
Seorang yang bernama suko inilah yang sedikit meredakan kegusaran dan kepanikan kami.
Saya akan mencoba mencari cara agar kalian dapat bertemu dengan teman kalian steve. Oya, nama saya suko. Saya dari kota sini mas..",
ucap nya memperkenalkan diri.
Suko sudah berada di basecamp itu sejak sebelum kami sampai. Kulihat dari penampilannya, kuyakin dia adalah pendaki yang cukup berpengalaman di gunung ini, dan aku yakin bahwa sahabatku dapat kami temukan.
"Mas, mbak kita berdoa saja ya. Yang saya tahu teman kalian sama..",
ucap suko tak melanjutkan kalimatnya.
"Hei, jangan asal bicara kamu. Mencari saja belum kamu lakukan kok sudah berani bilang kalau teman kami.. apa tadi kau bilang?",
marahku pada suko yang tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuatku gusar.
"Begini mas, kita harus selalu berdoa. Bukankah berdoa itu bagus untuk kita dan bagi teman kalian yang hilang di kalimati itu",
ucap suko kembali aneh.
"Di kalimati gimana mas, kita kan ada disini sekarang. Kok sekarang mutar ke kalimati segala",
kata petricia, juga tak percaya dengan ucapan suko.
"Ya, teman kalian sedang ada di kalimati saat ini. Tapi tenang saja, mungkin dia memang sedang ingin menyendiri..",
tambah suko meyakinkan kami.
"Terus sekarang bagaimana mas? Masa kita hanya disini aja ngga ada yang nyari steve",
ucapku menanyakan apa yang harus kami lakukan
"Begini saja, kalian buka tenda saja disini, bermalam disini semalam. Kalian tidak perlu melanjutkan perjalanan keatas sebelum temannya yang hilang ditemukan",
ucap suko pada kami.
Tak terasa siang cepat digantikan oleh malam. Dengan turunnya embun yang kian pekat akan rasa kelam. Kami mendirikan tenda disini, menuruti apa kata suko.
Ternyata suko adalah salah satu aktivis dan relawan dari kota ini, kota dimana mahameru berada. Dia juga mapala disalah satu perguruan tinggi keguruan di kota malang, dan tentunya dia akan jauh lebih paham akan jalur di gunung ini.
"Kalau kalian ingin turun kebawah, tolong jangan sendirian ya, ajak teman. Siapa tahu kalian ingin buang hajat atau lainnya..",
ucap suko sekali lagi yang menambah teka-teki akan dirinya.
"Mas, kamu ini manusia kan?",
tanya petricia tiba-tiba.
*"Hahahaha.. mbaknya lucu. Jelas saya manusia mbak\, saya pemuda dari desa *****\, kota *****. Saya mahasiswa di kampus ***** mbak\, jurusan saya pendidikan\, sebentar lagi saya akan mendapatkan gelar doktorandus. Dan mungkin setahun lagi saya akan menikah dan punya anak"\, *
jelas suko menjelaskan dirinya sambil tertawa.
Memang di era 90-an, tak banyak pendaki di semeru, hanya beberapa orang saja. Maka tak heran jika kami hanya bertemu dengan suko dan empat orang teman lainnya dari malang.
"Pokoknya kita tunggu sampai pagi. Kita tidak boleh gegabah mencari di malam hari, terlalu beresiko",
kata suko sekali lagi sambil membuat perapian disamping tendanya.
Malam penuh akan rasa penantian.
Aku..
Aku doni akan berusaha mencarimu nanti teman, setelah mentari pagi telah membersihkan kabut disetiap rongga semeru ini.
Sempat kudengar beberapa teman saling bercengkerama dan membicarakan rencana penelusuran dan pencarian steve pagi nanti, namun..
Namun aku tak sanggup untuk berkumpul bersama mereka, hanya air mataku ini yang menemaniku sepanjang malam.
