
Malam Api Unggun.Malam puncak dari setiap perkemahan.Malam dimana semua peserta berkumpul melakukan upacara sakral untuk pramuka.Dimana akan dipilihnya sepuluh peserta dari setiap gudep(Gugus Depan) untuk mengucapkan sepuluh janji pramuka,yang biasa disebut Dasa Dharma.
Malam itu juga akan ada banyak pengunjung yang diperbolehkan masuk ke area perkemahan.Semacam perayaan atas kerja keras peserta setelah beberapa hari.
Lima jam sebelum Api Unggun.
" Kak Rob,kami beli jajan ya kak." Adam menghampiri Roby yang sedang melihat jadwal peserta.
Roby menoleh," Yaudah."
Begitu Adam hendak berbalik.
" Eh,bilangkan sama yang putri,jangan masak nasi lagi,ini nasinya masih banyak. " Roby menambahkan.
Adam mengangguk lalu segera pergi bersama beberapa temannya.
" Eh,kak Shafar." Adam berseru setelah beberapa langkah dari tenda.
Shafar baru saja datang lalu menyapa anak anak itu.
" Far,dah datang nya? " Roby menghampiri Shafar dan menyapanya.
" Iya." Shafar membalas sapaan ramah itu.
Roby mempersilahkan Shfar duduk.Di tikar plastik yang digelar diantara dua tenda,Roby dan Shafar duduk bersampingan.
" Kupikir kau bakalan nelpon dulu." Roby memulai percakapan.
" Gampang nandain tenda kalian." Shafar menunjuk gapura tenda yang cukup mencolok.
Kringg~kringg~
Ponsel Roby berdering.
Roby melihat nama yang muncul dilayar ponselnya,tersenyum,lantas segera mengangkat telpon itu.
"Waalaikumsalam,dek.Iya iya,emm ok bentar ya,mas kesana." Roby memutuskan telpon itu,memasukkan kembali ponselnya ke saku celana,berdiri lalu melihat ke arah tribun.
" Biniku dah datang.Aku mau jemput dia dulu ya,Far." Roby segera memakai sandalnya.
Shafar hanya mengangguk.Roby pun pergi meninggalkan tenda dan Shafar yang asik mengobrol dengan anak didiknya.
Di sisi barat tribun,Roby dengan cepat menemukan lokasi istrinya berada.Sambil tersenyum ia menghampiri istrinya.
Aby,bocah laki-laki itu segera berlari begitu ia melihat ayahnya dari kejauhan.Roby pun menyambut putranya,menciumnya,lalu menggendongnya.Menyapa dengan lembut Alika dan segera membantu membawakan bungkusan yang dibawa oleh Alika.
Roby pun mengantarkan Alika ke tenda regu putri, sambil sesekali menanyakan kabar anak-anaknya.
Sesampainya di tenda putri.Alika disambut ramah,disana juga ada beberapa alumni pramuka tahun lalu.Alika yang juga sering datang saat mereka latihan atau kemah juga dengan ramah menyapa satu per satu anak-anak itu.Terutama Lisha.
Alika segera membuka bungkusan yang ia bawa dan mengeluarkan isinya.Dua kilo daging ayam mentah yang sudah dicuci dan dipotong-potong berserta bumbu untuk memasaknya.Tanpa perlu diberitahu,anak-anak itu langsung paham.Yes.Malam ini kita makan besar,pikir mereka.
Roby yang peka, lantas membawa putranya ke tenda regu putra agar tidak merepotkan ibunya.
Alika mulai memasak dibantu anak-anak itu.Suasana yang menyenangkan.
Suasana di tenda putra juga tak berbeda.Anak anak itu terlihat senang saat Roby kembali sambil membawa putranya.Meski suka mengoceh,Aby tergolong anak yang ramah dan penurut.
Dua Jam sebelum Api Unggun.
