
***"Hai\, boleh ikut naik bareng ngga?"\, ***
tiba-tiba tanya seorang gadis berjaket merah.
Perempuan.. Yaa.. perempuan lagi yang menghampiri kami. Apa yang akan perempuan ini lakukan? Kenapa dia sendiri disini? Mana temannya? Mana rombongannya?
"Boleh..",
Jawabku singkat.
***"Kenalkan\, namaku Petricia\, aku dari semarang"\, ***
ucapnya sembari melempar senyum kepada kami.
Dengan cepat bagaikan alap-alap jawa, si Doni menyambar dan menjabat tangan petricia.
***"Aku Doni\, ini temanku Steve dan yang empat itu para.. ah mereka ngga penting kau kenal.. hahhaahaha"\, ***
kata Doni seolah dia tak rela kalau dia dapat saingan dari kami.
Akupun sejenak melupakan masalahku dan ikut tertawa karena kelucuan temanku satu itu.
***"Ok\, kita naik yuk. Keburu gelap.."\, ***
kata teman bandungku.
Empat orang didepan disusul doni diposisi kelima, Petricia dan aku dibaris akhir. Tak ada rasa apapun waktu itu, hanya lambaian daun kering yang sesekali menyapu wajahku yang kututup dengan masker. Kurasa dan tercium bau seorang wanita didepanku, entah karena bau tubuhnya atau parfumnya yang membuatku merasa senang.
Wangi.. wangi sekali bila kita berjalan dibelakang perempuan. Perempuan penakluk gunung, perempuan dengan sejuta tenaga, dan hanya perempuan dengan tekad baja. Dibalik tubuh indahnya ada otot yang mengagumkan.
Wahai perempuan pendaki, kau diciptakan dengan sejuta kelebihan, kelebihan yang tak semua manusia memahaminya, hanya manusia yang beruntunglah dapat memilikimu dalam rengkuhan cinta. Kugores tinta pena ini untuk memujinya, memuji akan semua raga dan jiwanya..
Diaryku..
Engkau saksi bisuku,
Saksi akan kekagumanku,
Akan semua perempuanku,
"Kenapa lu diem aja dari tadi woi.. gak mau ngobrol apa sama bidadari didepan lu itu?",
canda Doni padaku.
Takut.. yang sangat ku takutkan adalah membuka pembicaraan dengan seorang perempuan, perempuan dengan wangi tubuh itu, perempuan dengan pundak kaku itu, perempuan dengan senyum manis itu.
***"Emm.. iya\, memangnya lagi mikirin siapa mas\,\, daritadi kaya kurang suka gitu sama aku"\, ***
kata Petricia.
"Ahh.. anu, aku lagi anu kok.. aduh kenapa sih, ya tuhan kok cuma anu-anu aja mulutku ini..",
jawabku sengaja agar membuat mereka tertawa.
"Jangan grogi bung, santai ajalah..",
tambah temanku paling depan menambah kencang tawa kami.
***"Ngga kok mbak\, gua asik-asik aja.."\, ***
jawabku lagi.
Aku sengaja membuat mereka tertawa, aku tak ingin kegelisahanku tersirat dan terasa ke teman-temanku. Biarlah diriku saja yang merasakan, merasa sebagai manusia pujangga duka lara.
Entah sampai mana dan dari mana perjalananku, bahkan titik-titik spot tak ku ingat, tak ku ingat dan tak ku abadikan dalam diary ini. Aku hanya jalan dan jalan agar diriku cepat sampai diperjalananku ini. Perjalanan seorang pujangga, perjalanan sang pemuja cinta, perjalanan puncak yang akan terasa.
Senja nampak didepan kami. Agak jauh, agak dekat. Kulihat kilauan kemerahan dari permukaan ranu. Pantulan surya ditelaga para dewa. Indah sekali waktu itu untuk rencana yang kurasa..
***"Cepetan bung jalannya. Kita keburu gelap kalo elu kaya siput gitu. Teman-teman sudah jauh didepan lho.."\, ***
__ADS_1
teriak Doni.