"Memang mas sudah sering ya naik semeru?",
__ADS_1
tanya petricia penuh cemas.
"Yaa.. lumayan lah mbak. Kalau liburan habis final biasanya kami kesini",
jawab suko kudengar diluar tenda dan diriku yang ada didalamnya.
"Banyak ya bung yang tersesat disini? Terus biasanya karena apa?",
tanya temanku dari bandung.
"Sebenarnya semeru tak semenakutkan seperti yang kalian pikirkan. Disini sama layaknya seperti gunung yang lain. Asal kalian mengikuti aturan yang sudah berlaku..",
jawab suko.
"Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kalian.."
kata suko menambahkan, mencoba menenangkan kami yang sedang gusar.
Pagi masih terasa lama kala itu..
Sebagian teman sudah ada yang tidur untuk mempersiapkan pencarian besok pagi. Hanya petricia saja yang aku dengar masih berbincang-bincang dengan suko.
"Di bawah itu namanya apa mas?",
tanya petricia pada suko.
"Yaa.. dibawah namanya sumber manik. Biasanya kita menggunakannya sebagai tempat buang hajat dan ya.. kalau ada, dan kalau keluar airnya biasanya kita mengambil air dari situ. Cuma jangan sekarang mbak, takut ada binatang buas",
terang suko.
Malam semakin larut, namun mataku tak dapat ku pejamkan. Ahhh.. aku doni, si raja rimba cengeng. Umpat dari dalam hatiku untuk diriku sendiri. Aku keluar dari tenda hanya sebagai cara melempar kecemasanku yang semakin lama semakin memuncak.
"Sebentar lagi ada rombongan dari bawah mas, mbak. Tolong tidak usah disapa atau hiraukan",
ucap dan pinta suko tiba-tiba padaku yang bahkan masih berdiri didekat perapian itu.
Kaget dengan apa yang diucapkan, namun aku berusaha tak bertanya macam-macam. Kududukan diriku didekat perapian agar setiap hangatnya bisa masuk ke tubuhku.
Selang beberapa menit aku lihat ada sekitar lima belas orang dari bawah membawa sebuah bungkusan besar. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka porter yang sengaja membawa peralatan untuk penelitian di semeru?
Sekelompok orang menyerukan semua kata-kata yang tak kumengerti. Suko mulai beranjak dari duduknya, entah mau melakukan apa pemuda itu..
Diamlah.. jangan sampai mengganggu teman-temanku
ucap suko entah kepada siapa.
Ditebasnya edelweis disisi kanan kami yang tak ku tahu kenapa bisa tumbuh disini. Bukannya bunga itu hanya tumbuh di tempat yang lebih tinggi. Dibakarnya dupa yang wangi nan semerbak menyeruak di seluruh hutan cemoro kandang ini..
Mencekam..
Udara mulai tak memberikan timangan manis kepada kami, udara mulai meliukkan hembusannya kepada kami. Kencang dan lama-kelamaan semakin kencang ke arah utara menuju puncak semeru..
Gruukkkk.. Gruukkkkk.. Gruukkkk..
Sang mahameru mengeluarkan suara bisingnya, suara batuknya dan suara yang maha dahsyat, berkali-kali kami mendengar ledakannya.
Kembali lagi aku lihat sekelompok orang dari bawah berlarian sambil mengucap kata..Makan... Makan... Makan..
Apa yang dimaksud dengan kata itu?
Suko yang sedari tadi nampak tenang dan santai, sekarang dia seperti ketakutan. Ketakutan yang entah karena apa, akupun tak tahu akan apa yang ada dibenaknya.
"Tolong, panggilkan semuanya, suruh bangun dan kumpulkan disini. Ayo keluar semua dari tenda!!",
ucap suko sambil berteriak kencang, menambah aku, petricia dan semua orang yang kami kenal semakin panik.
"Apa hanya ini, apakah sudah keluar semua teman kalian dari tenda?",
tanya suko lagi.