Malam pun tiba.Area perkemahan semakin ramai.Banyak sepeda motor yang keuar masuk area,tenda-tenda peserta juga mulai ramai pengunjung.Kios-kios penjual terlihat sibuk menjajahkan dagangannya.
Di sebuah tenda militer cukup besar,beberapa peserta telihat sedang duduk dengan wajah serius.Dari dua puluh gudep tingkat penggalang,hanya tersisa enam gudep yang bertahan ke babak final LCTP dan enam gudep dari empat belas gudep tingkat penengak.Sekeliling tenda tampak sepi dikarenakan tidak ada yang boleh mendekat kecuali peserta babak final.Itu bertujuan untuk menghindari kecurangan para peserta.
Tiga puluh enam peserta dengan tiga juri dan dua panitia.Suasana sangat menengangkan sejak babak final tingkat penegak dilakukan.Misi rebutan soal,dimana saat panitia mengajukan pertanyaan,setiap peserta disuruh mengangkat tangannya dan dalam lima detik peserta tersebut harus menjawab pertanyaannya.Jika gagal,soal akan dilempar ke peserta yang lain.Dua puluh lima pertanyaan,siapa yang memiliki skor paling banyak,ia yang menang.
Lisha semakin gugup setelah babak final tingkat penegak selesai.Kini giliran tingkat penggalang.Mereka yang sedari tadi duduk di sudut tenda,mulai mengambil tempat masing-masing.Ada yang semangat,ada yang gugup,ada juga yang biasa saja.
__ADS_1
" Fithing,wee~.Kita bisa! " Adam berseru pelan,memberi semangat kepada Ayu dan Lisha.
Ayu dan Lisha mengangguk takzim.Dengan mantap mengambil tempat duduk mereka.Babak final pun dimulai.
" Silahkan,kak." seorang pegawai memberikan dua kantong berisikan beberapa kotak donat kepada Wulan.
Wulan menerima kantong itu dan Lee dengan cekatan membantu.
Mereka pun segera kembali ke mobil yang terparkir di depan toko donat itu.
" Banyak kali belinya,ndok." Purwoko menoleh ke belakang sebentar lalu berpindah ke Wulan.
" Iya pa,kawan Ulan juga disana." Wulan masuk ke mobil,duduk di kursi depan dan Lee menyusul di kursi kemudi.
Purwoko mengangguk paham.
" Orang ibu jadi beli gorengannya? " Lee bertanya sambil menghidupkan mesin.
" Oh iya,jadi.Kalo jumpa tukang gorengan tolong kasih tahu ya,li." Tumini memperhatikan mobil mereka sudah masuk ke jalan raya.
" Iya bu." Lee mengangguk,tersenyum ramah.
Beberapa meter dari toko donat,Lee melihat penjual gorengan dan memberitahukannya pada ibunya Wulan.
Tanpa perlu disuruh,Lee sudah memarkirkan mobilnya dipinggir jalan tak jauh dari penjual gorengan itu..
Wulan dan kedua orang tuanya turun,membeli bebarapa gorengan yang baru matang,membayar,lalu kembali ke mobil.
Lee kembali mengemudikan mobilnya dan bergabung dengan kendaraan yang lain.Setengah jam kemudian,mereka tiba di tempat perkemahan.Lee memarkirkan mobilnya di dekat mobil-mobil lainnya.Mereka pun turun satu per satu.
Sambil membawa satu kantong donat,Wulan memimpin jalan,masuk ke area perkemahan,menuju tribun yang dipadati orang.Wulan berjalan perlahan,matanya menyapu sekeliling.
" Wulan! " sebuah suara menghentikan sapuan mata Wulan.
'' Eh,orang wawak ikut juga nya? " Alika segera menyalami orang tua Wulan.
" Hehe,iya.Sekali sekali." Tumini tersenyum melihat Alika.
" Novela gak datang? " Wulan mendekati Alika.