Andai kau merasakan beban dipundakku, aku yakin kau pun akan merayap bagaikan siput yang sangat kelelahan.
***"Ok bung\, tenang aja. Masak gua kalah sama Petricia.."\, ***
balasku sambil menggoda perempuan didepanku.
Sampailah diriku ditepian ranukumbolo sang telaga para dewa. Kami mendirikan tenda, memasak dari kompor canggih Doni. Serta diriku yang tetap menorehkan tinta pena di diary ini. Menorehkan bait demi bait, larik demi larik, akan duka dan rencana ku anggap mulia. Setiap gerak langkah kami, ku abadikan dalam sajak cinta dari seorang pujangga lara.
***"Steve bisa kesini? Aku minta tolong benerin resleting jaketku dong.."\, ***
pinta perempuan itu padaku.
Andaikan perempuanku yang jauh disana seperti ini, selalu manja padaku, selalu minta pertolonganku, aku pasti akan menjadi lelaki terbahagia di dunia. Namun.. namun perempuanku yang disana, hanya melihatku akan semua hartaku, dari kilau cat mobilku, dari klimis bajuku, dan juga klimis dompetku. Larut dalam anganku..
"Heii.. cepet dong. Malah bengong gitu",
katanya lagi padaku.
***"Ok.. tenang aja. Gua bisa kok benerinnya\, cuma gua.."\, ***
ucapku
***"Kenapa? Tolongin buka aja\, orang emang gak bisa kebuka\, cuma gak usah ngeres otaknya..hehe.."\, ***
ucapnya sambil tersenyum.
Kuhampiri perempuan itu, kuraih kerah jaketnya, kupaksa resleting itu supaya terbuka, terbuka tanpa memperlihatkan keindahan didalamnya. Gemetar terasa, tangan ini yang tek pernah sekalipun membuka, membuka paksa dari penutup dada, dada bidadari yang entah darimana.
Dan..
Aku hanya bisa tersenyum, merasa senang karena dianggap laki-laki yang benar-benar laki-laki. Hemm.. andaikan saja aku bisa memilih, akan kupilih perempuan pendaki supaya bisa melengkapi kehidupanku.
***Buku diary Steve hanya sampai disitu, tidak ada catatan lagi, hanya sejauh itu saja.
***Namun saya bisa menceritakan apa yang kami lakukan di Ranukumbolo dan selanjutnya..
Bahkan aku melihat bahwa Steve seakan sudah melupakan semua beban hidupnya.
Rasa sedih..
Andaikan bumi tak lagi bundar, andaikan awan tak lagi berwarna, bahkan andaikan lautan tak lagi menampakkan gelombangnya, tetap semua tetap akan menggambarkan kesedihan..
***"Ayo bung kita makan\, biar gak jadi kurus itu badan lu yang gembul.."\, ***
ucapku pada Steve
Anggukan kepala..
Ya.. hanya anggukan kepala dengan model dungunya itu yang diberikan padaku. Semua kuberikan hanya untuk membuatmu bahagia, sahabatku. Semua kuberikan agar kau tahu ada seorang doni disampingmu.
Setelah makan kami bercengkerama.
Membicarakan masa depan, masa depan setelah kami tempuh dunia perkuliahan dan dunia dengan semua keangkuhannya.
Celana cutbray ku telah basah oleh embun Mahameru, butiran embun telah berubah menjadi salju bagaikan kristal yang turun dari surga.
***"Lu kagak dingin bung? Itu ada sebats kalo lu mau"\, ***
ucapku.
Sebenarnya aku tahu kalau steve tidak merokok, sebab aku sendiri yang mengantarkannya untuk cek up di unit radiologi disalah satu rumah sakit dekat kampusku.
Tapi siapa tahu dia akan menghisapnya, mungkin akan menghilangkan duka lara di dadanya. Bujuk rayu kulakukan hanya supaya dia bahagia, karena hanya itu yang bisa aku lakukan baginya, sahabatku dengan penuh duka lara..
