CEO CANTIK Dan DOSEN TAMPAN

CEO CANTIK Dan DOSEN TAMPAN
Episode 23


__ADS_3

" Mereka masih upacara,",Wulan baru saja sampai ke tempat perkemahan.


Sambil menunggu upacara selesai,Wulan menghampiri seorang penjual jus buah.


" Jusnya kak? ",penjual jus dengan sigap melayani.


" Jus untuk 40 orang." ucap Wulan datar.Ia memberikan tiga lembar uang seratus ribuan.


Penjual itu sedikit kaget lalu sedetik kemudian bertanya kembali," Mau jus apa kak? "


" Nanti,tunggu adikku datang." Wulan melihat kearah lapangan.Penjual itu pun mengangguk paham.


Upacara pembukaan pun selesai,para peserta langsung kembali ke tenda mereka masing-masing.


Sementara itu,Wulan mendekati tribun utama.Berbicara sebentar dengan salah satu panita,lalu beberapa detik kemudian panita itu mengambil microfon.


" Panggilan kepada peserta Delisha Ningtyas,dari Smp Negeri Satu Pangkatan.Diharapkan agar segera merapat ke tribun,ada keluarga yang mencari."


Suara lantang dan keras dari speaker membuat beberapa peserta saling pandang.Mencari orang yang dimaksudkan oleh panita.


Lisha yang mendengar pengumuman itu lantas segera mengehentikan langkahnya.


" Eh? Itu tadi namaku kan? " tanyanya.


" Iya kau Sa," sahut Mira.


" Masa iya sih? Bapak mamakku gak mungkin datang,"


" Sekali lagi,kepada peserta Delisha Ningtyas.Diharapkan agar segera merapat ke tribun,ada keluarga yang mencari."


" Tuh kan bener.Kau itu, Sa."


" Kawanin yok Mir," Lisha menarik tangan Mira.


" Ouke,"


Lisha dan Mira pun segera menuju tribun,tak lupa mereka berpamitan pada Ayu.


Di tribun,


" Terima kasih.'' Wulan menundukkan kepalanya sedikit lalu panita itu membalas dan segera melanjutkan pekerjaannya.


" Mbak? '' Lisha yang tiba di tribun sedikit terkejut melihat ternyata kakaknya memanggil.


Wulan hanya tersenyum tanggung.


" Kakakmu Sa? " ,tanya Mira yang sedari tadi berada dibelakang Lisha.


" Oh.Iya,ini kakak keduaku."


" H-halo,saya Mira temanya Lisha.",Ia gugup melihat sosok Wulan yang berdiri tegap namun anggun dengan ekspresi dingin.


" Bagus kamu membawa teman.",Wulan berjalan keluar dari tribun dan diikuti Lisha serta temannya.


" Mbak belikan kalian jus.Minta teman temanmu kemari,soalnya mbak gak tahu kalian suka jus apa.",Wulan menjelaskan dengan datar.


" Beneran mbak? ",tanya Lisha untuk memastikan.


" Iya."


" Semua kawan kawan kami? ",ucap Mira belum percaya. " Kami ada 38 orang loh kak..."


" Kakak pesan untuk 40 orang."


" Bolehku kasih untuk pembinaku,mbak? "


Lisha sudah mulai memesan jus favoritnya.


" Terserah padamu." jawab Wulan dengan lembut.


Lisha yang senang hendak berbalik pergi,namun segera dihentikan oleh Wulan.


" Biar temanmu yang memanggil,kamu ikut mbak sebentar."


Walau sedikit bingung,Lisha pun mengangguk pendek.


" Mira tolong ya,''.Wulan tersenyum lembut,membuat Mira tersipu.


Cantiknya,pikir Mira.


" Iya kak,serahkan saja padaku." jawab Mira dengan mantap,lalu segera kembali untuk memanggil pembina dan teman-temannya.


Wulan dan Lisha pun pergi meninggalkan area perkemahan setelah Lee meminta ijin pada penjaga pintu masuk perkemahan.


Dengan berjalan kaki,Wulan,adiknya dan Lee pun sampai di pemukiman warga.Jarak area perkemahan dengan pemukiman memang tak terlalu jauh,hanya butuh waktu lima menit dengan berjalan kaki.


