
Tak lama kemudian, seorang ibu muda menghampiri mereka yang tengah asik bermain ayunan.
"Avel!" sergah ibu muda tersebut yang mengejutkan mereka bertiga.
Avel pun turun dari ayunan dan langsung berlari menghampiri ibu muda tersebut. Ibu muda itu pun langsung memeluk erat Avel.
Deva dan Una menghampiri mereka.
"Maaf. Apakah anda ibunya Avel?" tanya Deva dengan sopan.
Ibu muda yang diyakini ibu Avel menjawab "iya saya ibunya Avel. Terimakasih yaa udah jagain Avel dengan baik"
"Kenapa bisa berpisah seperti itu?" tanya Una kepada ibunya Avel.
"Saya juga gatau, saya lagi beli ice cream buat dia tapi tau-tau dia udah gak ada" jawab ibu Avel sambil menjelaskan kejadian.
Deva pun men-sejajarkan tubuhnya dengan Avel dan berkata "lain kali jangan gitu yaa! Bahaya. Kamu harus janji sama aku, harus jadi anak baik. Janji?"
Deva pun mengacungkan jari kelingking nya dan Avel pun mempersatukan jari kelingking nya dengan Deva.
"Janji" ucap Avel sambil tersenyum manis.
Una dan ibu Avel pun tersenyum. Ibu Avel pun membisikkan sesuatu kepada Una yang membuat Una tersipu malu.
"Sekali lagi terimakasih yaa....kita pergi dulu" pamit ibu Avel.
Ibu Avel pun mengenggam tangan Avel dan ketika hendak pergi.... Avel melepaskan genggaman Sang ibu dan langsung berlari menuju Deva.
"Ehh kenapa balik lagi?" tanya Deva kepada Avel.
Avel mengambil sebuah gantungan kunci yang berbentuk beruang dari saku celananya dan memberikannya kepada Deva.
"Ini buat kakak" ucap Avel sambil menyodorkan gantungan kucing tersebut.
Deva pun mengambil gantungan itu dan tersenyum hangat kepada Avel.
"Terimakasih ganteng"
"Yeah....Kakak gak di kasih nih?" sahut Una.
Avel pun menghampiri Una dan menyuruh Una men-sejajarkan tubuhnya dengan dirinya.
__ADS_1
Una pun menuruti perintah Avel. Tiba-tiba Avel memberikan sebuah kecupan di pipi dan sebuah gantungan kunci berbentuk kelinci.
Deva dan ibu Avel terkejut ketika Avel mengecup pipi Una dengan lembutnya.
Una tersipu malu dan langsung memeluk Avel.
"Kalo nanti kamu ketemu sama kakak lagi, jangan lupa sapa kakak yaa sayang" kata Una.
Avel menganggukkan kepalanya dan langsung berlari menuju ibunya.
"Sampai jumpa lagi" pamit Ibu Avel sambil melambaikan tangannya kepada Una dan Deva.
"DADAH AVEL! SAMPAI JUMPA LAGI" teriak Una sambil melambai-lambaikan tangannya.
Ibu Avel dan Avel telah pergi. Kini hanya mereka berdua yang berada di taman bermain.
"Gimana rasanya di kecup sama anak kecil?" tanya Deva kepada Una.
"Lembut dan hangat" jawab Una.
"Enak ya.." ucap Deva.
"Kamu mau sama aku?" tanya Una.
"Di kecup sama aku hahaha" goda Una sambil menyenggol lengan Deva.
"Tidak. Terimakasih" tolak Deva dengan tegas. Deva pun langsung menghindari Una supaya Una tidak melihat raut wajah rona malu Deva.
"Cih dasar angkuh, hmph!" kesal Una.
Una dan Deva pun berjalan bersama sambil menikmati udara malam.
"Aku antar pulang" ucap Deva.
"Hah? Gausah, gak papa" balas Una.
"Gabaik kalo wanita pulang sendirian di malam hari" ucap Deva.
Una pun tersenyum dan menjawab "baiklah, terimakasih"
Sesampainya di depan rumah Una. Hati Una mulai merasakan perasaan tidak enak.
__ADS_1
Deva melihat wajah cemas Una.
"Aku akan jelaskan kepada orang tua kamu" kata Deva sambil menenangkan Una.
"Ahh gausah. Gak papa, mungkin mereka udah pada tidur" ucap Una.
"Yaudah. Sana masuk" titah Deva kepada Una.
"Makasih yaa udah nganterin" kata Una sambil menunjukan senyum manisnya.
"Iya"
Una pun memasuki rumahnya dan Deva pergi pulang.
Una membuka pintu dengan berhati-hati, ia takut akan amarah Sang ibu ketika ia pulang tengah malam.
Ketika Una akan berjalan menuju kamarnya, langkahnya terhenti kala Sang ibu menyadari dirinya telah pulang.
"Bagus yaa...baru pulang!" marah Zoya kepada Una.
Una pun menghampiri ibunya dan berkata "maaf Bu"
"Mau jadi ja**ng kamu hah!? Sini! Aku akan kasih hukuman buat kamu" bentak Zoya sambil menarik lengan Una dengan kasarnya.
"Argh.. Sakit bu" rintih Una.
Zoya membawa Una ke gudang dan langsung mendorong Una dengan kasarnya.
"Diam kamu disini 2 hari disini! Ini hukuman buat kamu!" sergah Zoya.
"Tapi bu... Kakak suka pulang setiap jam 3pagi. Tapi kenapa ibu tidak menghukum kakak juga?" tanya Una kepada ibu tirinya itu.
Zoya langsung berjongkok dan langsung menampar Una dengan cukup kencang.
"Kamu hanya anak tidak beruntung! Berbeda dengan Angel!" tegasnya.
Zoya keluar dari gudang dan langsung mengunci Una dari luar.
Ini sudah terbiasa oleh Una, dari kecil dia selalu di kurung oleh ibu tirinya dan kakak tirinya kala Sang ayah tidak ada di rumah. Una selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kecil, tetapi ia akan mendapatkan kasih sayang palsu dari mereka berdua ketika Sang ayah ada di rumah.
Pergelangan tangan Una cukup memar karena cengkraman ibu yang sangat kuat kepadanya. Bahkan Una menahan rasa perih yang ada di pipi kanan. Hari ini, Una mendapatkan sebuah tamparan sekaligus dua kali.
__ADS_1
Una memeluk dirinya sendiri dan menenggelamkan wajahnya.
"Hiks... Bunda, aku kangen" lirih Una.