
Ajeng masih lari sekuat tenaga untuk menjauh dari genderuwo itu. Kini suara raungan itu seperti ada di atas kepala Ajeng. Wanita itu berteriak minta tolong, dia berharap ada seseorang yang muncul dan menyelamatkannya. Ketika Ajeng melewati akar pohon besar, kakinya tersandaung, dia pun jatuh dan bagian kepalanya membentur akar pohon dengan sangat keras.
Masih dalam keadaan sadar, Ajeng terkapar tak berdaya di bawah pohon itu. Darah mengalir keluar dari kepalanya dan saat Ajeng berkedip, genderuwo itu sudah ada di hadapannya. Makhluk itu tidak lagi menyerupai Bobi, tubuhnya besar dan berbulu, kukunya panjang berwarna hitam pekat, taringnya menjulur hingga ke perut dan kedua matanya merah menyala.
Genderuwo itu menjilati wajah Ajeng yang penuh darah. Ia ternyata suka dengan darah Ajeng. Ingin sekali Ajeng berteriak, tapi dia tidak sanggup. Suaranya seakan hilang begitu saja, Ajeng hanya bisa pasrah. Rasanya dia ingin mati saja sekarang juga.
Genderuwo itu berhenti menjilati darah, pandangannya lurus ke depan seperti ada seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.
Tak lama kemudian, genderuwo itu kabur dia menguik seperti anjing yang sedang ketakutan. Ajeng mendengar suara dedaunan kering yang diinjak. Ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Entah siapa. Ajeng tak dapat melihatnya.
Lain halnya yang terjadi dengan Bobi. Dia dibawa ke sebuah keraton yang megah. Di pintu keraton itu banyak sekali dayang-dayang cantik yang mengenakan selendang warna-warni. Para dayang itu juga beraroma harum sekali, Bobi tidak pernah mencium aroma seharum itu.
Bobi masih diseret paksa oleh seseorang yang tidak bisa dilihatnya. Kedua tangan Bobi menahan ikatan tali di lehernya agar dia tetap bisa bernapas. Tali yang mengikat lehernya itu dihentakkan secara mendadak membuat tubuh Bobi terpental. Ia meringis kesakitan, di hadapannya ada perempuan yang pernah dilihatnya, perempuan itu mengenakan pakaian ratu kerajaan. Dia duduk di atas singgasana sambil tersenyum.
Ratu itu melemparkan topi koboi ke arah Bobi. Segera Bobi meraih topinya itu. Kemudian wanita itu menengadahkan tangan kanannya dan muncullah sebuah pedang dari tangannya itu. Ia lalu berjalan mendekati Bobi, dua orang pengawal memegangi tubuh Bobi. Saat itu juga Bobi tahu kalau dia akan dipenggal.
__ADS_1
“Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dari gunung ini,” kata sang ratu sambil mengayunkan pedang itu.
Sesaat sebelum pedang menebas leher Bobi, tiba-tiba ratu dan pengawal dan para pengawalnya terpental ke belakang. Seperti ada angin besar yang mendorong mereka.
Bobi…, lelaki itu ternyata punya kekuatan gaib yang sangat dahsyat. Dia sendiri bahkan tidak menyadarinya. Selama bertahun-tahun, Bobi tidak tahu kalau dia adalah keturunan orang yang sangat sakti. Di dalam keraton itu Bobi hanya berdiri dengan kedua matanya yang merah menyala, angin ****** beliung memporak-porandakan keraton.
Keraton itu hancur berkeping-keping, semua makhluk yang berwujud manusia telah berubah menjadi demit yang sangat menjijikan. Mereka semua terpental dan musnah begitu saja. Saat itulah Bobi melihat tubuh Mira melayang, tampaknya Mira tidak sadarkan diri.
Bobi menengadahkan kedua lengannya, tubuh Mira perlahan melayang mendekat ke arah Bobi. Mira pun jatuh ke pangkuannya. Tepat di hadapan Bobi ada pusaran awan hitam. Ia pun masuk, ke dalam pusaran itu sambil membopong Mira.
