Cerita Horror

Cerita Horror
Diary Steve - Jika Tiba Waktuku


__ADS_3

Bismillah..


Semua tidak pernah tahu akan hidup sampai kapan..


Broken heart..


Broken home..


Kadang bisa membuat kita hilang akal dan mengakhiri hidup ini.


Sugeng rahayu..


Tring.. ting.. ting.. ting..!!


"Woii. kau..!! Jalan pakai mata bung. Jangan asal nyelonong aja",


makian pengemudi bajaj itu.


Tubuh ini terserempet bagian belakang benda oranye itu, dan untungnya pengemudinya dengan sigap membanting setirnya sehingga aku tak terlindas dan terluka atas ketololanku tadi..


"Maaf pak, maaf..",


hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut ini.


"Kalau kau butuh tumpangan, mari naik saja. Masalah ongkos nanti kau perkirakan sendiri saja bung, daripada kau lari-lari tak tentu arah",


ucap pengemudi bajaj kepadaku dengan masih sedikit syok.


"Ooo.. oke pak\, sekarang tolong antarkan saya ke kampus ******\, sekalian nanti tunggu saya dan antarkan saya ke alamat lainnya"\,


kataku sembari masuk danĀ  merebahkan tubuh di jok belakang.


Si roda tiga pun di gas kencang sedikit lamban menuju kampusku. Kampus tempatku mendapatkan seorang teman yang entah kenapa melakukan hal yang kurasa tak wajar bagi seorang generasi intelektual sepertimu kawan..


Sesampainya didepan dekanat aku memberikan ongkos kepada bapak penarik bajaj tersebut sembari..


"Pak. tolong tunggu saya sekitar 45 menit an ya, kalau saya tak keluar silahkan bapak tinggal saja",


kataku.


Dengan mata agak terbelalak penarik bajaj itu menerima uang dariku.


"Lho bung, banyak sekali uang yang kau bayar. Tarifku cuma 750 perak, ini kau kasih uang lembar borobudur",


ucapnya tak percaya.


Uang hanya sebagai rasa penasaran manusia yang tak punya rasa. Hanya manusia berhatilah yang bisa menimbang uang dengan jerih payah, keindahan serta keikhlasan. Lembar borobudur merupakan lembar istimewa bagiku dan bagi semua yang mendapatkannya.


Kulempar senyum padanya dan kumantapkan langkahku menuju salah satu ruangan dosen pembimbingku. Untuk kedua kalinya aku mengetok di pagi ini.


"Silahkan masuk",


suara dari dalam ruangan itu.


Kubuka pintu yang terasa kekar itu, aku harus berani.


"Maaf pak, saya ingin menginformasikan sesuatu kepada bapak",


kataku pelan.


"Oke.. apa itu?",


jawaban dari dosen yang.. ya memang seperti itulah dosen ketika tak dikelas, sedikit sekali mengucapkan kata yang tak perlu.


Pernah aku membaca suatu buku, didalamnya mengatakan bahwa bila kau tak banyak bicara, maka itulah kualitas yang sangat berkualitas dari segala tindakanmu.


"Anu.. anu itu pak, anu.. itu anu pak..",


gagapku kembali menyeruak dibatang leherku.


"Kalau kamu sudah tidak anu, kamu bisa kembali kesini lagi. Saya sedang banyak tugas",


jawabnya ketus.


Lama kuterdiam didepannya, sambil meneteskan air mata yang entah dari mana sumbernya. Apakah dari hatiku yang sangat hancur ini..? Aku kuatkan lagi ucapku akan informasi yang harus aku ucapkan.


"Kenapa, temanmu? Sudah mati kah dia?


Begitu saja kau tak mampu mengungkapkannya",


Katanya


Aku sangat terkejut..


Darimana beliau mengetahuinya, sedangkan pagi ini hanya aku yang datang ke kampus. Teman-temanku yang se-fakultas semuanya sedang ada di bandung.


"Darimana anda tahu perihal ini? Siapa yang memberitahu anda?",


tanyaku heran, penuh tanya.


"Kemarin ada mahasiswaku yang datang padaku. Dia menceritakan bahwa hari ini kau akan datang kemari sebagai bukti bahwa apa yang dia katakan adalah nyata.",

__ADS_1


jelas dosenku.


Kenapa? Dan siapa?


"Namanya Steven. Dia sahabatmu bukan?",


penjelasan yang tak kalah membingungkan dan penuh tanya memenuhi otak ini. Steve..


"Steve pak? Apakah dia baik-baik saja dalam pertemuan anda kemarin?',


tanyaku


Dalam nafas panjang, dosenku menceritakan apa yang dia alami kemarin tentang pertemuan yang tidak dia duga sama sekali..


"Aku memang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dan aku juga tidak menyalahkanmu atas semua duka yang kau tanggung sekarang. Tenang saja..",


terang dosenku seketika memutus kalimatnya.


