
"Kalian semua kenapa gak ikutin dia sampai kerumahnya sih?" Tanyanya geram, pasalnya anak buahnya hanya memberi kabar bahwa orang yang ia cari masih ada di wilayah jakarta, tapi anak buahnya mengaku tidak tau tempat tinggal orang yang ia cari.
"Kami barusan sempat mengikuti dia, tapi kami kehilangan jejak saat di perempatan Tuan, kami tidak melanjutkan untuk mencari karna kami tau, jika kami salah jalan sedikit saja kami akan tersesat Tuan" Jelas salah satu bawahannya dengan nada sedikit bergetar.
Sial !!
Umpatnya kasar, ia tau perempatan mana yang di maksud oleh anak buahnya, tidak mau ambil pusing dia pun kembali menyuruh anak buahnya untuk kembali ketugas masing masing. Semua anak buahnya pun berlenggang pergi, meninggalkan sang atasan yang masih tersulut emosi itu.
Pria tersebut membugem tembok sebagai pelampiasan amarahnya hinggal tangannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah dan anyir itu, namun ia masih tetap membungem tempok tersebut hingga ada sebagian yang retak. Sudah di maklumi oleh orang orang terdekatnya jika pria itu melakukan hal seperti itu, karna pria tersebut memiliki temprament yang sangat berbahaya, bahkan sempat mengenai mentalnya dan berujung di RSJ.
Di sisi lain, Niela merebahkan tubuh mongilnya di kasur king sizenya dan melepaskan semua beban yang Niela pikul sendirian, Niela kembali teringat kejadian tadi saat bersama Aufal, ucapan Aufal menjadi bayangan bayangan di setiap gerak geriknya.
Memikirkan kejadian tadi membuatnya lupa akan misinya, Niela menggelengkan kepalanya mengingatkan kembali tujuannya mendekati Aufal dan mulai beranjak dari tempat tidurnya berjalan kearah balkon, malam ini lumayan dingin membautnya berinisiatif untuk pulang kerumah orang tuanya dulu, lumayankan kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota.
Pemandangan di luar lumayan indah dan itu membuatnya betah berlama lama di balkon kamarnya, Niela terus memperhatikan setiap gerak gerik orang orang yang berlalu lalang keluar masuk rumahnya, siapa lagi kalau bukan para pembantu, bodyguard, satpam dan para petugas lainnya. Niela sedikit tersenyum manis saat melihat Mang Dadang yang sedang di pukul oleh Bik Unah karna salah membeli bahan makanan, yah tadi saat Noela baru sampai di rumah orang tuanya malah di suguhkan oleh Bik Unah yang berkacak pinggang mencari cari keberadaannya Mang Dadang yang mendadak hilang saat di ketahui salah membeli bahan makanan yang akan di masak oleh Bik Unah nantinya.
Niela menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya yang selalu meributkan hal kecil, Noela berinisiatif untuk menelpon Mang Asep suami Bik Unah yang juga menjadi kepercayaan keluarganya.
"Mang, bantuin Bik Unah napa, kasian tuh di gangguin Mang Dadang" Adu Niela saat telponnya tersambung dan di angkat oleh Mang Asep sendiri, tidak lupa juga dengan senyum jailnya.
"Tuh orang ya, udah tau bini orang masih aja di gangguin, tunggu aja pemalasan Asep. Eh makasih Nona atas perhatiannya udah mau ngasih tau kelakuan buruinya tuh orang" Geram Mang Asep, namun tak urung mengucapkan terimakasih kepada Niela.
"Iya Mang sama sama" Sahut Niela ramah lalu menutup telponnya.
Niela tertawa cekikikan saat melihat dari balkon Mang Asep yang tengah menjewer Mang Dadang dengan amat keras di sertai ringisan yang cukup keras pula hingga terdengar sampai di balkon yang membuat Niela semakin mengeraskan suara tawanya.
Karna takut menjadi bahan perhatian semua orang yang ada di bawah, Niela bergegas masuk sebelum ada yang menyadari keberadaannya, Niela semakin mengeraskan tawanya sampai berguling guling di atas kasur king sizenya saat mengingat kembali kelakuannya Bik Unah, Mang Dadsng, dan Mang Asep barusan.
"Bhahahaha....... Lucu mereka, hahahaha...... Puas banget ngerjain Mang Dadang barusan" pekiknya di sela sela tawanya.
Ungtung saja kamar Niela kedap suara, jadi sekencang apa pun Niela berteriak tidak akan kedengeran, terlebih saat pintu kamarnya di kunci dan itu yang membuat Bik Unah semakin was was kalau Niela sendirian di kamarnya.