Pagipun memberikan kenangan indah kepada kami.Sinar fajar terlihat dicelah belahan sang ranu..Ini pengalamanku pertama kali di Ranukumbolo pagi hari..
Sangat indah..
__ADS_1
***"Ayo kita teruskan perjalanan bung\, sudah lumayan dekat sepertinya"\, ***
ajak Steve
Aku memang belum pernah menaiki semeru, namun aku sadar kalau puncak masih jauh, dan sangat jauh. Lalu kenapa dia mengatakan dekat padaku?
Aku bersihkan bekas sampah kami, aku masukkan ke tas sampahku, kurapikan semua peralatanku dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
Perjalanan menuju Cemoro Kandang.
Yang.Yaa.. yang ada tanjakan cintanya serta melewati Oro-oro Ombo. Aku yang tetap berada ditengah, melangkahkan kakiku seraya memandang terus kedepan. Ada seruan kecil dibelakang..
***"Bung\, jangan sampe lu lihat kebelakang\, ntar lu ngga punya pasangan..hehe.."\, ***
suara Steve yang masih seperti kemarin.
***"Ok bung\, gua ngga akan noleh kebelakang. Pantangan juga sih buat lu untuk ngga lihat kebelakang juga.. hahaha.."\, ***
jawabku sambil menyindir Steve.
Perjalanan kami lalui tanpa banyak rintangan. Hanya ocehan dan guyonan receh yang kami lontarkan untuk mengusir rasa pegal dipundak.
Sekitar kurang dari satu jam kami melewati tanjakan cinta dan padang sabananya yang penuh dengan ilalang. Pohon perdu memanjakan mata kami, karena memang pada bulan itu bunga nan indah disuguhkan dari tanaman itu.
"Woiii.. jangan sampai kalian tergores atau kalian makan ya bunga itu, bisa mampus!",
teriak teman kami yang ada dipaling depan.
***"Emang tumbuhan apa mas\, kok aneh bisa mematikan gitu?"\, ***
tanya Petricia
***"Lho kamu belum tahu ya? Itu Verbena Brasilliensis mbak"\, ***
jawab ketua rombongan kami dari depan.
Kami memilih jalur bawah ketika ada di Cemoro Kandang, dengan kecantikan bunga Verbena nya. Pegal dan sakit mulai terasa di jemari kakiku. Namun semua sudah terbayar separuh dengan keindahan bunga yang katanya mematikan itu.
Siang hari kami sudah mulai menemukan pepohonan yang tinggi dengan trek jalan panjang yang..
"Emejingg..!!"
Tertawa bila kuingat kata itu, karena dulu kata itu tak setenar sekarang atau sekarangpun kata itu tak akan tenar bila tidak diviralkan oleh anak atau bahkan cucuku kini.
Cemoro Kandang sangat membuatku terpesona akan setiap tiang pancang dan tingginya payung hutan.
***"Si Steve dimana kok ngga kelihatan?'\, ***
tanya ketua rombonganku.
Terkejut aku bukan main, bahkan petricia pun tak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Padahal tadi aku merasa kalau dibelakangku masi ada Steve"
katanya kebingungan.
Hilang..
Temanku, sahabatku entah kemana. Dan tidak hanya bingungku, bingung-bingung berjuta bingung semua sahabatku yang disini bersama mencari keberadaan Steve. Apakah tak ada kejanggalan? Tentunya masih banyak kejanggalan yang harus aku ungkapkan dari setiap goresan tinta buku diary itu.
Siap? Apakah sesiap ini diriku, wahai sahabat? Tetap kucoba melihat, membuka setiap lembar diary ini. Kapan dan kenapa buku ini ada padaku wahai temanku. Akan dan akan tetap kutuliskan dalam torehan tinta penaku wahai sahabatku..
***"Dimana? Kemana dia mas?"\, ***
tanya Petricia menambah kepanikan kami berlima.
***"Tenang.. tenang.. aku akan mencari cara agar kalian bisa bertemu dengan Steve"\, ***
ucap seseorang yang mengagetkan kami.
__ADS_1
BERSAMBUNG...