CEO CANTIK Dan DOSEN TAMPAN

CEO CANTIK Dan DOSEN TAMPAN
Episode 22


__ADS_3

Dirumah Shafar,


" Assalamualaikum." ucap Shafar yang baru saja pulang.


" Wa'alaikumsalam,dah pulang Far? " jawab ibunya yang sedang menjahit.


" Iya,mi." Shafar mencium tangan ibunya.


" Dah makan? Itu ada tumis cumi kesukaanmu,dikasih bu Kedah.''


" Shafar udah makan,mi.Bareng orang Roby tadi, "


" Oo,baguslah."


" Iya mi,kalo gitu Shafar ke kamar dulu ya."


Ibunya hanya mengangguk dan Shafar segera masuk ke kamarnya.Setelah menutup pintu kamar,Shafar duduk di pinggir ranjangnya.


" Kayaknya aku sedikit demam," ucapnya karna sejak tadi wajah terasa panas padahal cuaca hari ini tidak terlalu panas.


Ping! Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Shafar segera membuka pesan itu.


Roby ;


" Ini foto yang tadi "


" Mukamu kenapa,hahaha kok tegang kali kau."


Roby mengirimkan pesan dan foto mereka yang mereka ambil bersama tadi.Shafar melihat foto itu dan tanpa sadar menge-zoom bagian dirinya dan Wulan.


" Haha,sepertinya hanya aku yang bertingkah aneh." ucapnya sedikit kesal setelah melihat wajahnya yang tegang dan wajah Wulan yang tersenyum biasa saja padahal saat itu tangan mereka bersentuhan dan terlihat seperti sedang berpegangan.


Tiba-tiba jantungnya berdebar,


" Ha.Lagi lagi perasaan ini.'' ucapnya.


Sementara itu,Wulan yang baru saja selesai berbincang dengan teman-temannya, tak langsung pulang.Wulan mampir sebentar ke pasar untuk membeli beberapa buah-buahan dan roti-rotian.


Setelah itu,ia melajukan mobil melewati jalanan kota hingga masuk ke sebuah perkampung dan setelah beberapa menit ia pun berhenti disebuah rumah terbesar di kampung itu.Ia memarkirkan mobilnya di samping rumah itu lalu keluar membawa belanjaannya tadi.


" Assalamualaikum." ucapnya seraya memasuki rumah itu.


Ternyata orang tuanya sudah ada disitu dengan beberapa saudara ayahnya dan juga sepupu-sepupunya.


" Wa'alaikumsalam." jawab mereka.


" Loh,mamak pikir Ulan gak kemari karna katanya tadi ada urusan di kota. " tanya ibunya Wulan dengan lembut.


" Urusan Ulan dah selesai.Karna sekalian di kota Ulan beli ini dulu,makanya agak lama."


" Gak lama,kok.Sana salam nenekmu."


Wulan melihat seorang wanita tua sedang duduk di atas ranjang tak jauh dari mereka.Disitu ayahnya juga sedang perlahan memberikan makan wanita tua itu,yang ia panggil nenek sekaligus ibu dari ayahnya.


" Assalamualaikum nek." ucap Wulan lalu mencium tanggan neneknya.


" Wa'alaikumsalam,Ulan ya? " ucap neneknya dengan suara sedikit payau sambi mengunyah makanannya.


" Iya nek.Ini Ulan." jawab Wulan dengan lembut. " Ulan bawa buah buahan sama roti kesukaan nenek,jangan lupa dimakan, ya. "


" Iya iya." ucap wanita tua itu dengan terus memerima suapan dari putranya.


Saat Wulan hendak berbalik pergi,


" Calonmu endi? Kok dewe an kowe? " tanya neneknya tiba-tiba.


Wulan menghentikan langkahnya dan melihat kearah neneknya. " Siapa yang nenek maksud? " tanya Wulan balik.


" Seng kemaren kambe kowe iku,pas pesta e Wanda.Iku calonmu kan? ''


Dengan datar Wulan berkata, " Aku rasa nenek salah paham atau nenek udah lupa.Dia hanya sekretaris Ulan.''


" Ora eneng cah wedok duwe pembatu lanang.Kowe iku wes tuo,ndok.Kapan kowe kawen? Adek adekmu wes kawen kabeh,ojo kerja wae.Pamali wong wedok kerja wae,engko ora laku laku." ucapnya neneknya dengan suaranya payau.


Ekspresi Wulan setika berubah,ia merasa bosan denga sikap neneknya. '' Bukannya nenek yang nyuruh Ulan untuk kerja biar gak jadi beban.Sekarang apalagi? " ucapnya.


Padahal dari tadi ia berusaha terlihat ramah karna ada orang tuanya.


" Udah mak,jangan ngomong terus,nanti leher mamak sakit." ucap ayahnya Wulan.


" Ulan rasa nenek gak perlu mikirin masalah itu,pikirin aja kesehatan nenek." lanjut Wulan.

