
Keesokan paginya,
Rumah Novela,
" Mas,tolong jagain Novi bentar.Nanti dia main kotor lagi." ujar Novela setelah mendandani anaknya.
Dodi keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi.
" Iya.Kamu endang gih ganti baju." ucap Dodi penuh kasih sayang. " Hupla! Novi sama bapak dulu ya,'' sambil menggendong putrinya dan membawa bermain ke halaman rumah.
Novela tersenyum lalu segera masuk ke kamar dan bersiap.
Beberapa menit kemudian,Novela keluar dengan pakaian wisudanya dan segera membawa tas perlengkapan anaknya.
" Ayo,mas.Adek dah siap." ucapnya.
Dodi tersenyum bangga melihat istrinya lalu segera mengunci rumah dan mereka pun berangkat menggunakan motor mereka.
Di Universitas Rantau Prapat.
Sudah banyak para wisudawan yang hadir dan berlalu lalang dengan pakaian wisuda mereka.
Alika juga baru saja sampai dan memarkirkan mobil mereka.
" Kok adek jadi deg degan yang,mas." ucap Alika begitu turun dari mobil.
" Haha,adek kayak gak pernah wisuda aja." balas Roby sambil menurunkan anak-anaknya.
" Ya kan lain mas,waktu itu adek cuma lulusan D3 dan sekarang adek bisa S2."
" Ternyata bini mas bisa gugup juga ya." ucap Roby sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut. " Yaudah yok,mungkin orang Novela udah sampe- "
Ckit....!
Novela baru saja sampai.
" Alika! " panggil Novela sambil mengendong putrinya dan memhampiri temannya.
" Ouhhh...Novi cantik kali,kau jaitkan baju untuk dia ya." ucap Alika yang gemas melihat anaknya Novela yang mengenakan pakaian wisuda versi mini.
" Iya,lucukan? "
" Lucu kali,kenapa aku gak kepikiran buat sih."
" Hahahaha,ini dari Puji katanya untuk hadiah kelulusanku."
" Ihh...aku juga mau."
" Anisa sama Aby juga lucu kok.Pake baju kembar kayak gitu.Motif batiknya cantik,"
" Benarkah? Syukurlah aku gak salah pilih."
" Yaudah ayok kita masuk," ajak Roby.
Kedua keluarga itu pun masuk ke aula tempat acara wisuda diadakan.
Tak sampai setengah jam,para wisudawan sudah berkumpul dan para dekan serta dosen juga sudah duduk dikursi mereka masing-masing.
" Itu paman Shafar," Roby yang melihat Shafar diantara para dosen itu pun melambaikan tangan putrinya untuk menyapa Shafar.
Shafar yang tadinya serius berubah sedikit santai saat melihat tangan kecil yang imut itu melambai-lambai. Lalu ia tersenyum melihat tingkat konyol Roby itu.
Acara wisuda pun dimulai.Satu persatu urutan acara dilakakukan hingga akhirnya pemberian sertifikat kelulusan untuk para wisudawan.
Satu persatu wisudawan maju diiringi tepuk tangan wisudawan lain dan keluarga mereka.Dan kini giliran Alika dan Novela bergantian.
Dengan senyum bangga dan haru,Roby dan Dodi memberikan tepuk tangan yang meriah untuk istri-istri mereka.
Setengah jam kemudian acara pun selesai para wisudawan yang lulus pun berkumpul dan berfoto bersama.Lalu mereka mulai menyebar menghampiri keluarga mereka masing-masing.
Shafar yang baru saja berpamitan dengan dekan dan dosen lainnya pun menghapiri rombongan temannya.
" Sekali selamat untuk kalian ya, " ucapnya dengan ramah.
" Eh,pak Shafar.Makasih banyak pak." balas Alika.
" Makasih pak," lanjut Novela.
Shafar tersenyum, " Kalian mau foto foto kan? Sini biar ku fotokan." tawarnya.
" Makasih pak," ucap Alika lalu memberikan ponselnya.
Keluarga Alika duluan yang difoto lalu keluarga Novela.
Disaat semua orang sibuk berfoto-foto,sebuah mobil mpv putih baru saja memasuki area kampus dan memarkirkannya.
Clak!
Seorang wanita dengan setelan jas dan celana panjang berwarna biru tua turun dari mobil tersebut.
Lalu wanita itu mengambil dua buket bunga dan dua totbag berwarna cream dari kursi belakang.
