
Di sepanjang jalan, Una terus tersenyum bahagia karena ia akan makan bersama dengan Deva.
Sesampainya di rumah, Una mencari ibu tiri dan kakak tirinya. Tetapi, Una merasa kalo mereka sedang tidak ada di rumah.
Dirinya terkadang mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tiri dan kakak tirinya kalo ayahnya sedang keluar negeri atau keluar kota. Tetapi, Una tidak pernah membenci mereka. Ibu kandung Una telah meninggal sejak dirinya masih usia sepuluh tahun.
"Una sudah pulang?" tanya seorang pembantu paruh baya yang telah Una anggap sebagai ibu kedua bagi Una.
"Ah...Iya, Una udah pulang. Ibu sama kakak kemana?" tanya Una.
"Nyonya sama kakak lagi keluar, gatau kemana" jawab pembantu paruh baya itu yang bernama bi Siti.
"Yauda deh. Una ke kemar dulu ya bii" ucap Una sambil tersenyum dan melenggang pergi menuju kamarnya.
Una pun langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Deva.
Una:"udah sampai kah?"
"Kita ketemuan di cafe starlight, yang dijalan anggrek"
^^^Deva: "oke."^^^
Una: "sampi ketemu disana😊"
Read.
Una tersenyum dan langsung membaringkan tubuhnya karena lelah. Ketika Una hendak tidur, tangan Una di tarik oleh seseorang sampai-sampai Una terjatuh ke bawah.
Una pun melihat siapa pelakunya dan ternyata itu adalah perbuatan kakak tirinya.
"Mau tidur hah!? Enak aja! Cuciin sandal yang barusan aku pake! Cepat!" sergah kaka tirinya yang bernama Angel.
"Iya kak" ucap Una sambil bangkit dari jatuhnya dan langsung berjalan pergi untuk mengambil sandal yang harus ia cuci.
"Hei, Aruna!" panggil ibunya kepada Una.
Una pun menghampiri sang ibu yang bernama Zoya dan bertanya "ya ibu, ada apa?"
"Mau cuci sandal nya Angel kan? Sekalian cuciin sandal ibu juga dan setelah itu, beresin semua barang-barang yang baru saja ibu beli termasuk punya Angel." titah Zoya.
Una pun tersenyum dan menjawab "baik bu"
Ibu dan kakak tirinya pun tersenyum senang. Sedangkan bi Siti, tengah prihatin kepada Una. Yang selalu mendapatkan perlakuan tidak baik.
Una pun dengan gesit nya mencuci sandal dan membereskan semua barang belanjaan. Karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Deva.
Pekerjaan pun selesai. Una pun bergegas bersiap-siap untuk bertemu dengan Deva.
Ketika Una hendak pergi, ia di halangi oleh Angel.
"Mau kemana?" tanya Angel dengan tampang judesnya.
"Mau ketemuan sama temen kak" jawab Una jujur.
"Hah? Mau ketemuan sama temen? Enak banget ya jadi kamu, santai-santai terus main sama temen" ucap Angel.
"Tapi kak, aku kan tadi udah beres-beres dan cuci sandal kakak sama ibu" balas Una.
"Ohh.. Jadi kamu gak ikhlas ngelakuin itu?" sahut Zoya dari belakang.
__ADS_1
"Bukan seperti itu bu, ini pertama kalinya aku mau main sama temen" balas Una dengan raut wajah sedihnya.
PLAK.
"Beraninya kamu membantah hah!?" sergah Zoya.
Una pun mengelus pipi kanannya yang merah karena tamparan dari ibu.
"Maaf Bu" lirih Una.
Angel pun langsung menarik Sang ibu dan berbisik "udahlah biarkan dia pergi. Aku juga agak bosen liat wajah nya terus, jijik"
Zoya pun mengizinkan Una untuk pergi, Una pun tersenyum senang.
"Terimakasih bu" ucap Una dan langsung pergi menuju kafe.
Dilain tempat kini yaitu di kafe starlight. Deva tengah menunggu Una.
"Kemana sih dia? Aku udah nunggu sekitar tujuh menit nih" gumam Deva sambil melirik jam tangan nya.
Tak lama kemudian, Una datang dan langsung menghampiri Deva.
"Maaf, udah nunggu lama ya?" tanya Una.
Una pun mendudukkan bokongnya di kursi. Una tidak menyadari bahwa Deva tengah memperhatikan dirinya.
"Pipinya merah seperti sudah di tampar" batin Deva.
"Udah pesen belum?" tanya Una yang menyadarkan Deva dari lamunan.
"Belum" jawab Deva.
"Yaudah nih pesen, aku udah pesen hehe" ucap Una sambil menyodorkan daftar menu kepada Deva.
Deva dan Una pun telah memesan menu, tinggal menunggu hidangan nya datang ke meja mereka.
__ADS_1
"Aku senang, ini pertama kalinya aku bermain sama teman" ucap Una sambil tersenyum senang.
"Emangnya kamu gak pernah main sama teman mu yang cerewet itu?" tanya Deva kepada Una.
"Gak pernah. Soalnya dia selalu sibuk latihan biola" jawab Una.
Deva pun hanya ber "oh" ria saja. Pesanan mereka pun datang dan dengan lahapnya Una menyantap cake pesanannya.
Deva tersenyum tipis melihat Una yang tengah memakan cake coklat dengan lahapnya.
Di sela-sela makan, Una melemparkan candaan kepada Deva.
"Ohh iya, sebelum aku meninggal kamu boleh makan pankreas aku hehe.." gurau Una.
"Buat apa aku makan pankreas kamu?" tanya Deva.
"Karena menurut mitos, hal itu bisa membuat jiwa aku hidup di dalam hati seseorang yang memakan pankreas nya" jawab Una.
Deva pun menanggapi candaan Una dengan menolak melakukannya dan berkata "aku menolaknya. Karena jiwa kamu pasti akan membuat aku berisik"
Saat mereka pulang dari kafe, Una melihat seekor kucing manis yang tengah berbaring di pinggir jalan. Una pun menghampiri kucing tersebut dan langsung mengelus kucing itu dengan lembutnya.
"Kayanya dia kelaparan" ucap Deva sambil ikut mengelus kucing tersebut.
"Kesian... Sebentar yaa tunggu disini" titah Una kepada Deva. Deva pun hanya menuruti perkataan Una.
Una pun berlari menuju kedai yang menjual ikan. Ia pun membeli 1 ikan saja dan langsung bergegas menuju tempat tadi.
"Ini" ucap Una sambil menyodorkan kresek hitam.
Deva pun menaikkan halisnya sebelah dan bertanya "apa ini?"
"Itu ikan hehe.. Aku cuman beli satu" jawab Una sambil cengegesan.
Deva pun tersenyum kepada Una dan langsung mengambil kresek yang berisi ikan tersebut.
Una hanya terbengong ketika Deva tersenyum kepadanya. Ini baru pertama kalinya Una melihat, senyuman Deva yang hangat.
"Barusan dia senyum ke aku?" batin Una.
__ADS_1
(semoga kalian suka sama cerita aku^^penuh konflik, sad parah dan bikin emosi.... jadi ikuti aja kisahnya^^)