__ADS_1


" Kau itu,kalo dibilangin- Uhuk! Uhuk! "


Dengan sigap ayahnya dan keluarga yang lainnya menghampiri neneknya.Sementara itu Wulan hanya diam menatap dingin kearah neneknya.


Lalu sebuah sentuhan hangat menyentuh pundaknya.


" Udah gak usah dipikirin.Ulan tunggu di depan aja.Bentar lagi adek adeknya nyampe." ucap ibunya pelan dengan kehangatan


Wulan hanya mengangguk dan pergi keluar rumah.


" Kabeh anakmu ngikut mamak e,degel kabeh.Ora ono seng iso dibilangin,mau e suka suka aja." neneknya kesal karna ibunya menyuruh ia pergi.


" Uwes loh mak.Ngapain mamak mikirin iku.Seng penting kesehatan mamak." ucap ayahnya Wulan,mencoba membela istrinya.


" Kowe iku,bukannya ikut bilangin malah belain.Binimu iku harus dibilangin,kek mana kalian jaga anak sih."


" Udah loh mak,mamak lagi sakit pun.Besok besok lah itu." sahut adik bungsu ayahnya Wulan.


" Ulan masih muda mak,biar dia nyenengin dirinya dulu.'' timpal ibunya Wulan.


" Akh! Kepalaku..." wanita tua itu memegangi kepalanya yang sakit karna kesal.


Semua orang diruangan itu mencoba menenangkan wanita tua itu.Sementara itu,Wulan yang mendengar perkataan neneknya yang meremehkan ibunya merasa sangat kesal.


Padahal ia sengaja datang walau terpaksa karna tidak mau mendengar ibunya diremehkan oleh neneknya lagi.Namun,ternyata neneknya malah terus mencari cara untuk mencoba merendahkan ibunya dengan sengaja mengungkit masalah pernikahannya.


Dan yang membuatnya semakin kesal adalah karna ia tak bisa berbuat apa-apa tentang neneknya.Karena Wulan sudah pernah melihat betapa hancur ibunya ketika orang tua ibunya meninggal.Ia tak ingin melihat ayahnya juga hancur.


Neneknya memang menyayangi cucu-cucunya namun ia akan selalu berusaha ikut campur dalam kehidupan anak-anaknya.Itu yang membuat Wulan kesal,dari dulu hingga sekarang sifat neneknya tak pernah berubah.


Tak berapa lama,adik-adiknya Wulan pun datang.Mereka pun menghabiskan waktu mereka di rumah itu hingga menjelang malam.


Setelah pulang,ibunya Wulan mengajak Wulan untuk bicara.Ibunya mengatakan kepada Wulan untuk tidak terlalu memikirkan perkataan neneknya tadi.Ibunya menyerahkan semua keputusan ditangan Wulan,karna selama ini ibunya tak bisa memberikan apapun pada Wulan.


Wulan memeluk ibunya,


" Dilahirkan dari rahim mama adalah keberutungan terindah dalam hidup Ulan.Jangan mengatakan hal tak berguna seperti itu." ucapnya.


Setelah pembicaraan emosional itu,Wulan menghampiri adiknya,Lisha.


Lisha sedang sibuk menyiapkan kebutuhannya untuk kemah besok.


" Alat pelindung yang mbak kasih jangan lupa dibawa." ucap Wulan.


Wulan tersenyum dan mengelus kepala adiknya.


Keesokan harinya,


Dikantor Wulan.


Tok tok!


" Masuk." jawab Wulan.


" Saya sudah memeriksa dokumen dokumen yang masuk dan mengirimkan yang sudah anda setujui." ucap Lee.


" Baiklah.Karna kita akan pergi,kau bisa istirahat dulu.Aku akan memeriksa beberapa file lagi."


Lee mengangguk,


" Oh ya,bagaimana dengan permintaanku? " tanya Wulan.


" Saya sudah menemukannya dan nona bisa meihatnya nanti."


" Kerja bagus."


Lee pun keluar dari ruangan itu,sementara Wulan melanjutkan pekerjaannya.


----


Disebuah area kosong,dekat perkebunan kelapa sawit dan pohon karet.Tak jauh dari sebuah perkampungan dengan jarak setengah jam dari kota Rantau Prapat,terlihat puluhan tenda tenda pramuka sudah mulai berdiri.



Tak jauh dari tenda-tenda itu,lapak-lapak pedangang makanan dan pernak-pernik pramuka juga sudah berdiri.Beberapa mobil pribadi,truk serta sepeda motor terlihat berlalu lalang mengangkut anak-anak pramuka.


Hiruk pikuk ramainya anak-anak pramuka yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing adalah pemandangan biasa yang terjadi disetiap perkemahan.


" Adam,Lisha.Ayo ikut kakak,kita daftarkan nama kita dulu." ucap Roby


" Yang putra(panggilan anak pramuka laki-laki) bantuin beresin tenda putri(panggilan anak pramuka perempuan)."