"Ok.. singkatnya sekarang kamu ada yang mengikuti. Dibalik semua itu kamu harus sabar, tabah sampai pada waktunya dia akan pergi kembali ke jasadnya yang kau kebumikan disana",


tambahnya padaku.


Tak lagi kurasa duka lara itu. Namun sekarang aku merasa sangat ketakutan dibuatnya, ketakutan akan ucap cerita dari dosenku ini. Tak ku pungkiri selama ini dosen yang selalu irit ucapan maupun irit suara sekarang dia membicarakan sahabatku panjang lebar, bagaikan dia sedang menjelaskan mata kuliah..


Seperti halnya menerangkan hidrologi dan hidrolika yang merupakan konsentrasi nya dalam ilmu yang diajarkannya di fakultas ini. Seperti apakah sebenarnya beliau yang aku dan sebagian besar pegawai di kampusku memanggilnya prof. Ya, seorang profesor ilmu pasti, namun mengenalkanku dan menerangkan padaku dalam sudut mistisnya.


Kutengok kanan dan kiriku seraya menggosok lengan tanganku yang terasa dingin dan kasar karena seluruh bulunya berdiri bagaikan ingin lari dari tempatnya.


"Bapak bisa tolong saya, agar menyampaikan bahwa saya merasa takut saat ini..",


ucapku, si doni dengan segala ketakutannya.


"Hahahaha.. kau ternyata penakut yan don, kau tinggal bilang saja sendiri pada sosok yang ada disampingmu agar tak mengganggumu..",


jawabnya sambil masih dengan tawanya.


"Tapi, karena kamu sudah kemari, ok.. saat ini juga aku akan melaporkan bahwa temanmu itu hilang, dan akan kuberikan waktu terminal satu semester. Jika sampai tempo terlampaui, maka aku akan mencabut dia dari daftar mahasiswa dikampus ini.. Sudah sekarang kamu pulang saja, dan kuatkan mentalmu",


katanya lagi sambil menepuk pundakku dan mengantarku keluar ruangannya.


"Terima kasih pak, saya akan selalu meminta pendapat dari anda",


ucapku sambil melangkah keluar.


Seperti kata-kata jargon sebuah obat yang terpampang di pamflet raksasa didepan kampusku. Itulah yang kurasakan saat ini, dan mungkin di saat-saat yang akan datang sampai tak tahu lagi kapan itu bagiku. Huff.. dengan tanpa daya aku melangkah kedepan kampus.


Treng teng teng teng..


sapa bapak penarik bajaj mengejutkanku.


Sungguh pengemudi yang bijak. Bisa saja dia meninggalkanku dan mengambil semua ongkos itu, namun ternyata dia adalah salah satu dari ribuan orang yang memiliki hati emas. Dia bertanggung jawab atas semua yang dia peroleh.


Perjalanan kuarahkan menuju kerumahku. Sambil tertawa, bapak penarik bajaj mengajakku bicara ngobrol kesana kemari.


"Bung sebenarnya kulihat daritadi kau ditemani sosok. Temanmu?",


tanyanya padaku.


Tersentak aku mendengarnya, dan..


Kenapa aku selalu diisertai orang-orang dengan kemampuan seperti itu, kenapa banyak orang yang mampu melihatmu kawanku. Sedangkan aku, aku buta akan semuanya.


Keinginanku untuk melihat dan menatapmu sangat kuat sahabatku. Namun aku hanyalah manusia biasa dengan karunia yang memang aku miliki tanpa bisa melihatmu yang telah berubah. Tapi disaat aku tak bisa melihatmu, masih banyak orang disekitarku yang diberi kemampuan dan selalu membantuku akan kehadiranmu kawan.


"Memangnya bapak bisa lihat yang gituan ya pak?",


tanyaku dengan candaan receh.


"Aku bisa melihatnya bung. Dia sahabat kamu ya, dia minta aku jadi jubirnya.. hahahaha",


balasnya sambil tertawa.


"Memangnya apa yang diucapkannya pak? Iya, dia sahabat saya",


kataku dengan degup jantung yang berdebar.


Seketika penarik bajaj itu diam. Hening..


Kepulan asap dari bajaj seolah menambah haru nan lara jiwa ini. Tapi aku seorang doni, harus mampu menaklukkan apa itu akan pertanyaan yang masih tak ku dapatkan jawabnya. Aku pun sontak bicara..


"Hahahaha.. kalau pak bajaj mau, aku sih seneng banget pak. Yaaa sekalian aku bagi-bagi rejeki lah sama bapak..",


ucapku sambil menggodanya dengan imbalan uang.


Sein kiripun dia nyalakan dipersimpangan itu. Tak jauh dari persimpangan itu, pak bajaj menghentikan kendaraannya di bawah pohon akasia besar nan rindang..


"Bung.. itu teman atau saudaramu, aku tidak mau tahu. Yang jelas itu demit bung. Aku kasihan saja sama kamu kalau diikuti demit terus. Yang penting kuatkan iman kamu bung..",


pesan pak bajaj padaku.


