
Pipi Raina bersemu merah mendapat perlakuan Rasya, bagaimana pun Raina baru merasakan di cium oleh pria selain ayahnya dan itu terjadi sudah sejak dulu ketika Raina masih kecil.
Raina tersedar dan langsung pamit .
"Terimakasih , aku pergi yah Ras" , ucap Raina dengan senyum manisnya.
"Hati-hati sayang", ucap Rasya lembut.
Lagi dan lagi Raina di buat menjadi kepiting rebus oleh tingkah Rasya yang bikin meleleh.
Segera Raina langkahkan kakinya menuju tempat parkir dan keluar dari area Rumah Sakit.
Raina berdiri di tepi jalan untuk menunggu angkutan umum. Sekitar lima menit Raina menunggu dan akhirnya ada angkutan umum yang masih kosong dan langsung di berhentikan. Raina duduk tepat samping supir angkot.
Sesampainya di kontrakan Raina bergegas masuk dan membersihkan diri, Raina merebahkan tubuhnya di atas kasur yang lumayan nyaman, memutar kembali memori tentang tingkah Rasya tadi yang membuat bibir Raina terus tersenyum.
Sedang asik dengan lamunannya terdengar notifikasi WhatsApp dari handphone Raina.
Tiinngg!
Segera Raina buka pesan itu, dan betapa terkejutnya Raina melihat Ibu Murni sang empunya kontrakan menagih uang kontrakan.
Padahal Raina baru saja beberapa hari menghuni kontrakan ini dan sudah membayar selama dua bulan kedepan kenapa tiba-tiba di tagih lagi.
Langsung Raina telfon Ibu Murni. Tidak lama langsung di angkat oleh Ibu Murni.
Raina : " Hallo assalamualaikum " .
Ibu Murni : " Wa'alaikumsalam nak Raina" .
Raina : " Bu maaf sebelumnya, bukankah saya sudah membayar uang kontrakan selama dua bulan ya? " .
Ibu Murni : " Raina maafkan ibu, sebetulnya ibu tidak ingin menagihmu , tapi ibu ada kebutuhan mendesak, ibu malu meminjamnya nak" .
Raina : " Maafkan Raina ya Bu sudah berburuk sangka, mmm... kalo boleh aku tau, ibu butuh untuk apa ya?" .
Ibu Murni : " Ibu butuh untuk berobat suami ibu nak".
__ADS_1
Raina : " Raina ke rumah ibu ya, assalamualaikum".
Tanpa menunggu jawaban dari Ibu Murni Raina langsung mematikan telfonnya dan keluar rumah tidak lupa menutup pintu dan menguncinya, lalu bergegas menuju rumah Ibu Murni yang terletak tidak jauh dari rumah yg di huni Raina.
Raina mengetuk rumah ibu Murni.
Tookkkk ...Tookkkk...
"Assalamualaikum Bu.. Ini Raina" , ucap Raina.
CKLEK..
"Wa'alaikumsalam ... Ayo nak masuk dulu, ceritanya di dalam saja", ajak ibu Murni.
Raina pun masuk ke dalam rumah yang sedikit lebih luas ketimbang rumah kontrakan yang ditempatinya. Raina mendudukan bokongnya di kursi kayu yang di lapisi busa .
"Nak maaf sekali ibu mengganggumu malam-malam mengirim pesan menagih uang kontrakan", lirih ibu Murni.
"Iya tidak apa Bu, selagi saya bisa insha Allah saya bantu Bu " , ucap Raina.
"Ibu perlu uang untuk suami ibu berobat nak dan biayanya tiga juta" , ucap ibu Murni sambil menunduk .
"Jadi enggak enak ibu nak , terimakasih sudah membantu ibu ya, tidak apa nak segitu pun sudah Alhamdulillah ada yang bantu" , ucap Ibu Murni.
"Tapi nak apa kamu sudah ada kerjaan?" , tanya Ibu Murni.
