
Setelah dari warteg Raina melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah.
Sampai depan rumah Raina merasa ada tamu karna terdapat satu buah motor terparkir di halaman rumahnya.
Langkah Raina terhenti tatkala Indra pendengarannya mendengar suara yang dia rindukan selama ini. Tapi semua pikiran itu ia tepis karna takut akan kecewa pada kenyataan.
"Assalamualaikum.. Bu Raina pulang", ucap Rania.
"Wa'alaikumsalam..", jawab Rasya.
"Rasya? Inikah kamu?", Tanya Raina.
Rasya tersenyum dan mengangguk lalu merentangkan tangannya Raina pun mengerti tentang kode itu, segera Raina peluk tubuh Rasya melepas semua rasa rindu. Rasya menangkupkan tangannya di pipi Raina yang sudah mulai tirus .
"Raina.. Aku merindukan mu", ucap Rasya. sambil menciumi pipi Raina, Raina hanya pasrah karna memang Raina pun sudah merindukannya, hanya saja Raina tidak bisa mengungkapkannya karna terlalu bahagia.
"Kok pipi nya tambah kempes sih, kurang makan ya hmm?", Tanya Rasya.
"Bukan kurang makan! Tapi kurang kasih sayang Rasya!", Jawab Raina.
"Hahaha... Iya deh iya maaf yah sayangggg",rayu Rasya.
"Gak mau! Tepatin dulu janji kamu", ucap Raina.
"Aku datang kesini pun ingin menepati janjiku terhadap kamu Raina.. tapi sebelum itu maukah kamu ikut denganku kerumah? Aku ingin mengenalkan kamu dengan Ayah dan Bunda", ucap Rasya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Raina.
Raina menganggukan kepalanya tanda setuju .
Janji mereka berdua adalah janji dimana nanti jika mereka sudah sama sama dewasa mereka akan menikah, memang konyol perjanjian di masa kecil tentang pernikahan tapi itu adanya.
"Rasya sebentar ya, aku mau suapi ibu dulu.. oh iya sampe lupa ngasih minum hehe", ucap Raina.
"Tidak usah repot-repot Raina.. Oh iya aku juga ingin bertemu ibu apa kabar dia sekarang ya", jawab Rasya.
"Yasudah yuk masuk aku antar ke kamar ibu", ajak Raina sambil menarik tangan Rasya.
Mata Rasya terus saja berkeliling melihat-lihat kondisi kamar ini, pandangan Rasya lagi lagi terpaku dengan kondisi ibu Raina yang sedang tidur tetapi ada yang janggal.
"Raina apa ibu tidak ada perubahan sejak aku pergi untuk melanjutkan pendidikan?", Tanya Rasya.
"Huft.. Semakin memburuk Ras", jawab Raina lesu.
"Kenapa ibu tidak bangun ya, padahal kita. berdua sedang mengobrol, apa terlalu nyenyak ya tidur ibu?", Tanya Rasya lagi sambil terus memandang wajah pucat ibu Raina.
"Dari pagi ibu tidak bangun, aku juga bingung harus bagaimana bangunin ibu, ibu tidurnya nyenyak banget, aku goyang goyang pun ibu tetep tidur", keluh Raina .
"Na aku periksa ibu ya?", Izin Rasya.
"Iyah silahkan",jawab Raina.
Rasya memegang denyut nadi ibu setelah itu berpindah ke leher dan sejurus kemudian..
__ADS_1
"Innalilahi Ibu udah meninggal Na", pekik Rasya
"Yang bener?!", Ucap Raina kaget.
"Yang sabar ya Raina", ucap Rasya.
Begitu mendengar kabar ibu sudah tiada, tubuh Raina merosot dan ambruk menangis sejadi-jadinya meraung-raung memanggil nama ibunya yg sudah tiada.
Tubuh Raina di papah oleh beberapa warga yang datang karna mendengar teriakan dari rumah Raina.
Seketika rumah Raina ramai warga untuk melayat, kakak kakak Raina pun datang .
Setelah semua proses selesai untuk memandikan, mengkafani dan di solatkan, dan sekarang proses pemakaman ibu Raina .
Rasya menggenggam tangan Raina dan memeluk tubuh Raina yang hampir tumbang karna melihat jasad sang ibu telah masuk ke dalam liang lahat.
"Bu.. Raina sayang ibu..", lirih Raina yang memeluk batu nisan sang ibu.
"Tapi Allah lebih sayang sama ibu.. Sekarang ibu ga ngrasain sakit lagi Bu..", lirihnya lagi.