__ADS_1
"Iya, sudah keluar semuanya",
jawabku penuh cemas.
Badanku gemetar tatkala melihat dan mendengar suko merapal mantra itu. Apakah dia benar seorang mahasiswa yang katanya generasi akademik? Tapi bagaimana dia bagaikan sudah hapal diluar kepala setiap kata mantra itu..
Dalam ketakutanku dan kegentingan yang mencekam, kami semua, semua orang dikelompok kami saling berpegangan tangan sambil terus berdoa agar keselamatan kami selalu dilindungi oleh Tuhan.
"Sekarang kalian semua, apapun yang kalian lihat dan terjadi, tolong tetap diam dan jangan bergerak, apapun yang terjadi!",
ucap suko kepada kami dan terus menatap tajam kearah kami semua satu persatu, tak kecuali petricia yang gemetar ketakutan.
Dikejauhan kulihat sosok seperti temanku steven dibopong oleh sekelompok orang dari bawah.Temanku dibawa keatas,
"Wooiii.. itu temanku..!!",
ucapku dalam kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan.
"Jangan!! Jangan kau coba-coba tinggalkan kelompok ini!!!",
sanggah suko seraya meneriakkan suaranya padaku
Takut..
Aku sangat takut, bahkan untuk sekedar melepaskan pegangan tangan diantara kami saja aku tak berani. Tak berani menanggung resiko bila terjadi apa-apa pada kami semua..
"Mereka sudah pergi.Tapi tetap hati-hati ya semuanya, mbak, mas.. Jika ada apa-apa, apapun itu tetap tenang ya, jangan gegabah",
ucap suko menganjurkan kami untuk tetap waspada.
"Itu tadi siapa mas..?",
tanya petricia kebingungan.
"Tidak perlu tahu mereka siapa, sekarang yang terpenting kita cari teman kalian...",
jawab dan ajak suko ke kami semua.
Kami melepaskan pegangan tangan. Kami berdoa sekuat dan sebisanya agar tetap berani dan tabah menghadapi segala keanehan dan tanda tanya ini..
Suko menyuruh kami mengikuti setiap langkahnya.. Benakku penuh tanya akan dimanakah keberadaanmu saat ini sahabatku..
Jalan miring semakin mengecil dihadapan kami. Tapak-tapak manusia tak terlihat di bawahnya, hanya tanaman perdu seakan mencegah kami untuk melangkah. Benarkah kami harus melalui jalur ini? Lagi-lagi tanyaku yang tak sempat ku utarakan padanya. Ya pada suko, pemimpin dan pencari jejak dibelantara hutan ini..
Lama..
Cukup lama..
Sampai pada akhirnya..
Sesuatu yang bahkan tak berani kulihat, mengingatnya pun aku tak kuasa. Hanya di diary mu ini kawan aku lukiskan perasaanku yang kian mendalam. Rasa yang mendalam akan semua kesedihan, kesedihan dari sahabatmu.
Kulihat, dengan jeritan kami semua dan jeritan petricia, kau.. Kau sudah tergantung diatasnya kawan.
Diatas kokohnya dahan batang pohon yang rindang.
Sangat sakit nampak di raut wajahmu..
Sampai kakiku lemas tak berdaya menyaksikan kejadian itu, kawanku..
Kenapa???
Kenapa kau tega dan berani melakukan semua ini kawan, bukannya masih ada aku dan masih ada kami yang siap menghiburmu dikala sedihmu. Menguatkanmu dikala lemah, dan menyertaimu dikala kau butuh akan semua hal yang kau citakan.
Tenggorokanku pun seakan tak sanggup untuk berteriak, kawanku. Jantungku seakan berhenti berdetak melihat keadaanmu..
"Ke.. kenapa ini bisa terjadi?",
ucap gagu petricia dalam tangisnya
__ADS_1
Wanita tangguh itupun diam seribu bahasa tak mampu bicara melihatmu kawan..
Bersambung...