Bobi masih membopong Mira. Senapannya diselendangkan, ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari gunung itu. Dan tak lama berselang, Mira tiba-tiba siuman. Bobi pun menyenderkan keponakannya itu di bawah pohon besar.
Mira tampak sangat lemas, tatapannya kosong. Dia seperti orang yang kehilangan akal. Dan saat itu juga dahan-dahan pohon bergetar seperti ada yang mengguncangkannya. Bobi mendongak, dia melihat sosok makhluk yang sangat tinggi dan besar. Itu tak lain adalah suaminya Mira. Dia sangat marah karena istrinya dicuri.
Buru-buru Bobi membopong Mira lalu membawanya ke tempat yang aman. Setelah itu Bobi menghapiri makhluk besar itu. Makhluk itu meraung lalu mengayunkan tangan kirinya hendak menghantam Bobi. Bukannya membuat Bobi terpental, tangan kiri makhluk itu malah hancur berkeping-keping. Kekuatan gaib yang Bobi miliki sangat dahsyat, maklum dia keturunan kepala desa sakti yang pernah menaklukan ratu gunung Pulosari.
__ADS_1
Makhluk raksasa itu meraung seperti kesakitan. Lalu Bobi menghentakkan kaki kanannya dan seketika makhluk raksasa itu lenyap begitu saja. Bobi kembali menghampiri Mira. Perempuan itu sama sekali tidak bisa berbicara apa pun.
“Sini Om bantu,” Bobi membantu Mira untuk bangun. Ternyata Mira memang sudah bisa jalan walau masih harus dipapah.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sebenarnya, dia sempat memikirkan Anjeng. Entah bagaimana nasib wanita itu. Sangat tidak memungkinkan kalau Bobi harus mencari Ajeng, tujuan dia ke gunung ini hanya untuk mencari Mira.
Tengah malam, Bobi dan Mira tiba di sebuah jalan raya. Tidak ada perkampungan warga di sana. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan yang berjejer di pinggir jalan. Mereka berdua duduk di pinggir jalan itu berharap ada mobil yang melintas.
Tidak lama berselang, dari kejauhan terlihat sebuah mobil pikap yang tengah mengangkut sayuran. Segera Bobi berdiri lalu melambaikan tangannya. Mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Mereka pun numpang ke mobil pikap itu. Ternyata mobil yang ditumpangi Bobi berbeda tujuan, ia pun turun di depan hotel dan menginap di sana semalam. Di hotel itu ia sempat menghubungi istrinya dan ternyata istrinya baik-baik saja di rumah. Demit yang menyerupai dirinya sudah pergi.
Lain halnya yang terjadi dengan Ajeng. Wanita itu berhasil diselamatkan oleh Suha, dia seorang kiai muda yang tinggal di kaki gunung Pulosari. Sebelum dia mendaki gunung itu, Suha beberapa kali mendengar ada yang berteriak minta tolong di gunung.
Dia juga mendapat isyarat dari mimpi kalau masih ada wanita yang terjebak di gunung Pulosari. Suha bersama tiga orang santrinya mendaki gunung itu dan mencari sumber suara yang selalu ia dengar setiap malam.
Tak butuh waktu lama bagi Suha untuk menemukan Ajeng. Malam itu dia mendengar wanita yang berteriak minta tolong. Suha melihat Ajeng sedang dijilati oleh genderuwo. Kiai muda itu pun membaca ayat-ayat suci membuat demit lari ketakutan. Ajeng di bawa ke pesantren dan dirawat selama berhari-hari di sana.
__ADS_1
Setelah dua hari tinggal bersama keluarga Suha, Ajeng pun diantarkan pulang ke rumahnya. Begitulah kisah sederhana dari kualat gunung Pulosari. Setiap orang yang naik gunung haruslah menjaga sikap dan perkataan sebab kita tak hidup sendirian. Ada makhluk gaib yang tak kasat mata dan mereka ada di sekeliling kita.
-END-