" Iya kak," jawab mereka.

__ADS_1



Roby dan dua anak didiknya pun pergi ke tribun(pusat informasi dan administrasi) ungkapan di kalangan anak pramuka.



Tempat yang berapa di tengah-tengah bumi perkemahan dan didirikan menggunakan tratak besar serta tenda-tenda khusus untuk keperluan umum,seperti uks,tempat pengumuman,serta tempat untuk para tamu-tamu penting.


Setelah selesai,Lisha pun kembali ke tendanya sementara Roby dan Adam pergi ke tenda putra untuk memeriksa anggota putra yang lain.


Area tenda putra dan putri memang dipisahkan untuk mencengah hal-hal yang kurang mengenakan.


Baik putra atau putri biasanya selalu dilarang untuk memasukki area masing-masing dan terkadang hal itu menjadi peraturan penting dan memiliki nilai tambah bila dilaksanakan.


Mereka bisa bertemu di luar area atau saat sedang lomba.Bahkan pengunjung kecuali orang tua,harus mematuhi peraturan itu.


Ditenda putri,


Lisha baru saja kembali, " Eh,yang putra! '' panggilnya. " Kalo dah siap,kak Roby nyuruh kalian endang balek." lanjutnya.


" Oh,ouke." sahut salah satu dri mereka.


" Tinggal bikin dapur,kalian bisa kan? Kalau gitu kami tinggal ya."


Beberapa purti pun mengiyakan dan para putra segera kembali ke tenda mereka.


Ayu,selaku pemimpin regu putri pun segera mengambil alih dan mengarah teman-temannya untuk segera berberes.Diselang waktu itu,Lisha menyerahkan jadwal kegiatan selama perkemahan pada Ayu.


Dan beberapa menit kemudian,tenda untuk dapur mereka pun berdiri.


" Udah semua kan? '' tanya Ayu.


" Udah,kak! " jawab mereka.


" Yaudah yok kita makan dulu.Setengah jam lagi upacara pembukaan." ucap Ayu sambil menggelar tikar untuk mereka duduk.


Lisha dan teman-temannya pun segera mengambil bekal mereka masing-masing dan duduk melingkar.


Satu persatu mereka membuka bekal.


" Uwihhh,Lis.Banyak kali bontotmu." ucap Mira setelah melihat bekal Lisha. " Lengkap pula itu."


" Tempe goreng,ikan sambal,tumis sawi sama anggur juga." sahut yang lain.


" Hhehe,mamakku sengaja bawain banyak.Biar bisa bagi bagi.Anggur cukup kok untuk semua,ambelah. " tawar Lisha dengan ramah.


" Kalo gitu aku gak akan segan,hehe.." ucap Mira segera mengambil bagian lalu diikuti yang lain.


" Ni ambe juga," tawar Ayu pada Lisah,sambil menyodorkan nugget goreng yang ia bawa.


" Makasih," balas Lisha.


Mereka pun saling berbagi makanan dan makan dengan tenang,kecuali Fristi dan kedua temannya yang menatap sinis ke Ayu dan Lisha.


" Caper kali dia," ucap salah satu teman Fristi.


" Biasalah,orang kaya tukang pamer."sahut yang lain.


Fristi hanya menatap Lisha dengan pandangan tak suka.Ia kesal karna hanya Lisha yang menjadi pusat perhatian.Padahal saat menjadi siswa baru,ia yang menarik semua perhatian orang-orang karna ia anak kepala sekolah.


Setelah selesai makan,satu persatu dari mereka pun mulai berganti seragam pramuka lengkap.


" PERHATIAN! Kepada seluruh peserta perkemahan KELOPAK 9,Salam Pramuka! "


" Salam! " balas semua peserta setelah mendengar panggilan dari tribun.


" Diberitahukan.Kepada seluruh peserta perkemahan KELOPAK 9,untuk segera mengambil barisan di tengah lapangan.Upacara pembukaan perkemahan,akan segera dilaksanakan.Sekali lagi...."


" Udah dipanggil weee.Ayok cepat wee! " ucap salah satu teman Lisha.


" Iya iya,bentar pake kacu dulu." jawab Lisha.


Dengan sedikit terburu-buru,regunya Lisha pun sudah siap semua.Ayu segera membariskan teman-temannya lalu mereka segera menuju ke lapangan.


Ayu dengan cepat menemukan barisan regu putra mereka dan segera bergabung.


'' Kalian dah makan semua? " tanya Roby.


" Udah kak," jawab Ayu dan yang lainnya.


Roby mengangguk puas,lalu segera berdiri dibelakang barisan anak-anak didiknya mengikuti para pembina yang lain.


Beberapa menit kemudian,

__ADS_1


Lapangan pun mulai terisi barisan para peserta perkemahan.Para panita juga sudah berkumpul dan bersiap.


__ADS_2