Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
1. Skul the Cool Skull


__ADS_3

Kenalin, nih. Abang-abang tongkrongan baru, namanya SKUL, si tengkorak gaul. Meskipun namanya Skul tapi dia nggak suka sekolah, dia cuma suka bergaul. Seperti malam ini.


Skul sedang nongkrong di pos Ronda dengan Aben kawan lamanya, dan si Imas yang rambutnya agak kribo.


Tiba-tiba ada cewek lewat, kan.


"Wah, cewek tuh!" Seru Aben dengan Norak.


"Iya, kita samperin yuk!" Seru Imas pura-pura seru. Padahal dia cuma bosan aja kalah main domino terus sama Aben dan Skul.


Tapi ternyata si Skul sudah duluan beraksi. Tiba-tiba dia sudah ada di belakang si cewek. "Mau kemana, Dek?" Skul menyapa dengan ramah.


Si cewek berbalik, dan langsung berteriak "Setaaaaaaaan!!!!". Lalu dia berlari dengan kencang.


Skul yang juga kaget karena diteriaki, hanya bisa terdiam selama beberapa saat. Sampe akhirnya ada sebuah tangan yang menepuk kepalanya. Tangannya tulang semua.


"Aduh, siapa nih!" Seru Skul tersadar dari lamunannya. Lalu dia berbalik dan melihat sebuah badan tulang belulang tanpa kepala. "Oh, elu Bod."

__ADS_1


Sebenarnya Skul tidak yakin dia dan Bod berasal dari tubuh yang sama. Namun semua orang telah maklum bahwa Skul dan Bod selalu bersama. Dimana ada Skul melayang-layang, tak jauh dari situ ada Bod yang sedang duduk-duduk, atau berdiri saja tak jelas. Kadang bersandar di tiang listrik sambil menyilangkan kaki. Kadang duduk jongkok sambil berpagku tangan. Namun tangan yang harusnya berpangku di pipi, melayang begitu saja, karena bod tidak punya kepala.


Begitu pula jika ada Bod lagi nongkrong, maka bisa dipastikan Skul sedang melayang-layang tak jauh dari situ.


Bod dan Skul kembali ke pos Ronda, tempat Aben dan Imas sedang tertawa terpingkal-pingkal.


>>>


Siang ini, Skul pergi ke taman bermain dekat tk 11. Di situ dia sudah ada janji temu dengan Ibu Sinta. Biasa, urusan bisnis.


"20.000 perjam ya, Skul? Seperti biasa." Ibu Sinta mulai menentukan harga setelah menjelaskan event dan lokasinya.


"Ya elah, Skul. Hari gini udah ada medsos masih percaya sama koran. Itu pasti cuma iklan ngasal doang. Badutnya juga pasti nggak ada yang make itu. Mahal begitu. Lagian kamu butuh uang banyak-banyak buat apa, sih. Makan juga nggak, kan?" Ibu Sinta memang pebisnis senior. Telah banyak pengalamannya dalam menghadapi klien atau talent seperti Skul. Perdebatan harga macam ini adalah makanannya sehari-hari.


Tapi Skul tidak mau mundur tanpa perlawanan. "Wah Ibu Rasis, nih. Nanti saya laporin loh sama KOMPERNASTENG DS, Komisi Perlindungan Nasib Tengkorak!"


"Lah, DS nya apaan?" Tanya bu Sinta penasaran.

__ADS_1


"Dan Sederajat!" Jawab Skul mantap. Di sampingnya, Bod mengacungkan 2 jempol.


"Sigh....." Akhirnya Bu Sinta menghembuskan nafas panjang. 'Ada-ada saja tengkorak tengik ini.' Sepertinya skul tidak akan berhenti mengoceh sebelum ada proses tawar-menawar. "Ya sudah... Kalian mau dinaekin berapa tarifnya?"


"40.000 per jam!" 2 kali lipat! Serangan yang bombastis dari kubu tengkorak.


"30.000!" Ibu Santi balik membalas dengan sengit.


"Deal!" Skul mengangguk. Bod menyorongkan tangan untuk bersalaman.


Ibu Sinta menyambut jabat tangan itu dengan perasaan kalah. Dia lalu menyunggingkan senyum profesional ala sales masin penghisap debunya. "Sampai jumpa di venue. Jangan sampat telat, ya?"


"Siap!" Seru Skul. Bod mengambil posisi tegak dan memberi gestur hormat.


Saat Mobil bu Sinta telah berlalu. Senyum di wajah Skul yang selalu lebar, seolah semakin lebar. Bod mengangkat telapak tangannya sebahu, Skul mengangguk. Bod mengangkar telapak tangan lainnya.


Toss!

__ADS_1


.


__ADS_2