini adalah buku diary. Ia terkejut kala membaca buku tersebut karena pemilik buku ini mengidap penyakit mematikan dan hidupnya yang tidak akan lama lagi. Tak lama kemudian pemilik buku tersebut itu datang menghampiri Deva.


"Permisi. Itu buku milik aku" sergah gadis yang mengejutkan Deva yang sedang melamun.


Deva pun menoleh kepada gadis itu dan betapa terkejutnya gadis itu kala melihat teman sekelasnya yaitu Deva.


"De-deva? Ah ma-maaf itu buku punya aku" ucap gadis manis itu yang bernama Aruna Agafya.


Deva pun memberikan buku diary tersebut kepada Una.


"Maaf. Aku membaca diary mu" kata Deva dengan wajar datarnya.


Una pun mengambil buku diary miliknya yang ia beri nama "My Sun".


"berarti kamu juga udah tau rahasia terbesar aku yaa" tebak Una kepada Deva.


Karena Deva telah membaca buku diary tersebut, Una pun langsung menceritakan dirinya divonis mengidap gangguan pada pankreas nya dan hidupnya yang tidak akan lama lagi. Aruna langsung menggenggam kedua tangan Deva dan memohon kepadanya untuk merahasiakan nya dari semua orang.


"Aku mohon rahasiakan ini dari semua orang. Aku benar-benar memohon" pinta Una sambil memasang wajah melas nya.


"Oke" jawab Deva dengan singkatnya. Karena menurut Deva itu adalah hal yang biasa dan kematian akan di alami oleh semua orang.


Una pun tersenyum hangat dan berterimakasih kepada Deva. Ia percaya Deva akan menyimpan rahasia nya karena Deva remaja yang anti sosial, pendiam dan banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku.


Deva pun pergi meninggalkan Una.


"Menarik" gumam Una.



Keesokan harinya, Una tengah menunggu Deva di pinggir jalan untuk berangkat sekolah bareng.



Tak lama kemudian, Una pun melihat Deva dan melambai-lambaikan tangannya. Namun, Deva dengan sikap cueknya berusaha menghindar.



"HEI! TUNGGU!" teriak Una. Ia pun berlari mendekati Deva.



Di dalam perjalanan tersebut Deva tidak mengeluarkan sekata patah pun. Una pun memulai percakapan terlebih dahulu.



"Gimana kalau aku jadi teman kamu?" tawar Una kepada Deva.



"Gausah" jawab Deva.



"Yeah... Padahal aku ingin punya teman dekat" kecewa Una karena Deva menolak untuk berteman dengan dirinya.



Deva dengan kekehnya menolak berteman dengan Una.



Sesampainya di sekolah, Una di hampiri oleh temannya yaitu Lalita Gantari.



"Pagi, Una" sapa Lita kepada Una.



Una pun membalas sapaan Lita dengan senyum manisnya.


__ADS_1


Lita pun menoleh kepada orang yang di sebelah Una yaitu Deva.



"Kenapa Una bisa bareng sama dia?" batin Lita.



Una menyadari bahwa Lita tengah memperhatikan Deva dengan sinis nya. Una pun langsung menarik lengan Lita dan berlari menuju kelas.



Deva pun menaikan alisnya sebelah dan bergumam "Aneh"



Sesampainya di kelas, Lita langsung menanyakan kepada temannya itu. Kenapa bisa dia berangkat bersama laki-laki seperti Deva?



"Jelasin!" tegas Lita.



Una pun bingung dengan ucapan Lita.



"Jelasin apa?" tanya Una dengan polosnya.



"Ihh... Jelasin kenapa kamu bisa bareng sama Deva!" geram Lita.



"Ohh itu. Gapapa kita kan teman" jawab Una dengan santainya.




"Udah gausah di pikirin. dia baik ko" ucap Una sambil meyakinkan sahabatnya.



"Oke. Awas aja kalo dia ngapa-ngapain kamu! Aku gak akan tinggal diam!" tegas Lita.



