
Selama beberapa hari Niela tidak masuk sekolah, bahkan kedua sahabat Niela pun tidak di kasih tau tentang keadaan Niela saat ini. Bukannya tidak bertanya, malahan kedua sahabat Niela sudah berkali- kali datang ke apartemen Niela hasilnya masih tetap sama, Niela hilang bak di telan bumi.
Sedangkan yang Novi dan Devi cari saat ini sedang berada di dalam kamarnya, memejamkan matanya seolah enggan untuk membuka matanya. Sudah beberapa hari ini Niela tidak masuk sekolah, bahkan masih dengan posisi yang sama Niela berbaring, entah sampai kapan Niela akan membuka matanya, namun yang pasti saat Niela terlihat sangat nyetak.
"Sampai kapan kamu akan terus menutup matamu itu?" Tanya Laila entah kepada siapa itu sambil mengusap surai rambut lebat Niela.
Daniel sendiri? Jangan di tanya saat ini sedang apa dan dimana, yang jelas semenjak keja*******dia*******n itu Daniel memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi tanpa sepengetahuannya Laila.
Sambil menunggu Niela sadar dari pingsan panjangnya, Laila akhirnya terlelap tidur karna sepanjang haru hanya menunggu Niela sadar dari pingsannya. Saat Laila sudah memasuki alam mimpinya, Bik Unah datang dengan beberapa keperluan Niela, melihat Laila yang terlelap di samping Niela akhirnya Bik Unah berinisiatif untuk tidak membangunkan Laila.
Dengan secara perlahan Bik Unah mendekat kearah Niela dengan membawa baskom dan sapu tangan, Bik Unah sudah memperkirakan Niela akan sadar paling lambat nanti siang karna biasanya jika trauma Niela kambuh, paling cepat sehari semalam Niela akan sadar dari pingsannya itupun jika bagian tubuhnya terluka seperti kejadian beberapa bulan lalu saat masih magang di perusahaannya Aufal.
"Apa sih yang di inginkan Mantan pacar Nona Muda? Kenapa sampai harus melukai mental Nona?" Lirih Bik Unah mendumel sambil mengelap Niela.
Bik Unah sudah menganggap Niela anaknya sendiri, apa lagi di saat-saat Bik Unah butuh pekerjaan tambahan Niela dengan senang hati membukakan jalan untuk Bik Unah. Setelah mengelap Niela, Bik Unah meletakan baskom dan sapu tangan di atas nakas, d ngan secara perlahan-lahan Bik Unah mengusap surau Niela.
Sedangkan di sisi lain, Mr. X dan AO sedang kelimpungan karna semakin hari ada saja cobaan yang menimpa mereka, oh bukan lebih tepatnya Mr. X sendiri karna selain pemasaran barang ilegalnya yang menurun, pengiriman barang ilegal pun semakin hari semakin memusingkan, belum lagi Mr. X masih belum menemukan keberadaannya Niela.
PRANK......
PRANK.....
PRANK......
Mr. X menjatuhkan semua vas bunga yang ada di mejanya, saat ini Mr. X sedang kalut apapun yang ada di depannya seakan hanya mainan yang siap untuk di hancurkan, bahkan AO saja tidak berani berada di samping Mr. X untuk saat ini.
"SIAPAPUN YANG BERKHIANAT PADAKU, BAKAL AKU BALAS BERKALI-KALI LIPAT SAMPAI KEAKAR-AKARNYA, KALAU PERLU KELUARGANYA JUGA !!!" Teriak Mr. X dengan wajah merah padam.
AO yang mendengar teriakannya Mr. X dari luar ruangannya pun hanya terkekeh kecil tidak pernah menyangka kemarahannya Mr. X begitu mengerikan, namun jika dibandingkan dengan dia Mr. X bukan apa-apanya.
"Siapapun yang akan menang pada akhirnya, aku akan tetap memihak pada kebaikan ketimbang kejahatan. Tinggal menunggu pertemuan mereka berdua saja, dan jika hari itu tiba maka Mr. X akan lebih terkejut lagi saat mengetahui semuanya" Ujar AO pelan.