Setelah memasuki pemukiman,mereka berhenti disebuah rumah sederhana tanpa plester.Lee memimpin duluan dan mengetuk pintu rumah itu.


Seorang wanita paruh baya pun keluar dan menyapa dengan ramah. " Oo,wanita yang tadi.Ayo masuk masuk.".Wanita itu mepersilahkan rombongan Wulan masuk.


" Ini adikmu yang kau bicarakan tadi ya? tanya wanita itu seraya duduk dikursi platik yang sudah tua.


" Ya.Karna itu tolong bantuan anda selama dia berkemah." jawab Wulan.


" Siapa mbak? ",Lisha yang bingung pun bertanya.


" Dek Lisa bisa datang kerumah ibu kalo mau mandi atau keperluan lain.",wanita itu menjelaskan dengan ramah.


Lisha melihat sekeliling rumah itu lalu melihat kakaknya.


" Gak perlu bayar.Kamu bisa mandi atau buang air sepuasnya.",Wulan memperjelas.


Selama lima menit Lisha melihat seisi rumah dipandu wanita itu.Setelah selesai,mereka berpamitan lalu berjalan kembali ke area perkemahan.


Sesampainya di area perkemahan,Lisha segera menuju penjual jus tadi yang sudah ramai dengan teman-temannya.

__ADS_1


" Mira." Lisha langsung masuk ke kerumuman itu.


" Eh dah selesai,Sa? " Mira menoleh setelah menerima jusnya.


" Udah.Punyaku mana? "


" Ini dek." Penjual itu segera memberikan jus alpukat pesanan Lisha yang sudah disiapkan dari tadi.


Dengan wajah riang,Lisha menerimanya.


" Makasih bu." Dengan cepat ia menancapkan sedotannya lalu sedetik kemudian menyeruput jus itu. " Uuuh~ enaknya."


Wulan hanya diam memperhatikan tingkah lucu adik bungsunya.


" Kalau gitu,mbak pulang dulu.Baik baik kamu disini." Ia tersenyum sambil mengelus kepala adiknya.


" Eh,dah mau pulang,mbak? "


" Iya." Wulan menjawab pendek.


" Dah mau pulang,kak? " Mira sudah mulai menghabiskan jusnya,menghampiri Lisha dan kakaknya.


Wulan mengangguk.


" Eh,Wulan? " Sebuah suara yang familar datang dengan beberapa anggota putra.


Wulan pun menoleh. " Kak Roby."


'' Apa yang kau lakukan disini? " Roby tak menyangka bisa bertemu dengan Wulan.Ia menyapa dengan ramah seperti biasa.


" Menemui adikku." Wulan menunjuk kearah Lisha.


" Ouk,Lisha adekmu ya.Jadi,yang bandarin* orang ini* jus,kau ya."


*mentraktir


* mereka


Wulan mengangguk pendek.


" Kalian dah bilang makasih sama kakaknya Lisha? " Roby bertanya pada anak didiknya yang sibuk memilih jus mereka.


Segera suara Roby mengalihkan fokus mereka dan langsung melihat kearah Roby dan Wulan.


" Kakaknya Lisha yang bandarin jusnya." Roby menjelaskan.


Meski sedikit canggung,satu per satu mengucapkan terima kasih dan Wulan hanya membalas dengan anggukan pendek.


" Kalo gitu,aku permisi dulu." Wulan membungkuk tanggung.


" Oh iya ya.Makasih buat jusnya." Roby membalas dengan ramah.Mungkin karna sudah lama tak bertemu,Roby merasa canggung untuk mengobrol dengan Wulan.


Lisha melambaikan tangannya diikuti ucapan terima kasih dari teman-temannya.


Setelah selesai menerima jus mereka,Lisha segera kembali ke tendanya bersama Ayu dan Mira.Mereka membawa beberapa jus untuk teman mereka yang lain.


" Wihh,makasih ya kak."


" Makasih kak Ayu." Satu per satu mengucapkan terima kasih.


" Eh,bukan ke kakak.Tapi,ke kak Lisha." Ayu menyangkal. " Ini dibandarin kakak kak Lisha."