Alika menoleh," Kok kau dah,Vela aja yang dicariin.Aku enggak." wajahnya cemberut.
" Kan kau sudah disini." Wulan menatap heran ke Alika.
Alika mem-puh pelan, " Anaknya Vela demam,makanya dia gak bisa datang." Alika tetap menjelaskan meski sedikit enggan.
Wulan tersenyum kecil,melihat Alika yang mengacuhkannya.Temannya yang sudah menikah dan memiliki dua anak itu,masih suka merajuk seperti anak kecil.Tapi,itu terlihat menggemaskan dimata Wulan.
Alika melihat itu,entah kenapa ia salah tingkah.Ia tahu dari dulu hingga sekarang,ia tak akan bisa terus megacuhkan teman baikknya itu.
'' Sini biar kubantu." Alika berseru sambil menarik kantong yang dibawa Wulan.
" Tidak per- " terlambat,bungkusan itu sudah sepenuhnya dibawa Alika.Alika juga langsung memimpin jalan dan menunutun orang tuanya Wulan.
" Nona? " Lee menjejar disamping Wulan.
" Tidak apa apa.Ayo,ikutin saja." Wulan menjejar orang tuanya,mengambil bungkusan yang dibawa ibunya lalu berjalan perlahan di belakang mereka,diikuti Lee.
Setelah masuk ke area tenda putri,melewati berapa tenda sekolah lain.Mereka tiba di tenda sekolah Lisha.
" Mamak?Bapak? " Lisha segera menghampiri orang tuanya begitu mereka tiba di depan tenda.
Roby juga ikut menyapa,mempersilahkan orang tua Wulan bergabungan dengan beberapa wali murid yang juga hadir disitu.Beberapa dari mereka juga menyapa Wulan dengan ramah.
Tidak mau berlama lama,beberapa orang tua yang datang mulai berpamitan karna jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam,termasuk orang tua Wulan.Alika juga ikut berpamitan karna putranya sudah mengantuk dan tak bisa lebih lama lagi meninggalkan putrinya.
__ADS_1
Wulan menyuruh Lee untuk mengantar pulang orang tuannya dan Alika.
Lee mengangguk dan mengatakan akan langsung kembali.
" Tidak perlu buru-buru." Wulan ikut mengantar hingga ke mobil,memberitahukan agar Alika membawa donat yang ia pisahkan tadi.Lalu ia kembali ke tenda.
Setengah jam sebelum api unggun.
Para panita mulai bersiap,sepuluh peserta yang terpilih juga sudah bersiap dengan seragam lengkap mereka sambil membawa obor yang terbuat dari bambu,para peserta perkemahan juga mulai membentuk barisan dengan formasi huruf U dimana susunan kayu untuk api unggunnya berada di tengahnya.
Shafar baru saja berpamitan dengan salah satu temannya yang juga pembina pramuka disekolah lain.Saat hendak kembali ke tenda Roby,ia berpapasan dangan anak didiknya Roby dan mereka mengajak Shafar untuk kebarisan karna Roby sudah disana.
" Hei,Rob." Shafar menepuk pundak temannya itu.
Roby menoleh," Dari mana aja kau,Far? ''
" Jumpain Riski.Dia datang juga." Shafar melihat ke depan barisan.Upacara sudah dimulai.
Roby hanya ber-oh pelan lalu kembali melihat ke depan.
Upacara berjalan lancar,meski tanah sedikit lembah karna pagi tadi hujan.Namun,begitu satu persatu peserta pilihan meletekkan obor mereka,dengan cepat api menjalar,membakar kayu-kayu dan perlahan api membersar membuat sekeliling menjadi hangat.Dengan cekatan,lima orang panita laki-laki melemparkan bahan bakar lagi agar api terus membesar dan DUAR!