Salah satu bawahannya Mr. X yang mengerti maksud AO menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh AO, namun telat keduanya telah bulat untuk tetap setia kepada dia, karna biar bagaimanapun keduanya tau sebaik apa dia meski pada dasarnya terlihat agak berbeda dari yang lainnya.
"Mr. X berani menyinggung dia bahkan mengganggu dia, maka pantas saja Mr. X menanggung akibatnya" Sahut bawahan Mr. X yang nama samarannya adalah KA.
KA dan AO adalah teman dekat dan berasal dari perusahaan yang sama sebelum menjadi bawahannya Mr. X, sebenarnya lebih mengerikan KA ketimbang AO namun Mr. X hanya mengira kemampuannya KA tidak sebanding ketimbang AO, maka dari itu Mr. X lebih memilih AO yang menjadi tangan kanannya ketimbang KA.
AO menganggukan kepalanya membenarkan ucapannya KA, AO bahkan tidak berani menyinggung dia tapi Mr. X bahkan berani mengganggu dia secara terang-terangan.
...* * *...
"Daren, apa ada jadwal hari ini?" Tanya Aufal sambil membolak balikan berkas di tangannya.
"kosong" Jawab Daren apa adanya.
Aufal menghentikan kegiatannya, entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya tidak nyaman bahkan Aufal sempat memimpikan Putri dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ada apa?" Tanya Daren sedikit penasaran.
"Masih belum ada kabar dari Putri" Jawab Aufal lalu menghela nafas pasrah.
Yap, semenjak Niela selesai magang dengan perasaan jengah dan jengkel tanpa memberi tau siapapun, Niela mengganti no hpnya karena saking lelahnya selalu di tanyai ini itu oleh Aufal. Dan itulah sebabnya Aufal sampai sekarang tidak bisa menghubungi Niela yang dianggapnya Putri yang berhasil membuat Aufal jatuh cinta pada Niela versi Putri, bahkan sampai saat ini Aufal masih mencari keberadaannya Niela.
"Kapan?" Tanya Daren pelan.
"Hah?"
__ADS_1
"Kapan lo bisa lupain orang yang nggak pernah mengharapkan lo? Kecewa iya, rindu pun iya" Daren mencoba menasehati Aufal.
"Sudah gue coba, tapi tetap saja tidak bisa" Sahut Aufal pelan.
"Belum lagi Keluarga gue mau kerumah mantan camer gue beberapa hari lagi" Tambah Aufal.
Yap, selain memikirkan Putri, Aufal juga memikirkan cara agar bisa berinteraksi dan tidak canggung saat bertemu keluarga Niela, memikirkannya sudah membuat Aufal pusing tujuh keliling.
"Mau ngapain emang?" Tanya Daren yang super penasaran.
"Perusahaan PERKASA kan bangkrut, rumah keluarga mereka di sita, Mama ada niatan buat main kerumah mereka ya karna supaya tidak stress mikirin semua masalah yang menimpa keluarga mereka" Jawab Aufal panjang lebar.
Entahlah, semenjak mengenal Niela sebagai Putri, Aufal selalu bicara panjang lebar tidak seperti biasanya yang irit bicara, awalnya Daren dan Reza di buat terkejut dengan perubahan sifat Aufal, namun akhirnya mereka berdua terbiasa dengan Aufal yang lebih suka bicara panjang lebar ketimbang yang irit bicara.
Aufal menangkup kan kepalanya di atas meja, lelah? itu yang dirasakan Aufal saat ini, entah sampai kapan Aufal akan seperti ini menahan rasa rindu yang berkepanjangan kepada orang yang belum tentu cintanya di sambut baik oleh orang tersebut.
"Eh? Bukannya saat ini perusahaan itu sedang berada di puncaknya ya?" Tanya Daren dengan sangat terkejut.
Seketika Aufal menegakkan badannya mendengar pertanyaannya Daren, apa katanya tadi? sedang berada di puncaknya? Setau Aufal perusahaan PERKASA sudah bangkrut, lalu dari mananya perusahaan itu bisa naik lagi?.
"Maksud lo?" Tanya Aufal memicingkan sebelah matanya.
