Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
8. Ingin Tampil Beda


__ADS_3

Selama kurang lebih 18 tahun kehidupannya, Martini tak pernah sekalipun pusing dengan fashion.


OOTD (Outfit Of The Day)- nya adalah apa yang dia temukan di lemarinya, dan seragam sekolah atau seragam latihannya.


Dia tidak pernah merasa pusing untuk persoalan warna, aksesoris atau semacamnya.


Intinya, Martini tak pernah peduli dengan penampilan, meski tentu dia selalu berusaha menjaga kebersihan dirinya dan pakaiannya dengan baik.


Namun, perbincangannya dengan Dita barusan, mengubah semua itu.


<<<


Beberapa jam yang lalu, di kafe X...


Martini tiba agak terlambat, Dita sudah dilihatnya sedang duduk di salah satu kursi kafe.


"Sini, Mar!". Dita memberi tanda dari kejauhan.


Martini mengacungkan jempol. Dia mengenakan baju sweater seragamnya, juga celana training.


"Sorry Dit. Briefing setelah latihannya agak lama soalnya ada pelatih baru yang dikenalin." Kata Martini setelah duduk. Di hadapan Dita telah ada segelas minuman dan sepiring makanan.


Waiter tiba di meja mereka menyerahkan menu.


"Oh iya, Mar. Gak papa, koq."


Waiter tiba di meja mereka menyerahkan menu "Pesan apa, Mar?"


"Es Teh aja. Sama roti croissant polos satu." Jawab Martini. Dita mengembalikan lembaran menu pada Waiter.

__ADS_1


Waiter pergi membuatkan pesanan.


"Kamu pasti kaget kalau tahu siapa pelatih baru kami." Martini berujar.


"Siapa, emang?" Dita bertanya.


"Pak Hafzi!"


Hampir Saja Dita memuncratkan Vanilla Latte yang ada di mulutnya. "Serius, Mar?!"


"Hehe. Iya! Gak nyangka ya. Guru sejarah kita itu."


"Ternyata banyak sejarahnya!"


Mereka berdua tertawa. Pesanan Martini datang.


"Jadi, gimana Dit. Aku bisa ketemu dengan Skul dan Bod, tidak?"


"Ada syaratnya? Apa?" Martini bertanya penasaran.


"Kamu harus mau jadi bintang tamu di konten yutub mereka selanjutnya."


Martini menyemburkan Es tehnya.


>>>


Kembali ke masa kini, kamar Martini...


Karena itulah, sekarang Martini pusing harus memilih apa untuk dia pakai saat bertemu Skul dan Bod nanti, dan muncul di kamera.

__ADS_1


Seumur-umur, Martini tidak pernah tertarik untuk muncul di depan layar. Setiap kali dia menang di suatu perlombaan, dia selalu menghindar untuk di wawancara, bahkan untuk tabloid sekolah sekalipun.


Bukan karena takut, dia mengingatkan dirinya sekali lagi, hanya malas saja.


Martini kembali menyisirkan matanya pada baju yang berjejer di kasurnya. "Gawat!" Dalam hatinya Martini berkata.


Martini mengambil hapenya, lalu dengan mimik muka terpaksa mulai mencari sebuah kontak di hapenya. 'Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan' batin Martini dengan berat hati


\=\=\=


Marten Faiq Alfarisqi. Namanya memang rumit seperti juga riwayat pohon keluarganya yang bercabang kemana-mana. Ada yang berkata dia keturunan arab bercampur italia, namun Marten tidak terlalu peduli.


Sebenarnya, dia lebih senang dipanggil Alfa, sebagaimana yang selalu dia tekankan berkali-kali pada teman kelas dan semua orang yang dia kenal. Nama itu menurutnya lebih cool dan lebih macho.


Namun nama Marten terlanjur melekat bahkan hingga kini saat dia sudah kelas 3 SMA. Alasannya tak lain tak bukan, adalah satu orang teman tertentu, seangkatannya dulu waktu SMP. 'Kami bahkan tidak sekelas!' Batin Marten jengkel setiap kali mengingatnya.


Semua dekorasi kamarnya adalah pilihannya sendiri. Mulai dari warna cat, furniter, tata letak bahkan aksesoris. Terlihat lampu led malang melintang dalam pola acak yang hanya Marten yang paham apa maksdunya. Juga poster-poster dari para desainer terkenal.


Marten punya dua lemari di kamarnya. Satu lemari gaya minimalis yang menyimpan semua keperluannya yang lain, lalu satu lemari pakaian. Isi lemari itu bahkan bisa membuat seorang gadis yang paling modis sekalipun minder.


Marten punya koleksi pakaian untuk semua musim dan semua warna. Tak terlupakan segala macam aksesorisnya. Mulai dari jam tangan, gelang, cincin, kalung dan segala macam pernak-pernik yang tak lagi jelas bentuknya.


Dia juga punya segala macam anting, namun semuanya magnetik. Ibunya menoleransi semua kegilaan anak bungsunya, kecuali tindik dan tato. Untunglah, Marten anak yang penurut.


Sebuah ponsel dengan case bertuliskan A besar dibelakangnya berdering. Di layar telepon, muncul sebuah nama yang dia benci. Nama yang membuatnya sejak SMP dipanggil Marten.


Panggilan Masuk dari;


'Martini Faeq Fariska'

__ADS_1


Angkat? - Reject?


.


__ADS_2