Can I Be Happy?

Can I Be Happy?
part 6


__ADS_3

Pagi pun tiba. Una mengerjapkan matanya dan langsung bangun dari tidurnya.


"Besok aku baru keluar dari gudang ini, hari ini aku akan minta izin kepada Lita" gumam Una.


Una pun mencari tas nya, tetapi tidak ada. Apa mungkin tas nya terjatuh kala ia di tarik kasar oleh ibu?


"Huft.. Yaudahlah, gapapa" gumamnya kembali.


Una memegang perutnya karena lapar. Tadi malam ia hanya memakan cake dan susu coklat.


Tok Tok Tok


"Ibu?"


"Bukan non, ini bibi" sahutnya di balik pintu.


"Loh bibi? Kenapa bibi ada disini? Gimana kalo ibu tau?" tanya Una.


Bibi pun membuka pintu tersebut dan langsung menyodorkan makanan dan minum kepada Una.


"Tenang aja non. Nyonya dan kakak lagi keluar. Jadi kalo udah selesai makan simpen aja di tempat biasanya yaa" kata bibi dan langsung mengunci pintu kembali.


"Terimakasih makci" gumam Una.


Una pun langsung memakan dengan lahap. Dari dulu, ia mempunyai tempat dimana ia selalu menaruh bekas makan di sebuah lemari yang sudah rusak.




Ditempat lain seorang pemuda tengah mencemaskan Una. Ia takut hal yang ia pikirkan terjadi.



"Apa dia baik-baik saja? Kenapa aku akhir-akhir ini sering mencemaskan nya?" batin Deva.



"Deva" sergah seseorang yang menyadarkan Deva dari lamunan.



Deva menoleh ke sumber suara tersebut, dan ternyata itu temannya Una yaitu Lita.



Lita menghampiri Deva dan menanyakan soal tentang Una.



"Kamu ada kabar gak dari Una? Kenapa hari ini dia gak masuk sekolah" tanya Lita.



"Gak ada" jawab Deva singkat.



"Bukannya kamu temannya? Seharusnya kamu tau kemana dia." tanya Deva dengan nada dinginnya.



"Aku itu punya kesibukan sendiri tau!" tegas Lita.



"Ahh.. Sudahlah. Kalo kamu gak tau, palingan Una telat bangun" ucap Lita sambil pergi meninggalkan Deva.



Deva menilai sosok Lita adalah wanita yang tidak mempunyai kesetiaan kawan.



"Aku yakin, pertemanan mereka tidak lama" gumam Deva.



Kring..... kring....


Jam pelajaran telah selesai.



Deva yang hendak pulang menuju rumah, tiba-tiba ia di hentikan oleh Lita.



"Kenapa?" tanya Deva kepada Lita.



"Anterin aku ke perpustakaan yang sering kamu kunjungi, plis....mau pinjem buku" pinta Lita kepada Deva sambil memegang tangannya.



"Aku lagi sibuk. Maaf" ucap Deva sambil melepaskan pegangan Lita.



"Yeahh.....tapi aku pengennya sama kamu Dev!" tegas Lita.

__ADS_1



"Kenapa harus sama aku!?" sergah Deva.



Lita pun memasang wajah imutnya, tetapi itu tidak mempan bagi Deva.



"Jangan memasang wajah seperti itu! Itu membuat aku pengen muntah" kata Deva dengan berkata jujur tapi Lita berpikir itu adalah hanya ejekan semata.



"Yauda dong.. Plis.. Aku mohon" pinta Lita sekali lagi sambil menangkup kedua tangan nya.



Deva pun menyerah dan ia pun menuruti kemauan Lita.



"Oke. Cuman ke perpustakaan tidak kemana-mana lagi! Paham!?" ucap Deva penuh dengan tekanan.



Lita pun tersenyum dan berkata "Oke oke"



"Emm... Tapi naik mobil kamu kan? Soalnya aku gak pernah bawa mobil ke sekolah hehe" ucap Lita.



"Hm"



"Yeay"



Mereka pun langsung menaiki mobil dan langsung pergi menuju perpustakaan.



Sesampainya di perpustakaan, Lita langsung mencari buku yang ia cari.



"Merepotkan" gumam Deva.




Deva pun menoleh dan ternyata itu adalah penjaga perpustakaan yang ia kenal.



"Mau minjem buku lagi? Buku yang kemarin aja belum di kembaliin" tanya temannya itu yang bernama Luthfi.



"Engga. Lagi nganter temen aja" jawab Deva.



"Temen apa demen?" goda Luthfi kepada Deva.



"T-e-m-e-n!" jawab Deva penuh tekanan.



Luthfi pun menepuk-nepuk bahu temannya itu dan berkata "selow dong selow"



"Yauda, yuk duduk dulu disana, dari pada berdiam diri disini. Disangkanya nanti kamu patung penjaga perpustakaan hahaha" gurau Luthfi.



Mereka berdua langsung berjalan menuju kursi dan meja yang sudah di sediakan oleh pihak perpustakaan.



"Jadi, sekarang kamu udah punya temen nih?" tanya Luthfi.



Yang Luthfi ketahui tentang Deva ialah laki-laki yang anti sosial dan cuek terhadap sekitarnya. Luthfi yakin, dibalik sifat Deva yang seperti itu pasti Deva memiliki kehangatan yang setia, yang membuat orang yang dekat dengannya nyaman.



"Iya" jawab Deva sambil membaca buku yang ia bawa.



"Perempuan atau laki-laki nih?" tanyanya kembali.

__ADS_1



"Perempuan"



"Cantik gak?"



"Biasa aja"



"Suka gak sama dia?"



"Mungkin" jawab Deva tanpa sadar.



"Acie.....udah puber yaa" goda Luthfi.



Deva baru menyadari jawabannya. Ia pun dengan segera membantah jawaban tersebut.



"Bohong! Tidak mengakui perasaan sendiri" kata Luthfi.



"Masih bingung dengan perasaan sebenarnya, lagi pula perempuan nya bukan yang ini" balas Deva.



"Terus?"



Deva pun menceritakan pertemuan dirinya dengan Aruna. Luthfi pun sedikit terkejut dengan cerita Deva. Bahkan luthfi berteman dengan Deva karena, Deva selalu datang ke perpustakaan dan akhirnya Luthfi mengajak berteman kepada Deva.



"Keren" puji Luthfi tentang cerita Deva.



"Apanya yang keren hah!?" tanya Deva dengan sedikit ketus.



"Perempuan yang bernama Aruna itulah. Dia perempuan kuat pastinya" jawab Luthfi.



"Iya dia perempuan kuat" balas Deva sambil terbayang wajah cerianya Aruna.



"Deva" panggil Lita kepada Deva.



Lita pun langsung duduk di sebelah Deva.



"Padahal gak ada yang suruh dia duduk deh" batin Luthfi.



Lita melirik ke arah Luthfi dan langsung menjabat tangan untuk berkenalan dengan Luthfi.



"Hai. Aku lita temannya Deva" ucap Lita sambil tersenyum.



"Tuhkan, padahal si Deva ga suruh dia kenalan sama aku. Benar-benar membingungkan" batin Luthfi kembali.



Luthfi pun menerima jabat tangan tersebut dan berkata "luthfi. Teman Deva juga"



"Woah.... Ternyata Deva punya teman yang lain juga yaa" ucap Lita.



"Tapi, aku gak pernah liat kamu di sekolah"



"Ahh... Aku udah kuliah" balas Luthfi.


__ADS_1


Sedangkan dari tadi, Deva hanya fokus membaca buku tidak menghiraukan percakapan mereka berdua.


__ADS_2