" Oh iya ya,kak.Makasih ya kak Sa." ulang mereka dengan wajah ceria.


Lisha terkekeh pelan lalu mengangguk malu.


" Cih,mentang mentang punya duit.Cari muka aja terus." Salah satu teman Fristi dengan rambut coklat sebahu dan di ikat satu, menggerutu,menatap sinis Lisha.


" Kok gitu ngomongmu,Wid? " Mira membalas kesal.


" Kenapa? Apa yang kubilang bener,kan? "


" Heh! Bilang aja kau cuma iri.Kau mau jus grastis juga,kan? Kebesaran gensi kau,bahkan kak Roby aja kenal sama kakaknya Lisha."


" Gengsi? Sorry ya,aku punya duit,gak kayak kalian.Kalo ada yang gratisan aja,udah kayak monyet kelaparan."


Frsiti hanya diam memperhatikan teman gengnya terus memprovokasi Lisha dan yang lain.


Mira bersungut-sungut marah,tak terima dengan perkataan temannya itu.Widya sudah kelewatan. " Eh manusia,kalian itu- "


" Hentikan,Mir." Ayu menahan bahu Mira. " Jangan diteruskan.Kita jadi ditengoin."


Mira melihat sekelilingnya.Benar saja,beberapa orang sedang melihat kearah mereka karna pertengkaran tadi.


" Wid,bicaramu udah kelewatan.Kalo kau gak suka,mending diam aja.Kita satu regu,tiga hari kedepan kita harus saling membantu bukannya malah berantem kayak gini." Ayu berseru dengan tegas.


" Kau harus meminta maaf pada yang lain."


Fristi akhirnya maju membela temannya,


" Kayaknya sekarang kami gak boleh berpendapat apa apa lagi, ya." Ia mencemooh Ayu sambil melirik kearah Lisha.


" Aku gak ada ngomong kayak gitu," Ayu membela diri.


" Nyuruh kami diam kalo kami gak suka.Bukannya itu sama aja," Fristi semakin melawan.


" Memprovokasi temannya,menyebabkan keributan,itu bukanlah menyampaika pendapat." Ayu semakin tegas.Berusaha tetap tenang.


Fristi tersentak lalu terdiam beberapa detik.Detik berikutnya,dengan wajah kesal,ia pergi meninggalkan tenda,diikuti temannya yang lain.


Ayu menghela pendek,melihat sekelilingnya,memastikan teman-temannya yang lain agar tidak ikut-ikutan.


Mira terus melihat punggung Fristi dengan kesal,hingga Fristi hilang dari jangkauan matanya.


Seperti bukan hal yang besar,Lisha malah acuh dan memilih melakukan tugasnya.

__ADS_1


Mira yang melihat itu pun,menjejar temannya.Mengikutinya ke tenda dapur.


" Kau kok biasa aja,Sa? " Mira bertanya.


Lisha tersenyum.Ia mulai mengupas bawang-bawang untuk memasak. " Jadi,aku harus ngapain,cak? Ikut marah marah juga? Percuma,Mir."


Mira menatap temannya dengan perasaan bingung dan kesal.


" Mau dijelasin kayak gimanapun,orang kayak rang tu tetap gak akan terima.Orang itu dah gak suka samaku,jadi buat apa aku buang buang tenaga untuk nyenengin ato jelasin ke orang itu." Lisha menjelaskan alasanya dengan tangan yang sibuk mengupas.


" Tapi kan,orang itu dah kelewatan banget.Masa dia bilang kayak gitu ke kawannya? Punya mulut kok kotor kali."


" Bener kata Lisha.Mending biarin aja,nanti kalo diladenin malah jadi ribut.Kasihan kak Roby nanti." Ayu ikut menimpali.


" Awas aja,kalo dia buat masalah pas pentas seni malam nanti." Mira meremas bawang merah yang sudah dikupas Lisha dengan kesal.


Ayu dan Lisha mengangguk setuju.


" Kesal sih kesal bro." Lisha memukul pelan pundak Mira. " Jangan kau buang buang bawangku."


Mira hanya terkekeh,sadar sudah membuang buang bawang yang sudah dikupas Lisha.


