Can I Be Happy?

Can I Be Happy?
part 9


__ADS_3

Mungkin, mereka berpikir bahwa ini demi kebaikan Deva dan alm kakaknya. Tetapi, Itu bukan hal terbaik untuknya. Yang ia butuhkan adalah kehangatan sebuah keluarga bukan kemewahan. Karena pada dasarnya uang tidak bisa membeli semua yang kita mau.


Eugene pun langsung memegang kedua tangan Deva dan langsung di tepis oleh Deva secara kasar.


"deva maafin mamah" ucap Eugene.


"MINTA MAAF LAH DI DEPAN MAKAM KAKAK!" kesal Deva.


Deva langsung pergi meninggalkan rumah. Eugene mengejar Deva dan tiba-tiba Deva melempar sebuah kunci mobil.


"Aku gak butuh itu!" tegas Deva.


"Deva, tunggu!"


Deva tidak menghiraukan teriakan Eugene. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit untuk menghampiri Aruna.


"Ba***at!" umpat Deva geram.



Sesampainya di rumah sakit, Aruna tengah tertidur pulas di ranjang. Deva menghampiri Aruna dengan langkah kaki pelan. Ia mengelus kepala Aruna lembut.



"Semoga kamu selalu bahagia Aruna" gumam Deva.



Deva pun langsung mendudukkan bokongnya di sofa dan memainkan handphone.



Tanpa sadar, sedari tadi Aruna telah terbangun. Bahkan Aruna pun bisa merasakan kehangatan dari Deva ketika dia mengelus kepalanya dengan lembut.



"Deva" panggil Aruna.



Deva menoleh kepada Aruna dan bertanya "kenapa? Butuh sesuatu?"



"Gapapa kok hehe, cuman bosan aja" jawab Una.



"Mau jalan-jalan keluar?" tanya Deva kembali.



"Mau!" jawab Una penuh antusias.



"Tunggu. Aku ngambil kursi roda dulu" ucap Deva sambil pergi mengambil kursi roda.



"Tumben dia gabawa tas, biasanya dia bawa" gumam Una ketika tadi melihat Deva tidak membawa tas.



Tak lama kemudian Deva datang sambil membawa kursi roda.


__ADS_1


Ketika Deva akan membantu Aruna untuk duduk di kursi roda, Aruna menolaknya.



"Aku bisa kok! Lagi pula aku gak lumpuh" ucap Una.



Deva pun langsung mencubit pipi Aruna yang membuat Una kesakitan dan berkata "jangan ngomong kaya gitu! Gak baik!"



"Iya iya maaf deh" balas Una.



Deva langsung mendorong kursi roda tersebut menuju taman yang ada di rumah sakit.



Ketika sudah sampai di taman, Deva duduk di bangku taman.



"Menurut kamu, apa arti hidup?" tanya Deva tiba-tiba kepada Aruna.



Aruna pun menjawab nya dengan sudut pandang sendiri.



"Hidup itu memerlukan orang lain, jika kamu sendirian kamu tidak akan sanggup memahami keadaan kamu" jawab Una sambil melihat sekeliling taman.




"Apa yang ingin kamu lakuin setelah ini?" tanya Deva.



"Membuat kenangan indah bersama orang terdekat" jawab Una.



"Aku akan berusaha mengabulkan permintaan kamu" balas Deva sambil tersenyum.



Una merasakan bahwa Deva tidak baik-baik saja. Karena Una bisa melihat tatapan itu.



"Kamu gak ada masalah apapun kan?" tanya Una.



"Gak ada kok" jawab Deva bohong.



"Bener? Gak bohong kan?" tanya Una kembali.



"Gak. Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" tanya Deva balik.

__ADS_1



"Gapapa" jawab Una.



"Gak mungkin aku menceritakan apa yang terjadi" batin Deva.



Mereka pun melanjutkan perjalanan di taman tersebut.



Deva berpamitan pulang kepada Una. Ia tidak bisa menjaga Una setiap saat.


Deva mempunyai apartemen sederhana dari hasil tabungan yang ia kumpulkan dari kecil ketika mendapatkan sebuah amplop dari neneknya.


Ia bergegas menuju apartemen dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


"Besok ada kejadian apa lagi?" gumamnya.


Drrtt.....Drrrt.....


Sebuah nomor tidak di kenal menelpon Deva. Deva pun mengangkat telpon tersebut dan itu ternyata adalah nomor Lita.


Lita seperti biasanya menanyakan kabar Aruna dan ujung-ujungnya menanyakan dirinya dan mengajak ketemuan di luar. Tentu, Deva menolaknya.


"Aruna, gadis bodoh yang tidak bisa membedakan sifat manusia pengkhianat dan sifat manusia tulus" gumam Deva kembali.


Deva pun memejamkan kedua matanya karena lelah dengan kejadian yang ia alami hari ini.


Keesokan paginya, Deva bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sedangkan Aruna masih di rawat di rumah sakit.


Deva berangkat sekolah menaiki bus.


Sesampainya di sekolah, Lita langsung menghampiri Deva.


"Pagi Deva" sapa Lita.


Deva tidak mengacuhkan sapaan Lita. Seperti biasanya Deva hanya fokus membaca buku.


"Deva ih!" geram Lita dan langsung mengambil buku itu dari Deva.


"Ada masalah apa sih? Punya tata krama gak?" tanya Deva yang masih bisa menahan amarahnya kepada Lita.


"Kamu tadi cuekin aku sih! Kan kesel" jawab Lita.


"Emang kamu siapa nya aku? Kamu bukan siapa-siapa nya aku." tegas Deva kepada Lita.


"Aku teman nya Aruna! Jadi aku juga berhak dong dekat dengan kamu!" ucap Lita.


Kini mereka menjadi pusat perhatian di kelas. Bisikan demi bisikan terhadap mereka mulai terdengar oleh Deva.


Deva pun mendekat kepada Lita dan membisikkan sesuatu kepadanya.


"Teman? Kayanya engga deh mulai sekarang. Karena aku mulai mencium bau kebusukan dari kamu" bisik Deva.


Lita pun membelak matanya kala mendengar perkataan Deva. Ia pun dengan segera membantah tuduhan itu.


"Jangan sok tau! Aku tulus berteman dengan Aruna! Lagi pula, emangnya aku salah dekat sama kamu? Lagi pula, kalian hanya cuman teman gak lebih" ucap Lita sambil menyilang kedua tangannya.


"Terserah" balas Deva dan langsung pergi dari kelas.


Lita tersenyum seringai setelah kepergian Deva.


"Semakin menarik deh" batin Lita.

__ADS_1


__ADS_2