"Belum bu " , jawab Raina.
"Lalu bagaimana nanti untuk makan nak? Sebaiknya simpan saja uangmu untuk keprluan mu ya, ibu bisa pinjam ke tempat lain" , ucap ibu Murni.
"Jangan tolak ya Bu , anggap saja ini cara berterima kasih saya yang sudah ibu tolong waktu saya sendiri di jalanan bu, aku ikhlas Bu menolong ibu " , ucap Raina.
"Sebentar ibu tunggu di sini ya, saya ambil uang dulu di rumah ya Bu " , pamit Raina .
Tanpa menghiraukan jawaban Ibu Murni Raina langsung melesat keluar dan berlari menuju rumah nya. Raina memang anak yang selalu tidak tega melihat penderitaan orang tanpa memikirkan keadaanya yang sekarang, penting menolong pikirnya tidak perduli dengan nasib badan kedepannya.
Sesampainya di rumah Raina langsung membuka almari plastik susun tiga dan di buka nya susun pertama, di situlah dia menyimpan uang, mengambil lima belas lembar uang pecahan berwarna merah dengan gambar presiden pertama kita yang tersenyum. Lalu menaruhnya di saku celana, dan bergegas pergi ke rumah Ibu Murni tidak lupa menutup pintunya dan berlari lagi menuju rumah Ibu Murni.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Ibu Murni Raina langsung masuk dan melongok ke sembarang arah tidak menemukan sosok ibu Murni.
"Bu... Ibu dimana?? " ,teriak Raina
"Iya nak ibu di belakang " , sahut ibu Murni.
Raina langsung mendekat ke arah Bu Murni dan menyerahkan uang tadi.
"Ini Bu , semoga bapak lekas sembuh ya" , ucap Raina.
"Iya nak terimakasih, ibu mau langsung berangkat berobat ya nak mumpung masih sore , nanti di sana ibu nginep dulu di rumah adik ibu lalu pagi nya langsung berobat nak di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon" , jelas ibu Murni.
"Maaf Bu memangnya bapak sakit apa ya?" , tanya Raina.
"Jantung nak, sedangkan ibu sama bapak itu tidak punya BPJS , jadi mengandalkan uang kontrakan yg ibu kelola ini nak" , jelas ibu Murni.
"Oh begitu ya Bu , yasudah saya pamit ya Bu " , pamit Raina.
"Terimakasih ya nak" , ucap ibu Murni.
"Sesama makhluk Allah harus saling membantu Bu , yasudah ... Assalamualaikum", pamit Raina.
"Wa'alaikumsalam", jawab ibu Murni.
Begitu Raina pulang ia juga berpapasan dengan mobil Avanza hitam milik warga setempat yang masuk ke pekarangan rumah Bu Murni, oh ternyata mobil itu mengantarkan ibu Murni dan suaminya untuk berobat. Pantas saja meminjam uang dengan jumlah besar berobat nya saja rental mobil dulu belum lagi biaya supir dan juga biaya berobat yang ternyata sakitnya jantung, pasti butuh biaya banyak .
Sesampainya di rumah, perut Raina berkoplo ria ingin minta di isi dengan segerombolan nasi dan beserta lauk . Di lihatnya rak tempat menyimpan mie dan telor dan ternyata hanya tersisa mie rebus berwarna oranye satu bungkus, akhirnya Raina putuskan untuk memakan mie lagi dengan kuah yang lumayan banyak dan di tambahkan bumbu penyedap rasa berwarna merah bergambar ayam.
Nasi+mie extra kuah jadi menu sore ini, tetapi Raina selalu bersyukur walau makannya beresiko diabetes tapi dia selalu berdoa untuk sehat .
Semoga Raina tidak sakit ya permisah.. 🙏
#maaf kakak masih banyak kekurangan🙏
#dukung terus ya🥰
#jangan lupa like 😘
__ADS_1
#selamat membaca🥰