Can I Be Happy?

Can I Be Happy?
part 8


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Aruna langsung di bawa ke UGD. Saat ini Deva tengah mencemaskan keadaan Una. Ia khawatir tentang penyakitnya.


"Lindungilah dia Tuhan" gumam Deva.


Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan Una. Deva langsung menghampiri dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan Una.


"Gimana keadaannya?" tanya Deva kepada dokter tersebut.


"Kamu keluarganya?" tanya balik dokter itu.


"Bukan. Saya temannya" jawab Deva.


Dokter itu tersenyum dan berkata "ikut ke ruangan saya, ada yang harus saya omongin sama kamu"


Deva pun mengikuti dokter dari belakang menuju ruangannya.


"Ada apa?" tanya Deva to the point.


"Kamu tau apa yang di derita oleh Aruna?" tanya balik dokter kepada Deva.


"Tau, dan kenapa dokter bisa tau namanya?"


"Saya dokter khusus untuk menangani dia. Nama saya Angga" jawab dokter yang bernama Angga tersebut sambil memperkenalkan dirinya.


"Jadi, apa Aruna baik-baik saja?" tanya Deva.


"Dia hanya sedikit lemas dan baik-baik saja. Saya harap kamu bisa menjaganya dengan baik dan membuat dia bahagia" jawab Angga.


"Saya akan berusaha" ujar Deva.


"Untuk beberapa hari, dia harus di rawat disini" ucap Angga.


"Yasudah, saya mau kembali bekerja" lanjut Angga dan langsung pergi meninggal Deva seorang diri di ruangan itu.


Deva memejamkan matanya dan bergumam "aku ga yakin bisa ngebahagiain kamu Aruna, aku juga sama seperti kamu, menyimpan sebuah luka"


Deva pun keluar dari ruangan Angga dan bergegas menuju ruangan rawat inap Aruna.


Ia menghampiri Aruna yang tengah berbaring lemah di ranjang. Ia mengelus kepala Aruna dengan lembut.


"Sampai kapan, kamu bisa bertahan?" gumam Deva.


Akhirnya Deva memutuskan untuk pulang kerumah.




Sesampainya di depan rumah, Deva langsung membuka gerbang dan memasukkan mobilnya ke dalam.



Deva melihat ke arah mobil lain yang terparkir di rumah. Deva sudah tau, siapa pemilik mobil tersebut.


__ADS_1


"Aku pulang" ucap Deva.



"Deva? Kamu udah pulang?" tanya seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat muda.



Deva enggan menoleh ke arah sumber suara tersebut. Deva mengacuhkannya.



"Sayang? Maafin mamah ya,,, mamah jarang ada buat kamu" ujar perempuan tersebut yang bernama Eugene.



"Terus? Mau ngapain kesini lagi?" tanya Deva.



"Gapapa. Mamah cuman kangen sama kamu" jawab Eugene sambil mendekat ke arah Deva.



"Jangan mendekat!" sentak Deva ketika menyadari ibunya mendekati dirinya.



"Kenapa? Mamah cuman ingin peluk kamu" lirih Eugene.




"Maaf" lirih Eugene kembali.



Sejujurnya, Deva ingin sekali dipeluk oleh ibunya. Tetapi, Deva mengingat kejadian demi kejadian yang terjadi kepadanya. Hal itu membuat Deva enggan dipeluk.



"Telat!" tegas Deva.



Ketika Deva hendak menuju kamar, ia ditahan oleh Eugene.



Deva menoleh ke ibunya dan bertanya "apa lagi!?"



"Mamah kesini mau bilang sama kamu, kalau mamah sama papah akan bercerai" ucap Eugene pelan.

__ADS_1



Seketika Deva melepas tangan Eugene dengan kasar.



"APA!?" bentak Deva.



"Maafin mamah Deva... Hiks" lirih Eugene.



"KALIAN MEMANG GAK PERNAH PIKIR DENGAN PERASAAN AKU DAN ALM KAKAK! YANG KALIAN PIKIRKAN HANYA DIRI KALIAN SENDIRI DAN HARTA! AKU MUAK DENGAN ITU SEMUA!" bentak Deva.



"Deva"



"APA!? EMANG BENER! KAKAK MATI GARA-GARA KESALAHAN KALIAN!! APAKAH KALIAN TIDAK PERNAH BERSALAH ATAS KEMATIAN KAKAK?" tanya Deva yang meluapkan semua amarahnya.



"Itu sudah kehendak Tuhan Deva" ujar Eugene.



"GAK! ITU SEMUA SALAH KALIAN! YANG ADA PIKIRAN KALIAN ITU HARTA DAN HARTA!" kesal Deva.



"Itu semua demi kebaikan kalian!" sergah Eugene.



"APA!? DEMI KEBAIKAN AKU DAN KAKAK? YANG KITA BUTUHIN ITU KASIH SAYANG DARI KALIAN! BUKAN UANG!" bentak Deva.



Waktu kecil, Deva tidak merasakan kesepian meskipun tidak ada Eugene dan suaminya. Ia selalu merasakan kebahagian bersama Alm. Kakaknya. Dia selalu menjaga Deva dengan baik dan melindungi nya. Bahkan, mereka mempunyai janji, yaitu 'kita harus saling melindungi satu sama lain untuk selamanya'



Tetapi, takdir berkata lain. Deva di pisahkan selamanya dengan kakak. Setelah kematian sang kakak, barulah Deva merasakan kesepian. Ia selalu di tinggal oleh Eugene dan suaminya karena pekerjaan.



Dengan kedatangan Eugene hari ini, membuat Deva semakin sesak dengan keadaan.



Untuk pertama kalinya, Deva meluapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam seorang diri kepada Eugene.

__ADS_1


__ADS_2