Pip pip! begitu mobilnya terkunci,wanita itu pun berjalan dengan santai menuju kerumunan wisudawan-wisudawan itu.
Tap tap tap....
" Eh lihat! " seseorang menunjuk kearah wanita itu.
Walau mengenakan pakaian dengan warna yang biasa namun wanita itu terus mencuri perhatihan orang-orang yang ia lewati.
" Wah..cantiknya."
" Bagaimana dia bisa jalan dengan anggun begitu? "
" Apa dia mau menemui pacarnya? Lihatlah buket yang dibawanya."
" Siapa orang itu? "
Semua orang terus berbisik-bisik namun wanita itu tetap diam dan terus berjalan sambil mencari sesuatu.
Lalu pandangan wanita itu berhenti ke bawah pohon beringin besar dengan papan ucapan dibawahnya dan ada rombongan Alika Novela sedang berbincang dan berfoto disana.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum dan mengampiri rombongan tersebut.
" Ayo liat kamera.Nisa,Novi liat sini nak." ucap Roby bersiap memfoto Alika dan Novela bersama anak-anak mereka.
" OK siap,lihat kamera semua.Satu,dua,ti-"
Roby berhenti karna melihat ekpresi istrinya dan Novela bengong dan terkejut entah melihat kemana.
" Kenapa dek? " tanya Dodi yang juga bingung.
Lalu dengan ekspresi yang masih terkejut,Novela dan Alika terburu-buru memberikan anak mereka pada suami mereka dan berlari kecil menghampiri seorang wanita yang berada dibelakang Roby.
Shafar juga terkejut melihat wanita itu.Ia tak percaya bisa melihat Wulan ditempat ini.
" Wulan! " ucap Alika dan Novela serempak dan memeluk wanita itu.
" Uhm,kalau kalian meluk aku kayak gini.Buketnya bisa rusak." ucap Wulan dengan senyum kecil di bibirnya dan kesulitan karna kedua sahabatnya itu memeluknya cukup erat.
Roby,Shafar dan Dodi pun melihat pertemuan haru ketiga sahabat itu.
" Lepaskan ini dulu dan ambil hadiah kalian." ucap Wulan dengan lembut.
Namun,kedua wanita itu tak mendengarkan dan tetap memeluk Wulan.
Wulan menghela napas pelan, " Kalian kan bukan anak remaja lagi." Wulan melihat kearah ketiga pria didepannya itu. " Bisa tolong pegangkan ini? "
Roby dan Dodi langsung peka dan mengambil buket-buket itu.
" Terima kasih." ucap Wulan lalu balas memeluk kedua temannya itu dan menepuk-nepuk punggung mereka.
" Aku gak akan langsung pergi.Jadi,kalian bisa lepasin dulu."
Novela dan Alika pun terbujuk lalu perlahan melepaskan pelukan mereka.
" Mmm,aku gak nyangka teryanta kalian masih cengeng ya." goda Wulan sambil tersenyum menahan tawa melihat kedua temannya itu menangis.
" Dasar jahat! " ucap Alika.
'' Iya,Ulan jahat.Pulang gak bilang bilang hiks!hiks! "
Wulan hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya." Kalo aku bilang,namanya bukan kejutan."
" Percuma kami khawatir,orangnya malah gak peduli kayak gini." lanjut Alika masih kesal.
" Haha,iya aku minta maaf.Udah jangan nangis lagi,wajah kalian jadi jelek,kan." Wulan menghapus air mata Novela dengan sapu tangan yang ia bawa.
Novela pun memeluk Wulan lagi,
" Kau curang Novela," ucap Alika lalu ikut memeluk Wulan. '' Aku juga masih mau."
Wulan membalas pelukan itu.
Setelah beberapa menit,setelah reuni yang haru itu.Alika dan Novela mulai tenang lalu Wulan bergantian merapikan make up kedua temannya itu.
" Ngomong ngomong kau jadi wanita sesungguhnya ya Lan." ujar Alika.
" Kan dari dulu aku perempuan,Lik."
" Bukan begitu,dulu kan gak suka dandan pake bedak aja jarang.Nah,sekarang kau bawa perlengkapan make up kemana mana."
" Uhk," Alika tersinggung mengingat saat ia menangis dengan konyol dan harus di make upin ulang.
" Ya,mungkin kau benar.Waktu sudah berlalu dan orang pasti berubah."
... ...
Shafar tersentak mendengar perkataan Wulan.Ya,harus kuakui dia memang bukan Wulan yang dulu,pikirnya.
