Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
2. Bangun dari Tidur


__ADS_3

Seperti kata bu Sinta, Skul si Tengkorak Gaul memang tidak butuh makan. Namun anehnya, dia masih butuh tidur.


Karena kerjanya sebagai badut ulang tahun, sekarang Skul dan Bod sudah punya tempat tinggal berupa sebuah petak kontrakan kecil. Disitulah Skul dan Bod tidur bersebelahan di atas sebuah kasur tipis.


Pemasukan mereka yang seadanya tidak begitu masalah karena pengeluaran mereka juga sangat minim. Hanya Bod yang sekali-kali merokok, tapi itu pembahasan untuk lain kali.


Setiap kali Skul terbangun dari tidur, dia seperti baru saja bermimpi bertubuh lengkap. Jika saja dia bisa tidur sedikit lebih lama lagi, dia akan ingat siapa dia dulu lewat mimpi-mimpinya.


Namun hal itu sejauh ini belum pernah terjadi. Dia selalu saja terbangun saat ingatan itu hampir saja dicapainya.


Kian hari, mimpi itu semakin pudar. Namun kerinduannya pada ingatan itu semakin besar.


Tentu saja, Skul tidak selalu seperti ini. Dia dulu adalah manusia biasa, lalu mati dan bangkit lagi, meski hanya sebagai tengkorak.


Kedaannya yang sekarang hanya membuatnya berduga-duga bahwa mungkin dia dulunya mati dengan cara dipenggal. Mungkin dulu dia adalah seorang jahat yang pantas dipenggal. Atau, ada seorang jahat yang memenggalnya.


Tapi itu renungan yang terlalu kelam untuk Skul yang senang bergaul dan selalu ceria.


Sekarang, dia adalah seorang kepala tengkorak ajaib yang bisa melayang.


Skul hanya bisa melayang pada ketinggian tertentu. Dia bisa melayang sedikit lebih tinggi, namun hanya seperti melompat jika dilihat dari sudut pandang manusia. Seolah ada tubuh yang menopang tengkorak melayang itu. Tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Bod.


<<<


Bod adalah kerangka tulang yang lengkap, tapi dia tidak punya kepala. Dia pun yakin bahwa Skul bukan kepalanya. Karena saat dia terbangun, dia terbangun sendirian. Tidak ada Skul di dekatnya, tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


Dia terbangun di dasar sumur yang gelap. Lalu dia mulai merangkak naik. Karena tubuhnya hanya tulang belulang, keluar dari sumur itu bukan tugas yang sulit. Akhirnya dia tiba di permukaan dan mulai berkeliling.


"Waaa!" Aben yang sedang menyapu dedaunan kering berteriak ketakutan. Kebetulan sumur itu terletak dalam sebuah kompleks situs bersejarah. Aben adalah salah satu karyawan yang kebetulan bertugas hari itu.


Aben berlari masuk ke gedung terdekat. Sementara Bod tidak terlalu ambil pusing dengan teriakan Aben. Meski tidak punya kepala, anehnya dia bisa mendengar, juga melihat. Dia hanya tidak bisa berbicara.


Akhirnya Bod menemukan sebatang rokok yang masih menyala. Sepertinya punya Aben yang tadi terlalu panik berlari. Dia mulai berjongkok dan seperti naluri, tangan Bod membawa rokok itu ke arah mulutnya seharusnya berada. Namun tanpa kepala tentu saja tak terjadi apa-apa.


Bod terus melakukan itu sampai akhirnya rokok itu padam karena kehabisan tembakau dan kertas untuk dibakar.


Dari persembunyiannya, Aben menyaksikan semua itu. Aben kemudian memberanikan diri keluar dan mendekati Bod.


Dan itulah awal persahabatan Aben dan Bod si kerangka tanpa kepala yang pendiam namun sesekali merokok.


>>>


"Oh, begitu." Skul akhirnya paham dengan apa yang dijelaskn Bod.


Bod kembali menggerak-gerakkan tangannya. Berbahasa Isyarat.


"Imas betulan sarjana fisika? Gak nyangka, ya?"


Bod menaikkan jempol, 'setuju'.


"Jadi ini ide siapa? Kamu, Bod?"

__ADS_1


"Bukan, ini ide Aben." bahasa isyarat.


"Kenapa Aben kepikiran?" Skul bertanya penasaran.


"Biar seru aja, katanya."


"Emang si Aben banget sih, itu."


Jempol.


"Emangnya kamu udah pernah mikirin kalau nemuin kepalamu, kamu mau ngapain?"


"Belum. Bingung."


"Sama. Takut juga."


"Takut?"


"Iya. Hidup udah enak."


"Betul juga. Sepertinya menjadi manusia seutuhnya sangat merepotkan."


Skul mengangguk.


.

__ADS_1


__ADS_2