
Drap drap drap
Lita tengah berlari tergesa-gesa menuju UKS.
BRAK.
Una yang tengah tertidur di ranjang yang tersedia di UKS terkejut kala seseorang membuka pintu UKS dengan kencang.
Lita pun langsung menghampiri Una dengan tatapan khawatir.
"Una ku..." lirih Lita sambil memeluk Una.
Una terkejut kala Lita langsung memeluk dirinya sambil menangis dan menahan amarah.
"Lita yaampun ternyata kamu. Aku kaget tau kirain siapa" ucap Una sambil melepaskan pelukan.
"Kamu kenapa? Aku khawatir tau!" balas Lita.
Mata Lita tertuju ke seragam yang di gunakan Una dan rok yang basah.
"Kenapa?" tanya Lita kepada Una yang membuat Una bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Itu kenapa kamu pake seragam besar kaya punya cowo dan kenapa rok kamu basah?" tanya Lita kembali.
"Ini tadi aku jatuh di toilet hehe" jawab Una dengan berbohong. Tetapi, Lita tidak mempercayai jawaban nya.
"Bohong. Mana mungkin jatuh di toilet sampai basah kuyup gitu!" tegas Lita.
Tiba-tiba Deva datang sambil menyodorkan tas milik Una. Deva sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Karena ia tahu apa yang terjadi kepada Una dan Una tidak menyukai pertengkaran.
"Ganggu aja sih!" geram Lita.
"Apa?" tanya Deva dengan polosnya.
"Hmph!"
Una terkekeh geli melihat raut wajah temannya itu.
Deva melirik ke arah Una dan berkata "kata guru sejarah, kamu pulang aja."
"Ahh iya. Terimakasih" balas Una sambil tersenyum manis kepada Deva.
Deva pun mengalihkan pandangannya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Tetapi, langkahnya terhenti kala mendengar pertanyaan dari Lita.
"Terus Una dianter sama siapa? Sama satpam gitu?" tanya Lita kepada Deva.
Deva pun berbalik badan dan langsung memberikan kunci mobilnya kepada Lita.
"Nih. Aku yakin kamu bisa pake mobil" kata Deva sambil menyodorkan kunci mobil miliknya.
"Iya bisa!" balas Lita sambil mengambil kunci mobil tersebut.
"Terimakasih lagi Deva" sahut Una.
Deva pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dasar aneh! Baru kali ini gitu ada laki-laki gak peka nya pake banget! Hmph" geram Lita sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Dari pada marah-marah mending bantu aku deh. Aku tiba-tiba lemas" sahut Una.
"Ah iya.. Hehe" kekeh Lita.
Lita pun membantu Una berjalan keluar UKS dan mereka pun menuju parkiran.
Dilain tempat kini seseorang tengah bingung dengan perasaannya sendiri terhadap seorang gadis manis.
"Sadarlah! Ini bukan kisah cinta romantis" gumamnya.
Ia pun langsung pergi menuju kelas dan mengikuti pelajaran sejarah.
Kring... Kring....
__ADS_1
Jam pelajaran pun selesai. Tetapi, Lita masih belum sampai di sekolah. Deva hanya menunggu di gerbang sambil berbincang kecil bersama satpam.
Tin Tin Tin
"TAS AKU UDAH DIBAWA KAN?" Teriak Lita di dalam mobil milik Deva.
Deva pun hanya memandang Lita malas dan membawa Tas Lita menuju mobilnya.
"Turun!" titah Deva kepada Lita.
Lita menolak nya dan berkata "anterin ke rumah ya... Supir aku gabakalan jemput"
Deva pun pasrah dan mengantarkan Lita menuju rumahnya.
Di dalam perjalanan Lita selalu bertanya kepada Deva tentang seberapa dekatnya dia dengan Una. Deva hanya menjawab singkat pertanyaan Lita.
Tidak terasa mereka telah sampai di depan rumah Lita.
"Mau masuk dulu?"
"Gak. Makasih" jawab Deva.
"Yaudah, makasih yaa" ucap Lita sambil tersenyum.
Deva pun langsung menancapkan gasnya meninggalkan perkarangan rumah Lita.
Lita tersenyum melihat kepergian Deva.
"Ternyata cuman teman biasa" gumam Lita.
Besok pun tiba, Una tengah setia menunggu Deva di pinggir jalan.
Una pun melirik jam tangan nya dan ini adalah waktu dimana Deva muncul, tetapi Deva tidak ada.
Tak lama kemudian Deva pun muncul dan dengan segera Una menghampirinya dengan gembira.
"Pagi Deva" salam hangat Una kepada Deva.
"Pagi" jawab Deva dengan nada Datar.
"Udah sarapan? Aku bawa bekal roti nih" tanya Una sambil memperlihatkan kotak nasi yang di dalamnya sandwich buatan dirinya.
"Udah" jawab singkat Deva.
Una pun mendesah kecewa.
Deva yang melihat raut wajah sedih Una, mengambil kotak nasi tersebut dari tangan Una. Una pun tersenyum bahagia.
"Makasih" gumam Deva.
__ADS_1
"Hah? Gak kedengeran" goda Una terhadap Deva.
Deva pun tidak menghiraukan ucapan Una. Ia pun langsung mempercepat langkah kakinya.
"Deva! Tunggu! Jangan tinggalin aku lagi dong" rengek Una. Ia pun mengejar Deva.
Sesampainya di kelas Una di sambut oleh Lita dan teman-teman lainnya.
"Udah ngerjain PR belum? Semalem kan aku udah kasih soalnya" tanya Lita kepada Una.
Una pun menyimpan tas nya di kursi dan menjawab "udah dong"
Lita pun langsung memijat tangan Una dengan lembut sembari tersenyum. Una tau makna dari perhatian dan senyuman itu.
"Sini aku jelasin" ucap Una.
Lita pun langsung memeluk temannya itu dan berkata "wah kaulah teman terbaik ku"
"Dasar"
Una pun langsung menjelaskan PR tersebut kepada Lita. Dilain tempat Deva tengah memperhatikan interaksi mereka.
"Pinter banget berpura-pura nya" batin Deva.
Kring kring kring
Jam pelajaran telah selesai. Ketika Deva hendak pulang, Una menghalangi jalannya.
"Ada apa?" tanya Deva kepada Una.
"Nanti sore mau gak temani aku makan cake di cafe yang baru buka?" tawar Una sambil tersenyum.
"Gak" jawab Deva dengan tegas.
"Yeah...ayolah kali-kali ya..." rengek Una.
Deva pun menyerah dan "oke aku mau"
Una pun tersenyum senang dan langsung melangkah pergi. Tetapi, langkahnya terhenti dan langsung berteriak "nanti aku bakal line kamu dimana cafe nya! Jangan lupa balas ya..."
Deva pun menaikan alisnya sebelah.
"Perasaan aku belum pernah kasih id line aku ke dia" gumam Deva bingung.
Deva pun langsung bergegas pulang.
__ADS_1