Kembang api dilepaskan.Puncak perkemahan telah dimulai.Dengan api yang membara, nyanyian khusus api unggun dimainkan diikuti para peserta yang berseru kesenangan.Suasana ditengah lapangan itu sangat mendebarkan,tak sedikit peserta atau pengunjung yang mengabadikan momen indah itu.Roby juga maju kedepan untuk merekam api unggunya.
Tiba-tiba peserta yang berada didepan Shafar bergerak mundur karna takut terkena percikan api yang terlempar.Seorang wanita yang berada tak jauh didepan Shafar juga ikut terdorong kebelakang.Duk! Ia menabrak Shafar yang ada dibelakangnya.Shafar spontan menggengam lengan wanita itu saat mempertahankan posisinya agar tidak terjatuh.
Dengan cepat wanita itu berbalik menjauh satu langkahnya dari Shafar,dan sekali lagi Shafar tertegun melihat wanita didepannya itu.
" Akh,maaf." Wulan menatap Shafar.
Shafar hanya terdiam,tak tahu harus merespon apa.
Sekali lagi,orang didepan mendadak mundur,mendorong Wulan.Tubuhnya terhuyung dan Shafar spontan langsung menangkapnya.Mereka bertatapan sebentar.Sedetik kemudian,Wulan segera mendorong pelan Shafar agar menjauh.
" M-maaf." Shafar mundur selangkah,merasa bersalah karna telah menyentuh Wulan sembarangan.
" Saya juga minta maaf.Anda baik baik saja? Sepertinya tanpa sengaja saya menginjak kaki anda." Wulan menunduk sopan.
" Oh,gak apa apa.Lagian tak terasa." maksudnya Shafar bahkan tidak sadar kalau Wulan menginjak kakinya.Ia lebih terkejut karna ia bertemu Wulan lagi.
"Kalau begitu,saya permisi." Wulan mengangguk sopan dan meninggalkan Shafar.
Perasaan Shafar terasa gundah.Ia ingin menahan dan berbicara lebih lama dengan Wulan,namun sekali lagi ia mengingat perlakuan tidak sopan yang ia berikan pafa Wulan.Secepat niat itu datang,secepat itu pula niatnya luntur.
Wulan menjauh dari barisan yang padat dan memilih berdiri di tempat yang lenggang,masih ingin melihat pemandangan pesta api unggun itu.
Malam semakin larut,beberapa peserta memilih kembali ke tenda masing masing dan beristirahat.Lalu yang lain masih tertahan di tengah lapangan melalukan berbagai kegitaan mereka.
Setelah berpamitan pada Roby dan Lisha,Wulan pergi melihat lihat penjual pernak pernik dan survenier sambil menunggu jemputan Lee.
Wulan lebih tertarik dengan survenir survenir pramuka yang sangat banyak itu.Hal yang ia sukai sejak dulu.Ada baju yang bisa langsung dibordir,kalung inisial,bros,gantungan kunci,gelang,bahkan piala yang terbuat dari kayu tipis.
Wulan memilih beberapa gelang dan meminta penjual untuk mengukir nama nama keponakannya.Setelah menulis semua nama keponakannnya,Wulan melihat lihat kembali.Lalu sebuah gantungan kunci menarik perhatiannya.Sebuah gantungan kunci yang terbuat dari lempengan akrilik berbentuk kupu kupu polos itu,terlihat unik dimata Wulan dan ia mengambilnya.Meminta penjual itu mengukir namanya disana.
" Padahal bapak kira,gak bakalan laku ni gantungan." ucap penjual itu sambil mengukir nama Wulan.
Wulan tak merespon.
" Tahu gitu,bapak bawak yang banyak.Gak cuma dua." keluhnya sambil memberikan kantong berisikan gelang dan gantungan yang sudah selesai diukir.
Wulan menerimanya dan langsung membayarnya.
" Terima kasih."
" Iya,sama sama." Wulan mengangguk sopan lalu pergi dan segera berjalan menghampiri Lee yang baru saja tiba.
__ADS_1