Ayu ikutan terkekeh.Suasananya kembali santai dan mereka dengan cepat memasak menu makan malam nanti.


Hari semakin gelap.Matahari mulai tenggelam di sisi barat,menyisakan cahaya jingga yang indah.Beberapa menit kemudian,matahari pun tenggelam sempurna.Cahaya bulan separuh menyinar malam hari,satu per satu bintang bermunculan seakan berlomba- lomba ingin memamerkan cahayanya walau sedikit.


Lampu lampu yang ditelakkan di beberapa titik lapangan juga menyala satu per satu.Hamparan tenda yang tadinya gelap,seketika mulai terlihat seperti pemukiman warga.Beberapa tenda juga menyalakan lampu lentera mereka.Membuat pemandangan yang indah.


Lisha dan Ayu baru saja kembali setelah mandi dan sholat mahgrib.Lisha mengajak Ayu kerumah yang tadi dan mandi dengan tenang tanpa khawatir mengantri.


" Yang lain dah pada balek? " Ayu melihat sekitar.Menghitung anggota-anggotanya.


" Tinggal orang kak Fristi,kak." Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Ayu.


Ayu mengangguk paham.


Karna di sekitar perkemahan tidak ada sungai atau aliran air,biasanya peserta memang sering menumpang mandi di rumah-rumah warga sekitar.Pihak penyelenggara juga hanya menyediakan tempat buang air dan tempat untuk mengambil air bersih.Untuk air minum,biasa ada pedagang yang menjualnya.


Lima menit.Sepuluh menit.Hingga setengah jam berlalu,Fristi dan kedua temannya belum juga kembali.


" Lama kali orang itu mandi.Mandi dimana nya? " Mira mulai kesal.Perutnya mulai keroncongan. " Kita makan aja lah dulu.Pisahkan aja untuk rang itu." Mira mencoba membujuk Ayu.


Ayu ingin semua anggota berkumpul baru makan bersama.Namun,waktu terus belalu.Jadwal perlombaan yang pertama sudah dekat,tapi mereka belum makan malam.


" Iya,Yu.Kita duluan aja.Kasihan yang lain,belum lagi siap siap untuk pentas seni." Lisha juga ikut membujuk,mengingat waktu mereka yang mepet.


Ayu menoleh ke arah Lisha lalu ke anggota yang lain.Mereka sudah duduk rapi dengan menu makan malam mereka ditengah.Pandangan Ayu berpindah lagi.Ia melihat peserta yang lain sudah mulai bersiap-siap.Ayu mengalah dan mengikuti saran teman-temannya.


Begitu mereka mulai makan,Fristi dan teman-temannya kembali.


Ayu segera menghampiri mereka. " Kalian dah balek.Ayo,endang makan,pentas seninya bentar lagi." Ayu menawarkan.


" Gak perlu.Kami dah makan." Widya menjawab dengan ketus.Tak memperdulikan yang lain.Lantas mengikuti Fristi masuk ke tenda dan beristirahat.


Mira yang geram dengan sikap Widya,berdiri,menghampiri mereka di dalam tenda dan marah. " Kalo mau makan diluar itu bilang biang lah.Kami belum makan karna nungguin kalian loh.Gak ada solidaritasnya betul,kalian." Mira bersungut-sungut.


" Hmp! Gak ada yang nyuruh kalian nunggu,kan? " Salah satu teman Fristi menjawab dengan acuh.


Ayu segera menarik tangan Mira yang hendak mengeluarkan kata-kata ajaibnya." Udah udah,Mir.Kita makan aja dulu."


Beberapa teman mereka ikut menahan Mira dan menariknya duduk.


" Udah,Mir." Lisha membantu menenangkan Mira.Mengambilkan bagaiannya dan menambahkan sedikit lauk agar Mira senang. " Nih,kukasih lebih untukmu." Lisha memberikan piring Mira.


Dengan mulut masih menggerutu,Mira menerima piringnya.


" Huhf~ Sabar Mir.Nanti kau cepat tua." Mira memgelus dada,melontarkan perkataan tak terduga.


Lisha dan yang lain lantas terkekeh mendengar ucapan Mira.Lalu dengan tenang menyantap makan malam mereka.


