Cerita Bercyanda

Cerita Bercyanda
7. Isi Surat


__ADS_3

Sepertinya, tangan itu memang milik Skul. Dia bisa menggerakkan tangan itu dengan cukup leluasa sekarang. Meski hanya sebuah tangan, tapi Skul sangat puas.


Kepala memang bagian utama dari sebuah kehidupan, namun hanya memiliki kepala juga terbukti tidak terlalu membahagiakan.


Gigi dan rahangnya menjadi satu-satunya alat yang bisa dia pakai untuk 'menggenggam' Sesuatu. Dan itupun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Baik jumlah atau ukurannya.


Dia masih ingat betapa merepotkan dan memalukannya waktu dia membantu Bod membersihkan peta dengan sebatang kuas yang hanya bisa dia gigit.


Sekarang dengan seperangkat tangan itu (yang ternyata adalah tangan kiri, setelah disusun dengan benar), dia bisa melakukan lebih banyak hal lagi.


Salah satunya, dia bisa menggenggam surat itu, yang kemarin lalu ditemui bersamaan dalam peti. Sudah berulangkali dia membacanya;


"Dear, Tuan."


Surat itu dibuka seperti itu, yang menandakan setidaknya dugaan awalnya bahwa dirinya adalah laki-laki, sudah benar. (Pernahkah kalian sadari bahwa kerangka perempuan dan laki-laki, saat dilihat sekilas ternyata tak berbeda?)


"Anda, yang mungkin sudah lupa segalanya."


Seandainya punya bola mata, Skul pasti sudah melotot lalu muncul urat di pelipisnya, yang mana juga tidak mungkin. Dia hanya sebuah tengkorak. Jengkel. Karena tebakan si penulis sungguh benar.


Lalu si penulis masuk ke bagian salam pembuka dari surat;

__ADS_1


"Entah apa alasan saya menulis surat ini, namun jika anda membacanya, berarti ada gunanya juga kan saya menulis ini? Hehe."


Ya, si penulis sungguh menulis hehe di situ. Padahal bagi Skul, tidak ada yang lucu.


"Saya bukan orang yang membunuhmu, tapi tidak tepat juga jika saya disebut sebagai penyelamatmu. Saya hanya bisa disebut sebagai orang yang mengamankan jasadmu. Karena tepat hanya itu yang bisa saya lakukan.


Saya menyaksikan saat-saat kepala anda terlepas dari tubuhnya. Lalu tubuh anda dimutilasi dan disebar ke beberapa tempat."


Berarti dugaan Skul benar, dia memang dibunuh. Tapi dengan cara apa? Cara penulis surat menggambarkan kematiannya sangat tidak jelas. 'Terlepas dari tubuhnya'? Karena apa? Bagaimana? Surat bukannya memberi jawaban, malah menimbulkan lebih banyak tanya.


Namun untunglah, itu bukan akhir suratnya.


Kenapa pintu? Bukan peti? Apakah itu hanya kiasan? Ataukah pintu betulan? Dengan telapak tangan kirinya, Skul mengacak-acak rambutnya yang tidak ada. Jadinya dia hanya terlihat sedang mengelus-elus kepalanya dengan kasar.


"Saya doakan pencarian anda selanjutnya berjalan lancar"


Amin!


"Saya tidak tahu kapan Anda menemukan surat ini. Mungkin sebulan? Setahun? Sepuluh tahun setelah hari ini? Mungkin saat anda menemukan surat ini, saya sudah tidak bisa lagi mengabdi pada anda. Mungkin saya sudah mendahului anda meninggalkan dunia ini, dan tidak kembali"


Mengabdi? Apakah artinya dulu dia adalah seorang raja atau semacamnya? Skul ingin tertawa membayangkan itu. Dia menikmati hidupnya kini yang bersahaja dan sederhana, sangat tak terbayangkan bahwa dulu dia seseorang yang penting, apalagi dipuja-puja banyak orang.

__ADS_1


'Tunggu dulu, apakah itu berarti dulu aku raja yang kejam dan jahat? Mungkin aku dipenggal karena dihakimi oleh massa!' Skul agak ngeri juga dengan pemikirannya barusan.


Dia memutuskan melanjutkan membaca surat itu, meski kalau boleh jujur, dia hampir menghafal seluruh isi surat itu di luar kepala. Jadi dia sudah berusaha menguatkan diri. Mengumpulkan tekad dan keberanian, untuk baris terakhir;


"Tapi mereka tidak pernah mati."


Siapa mereka? Apa yang mereka ingah lakukan terhadap dirinya? Kenapa si penulis seolah memperingati dirinya tentang adanya sebuah bahaya dari si 'mereka' ini?


'Apakah mereka yang melepaskan kepalaku dari tubuhnya?' Skul kembali bertanya-tanya.


Namun seperti biasa, Abang Skul kita tidak suka terlalu ambil pusing dengan hal berat beginian. Akhirnya dia melipat surat itu dengan satu tangan.


Skul latihan cukup lama untuk bisa melakukan ini dengan lancar, dan setiap kali selesai, dia akan menatap sejenak hasil lipatannya itu dengan puas. Bentuk lipatannya membentuk sebelah sayap merpati.


Lali dia kembali menyelipkan surat itu di tali pita yang melingkari topi fedoranya.


Darimana topi fedora yang kini selalu ada di kepala Skul, kemanapun dia pergi?


Sabar.. Akan kita bahas di episode selanjutnya.


.

__ADS_1


__ADS_2