Una hanya terkekeh dengan ketegasan Lita.



Tak lama kemudian Deva masuk kedalam kelas dan langsung di hampiri oleh Lita.



"Deva!" panggil Lita.



Deva enggan menoleh kepada Lita. Ia hanya fokus membaca novel dengan santainya.



"Aku peringatin ya sama kamu! Jangan macem-macem sama Una!" ancam Lita kepada Deva.



"Hm" balas Deva dengan singkatnya.


__ADS_1


Lita pun kesal dengan jawaban singkat dari Deva. Ia pun pergi menuju kursi yang ia tempati.



Sedangkan Una tengah mempersiapkan strategi untuk lebih dekat dengan Deva.



Kring...... Kring.....


Istirahat pun datang. Lita mengajak Una menuju kantin tetapi di tolak oleh Una karena ia harus pergi ke perpustakaan.


Ketika Una hendak menuju perpustakaan ia ditarik oleh seseorang menuju toilet yang sudah tidak terpakai.


"Kalian siapa?" tanya Una kepada tiga orang siswi yang berpenampilan layaknya bukan anak sekolahan.


"Ohh ini perempuan yang suka cari muka tuh.." ucap salah satu perempuan yang berambut pirang yang bernama Jennie.


"Yoi. Dia komisaris kedisiplinan yang suka menambah-nambah poin kedisiplinan kita" sahut teman Jennie yang bernama Sisca.


"Pantes guru-guru tau kalo kita suka bolos" sahut teman Jennie satunya lagi yang bernama Hana.


Jennie pun dengan segera menarik rambut Una dengan kasarnya.


"Argh.. sakit" rintih Una ketika Jennie menarik rambutnya dengan kasarnya sampai-sampai rambutnya sedikit rontok.


"Makanya jangan cari muka di depan semua orang, apalagi cari gara-gara sama kita" ancam Jennie dengan senyum sinisnya itu.


"Maaf, tapi itu adalah pekerjaan aku disini." balas Una.


"Hah apa!? Minta maaf? Hahaha lucu banget sih!" sahut Sisca.


"Tolong maafin aku.. Lepasin aku" pinta Una sambil menangis.


Sisca pun langsung menangkup kedua pipi Una dengan kasarnya.


"Kita itu mau kasih hadiah sama kamu. Jadi ini hadiahnya" ucap Sisca sambil melepaskan tangannya dari kedua pipi Una.


Byurr......


Hana menumpahkan Air kepada Una. Seragam Una pun basah kuyup dan Una menggigil kedinginan.


"Hahaha. Gimana? Suka hadiahnya? Pastinya kamu suka dong hahaha" ucap Jennie dan mereka pun pergi meninggalkan Una seorang diri.


"Dingin" gumam Una sambil memeluk dirinya sendiri.


Bel istirahat selesai pun berbunyi. Una langsung keluar dari toilet tersebut dan secara tak sengaja Una menabrak seseorang.


"Ahh ma-maaf gak sengaja" ucap Una sambil menggigil.


"Aruna?" panggil seseorang itu kepada Una.


Una mendongakan kepalanya.


"Deva?"


Deva pun melepaskan seragam sekolahnya dan memberikannya kepada Una.


"Pake! Keliatan" titah Deva.


Una pun tersipu malu dan dengan segera mengambil seragam Deva.


"Makasih" ucap Una.


"Iya" balas Deva.


"Kita ke UKS aja jangan masuk kelas. Nanti aku bilang sama guru sejarah kalo kamu lagi sakit" kata Deva sambil membawa Una menuju UKS.


"Kamu mau pake kaus hitam di saat jam pelajaran?" tanya Una kepada Deva.


"Aku bawa seragam dua" jawab Deva.


"Pake aja seragam aku. Kamu tunggu aja disini aku mau ke kelas" ucap Deva sambil pergi meninggalkan Una seorang diri di UKS.

__ADS_1


Una pun tersenyum kala mendapatkan perhatian dari Deva.


__ADS_2