Sambil mengusap air mata yang meluncur bebas di pipi Raina.
"Raina disini selalu doain ibu ", ucap Raina sesenggukan.
Raina sama sekali tidak bergeming dari pusaran makam sang ibu tercinta, terlalu berat baginya meninggalkan makam ibu.
kakak Raina mendekat dan memegang bahu Raina.
"Ibu udah tenang neng, neng yang ikhlas",ucap kakak Raina lagi.
"Neng ga sendiri, disini ada kak Hamdan dan kak Dina yang selalu ada sama Neng",ucap kak Dina.
Raina langsung menatap mata sang kakak laki-lakinya, tatapan yang tajam dan kebencian.
"Apa kakak bilang? aku ga sendiri?!",bentak Raina.
"Dari dulu setelah kakak menikah dengan wanita pilihan kakak, kakak lupa dengan ibu! kakak lupa dengan aku! kakak lupa di mana letak surga yang sebenarnya!" , marah Raina.
"Apa kakak pernah berfikir bagaimana rindunya Ibu sama kakak anak laki-laki satu-satunya ibu! Hah!",Bentak Raina.
"Pernah berfikir susahnya aku ngurus ibu sendirian!",bentaknya lagi.
"Saya sendiri kak! SENDIRI!!" "Sekian purnama tidak menampakkan batang hidungnya lalu seenak jidat ngomong aku gak sendiri?!". "Dimana hati nuranimu kak DIMANA!!?",Emosi Raina.
"Aku seperti orng bodoh yang selalu bilang ke ibu kalo kakak setiap malam datang nengokin ibu disaat ibu tidur!!", ucap Raina sambil menangis.
kak Hamdan dan kak Dina hanya bisa menunduk. Ya hanya Kaka Kaka nya saja yang datang di pemakan ibu Raina sedangkan Kaka iparnya tidak datang entahlah Raina pun tidak ingin tau alasannya.
"Hahaha iya ya aku memang bodoh, tidak seperti kakak kakakku ini yang bisa kuliah!"
"Bahkan sampai pintarnya kakak kakakku ini sampai lupa jalan pulang!!"
__ADS_1
"LUPA PUNYA IBU!!"
"LUPA PUNYA ADIK YANG BODOH!!" , bentak Raina.
"Raina tolong maafin kakak, kakak bener sibuk
maafin kakak Raina" ucap kak Dina sambil menangis.
Ketika kak Dina ingin menyentuh pundak Raina, segera ia tepis dan Raina bangun dari duduknya.
PPPLLAAKKKK!!!
"Jangan sentuh aku!" ucap Raina.
"Aku tidak sudih di sentuh oleh anak, yang lupa akan orangtuanya!!" tegas Raina.
Sengaja Rasya hanya diam saja karna dia tau Raina sedang emosi biarkan saja dia meluapkan emosinya terhadap kakaknya.
Begitu Raina mengucap tidak Sudi dengan tegas, Dia pun pergi berlari sekencang kencangnya membiarkan rasa sedih bercampur dengan rasa lelahnya.
Kekecewaan Raina terhadap kakaknya benar benar sudah di ubun-ubun, Dia berlari sampai di tepi danau yang begitu sunyi menangis sejadi jadinya, rasanya sakit di abaikan oleh keluarga sendiri .
"Bu.. Raina sendiri sekarang..", lirih Raina sambil terisak .
Tiba-tiba pundaknya ada sentuhan dan itu begitu hangat lalu ia menoleh dan disitulah Rasya berdiri.
Dengan sekejap Raina memeluk Rasya dengan erat menumpahkan rasa sesak di hatinya rasa sakit yang mendalam, bukan karna kakak nya yang lupa akan Raina melainkan lupa akan Ibunya.
"Raina.. Maukah menikah denganku?", ucap Rasya.
Raina langsung melepaskan paksa pelukan itu dan berkata
"Rasya aku masih keadaan berduka jangan gila kamu! Kita menikah, sedangkan kuburan ibu masih basah!", bantah Raina.
"Na dengar penjelasan ku dulu, aku menikahimu agar kamu tidak sendiri lagi dan aku menepati janjiku Na",ucap Rasya memohon sambil menggenggam tangan Raina.
"Tidak Rasya, jangan biarkan kamu terlihat bodoh di mata kakak kakakku, cukup aku saja yang bodoh", lirih Raina.
.
.
.maaf banyak typo🙏
.selamat membaca kakak 🥰
*mohon nasehat dan bimbingan kak 🥰
*like ya jangan lupa🥰
*Trimakasih ☺️☺️☺️
__ADS_1