Cerita Horror

Cerita Horror
Kualat Gunung Pulosari Part 1 - #1


__ADS_3

Beberapa Hari Sebelumnya


Jujur saja aku bukan seorang pendaki andal. Bahkan, aku tidak punya pengalaman mendaki gunung. Di kampus pun aku tidak tertarik pada organisasi mahasiswa. Setiap hari yang aku lakukan hanya kuliah dan pulang.


Orang bilang aku mahasiswa kupu-kupu. Ya... paling sesekali aku pergi ke perpustakaan. Bukan untuk mencari buku, melainkan untuk cuci mata saja. Soalnya di perpustakaan, aku sering bertemu cewek cantik. Terkadang aku suka pura-pura duduk di samping mereka tanpa berani menyapa.


Kehidupanku di kampus memang terkesan monoton. Tapi, aku suka dengan kehidupan seperti itu. Tapi semuanya berubah saat Mira mengajakku mendaki Gunung Pulosari. Aku tidak akan pernah melupakan pendakian itu.


Di akhir semester lima, aku ditelepon Mira, sahabatku. Waktu itu kebetulan aku sedang berkemas untuk mudik. Maklum, aku ini seorang perantau yang kuliah di Pandeglang. Jadi setiap libur semester aku pasti pulang kampung.


“Halo Ri! Ori?”


“Iya, Mira. Ada apa?” aku menjawab telepon Mira sambil membereskan baju. HP kujepitkan di antara bahu dan telinga.


“Woi! Lu belum pulang, kan?”


“Ini baru mau,” kataku singkat. Kuletakkan HP di atas tumpukan baju lalu menyalakan spikernya.


“Jangan pulang dulu, Ri. Gua punya rencana keren, nih.”

__ADS_1


“Rencana apaan, Mir? Makan jagung di pinggir pantai lagi?”


“Ahahaha... bukan, kok. Itu garing banget sumpah. Ini pokoknya keren deh. Gua jamin enggak akan garing lagi.”


“Iya apaan?”


“Naik gunung, Ri. Lu belum pernah naik gunung, kan?”


“Enggak pernah, Mir. Dan, kayaknya gua enggak ikut deh. Fisik gua enggak akan kuat. Lu tahu sendiri fisik gua. Angkat galon aja enggak sanggup.”


“Yah, Ri. Plis ikut dong! Lu tahu kan, om gua cuma percaya sama lu. Gua enggak akan diizinin naik gunung kalau enggak sama lu, Ri.” Mira merengek.


“Ya udah nanti gua anter izin aja ke mm lu, ya.”


“Eh, Ri, lu mau kalau gua kenapa-napa terus elu yang dituntut sama om gua? Mendingan ikut aja! Kan bisa jagain gua juga.”


“Pacar lu juga ikut kan, Mir?” tanyaku dengan nada malas.


“Iya dia ikut juga, ah tapi nggak akan seru kalau lu nggak ikut.”

__ADS_1


Aku terdiam sejenak.


“Siapa yang bakal jadi pemandunya? Kita kan amatir, Mir. Harus ada minimal satu orang yang mahir naik gunung. Enggak boleh sembarangan. Bahaya!”


“Riki, Ri. Kita ke sana bareng sama si Riki, anak kelas B. Dia mahir banget soal pendakian.”


Riki memang anak pencinta alam. Dia sudah mendaki berbagai gunung di pulau Jawa. Aku sangat percaya kalau Riki yang jadi pemandunya.


“Naik gunung apa, Mir?”


“Jangan jauh-jauh. Pulosari aja,” kata Mira.


Gunung Pulosari memang lokasinya dekat dengan kampusku. Bahkan, dapat dilihat dari jendela kelas. Banyak orang juga dari luar kota yang mendaki gunung itu. Selain ketinggiannya hanya 1346 MDPL, Gunung Pulosari juga terkenal dengan air terjunnya yang indah. Air terjun itu bernama curug Putri.


“Ya udah deh gua ikut," kataku.


Seharusnya saat itu aku tidak mengiyakan ajakan Mira. Atau seharusnya aku melarang Mira untuk naik gunung. Tapi, sore itu aku malah mendatangi tempat tinggal mira di rumah om-nya. Sebab, Mira juga seorang perantauan.


Sore itu, aku, Mira, Riki, dan Eldi berkumpul di teras rumah. Kami merencanakan pendakian untuk besok. Sudah banyak hal-hal indah yang kami bayangkan saat sampai di puncak nanti. Sayangnya, rencana itu ternyata menjadi awal malapetaka bagi kami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2