Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
3. Skill Issue


__ADS_3

"Halloooow guys! Jumpa lagi nih baremg gue, Franky! Si host tampan, penjelajah kegelapan, tapi nggak suka balap-balapan. Kita balik lagi nih di podcast paranormal activity! Franky bersuara heboh di hadapan kamera.


"Oke, tanpa berlama-lama lagi nih, guys. Kita udah kedatangan tamu spesial. Skull dan Bod!" Kamera berbalik ke arah kursi bintang tamu. Skull mengangguk-angguk ceria, Bod melambaikan tangannya.


"Disclaimer ya guys. Ini sama sekali tanpa rekayasa loh. Skull ini memang seorang tengkorak tanpa badan. Dan Bod adalah seorang badan tanpa kepala. Betul begitu ya?" Franky melempar pertanyaan.


"Yak betul sekali. Kami berdua memang persis seperti yang dikatakan bang Franky."


Skul menjelaskan, sementara Bod mengangkat jempolnya. Gugup.


"Kalau boleh tahu kegiatan sehari-hari kalian bagaimana ya?"


"Apa ya, biasanya saya bangun pagi jam 6. Lalu saya nonton berita pagi atau baca koran. Kebetulan saya langganan koran."


"Kenapa gak baca di medsos aja, bang? Ini boleh panggilnya abang? Canggung banget soalnya kalau dipanggil pak, rasanya."


"Boleh, bang. Boleh. Sesuaikan aja. Dan saya gak baca di medsos ya karena seperti yang bang Franky dan para penonton saksikan sendiri, saya gak punya tangan buat pegang hapenya. Pernah juga sih nyoba baca pake hape teman, dipegangin. Lumayan seru juga."


"Oh iya iya. Terus habis itu ngapain?"


"Biasanya kita ada side job, jadi badut ulang tahun. Ya udah kita kesana. Habis itu udah gak ada kegiatan lagi, sih. Nongkrong aja sama teman-teman. Ada yang mau kamu tambahin gak, Bod?"


Bod mulai menggerakkan tangannya dengan lincah.


"Kata Bod; Biasanya kalau dia baru bangun, olahraga dulu. Push up, sit up, lari-lari. Biar seger aja. Kalau nemu rokok di jalan, diambilin terus diisap kalau nemu korek di tongkrongan. Wah beneran kamu, Bod? Aku baru tahu."


"Hahaha... kocak juga ya keseharian kalian berdua. Jadi gak ada horor-horornya nih."


"Iya nih, haha. Maaf ya, bang Franky."

__ADS_1


"Gak papa. Gak papa. Sebenarnya ya inilah paranormal activity yang gue cari. Gelap kan gak harus serem. Tapi kalau pengalaman nakutin orang ada gak?"


"Kalau kami yang sengaja nakutin sih nggak ya. Kurang kerjaan amat. Tapi ya melihat tampang kami, ada aja lah yang lari terbirit-birit. Apalagi kalau malam. Makanya kalau malam kami malas keluar rumah."


Bod menggerakkan tangannya. Skul menyuarakannya "Oh iya nih, tambahan dari Bod; Tapi kalau di sekitar lingkungan kami sih rata-rata udah kenal, dan udah mulai biasa juga. Bahkan kami kebagian jatah ronda juga."


"Hah, kebagian jatah ronda? Gimana tuh?"


"Iya nih. Ketua Rt kami mungkin ketua Rt paling unik sejagat raya. Masa iya tengkorak ama kerangka dikasih jatah ronda juga. Demi asas keadilan dan kesejahteraan bersama katanya. Tidak boleh pandang bulu , semua warga harus memiliki peran dan andil dalam membangun masyarakat. Tapi kalau ada penjahat beneran gimana? Tengkorak ama kerangka yang cuma tulang-belulang gini mana kuat nangkapnya? Untungnya kami gak berdua doang sih. Kami berempat bareng temen."


"Nama temannya siapa?"


"Boleh disebutin ya? Takutnya gak guna."


"Haha. Gak papa lah, bang. Nyebut nama teman doang. Say say hi sekalian juga boleh, koq. Kecuali nyebut nama koruptor yang belum diketahui negara, nah itu yang bahaya." Franky mengeluarkan skill sarkasme tipis-tipis.


Bod juga melambai-lambaikan tangannya ke kamera. Lalu ada beberapa gerakan tambahan, "Kata bod; Imas cari kerja sana, masa ahli fisika nganggur."


>>>


Podcast berjalan dengan lancarnya. Franky yang memang berpengalaman dalam dunia perpodcastan mampu mencairkan suasana dengan cepat, dan menggali informasi-informasi penting juga unik. Ditambah kepribadian Skul yang ceria, juga Bod yang suka blak-blakan, maka episode PPA (Podcast Paranormal Activity) kali itu sukses besar.


Beberapa hari setelah podcast itu tayang, Franky menelepon Bu Sinta, tetangga merangkap manager Skul dan Bod.


Bu Sinta yang sudah tidak muda dan tidak langsing lagi, tergopoh-gopoh mendatangi kontrakan Skul. "Bang Franky!" telepon di loud speaker.


"Iya bang, Skul di sini."


"Aku udah transfer 1juta lagi ya."

__ADS_1


"Loh, kenapa bang? Kan kemarin udah. Saya dan bod dikasih 250 ribu per orang."


"Gak papa Skul. Gue seneng aja. Lu mungkin gak tahu karena gak merhatiin sosmed, tapi video kita yang kemarin meledak! Makasih banget ya udah nyempatin datang. Kapan-kapan gue panggil lagi, mau ya?"


"Siap, Bang!" Skul mengiyakan tanpa banyak pikir. Bu Sinta memelototinya. "Tapi tentu harus lewat manager kami dulu. Dia yang tahu jadwal kami soalnya." Bu Sinta menaikkan jempol, kembali tenang. Bod ikut menaikkan jempol. Di antara Skul dan Bod, memang Bod yang lebih ngotak, padahal yang punya kepala Skul.


"Amanlah itu. Ok ya.... Udah dul.." Belum selesai Bang Franky berbicara, Bod tiba-tiba bergerak heboh.


"Tunggu bang, Bod mau ngomong."


"Oke oke. Apa?"


Bod mulai berbicara. Bu Sinta terbelalak, demi kepentingan bisnis, dia juga sudah belajar bahasa isyarat. Lalu setelah selesai mendengarkan ide Bod, Bu Sinta mengangkat jempol sambil mengangguk mantap. Lampu hijau untuk Skul mengutarakan ide Bod pada bang Franky.


"Bang..." Skul gugup.


"Iya, Skul? Si Bod ngomong apaan?"


"Ini Bang, Si Bod Ngomong.."


"Apaan si? Bikin penasaran aja lu Skul. Buruan."


"Agak kurang ajar nih, Bang. Maaf ya bang, sebelumnya." Mata bu Sinta melotot, mulai gemas dengan keragu-raguan Skul.


"Udah, langsung aja." Franky juga mulai tak sabar.


"Boleh gak, Bang. Misal Abang Franky Tampan ngajarin kami cara bikin konten?"..


.

__ADS_1


__ADS_2