Niela menghentikan tawanya saat mendapat pesan masuk dari mamanya menanyakan kabarnya, namin Niela enggan membalasnya dan hanya menyuruh Bik Unah untuk menyiapkan makan malam, sedikit aneh memang karna Niela baru saja dari restourant malah nyuruh Bik Unah untuk menyiapkan makan malam, namun pada kenyataannya saat di restourant barusan Niela tidak memesan makanan kecuali minuman, itu di karenakan Niela enggan makan kalau di sampingnya ada Aufal.
Tanpa aba aba Niela meletakan ponselnya dan bergegas keluar dari kamar menuju meja makan menunggu Bik Unah menyiapkan makan malamnya, sambil menunggu Bik Unah Niela menyibukan diri dengan mengupas jeruk, Niela sekarang sudah terbiasa sebelum makan malam terlebih dahulu makan buah buahan asalkan bukan buah nanas, karna Niela sangat alergi nanas meski Niela sangat menyukai wangi nanas yang menggugah selera.
__ADS_1
Di sela sedang menikmati buah jeruknya, Bik Unah datang dengan pelayan di belakangnya tidak lupa di tangannya ada berbagai makanan kesukaannya, Niela menatap makanan yang di tata rapi oleh Bik Unah penuh minat dan meletakan kembali sisa jeruk di tempat semula.
"Non, barusan nyonya ngabarin saya, katanya mereka sedang di jalan pulang, mungkin butuh setengah jam nanti bakal sampek Non" Kata Bik Unah di sela menata makanan di hadapannya Niela.
Niela tersenyum kecut, untung saja saat ini Niela sedang berpenampilan cupu, kan tidak lucu kalau tiba tiba kedua orang tuanya datang dan melihat penampilan Niela yang sebenarnya, oh ayolah Niela tidak siap jika harus menceritakan semuanya sekarang.
Niela memerhatikan Bik Unah menata makanan di meja makan, setelahnya Bik Unah duduk di sebelah Niela untuk menemani Niela makan. Niela tersenyum di balik penampilan cupunya dan melahap habis makanan di depannya tanpa tersisa apa pun, Niela sangat suka masakannya Bik Unah yang menurut Bik Unah patut di acungi jempol.
Setelah selesai dengan acara makan malamnya, Niela melirik Bik Unah yang sedang merapikan meja makan setelah para pelayan lainnya mengambil piring kotor dan makanan sisa lainnya untuk di bawa kedalam dapur, sedangkan Niela menghabiskan sisa jeruknya yang sempat Niela letakan barusan.
"Bik, menurut Bik Unah Mang Asep seperti apa sih orangnya dulu sebelum menikah dengan Bik Unah? Terus perubahan apa saja yang Bik Unah dapatkan setelah menikah dengan Mang Asep?" Tanya Niela di sela sela menikmati buah jeruknya.
Bik Unah tampak mengingat ngingat kejadian saat pertama kali bertemu dengan Mang Asep, hingga menikah dengan Mang Asep yang menurut Bik Unah banyak hal yang berubah.
"Dulu Aa' Asep orangnya teh cuek, dingin, nyebelin, suka gangguin Bibik, tapi semuanya berubah kala cinta itu datang di antara kami berdua. Seiring dengan berjalannya waktu, Aa' Asep berubah menjadi manis sama Bibik, posessif sih iya, tapi tidak lepas dari itu semua Aa' Asep sangat perhatian dan peduli sama Bibik"
"Kalau dulu Aa' irit bicara, sekarang malah banyak bicara kalau lagi berdua, ngasih perhatian lebih, suka nyennengin Bibik" Tambah Bik Unah.
Mendengar penjelasannya Bik Unah membuat Niela berfikir jika saja dulu tidak ada kejadian itu mungkin sampai saat ini Niela akan tetap merasakan yang namanya Perhatian dari seorang pria yang Niela cintai, bukan merasakan trauma dari orang yang Niela sayangi. Sayangnya itu hanya impian belaka, dan saat ini Niela hanya merasakan yang namanya kecewa, sakit hati yang begitu mendalam, dan yang lainnya hingga terbentuklah yang namanya trauma yang tidak pernah ada yang tau kapan sembuhnya trauma itu.
"Tidak bisakah mama sama papa sabar sebentar? Aufal lagi milih jaz kantor" Geram Aufal pada kedua orang tuanya.
Pagi pagi sekali kedua orang tau Aufal mengejak Aufal untuk makan di sebuah cafe yang lumayan terkenal akan cita rasa masakan yang di sajikan di sana, kalau tidak sala nama cafe tersebut adalah Fan's Niel CF And Family Niel Cafe yang di duga salah satu cafe terkenal yang di kelola oleh sang pemilik perusahaan PUTRI A.D.A Companya.
