Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
9. Alasan Dia tak Bisa Melupakan Wanita Itu


__ADS_3

Sejak SMP, tubuh Hafzi Wiji Saka sudah menjulang tinggi untuk cowok seumurannya. Hobinya dalam bersepakbola membuat tubuhnya atletis. Lalu dia juga menggandrungi segala macam seni beladiri. Mulai dari karate, muang thai, hingga jiujutsu. Semuanya telah dia tes hingga akhirnya nanti dia akan menambatkan hatinya untuk serius pada jiujutsu.


Dia juga seorang anak yang ramah dan nilainya selalu di atas rata-rata kelasnya. Bukan hal yang aneh jika kemudian dinobatkan sebagai laki-laki paling populer.


Berpuluh surat cinta telah ia terima. Ada yang dari kakak kelas, banyak yang dari adek kelas, tak kurang juga dari seangkatannya sendiri. Ada yang dia balas, lebih banyak yang dia tolak.


Hal ini bertahan hingga dia menginjak masa SMA. Dia selalu berkencan dengan perempuan paling hot, paling keren, paling beken di sekolahnya.


Namun Mungkin karena mulai beranjak dari dunia puber, atau hanya bosan saja; Hafzi mulai malas berpacaran. Perempuan yang mendekatinya selalu begitu-begitu saja.


Awalnya para gadis itu nampak menawan dan selalu membuatnya senang saat ada di dekatnya. Namun lama kelamaan semuanya mulai tampak memuakkan. Pada akhirnya, semuanya sama saja di mata Hafzi.


Perlahan dia mulai menolak banyak ajakan kencan. Hingga tiba masa dia menolak semua ajakan kencan. Akhirnya pada semester dua kelas tiga, panggilan 'Hafzi si Pangeran Salju' telah melekat.


Hafzi Si Pangeran Salju sekarang sedang makan bakso di kantin sekolah. Tidak ada cewek yang datang menggodanya seperti biasa, Hafzi makan dengan tenang.


Di sampingnya, Bayu sedang makan soto ayam. 'SLUURRRRP!' Terdengar Bayu menyereput bihun dengan heboh.

__ADS_1


"Bro, makannya nggak bisa santai dikit, napa?" Hafzi merasa terganggu dengan tingkah temannya.


"Hidup cuma sekali, Men!"


"Terserah kau lah." Hafzi kembali makan.


"Jadi kau serius belum mau pacaran lagi?"


"Nggak tahu. Kepo banget." Hafzi menjawab asal.


"Entahlah, Bay. Aku merasa bosan dengan semuanya. Lagipula hidup ini bukan cuma tentang pacaran, kan?" Hafzi mencoba bijak. Jika Bayu tidak diladeni, dia akan semakin ngaco.


"Betul. Tapi sekarang kita ada pada masa remaja. Dan pada masa ini, hidup memang bukan tentang pacaran. Tapi pacaran adalah tentang hidup!" Bayu berargumen dengan mantap.


"Harus kuakui, Bay. Itu sebuah omong kosong yang terdengar sangat keren." Bakso di mangkok Hafzi sudah tandas.


Bayu juga sudah selesai dengan soto ayam. Mereka berdua bangkit untuk membayar. Di kantin sebelah, mereka memesan es teh kantongan.

__ADS_1


"Hmm... Bagaimana kalau begini." Bayu berceletuk saat mereka berdua sedang di koridor. Berjalan meninggalkan kantin.


"Apa?" Di ekor matanya, dia merasa melihat sesuatu yang menarik.


"Selama ini, kamu selalu berkencan dengan cewek yang paling cantik. Paling keren. Paling beken. Top of the top."


"Ya. Dan...?" Hafzi mulai mengerlingkan matanya.


"Bagaimana kalau kau mencoba berkencan dengan gadis rata-rata. Yang biasa-biasa saja. Yang mungkin tidak pernah berani mendekatimu."


"Itu..." Hafzi memalingkan wajah, menghadapkannya pada sebuah tujuan. Dia tersenyum. "..ide yang menarik."


Hafzi menyerahkan es tehnya pada Bayu, lalu dia berlari.


"Hey!" Bayu berteriak protes.


.

__ADS_1


__ADS_2