Tapi,sosok Wulan yang percaya diri dan seakan bersinar terang itu masih saja sama dimata Shafar.Sosok yang selalu menarik perhatian Shafar,seakan ia tak ingin mengalihkan padangannya jika bertemu Wulan.
10 tahun,
Ya,sudah sepuluh tahun ia tak melihat Wulan.Namun,sosok yang menarik perhatiaannya itu tak pernah ia lupakan sekali pun.Sama saat pertama kalinya ia melihat Wulan di acara adiknya,lalu kejadian saat direstoran hingga saat ini.Entah mengapa diantara banyak orang,ia bisa langsung mengenali Wulan.
Dan tak seperti terakhir kali,kali ini Shafar bisa mendengar Wulan bicara banyak dan tersenyum. Lalu setiap kali melihat wanita itu tersenyum,hati Shafar juga ikut berdebar.
Perasaan asing yang belum pernah ia rasakan,perasaan yang tak pernah ia rasakan saat ia bersama kekasihnya.Bahkan seorang profesor seperti dia pun tak bisa mengartikan perasaan apa yang ia rasakan sekarang.
" Kau terlihat lebih baik sekarang,Lan.Apa kabarmu? " tanya Roby sambil menggendong putrinya.
" Kabarku baik.Kalau kak Roby bagaimana kabarnya? "
" Seperti yang kau lihat,aku baik baik saja."
" Siapa sangka kalau dua orang yang dulu sering dijodoh jodohkan,kini betulan berjodoh dan memiliki dua anak.Ya kan,Alika? "
" Iiih..,apaan sih Lan." balas Alika yang malu-malu karna perkataan Wulan.
" Aku hanya memuji.Begitu juga dengan Novela,aku senang ngelihat kalian bahagia kayak gini."
" Uummm...Sejak kapan Ulan jadi emosional kayak gini." ucap Novela memeluk temannya itu.
Wulan hanya tersenyum.
" Senang bertemu denganmu,aku suaminya Novela." ujar Dodi.
" Senang bertemu denganmu juga,Novela sering membicarakanmu.Dia selalu memuji atau membanggakanmu jika ada kesempatan." balas Wulan sambil menggoda Novela.
" EH? Kapan aku kayak gitu? Ulan ngadi ngadi,ah."
" Gak usah bohong,coba liat suamimu." ucap Wulan sambil menunjuk Dodi yang tersipu karna mendengar kalau istrinya selalu memujinya dibelakangnya.
Novela ikutan tersipu dan membuat orang disekitarnya juga bahagia.
Roby kemudian melirik kearah Shafar yang sedari tadi tak berhenti memperhatikan Wulan.
" Ekhem," Roby merangkul Shafar. " Kalau dia? Kau masih ingat kan Lan,dulu kalian juga sering barengan." ucapnya sambil merangkul Shafar.
Shafar yang sedikit terkejut karna ucapan Roby,entah mengapa merasa gugup juga.
" Apaan sih,Rob? "
" Siapa suruh kau diem diem aja,nanti ilang kek mana."
__ADS_1
'' Tapi,gak usah ngomong gitu juga.'' bisik Shafar.
" Kenapa kau gugup kayak gitu,santai aja." bisik Roby.
" Bukan itu...Hah,''
" Oh anda yang kemarin direstoran itu kan? Pantas saja saya merasa tidak asing." ujar Wulan dengan ramah sambil melihat kearah Shafar.
" A-ah,iya." balas Shafar gugup karna Wulan mengajaknya bicara.
" Senang bertemu denganmu lagi,kak Shafar."
Ucapan Wulan yang terlihat ramah namun terasa kalau Wulan memberi jarak antara ia dan Shafar,membuat Shafar sedikit kecewa.
'' Ya,senang bertemu denganmu juga,Lan."
balasnya sambil tersenyum.
Seketika Shafar mengucapkan namanya,entah mengapa Wulan merasa kesal.Namun,ia menyembunyikannya.
" Di restoran? Emang kalian ngapain disana,Lan? Kap- Eh,tunggu kalo gitu kau udah lama balek kemari,ya kan? " ujar Novela.
" Aku pulang tanggal 12 kemarin,sehari sebelum pesta adikku."
" Ha,kau pulang udah lama tapi gak ngasih tahu kami.'' Novela kesal.
Wulan hanya tersenyum,
" Dasar ni anak,kau kira senyummu bisa ngejawab pertanyaanku."