Tak butuh waktu lama hingga mereka menyantap habis makanan mereka.Segera setelahnya,satu per satu bergantian mengganti baju untuk pentas seni.


Baju adat Palembang lengkap dengan aksesorisnya.Mereka menyewa baju-baju itu.Hanya enam orang yang ikut menari yang akan berpasangan dengan enam anggota putra mereka.


Lisha dan Ayu mengikuti lomba LCTP(Lomba Cepat Tangkas Pramuk),sejenis cerdas cermat.Mereka juga sudah siap dengan seragam pramuka lengkapnya.Yang tidak berlomba secara otomatis membantu teman mereka bersiap.Dengan peralatan make up sederhana,empat teman mereka sudah siap.Tersisa Fristi dan Widya yang masih sibuk dengan pakaian mereka.


Dengan ketus mereka menolak dibantu dan bersiap sendiri.Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala,tak tahu harus berkata apa lagi.Ia hanya diam memperhatikan,agar tidak terjadi keributan.


Setengah jam kemudian.


Anggota yang ikut lomba sudah siap semua.Lalu dengan arahan Ayu,mereka menuju tratak pentas yang berseberangan dengan tratak tribun.


Roby juga sudah berkumpul di sana dengan anggota putra.


Anggota putri membantu anggota putra berdandan.Roby ikut membantu mendaftarkan anak didiknya,mengarahkan dan memberi semangat.


Lisha,Ayu dan Adam yang ikut LCTP,sudah berkumpul dengan peserta yang lain.Dengan tenang mereka melewati babak pertama dan berhasil masuk ke babak selanjutnya.


Tratak pentas kini mulai lenggang.Satu per satu regu sudah dipanggil.Regunya Lisha juga sudah tampil dan kembali ke tenda.


Pentas seni untuk penggalang sudah selesai.


Waktu terus berjalan,jadwal perkemahan berjalan sangat lancar karna tidak turun hujan.Tiga hari yang melelahkan dan penuh kenangan.Hingga akhirnya tiba malam terakhir atau Malam Api Unggun.


###


DWI FRISTYA,anak kepala sekolah.Punya sifat angkuh sejak kecil dan selalu mendapat apa yang dia mau.Tidak menyukai Lisha sejak masuk smp.Sudah memiliki banyak mantan pacar.Suka pada Adam,namun Adam menyukai Lisha. Punya rambut ikal pendek dan selalu mengenakan bando.


AYU RAMADHANI,teman Lisha sejak sd.Selalu mengenakan hijab.Belum ada yang tahu bagaimana penampilannya tanpa hijab.Namun,ia pernah memberitahu Lisha dan Mira,kalau ia punya rambut ikal panjang.Menjabat sebagai wakil ketua osis,wakil ketua rohis hingga bergabung ke organisasi perpustakaan.Pendiam,tegas dan jago bela diri.


MIRA RAMAYANTI,ceria,blak-blakan,penuh energi dan super aktif.Dia dulu yang menghampiri Lisha dan Ayu saat masa orientasi.Mengajukan pertemanan dengan brutal,menurut Ayu yang pendiam.Akhirnya mereka berteman hingga sekarang.Selalu mengikat satu rambutnya yang ikal dan panjang itu.Tidak menyukai Fristi dan gengnya.Paling suka makan.Tapi,hebatnya ia tak gemuk-gemuk walau makan sebanyak apapun.


WIDYA NINGSIH,teman Fristi sejak kecil karna orang tua mereka bertetangga.Meski beda agama,pertemanan mereka bisa dibilang cukup erat hingga kini.Dengan rambut coklat sebahu,ia selalu disebut cantik.Hal itu mewarisi ayahnya yang orang luar.


ADAM,primadona sekolah,tampan,dengan tinggi rata-rata anak seusianya,pintar,ramah,sopan,ketua osis dan pratama pramuka.Satu kelas dengan Fristi dan menyukai Lisha.

__ADS_1


BOBY,teman sekelas Lisha.Terkadang ia menjadi mata-mata bagi Adam untuk mengawasi Lisha.Mengawasi dalam artian tidak berlebihan.


__ADS_2