Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
4. Pemburuan Anggota Tubuh


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Skul telah terbangun dengan perasaan segar dan bugar. Dia melihat keluar jendela. Hari ini akan menjadi hari yang cerah.


>>>


Hujan deras mempersulit proses penggalian, namun besok kamera Franky harus sudah dikembalikan.


Aben memposisikan payung supaya kamera tetap terlindungi, sementara Imas fokus merekam. Bod menggali dengan sungguh-sungguh, sementara Skul melayang mondar-mandir di sekitar area yang telah digali.


Tiba-tiba ujung sekop Bod terbentur pada sebuah benda padat. "Wah kita ketemu apa nih, Guys!" Skul berseru kegirangan meski diguyur air hujan.


Bod semakin semangat menggali. "Sepertinya kita menemukan sebuah peti harta karun!"


Mereka lalu mengangkat peti itu bersama dan membawanya ke tempat berteduh terdekat. Sebuah pohon beringin yang rindang.


Begitu mereka tiba di bawah pohon, hujan malah mereda. "Oke guys, ini petinya kita bersihin dulu ya."


Bod menyirami peti itu dengan air seember, lalu menyikat-nyikatnya. Skull membantu membersihkan peti dengan kuas yang dia gigit di mulutnya.


"Yak. Akhirnya petinya siap kita preteli ya. Hmm. Petinya kelihatan jadul ya."


Bod sibuk menggerakkan tangan dan jarinya .


"Kata bod; Bahan peti ini dari kayu yang direkatkan dengan kerangka besi. Kelihatannya besinya lumayan berkarat. Mungkin umur peti ini udah tua banget ya, Bod?"


Bod menggerakkan tangan dan jarinya.


"Iya, kata Bod bisa jadi peti ini sudah puluhan tahun terpendam di tanah. Ada gemboknya nih, Bod. Tapi apa gak bisa dipaksa buka aja? Engselnya dicongkel gitu. Kayak di film-film?"

__ADS_1


Bod kembali berbicara.


"Oh gitu ya? Kata Bod, jangan gampang percaya sama apa yang ada di film guys. Di film mah, apa aja bisa kejadian. Bahkan yang paling mustahil sekalipun. Tapi bukannya kamu dan saya adalah bukti kemustahilan bisa terjadi?"


Skull memperhatikan gerak tangan Bod.


"Benar juga, ya. Begitu kata Bod barusan. Jadi gimana nih kelanjutannya, Bod? Masa petinya gak kita buka"


Skull dan Bod menunjukkan gestur sedang berpikir. Skull agak menunduk. Bod menyampirkan tangannya.


Tiba-tiba Bod menjentikkan jarinya.


"Apa, Bod, kamu ada ide."


Bod menunjuk Skull, tepatnya bagian lehernya.


Bod mengambil tas itu dan segera merogoh-rogoh ke sakunya, lalu dia mengeluarkan sebuah kalung dan menunjukkannya pada kamera.


"Oke, jadi yang sekarang kalian lihat itu kalung aku, Guys. Kalau boleh jujur sih ya, saya juga nggak tahu itu betulan kalung aku atau bukan ya, tapi pas kebangun pertama kali, saya terbangun bersama kalung itu di dekat saya."


Bod memperlihatkan mata kalung itu.


"Dan lihat di ujung kalung itu ada apa? Tadaaa! Sebuah kunci! Nah pertanyaannya, apakah kunci itu bisa kita pakai untuk membuka peti ini? Saya juga nggak tahu, ayo segera kita buktikan saja."


Imas mendekatkan kamera. Semua tegang saat Bod memasukkan kunci itu ke lubang gembok.


Pada detik-detik genting itu, dalam kepala Skul tiba-tiba muncul banyak kekhawatiran

__ADS_1


Apakah kuncinya cocok?


Bagaimana kalau tidak?


Apakah gemboknya masih berfungsi?


Jangan-jangan gemboknya macet!?


Aduh, bagaimana kalau....


..CEKLEK!


Gembok itu terbuka. Bod berusaha tidak tergesa-gesa. Dia membuka gembok itu perlahan. Mengunci gembok itu kembali setelah terlepas dari peti. Melepas kunci dari gembok setelah itu, lalu memasukkan kalung Skul ke tempatnya semula di dalam tas salempang.


Lalu mengangkat tutup peti.


Semua isi peti itu langsung terekam oleh kamera.



Sebuah gulungan surat dalam botol kaca yang tebal.


Sebuah kunci lagi.


Sepotong tangan manusia dalam bentuk yang sisa tulang belulang saja.


__ADS_1


__ADS_2