"Lo nggak tau? Agak tertutup sih berita itu, bahkan Papy gue sempat mengira perusahaan itu bangkrut tapi setelah di cari tau ternyata tidak benar-benar " Jelas Daren sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kok bisa?" Tanya Aufal semakin penasaran.
"Niela, Niela yang mengatur semuanya bahkan tanpa sepengetahuannya kedua orang tuanya. Setelah di telusuri kembali, Niela melakukan ini semua demi orang tuanya karna ada pengkhianat di perusahaan orang tuanya, Papy gue yang awalna enggan bekerjasama dengan perusahaan itu akhirnya mau menandatangani kontrak kerjasama" Jelas Daren panjang lebar.
"Gadis itu mulai misterius juga" Lirih Aufal yang masih di dengar oleh Daren.
Daren mngenggukan kepalanya, entah mengapa Daren merasa Niela bukanlah gadis biasa hingga di usianya yang terbilang masih sanga-sangat muda mampu mengontrol perusahaan keluarganya, bahkan dengan kecerdasan yang seperti itu mampu menarik banyak sekali klien-klien yang ingin berkerja sama dengan perusahaan keluarganya tersebut.
"Kata papy, melepaskan gadis seperti itu sama saja dengan membuang beribu-ribu mutiara kedalam sampah" Sahut Daren menusuk.
Aufal langsung menoleh kearah Daren, ucapan Daren barusan benar-benar menusuk hatinya bahkan sampai kebagian terdalam. Jika kedua orang tuanya tau tentang semua ini maka sudah di pastikan Aufal akan jadi amukan satu tahun ini, melepaskan belian demi emas rongsokan.
(Lalu apa kabar Aufal saat tau Niela dan Putri orang yang sama? Siapkan hati ya Fal jika semua kebenaran itu terungkap\= 💎Author jail💎)
Dengan semua kejengkelannya Aufal ingin sekali membunuh Daren saat ini, namun tidak bisa karna jika hal itu terjadi bisa-bisa Aufal masuk penjara dan lagi siapa ayang akan menggantikan posisi Daren sebagai asistennya?.
...* * *...
Sore menjelang malam, di saat semua penghuni apartemen yang di tempati keluarga Niela sedang beraktifitas, disanalah Niela mulai menggerakan tangannya, dan mengerjakan matanya, setelah silau mulai terlihat di reptil matanya Niela mulai meringis kesakitan sambil memegang kepalanya, sambil menyesuaikan pandangannya Niela mencoba mengingati apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Stt, sial" Desis Niela saat mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Niela pun berusaha duduk dan meraih gelas diatas nakas, tanpa menunggu lebih lama lagi Niela meneguk air tersebut sambil menormalkan nafasnya yang sejak tadi naik turun seakan habis bermimpi buruk.
ceklek....
Niela terlonjat kaget saat pintu kamar Niela di buka, karna pada saat itu posisi Niela sedang tidak berpenampilan cupu, dan saat pintu kamar Niela terbuka sempurna terlihat dengan jelas raut wajah bahagia kedua orang tua Niela saat melihat Niela sudah sadar.
Laila yang bahagia melihat Niela duduk diatas ranjangnya langsung menghampiri Niela dan memeluknya erat seakan esok Laila akan melepaskan Niela, Niela sendiri di buat kaget dengan tingkah Laila langsung menoleh kearah Dhaniel yang saat itu sedang berkaca-kaca melihat Niela sudah siuman.
"Kalian... " Niela menghentikan ucapannya saat Laila melepaskan pelukannya.
"Kami tau semuanya, trauma mu sampai penampilan cupumu itu" Jawab Laila tanpa di tanya.
__ADS_1
"Pa, Ma, kalian nggak... " Niela kembali menghentikan ucapannya saat melihat Laila dan Dhaniel dengan kompak menggelengkan kepala mereka masing-masing.
"Maafin Mama ya Niela, mama nggk bisa jaga kamu saat kejadian itu" Laila langsung mengutarakan niatnya saat Niela mulai merasa bersalah.