Dan sekali lagi Wulan hanya tersenyum menahan tawa melihat wajah imut temannya yang sedang kesal itu.Novela yang kesal pun hanya bisa menahan emosinya.
" Taapi,aku gak nampak kau pun,waktu itu aku juga undangan ke temapt adekmu." sahut Alika.
" Aku sengaja ngehindar." jawab Wulan dengan santai membuat Novela semakin kesal.
" Memang kalo dah,Lan.Eh,btw aku juga penasaran sama yang ditanya Vela tadi."
" Yang mana? " balas Wulan yang mencoba menenangkan Novela.
" Soal yang di restoran? Emangnya kalian ngapain? Ada apa rupanya? Kalian abis ngedate ya?"
" Eh? K-kok jadi kesitu sih," sahut Shafar.
" Gak ada yang kayak gitu,dia hanya menolong salah satu pegawai disana.Kebetulan aku juga makan disana dan aku melihatnya.''
" Y-ya seperti itu," Shafar kecewa lagi.Seakan Wulan terus menjaga jarak darinya dengan berkata seperti itu.
" Ouu,gitu.Oh ya mumpung kau disini.Ayok kita foto, kita kan jarang foto bertiga bahkan dulu kita juga jarang foto bareng." ujar Alika.
" Iya,ayok.Ini hukuman untukmu.Pokoknya kau harus ngikutin kami sampe kami puas fotonya." timpal Novela.
" Iya iya," jawab Wulan.
Alika dan Novela pun menarik Wulan untuk berfoto dan Roby juga sudah bersiap mengambil foto mereka.
Cekrek!Cekrek!Cekrek!Cekrek!
Sudah entah berapa banyak foto yang mereka ambil dengan berbagai gaya.
" Aku rasa fotonya sudah cukup bayak,sebaiknya kita sudahi saja- "
" Gak belum cukup," potong Alika. " Mas pokoknya ambil yang banyak terus nanti kita pindah tempat." ucapnyasambil memeluk Wulan.
" Haha,iya iya." balas Roby yang mulai lelah.
" Hah...kalian ini.Lihat anak anak kalian."
Alika dan Novela menoleh kearah anak-anak mereka yang mulai terlihat bosan dan rewel.Sampai Shafar kesulitan menanganinya.
" Kita bisa berfoto lagi nanti.Ini juga sudah jam makan siang,mereka pasti lapar.'' ucap Wulan lalu memberi tanda pada Roby untuk berhenti mengambil foto.
Novela dan Alika pun segera menghampiri anak-anak mereka.
" Maafin,mama ya nak.Kalian uda bosen ya." ucap Alika.
" Aku tahu cafe enak disekitar sini.Ada area bermain untuk anak anak juga,bagaimana kalo kita makan disana? " saran Novela.
" Oh iya dah makan siang ya." ucap Roby.
" Kalo gitu kita foto bareng sekali lagi yuk,kan kita belum foto bareng." kata Alika.
" Iya kan,ayoklah.Sekali aja lagi ya,Lan."
" Aku tak keberatan,"
" Kalo gitu biar aku yang ngambil fotonya." ucap Shafar.
" Apaan sih,ni anak.Kau juga ikut," sahut Roby sambil menarik Shafar.
" Jadi siapa yang moto? "
Dengan sigap Dodi meminta tolong pada seorang pemuda yang lewat.
" Dia yang moto." ucapnya.
" Nah,bereskan." sahut Roby.
Saat Shafar hendak mengambil posisi di pinggir dengan cepat Roby menariknya dan membuatnya berdiri tepat ditengah di samping Wulan.
" Kita foto pasangan.Kau yang gak punya pasangan harus ditengah.' ucap Roby santai.
Sebenarnya Roby sengaja,ia memberitahukan istrinya untuk membuat Wulan berdiri ditengah dan ia yang menarik Shafar.
" Apa sih,Rob." ucap Shafar tak nyaman dan berusaha pindah.
" Udah siap? ' tanya pemuda itu.
Karna ucapan pemuda itu,Shafar tak jadi berpindah namun ia memberi jarak antara ia dan Wulan.
" Tolong merapat sedikit,biar kena semua." ucap pemuda itu lagi.
Spontan Roby dan yang lainnya merapat ke tengah membuat Shafar merapat ke Wulan.
__ADS_1
tuk! Tangan mereka tak sengaja bersentuhan,membuat Shafar berdebar.
'' Ok siap? 1,2,.." Cekrek!