Cerita Horror

Cerita Horror
Diary Steve - Mama Steve


__ADS_3

"Wah.. ini sudah malam lho doni...", sapa ibuku.


Wajar saja seorang ibu akan selalu menanyakan apapun yang dilakukan putranya. Wajar saja seorang ibu selalu merasa was-was bila anaknya belum pulang. Karena itu semua bukti perhatian dan cinta yang sangat dalam darimu ibu pada diriku anakmu..


"E..ee.. iya bu. Tadi doni mampir ke rumah steve, menemui mamanya seperti yang ibu sampaikan", jawabku sambil memasukkan motorku.


Didalam kamar, kupersiapkan semua bekal dan peralatan yang akan digunakan dihutan dan gunung itu. Tak lupa aku menghubungi teman-temanku serombongan kala itu.


Namun..


Sayang sekali tak satupun dari mereka yang mau ikut denganku mengantar mama steve. Ada yang beralasan banyak tugas kuliah atau ada acara keluarga.


Aku sadar, dan aku mengerti mengapa mereka tak mau. Dan aku yakin tak ada satupun alasan selain ketakutan mereka. Tapi aku juga yakin mereka memberikan alasan lain karena rasa sungkan padaku, dan mama steve waktu itu. Namun aku juga harus menghormati keputusan dari masing-masing alasan yang sudah mereka utarakan padaku.


Tak lupa juga aku meminta ijin pada ibuku, agar beliau selalu mendoakan aku dalam setiap langkahku  menuju suatu tempat dengan suatu kesedihan tersendiri pada diriku ini.


"Tumben kamu tidak semangat gitu don? Padahal biasanya setiap kamu mau naik gunung, kamu seperti prajurit yang mau berangkat perang..", kata ibuku sambil mengelap meja makan.


Bagaimana hati ini tidak sedih, disana aku juga tak mengerti akan terjadi apa. Bahkan akan bertemu dengan siapa saja aku tak mengetahuinya.


Perjalanan tersulit bagiku yang hanya pemuda penuh kebohongan. Kebohongan, akan kebohonganmu steve.


"Ya jelas doni ngga semangat bu.. ini acaranya bukan senang-senang, tapi mengantar mamanya steve dan pasti akan ada drama dan tangis..", jawabku dengan muka masamku.


Sebelumnya aku juga teringat dengan salah satu temanku di semeru kala itu. Yaa.. aku ingat oleh petricia.


Aku mencoba membuka buku catatanku. Siapa tahu aku menemukan alamat yang diberikan olehnya waktu berpisah diterminal waktu itu. Kupilah satu persatu halaman buku catatanku. Dan..

__ADS_1


Wahh.. ternyata bukan hanya petricia dengan alamat semarangnya saja yang aku dapat. Aku juga mendapatkan nomor telepon rumahnya. Selain itu aku juga menemukan alamat dari suko. Siapa tahu dia juga mau membantuku dalam perjalanan ini. Namun aku tak menemukan nomor teleponnya.


Ahh..


Biar nanti aku cari nomor telepon suko dari buku kuning itu.


Dengan hati yang dag dig dug.. Aku mencoba menelepon petricia disemarang sana.


"Hallo..", jawab dari seberang.


"Ha.. hallo.. ini dengan doni jakarta. Bisa bicara dengan petricia?', ucap dan tanyaku pada suara diseberang.


"Iya, saya sendiri. Saya petricia..", balasnya.


Woww.. seperti mandapatkan es cincau ditengah terik matahari waktu mendengar suara itu.


"Eh, gimana kabarnya petricia? Kamu ingat kan sama aku doni? Kira-kira kamu bisa bantu aku lagi ngga?', tanyaku.


Lama sebenarnya aku memikirkan apakah aku harus mengajak petricia. Karena aku tahu dia seorang perempuan. Dan aku takut terjadi apa-apa dengan psikisnya..


"Ehm, gini.. aku mau ke semeru lagi karena diminta mengantarkan mamanya steve. Apakah kau mau menemaniku?", tanyaku ragu.


"Boleh.. aku juga akan mengutarakan sesuatu nanti kalau kita bertemu. Kapan mau kesana?", balasnya.


Sangat lega begitu aku mendengar kesanggupannya. Aku punya kawan yang juga menyaksikan kebodohan sahabatku itu..


"Besok hari selasa kami berangkat, rabu pagi mungkin kami sudah ada dimalang..", jelasku padanya.

__ADS_1


"Ok.. sampai ketemu hari rabu di stasiun malang ya", katanya sambil menutup telepon.


Selang beberapa lama aku menuju pandanganku ke rak buku diatas meja teleponku. Kuambil buku tebal warna kuning itu. Kuambil salah satu huruf di laman kota, dan kurutkan pada huruf T pada laman kecamatannya, serta kuurutkan satu persatu dari atas ke bawah nama desa P. Yaa.. daerah dan desa suko temanku berada..


Lama..


Memang lama sekali aku memilah satu persatu hingga aku menemukan satu nomor telepon 0334 520*** itu..


"Ya.. itu nomornya. Semoga saja tidak salah..", batinku dengan semangat.


Kringg.. kriinnggg.. kriinggg..


"Hallo.. assalamualaikum..", sapa suara diseberang.


"Hallo.. bisa bicara dengan suko? Saya temannya, doni dari jakarta..", balasku.


"Ooo.. mas suko masih dimalang, masih kuliah. Biasanya akhir bulan baru pulang..", jawab wanita penerima telepon itu.


"Bisa minta nomor telepon indekos nya kalau boleh..", kataku lagi.


"Ohh\, sebentar. Ini ******\, bilang saja adikknya yang kasih nggih.."\, ucapnya yang ternyata adik dari suko.


"Terimakasih banyak atas nomor dan waktunya. Salam untuk ibu dan bapak..", balasku sambil menutup telepon.


Nomor suko dimalang sudah kupegang. Apakah aku harus menelponnya sekarang? Atau nanti saja ketika dimalang?


Ahh..

__ADS_1


Biarkan dulu. Nanti saja aku menelponnya ketika sudah di stasiun malang..


BERSAMBUNG


__ADS_2