"Mama dan papa nggak salah, Niela saja yang masih terjebak dengan masa lalu kelam, lagi pula semuanya sudah berakhir kok" Sahut Niela pelan.
"Sayang_"
"Pa, ma, nggak ada yang harus di salahkan di sini, semuanya adalah takdir Allah, Niela tidak bisa menyalakan siapa-siapa disini" Kata Niela memotong ucapannya Dhaniel.
Dhaniel menganggukan kepalanya berjalan mendekati Niela lalu mengusap puncak kepala Niela, Dhaniel baru sadar jika di balik sifat bar-bar Niela tersimpan rasa peduli dan dewanya, bahkan baru sadar dari pingsan panjangnya saja masih mati-matian menahan rasa sakit supaya kedua orang tuanya tidak melihat rasa sakitnya itu.
"Kamu sekarang sudah bisa berfikir dewasa ya, papa bangga" Sahut Dhaniel pelan.
"Anak siapa dulu?"
"Papa mama dong" sahut Dhaniel dan Laila secara bersamaan.
"Kamu minum obat dulu, sholat, habis itu istirahat" Perintah Laila.
"Ok, ma" Jawab Niela dengan senyum manisnya.
Laila tersenyum sambil mengusap puncak kepala Niela lalu mengajak Dhaniel keluar dari kamar putri sematang wayangnya lewat isyarat gerakan alis, mata, dan lehernya yang di jawab dengan anggukan kepala dari Dhaniel.
Sebelum keluar dari kamar Niela, Laila menyiapkan obat Niela sekaligus menuangkan air dari teko ke gelas supaya Niela tinggal minum saja, setelahnya Laila mencium kening Niela lalu keluar dari kamar Niela.
"Hah" Niela menghela nafas pelan lalu minum obat.
Dengan gerakan pelan Niela turun dari ranjangnya berjalan secara pelan-pelan menuju kamar mandi, entah mengapa Niela merasa sangat lemas, namun sebisa mungkin Niela berjalan kekamar mandi.
Disisi lain Aufal memikirkan ucapan Daren tadi siang di kantornya, ada banyak pertanyaan yang mengganjal dalam benak Aufal, entah mengapa Aufal merasa Niela bukanlah orang yang gampang di gapai. Memikirkan Niela membuat Aufal teringat kepada Putri yang sampai saat ini masih belum ada kabarnya, padahal Aufal sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tau keberadaannya Putri saat ini, kalau perlu tempat tinggalnya pun akan Aufal cari.
"Sampai kapan Put? Sampai kapan kamu akan membuatku menunggu tanpa alasan yang pasti seperti ini?" Lirih Aufal sambil meneguk soda kesukaannya.
Ting. . . . .
Ada pesan masuk diponsel Aufal, dengan segera Aufal pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan malam-malam seperti ini, dan Yap setelah di lihat ternyata pesan tersebut dari salah satu bawahannya memberikan kabar mengejutkan kepada Aufal.
Bawahan 11
Tidak ada yang bernama nona Putri dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan tuan
adanya nona Niela namun saat masih kecil, kemungkinan Anda salah
*orang tua, tapi ada hal mengejutkan lainnya yang harus anda tau jika *
*orang yang anda suruh cari tau adalah Mr. X yang memang *
*mengintai keberadaannya nona Putri, kemungkinan nona Putri sudah ada *
di tangan Mr. X tuan
Hampir saja Aufal membanting ponselnya jika tidak ingat ponsel tersebut adalah kenangan terakhir dari sahabatnya yang sudah meninggal satu tahun lalu, dengan perasaan bengkelnya Aufal pun hanya bisa memaki orang yang bernama Mr. X itu, meski pada dasarnya Aufal tidak tau siapa itu Mr. X yang berani mengusik kehidupan Putrinya itu, Putri milik Aufal dan sampai kapanpun akan menjadi milik Aufal.
"Kapan? Kapan Mr. X itu mendapatkan Putri? apa sekarang Putri sedang bersamanya?" Aufal bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"AAAAAAAA" Teriak Aufal sambil menjatuhkan semua vas bunga yang ada di dekatnya.
__ADS_1
...T B C...
...see you, next part...