"Aku akan mencoba tetap membantumu bung. Aku tahu kau salah satu pemuda yang baik dimata batinku. Tanpa kau bayarpun aku siap",

__ADS_1


katanya lagi.


"Aku paling tidak suka dengan orang yang mengatasnamakan suatu kebaikan dan membalasnya dengan kesedihan, bagaikan sampah yang lupa akan kulitnya. Ahh demit bodoh yang hanya bisa menangisi kebodohannya",


dia meneruskan.


Beliau seakan tersinggung akan ucapanku perihal uang tadi


Sungguh, dikota metropolitan seperti jakarta ini masih ada bahkan masih banyak orang yang mempunyai moral, moral akan segala hal baik, moral yang tak hanya memandang lembar rupiah saja. Lama aku terbuai dalam lamunan..


"Hei bung, jangan terlalu difikirkan, Buat santai saja ya.. hahaha..",


katanya mengagetkanku.


"Eh iya pak, saya minta maaf ya kalau buat bapak tersinggung",


ucapku membalasnya.


Bajajpun kembali berjalan menuju kealamat rumahku.


Tak lupa aku juga memberikan nomor telepon rumahku kepadanya.


"Kalau kau butuh aku bung, kau tinggal datang ke pangkalan depan ya, yang dekat dengan halte itu",


katanya seraya meninggalkanku didepan gerbang rumah.


Gontai langkahku kupaksakan masuk ke rumah putihku. Sampai kamar kumelangkah pasti, kurebahkan badan yang entah kenapa diantara payah yang terasa. Aku berdoa diantara segala kepenatan pikiran akan kemerduan suara rasa..


Hanya rasa..


Kucoba meraih radio saku ku disamping kasur dan kudengarkan alunan musik cinta sunyi yang tak ada ujungnya. Temaram lampu beranjak redup dan gelap sembari beristirahatnya raga..


Naa nanana..


Naa nanana..


Suara itu terdengar di telingaku diantara tidur dan bangunku


Dentingan gitar memenuhi ruangan tidurku, tak tahan lagi mata ini mengucurkan air mataku sahabat..


Kau tersenyum padaku seraya mengucapkan kata yang tak aku bisa dapatkan apa itu maksudmu wahai kawanku. Apakah ini yang dimaksud dengan rasa kagum nan rindu yang memuncak? Sekuat tenaga aku menggerakkan tubuhku sambil selalu menyebut namamu sahabat..


Aku berteriak.. Dalam posisi tidur aku terbangun, dan aku masih dapat melihatmu dengan senyuman itu.


Sahabatku..


Hanya tangisku yang kusandarkan pada senyumanmu..


Kupaksakan senyumanku bagai cahaya bulan yang memudar dalam sambutan sang fajar.Terasa..


Sangat terasa..


Peluh membasahi tubuhku yang ringkih, namun..


Aku bahagia sahabat setelah melihatmu walau tanpa satu kata, sahabat..


Kuinginkan kata-kata indahku kuutarakan padamu kawanku, namun hanya sebatas pandanganku saja yang mampu melukiskan rasa hampa bertabur resah nan bahagia.


Lagu yang lembut membuyarkan pandangku.


lagu **** **** **** terdengar sayup namun terasa jelas sejalan dengan kaburnya penglihatanku akan dirimu.


Terimakasih tuhan, kau telah membukakan hijab akan ketidaktahuanku akan dunia lain yang kau punyai. Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia, sahabat.


Senja yang tak kuasa kutolak.


Remang temaram jingga memaksa masuk kedalam kamar melewati jendela berselambu putih itu. Kuangkat tubuh ini menuju kamar mandiku, hanya untuk mengambil air suci dan hadapkan wajahku ke kiblatmu.


Tuhan..Terimalah sujud sembahku dalam pelukan senja nan maghrib mu. Sendu senja indah tanpa kata, sendu senja bertaburkan rasa, sendu senja kuhadapkan pada esa.


"Sudah shalat kamu nak?',


tanya ibuku sembari mengelus rambut ikalku.


"Sudah bu..",


jawabku singkat sambil menangis dipeluknya.


Beberapa kali kata ini, kata sungguhku.. kata tulusku kuucapkan dalam lukisan tintaku agar terbebas hatiku dari rasa lara.


Ya..


Sungguh pelukan ibu adalah rasa nyaman yang tiada tara, tiada satupun yang bisa menandinginya di kala duka. Karena pelukmu lah ibu, aku bisa mengeluarkan isi dada yang menyesakkan ini.


kenapa sih nak?, sudah ndak usah kamu pikirkan. Sekarang tugasmu berdoa saja, agar temanmu itu ditemukan dan dapat berkumpul dengan keluarganya",


ucap lembut ibuku.


Tak kuasa aku tumpahkan seluruh air mata ini dipelukan ibuku..


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2