Hanha itulah yang Aufal tau dari berbagai berita yang beredar belakangan ini, meski Aufal sendiri penasaran namun tidak menuntut kemungkinan Aufal diam saja, karna menurutnya itu tidak berpengaruh sedikitpun pada kehidupannya.
Aufal keluar dari kamarnya dengan setelan Jaz kantor berwarna navi dan kemeja yang berwarna biru laut, tanpa mengenakan dasi, karna menurutnya dasi tidak terlalu di butuhkan dan akan mencekik lehernya, dan untungnya hari ini ada kelas siang jadi bisalah mampir terlebih dahulu ke kantor sebelum berangkat kekampus.
Sesampainya di Living room tampak kedua orang tuanya itu sedang duduk santai sambil menikmati secangkr kopi dan teh masing masing, Aufal menghela nafas jengah mengingat Aufal barusan terburu buru mengenakan pakainnya, tapi kedua orang tuanya malah sibuk dengan urusan masing masing.
"Pa, ma, bisa berangkat sekarang?" Tanya Aufal to the point.
Kedua orang tua Aufal mengidarkan pandangan mereka pada Aufal yang sedang menghampiri keduanya, Arumi tampak menggeleng gelengkan kepalanya anaknya ini memang terlalu tothe point kepada siapapun, namun tidak urung Arumi menyinggol lengan sang suami yangmasih sibuk dengan kopinya.
"Kita kesana bukan untuk meeting, kenapa kamu pakai pakaian formal kayak gitu?" Tanya Rafael papa Aufal sambil memicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Mau langsung kekantor Pa" Jawab Aufal seadanya.
Rafael hanya mengangguk mengerti maksud anaknya ini, sedangakn Arumi melongo tidak mengerti maksud ucapannya Aufal barusan, namun lima detik kemudian Arumi pun hanya menghela nafas menyadari ucapan sang putranya ini.
Ketinganya pun berangkat ke cafe yang akan di tuju, selama perjalan menuju cafe Arumi tak henti hentinya mengoceh menceritakan sifat Niela sewaktu masih kecil dulu kepada sang putranya ini, namun Aufal hanya acuh tak acuh sambil memerhatikan ponselnya.
Setibanya di tempat yang di tuju, Rafael, Arumi, dan Aufal langsung masuk keruang private room yang sudah di pesan sengaja tidak memesan ruang VVIP atau VIP karna mereka ingin mencoba ruangan yang tak biasa menurut mereka, namun saat handak masuk, langkah Aufal terhenti saat melihat seorang gadis yang sangat Aufal kenal. Yah, dia adslah Niela yang sedang tidak berpenampilan cupu, Aufal menyunggingkan senyum manisnya.
Melihat perubahan sang anak sulungnya itu, membuat kedua pasangan ini ikut menghentikan langkahnya menoleh kearah yang di tatap oleh sang putra sulungnya itu, Rafael dan Arumi mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis cantik sedang berbicara dengan salah satu pelayan.
"Putri !!" Panggil Aufal sedikit lantang.
Yang di panggil pun akhirnya menoleh kearah Aufal yang sedang tersenyum manis di samping kanan dan kirinya ada Rafael dan Arumi yang sedang memangdanginya.
Gadis tersebut tersenyum manis menghampiri ketiga orang tersebut, Niela agak gugup tidak tau akan persikap seperti apa nantinya saat bertegur sapa dengan kedua orang tua Aufal.
"Eh mas Aufal ada di sini juga?" Tanya Niela sedikit berbasa basi.
"Iya, kamu sendiri ngapain kesini?" Tanya Aufal setelah menjawab pertanyaannya Niela.
"Sudah kebiasaan saya mas, sampai sampai saya jadi langganan mereka setiap pagi" Jawab Niela beralibi.
Arumi dan Rafael tampak melongo melihat tingkah sang putra sulungnya yang tampak menghangat di depan seorang gadis yang di panggil 'Putri' oleh anaknya itu, sedetik kemudian Arumi menyinggol perut Aufal yang tampak asyik ngobrol hingga melupakan kehadiran kedua orang tuanya itu di samping mereka berdua.
"Apa sih ma?" Tanya Aufal sedikit ketus.
"Eh jangan gitu sama orang tua sendiri mas, nanti kualat loh mas kalau di gituin" Tegur Niela.
Aufal memutar bola matanya malas "Iya, maaf ma. Oiya kenalin, ini Putri skertaris magang aku, Ia orangnya gak se BAR BAR si Niela Niela itu, baik telaten" Aufal memperkenalkan Niela sekaligus menjelek jelekan Niela dengan menekan kata 'Bar bar', dan itu membuat Niela sedikit jengkel.
"Jangan berlebihan mas" Tegur Niela.
...T B C...
...__________________________________________________________________...
__ADS_1
...______________________________________________________...