
Di dalam perjalanan pulang, Una selalu mengeluarkan candaan tetapi Deva meresponnya dengan dingin.
"Ahh nyebelin.." gumam Una.
"Apa?" tanya Deva.
"Kamu gak senyum-senyum! Padahal dari tadi aku ngeluarin tebak-tebakan yang lucu" kesal Una.
"Menurutku, itu gak lucu Aruna" ucap Deva dengan lembutnya.
Una pun tersenyum dan bertanya "berarti.... Yang lucu itu aku yaa?"
Deva pun memandang Una malas dan menjawab "gak" dengan tegasnya.
"hmph!" kesal Una. Una pun berjalan dengan cepat dan meninggal Deva di belakang yang berjalan santai menikmati udara malam yang sejuk.
Deva tersenyum tipis melihat Una seperti itu.
"GAK MAU KE TAMAN DULU NIH?" teriak Deva kepada Una.
Una pun langsung menghampiri Deva dengan senangnya.
"Ayok" ajak Una kepada Deva sambil menarik tangannya.
Mereka pun berlari menuju taman sambil berpegangan tangan.
Deva tidak mencegah Una, karena ia melihat raut wajah Una yang begitu senangnya.
Sesampainya mereka di taman, Una langsung menaiki ayunan yang di ikuti oleh Deva.
"Kamu mau ngapain naik juga?" tanya Una kepada Deva.
"Ya mau main juga lah" jawab Deva dengan santainya.
"Ih...kamu dorongin aku aja! Ayok" ucap Una.
Deva pun menuruti perkataan Una. Ia pun mendorong ayunan Una dengan pelan.
"Kok pelan sih? Lebih kenceng lagi dong! Kamu kan tadi udah makan cake pasti tenaga nya ada dong" ejek Una kepada Deva.
"Kalo nanti jatuh gimana huh!?" tegas Deva.
"Gabakalan! Aku udah biasa.. Ayolah" rengek Una sambil memperlihatkan pupy eyesnya.
Akhirnya Deva mengalah. Ia pun langsung mendorong ayunan tersebut dengan sedikit kencang.
"Yeayyy.... Lebih kencang lagi" riang Una.
"Oke"
Deva terus mendorong ayunan tersebut dengan sedikit kencang, sampai-sampai Una tertawa lepas.
"Seru hahaha"
Deva tersenyum senang melihat Una yang seperti itu.
"Mau lebih kenceng lagi?" tanya Deva.
__ADS_1
"Mau!!" jawab Una dengan senangnya.
Deva pun mendorong ayunan nya dengan kencang.
"Yeayy terbang..... Hahaha" riang Una kembali.
Deva pun menghentikan ayunan tersebut yang membuat Una bingung.
"Kenapa?" tanya Una.
"Aku mau beli minum dulu, tunggu disini yaa" ucap Deva.
"Oke deh" balas Una.
Deva pun bergegas menuju minimarket untuk membeli minuman.
Sesampainya di mini market, Deva membeli sebuah susu kotak coklat dua.
"Aku yakin dia pasti suka susu coklat" gumam Deva.
Ketika Deva hendak menuju kasir untuk membayar susu tersebut. Ia bertemu dengan Lita.
"Hai Deva!" sapa Lita kepada Deva.
"Hai" sapa balik Deva dengan nada dingin.
Lita pun melirik kepada susu kotak yang dibawa oleh Deva dan bertanya "suka susu coklat ya?"
"Gajuga" jawab Deva.
"Habis dari mana kamu? Sama siapa?" tanya Lita kembali.
Lita pun sedikit geram dengan sikap dingin Deva. Ia pun menghampiri Deva kembali diluar minimarket.
"Kenapa lagi?" tanya Deva.
"Udah makan malam belum? Kalo belum... Mau gak kamu temenin aku makan malam di sekitar restoran sini" tawar Lita sambil tersenyum manis.
"Gak makasih" jawab Deva dengan singkat dan langsung pergi meninggalkan Lita. Tetapi, lita langsung mencegahnya.
"Aku mohon.. Sekali ini saja" pinta Lita.
"Jangan memaksa orang lain! Bahkan kita, dari awal gak terlalu dekat jadi jangan sok dekat" ancam Deva dan langsung melenggang pergi.
"Cih dasar angkuh" geram Lita.
Deva pun berlari menuju taman dan masih mendapati Una yang tengah bermain dengan anak kecil laki-laki.
Deva pun menghampiri mereka.
"Aruna. Kenapa ada anak kecil?" tanya Deva kepada Una.
"Tadi dia lagi nangis karena orang tuanya gak ada" jawab Una dengan jujur.
"Apa?"
Flashback Una bertemu dengan anak kecil itu.
__ADS_1
Una yang tengah bermainan ayunan di kejutkan dengan suara tangis anak kecil. Ia pun mencari sumber suara tersebut.
Una pun akhirnya menemukan anak kecil yang tengah menangis di pojok taman.
Una menghampiri anak kecil tersebut dan bertanya "kenapa menangis? Mana orang tua kamu?"
"Hiks.. Aku gatau dimana mamah.. Hiks" jawab anak kecil itu sambil terus menangis.
"Loh? Tadi kamu kesini sama siapa?" tanya Una kembali.
"ama mamah hiks.." jawabnya kembali.
Una tidak tega meninggalkan dia sendirian disini. Una pun membawa anak kecil tersebut ke tempat yang ia bermain ayunan tadi.
Flashback selesai.
"Gitu ceritanya" ucap Una.
Deva pun mengerti. Mungkin anak kecil tersebut tertinggal oleh ibunya atau anak kecil itu yang lepas dari tangan ibunya.
"Mau itu" rengek anak kecil sambil menunjuk ke susu kotak yang dibawa oleh Deva.
"Kakak akan kasih susu ini, tapi kamu harus beri tahu dulu nama kamu. Jangan takut kakak gak akan macem-macem kok" ucap Deva dengan nada lembut dan hangat.
"Nama aku Avel" balas anak kecil itu yang bernama Avel.
"Arti dari nama kamu yaitu nafas. Bagus ya..nih susunya" kata Deva sambil memberikan susu kotak itu kepada Avel.
Avel pun menerima susu kotak itu dengan senangnya dan langsung meminumnya.
"Nih. Aku beli dua" ucap Deva sambil menyodorkan susu kotak coklat kepada Una.
Una pun tersenyum hangat dan langsung menerima susu kotak tersebut.
"Terus punya kamu mana?" tanya Una.
"Gapapa. Buat kalian aja" ucap Deva.
Una pun menganggukkan kepalanya dan langsung meminum susu tersebut.
"Dia lucu yaa" ucap Una.
"Iya. Pasti dia umur 5tahun" balas Deva.
"Aku balu umul 4tahun paman!" sahut Avel.
"Pantes. Belum bisa bilang 'R' hahaha" ejek Deva kepada Avel.
Avel pun kesal dengan ejekan Deva dan langsung membantahnya.
"Bisa kok!" tegas Avel.
"Gimana coba?" tanya Deva.
"Lllllll (Rrrrrrr)" ucap Avel dengan susah payahnya menyebut 'R'
"Tuhkan gabisa huahahaha" ejek Deva kembali sambil tertawa lepas. Deva tidak menyadari bahwa Una tengah tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
__ADS_1
"Dia bahagia banget yaa.. Baru pertama kali ngeliat Deva tertawa lepas gitu" batin Una.