Cerita Horror

Cerita Horror
Diary Steve - Selamat Tinggal Kawan


__ADS_3

Tubuhmu kaku tak bernyawa..


Matamu.. matamu itu menyiratkan kesakitan yang luar biasa..


Tanganmu menggenggam bagaikan keinginan yang tak pernah dan tak kuasa kau dapat..


Bahkan mulutmu.. mulut itu tetap menjulurkan lidah yang kau pakai untuk merasakan nikmatnya soto kemarin..


"Sudahlah.. ini semua sudah takdirnya. Takdir teman kalian. Sekarang mari kita turunkan..",


ucap Suko kepada kami, ucap suko yang melihat kami penuh tangisan.


"Bukannya kita harus menunggu petugas evakuasi dulu, biar kita tidak dapat masalah?",


tanya teman satu fakultasku


Sesuatu yang tak berani aku lakukan ternyata terlontar dari mulut Suko..


"Foto saja dengan kodakmu, nanti foto itu bisa kita gunakan sebagai saksi sesampainya di bawah. Karena tak mungkin kita membawanya, kita harus menguburkannya segera disini, kasihan teman kalian bila harus..", 


saran Suko menganjurkan semua itu.


"Apakah tak bisa kita evakuasi dan kita bawa ke pos bawah bung?",


tanyaku pada Suko dan teman-temannya.


"Bila meninggalnya karena kecelakaan wajar, kita wajib membawanya mas. Namun kalau seperti ini, apakah kalian tidak kasihan padanya.. mati karena gantung diri",


ucap Suko mencoba meyakinkan kami.


"Sudahlah yang penting kita turunkan saja dulu",


sambung Petricia masih dengan tangisnya.


Siangpun seakan memamerkan kegelisahannya. Tak kuasa hati ini, tak mampu tangan ini.


Maafkan aku kawan..


Diturunkan nya tubuh sahabatku oleh sahabat-sahabatnya, sahabat dalam keluh kesah kami. Hanya aku dan Petricia yang cuma mampu memandang serta melihat proses menurunan jasadmu Kawan.


"Wes.. apa sudah kalian ambil gambarnya? Sekarang kita harus segera menguburkannya sama-sama..", 


kata Suko.


Sesegukan masih terdengar dari bibir Petricia. Aku tahu dan paham tentang apa yang ada didadanya.


Dia, Petricia mendapatkan pengalaman yang mungkin terburuk dalam hidupnya diwaktu pertamanya menjejakkan kaki di atap tertinggi jawa, pertama meniti jalur mahadewa, jalur mahameru..


Kami kuburkan teman kami. Kami kuburkan di bawah batang pohon itu, Pohon cemara yang akan selalu, selalu melindungimu dalam pelukannya, kawanku..


Sore setelah kami melakukan penguburan, segera kami turun ke Ranukumbolo untuk nantinya mendirikan tenda disana. Perjalanan yang cukup singkat kami lalui. Kurang dari dua jam kami sudah tiba di Ranukumbolo.


Kami mendirikan tenda, membuat perapian, memasak semua perbekalan kami. Semua dengan bumbu-bumbu kesedihan yang teramat dalam. 


"Tenang mas, nanti kita harus bicara sejujurnya ketika di bawah, kepada petugas pos jaga akan apa yang terjadi diatas", 


kata Suko menghampiriku seraya menawarkan rokok kreteknya. 


"Jangan.. jangan bung.. aku tak mau nama temanku menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya", 


jawabku


"Benar, kita harus merahasiakan ini dari khalayak ramai. Tak baik juga bagi kita pendaki dan relawan gunung", 


kata salah satu teman dari Bandung. 


Memang hanya kami yang tahu akan kejadian ini, kejadian yang kami saksikan bagai mimpi di kalimati. Aku, Petricia dan dua teman dari fakultasku, dua relawan dari Bandung, Suko dan tiga temannya dai Universitas Malang. 

__ADS_1


Kudengar dentingan gitar dari tenda seberang. Dentingan yang memecah keheningan malam, malam dimana hanya kesunyian yang menjadi teman, teman dari setiap manusia tanpa angan.


Satu persatu dari kami merebahkan tubuhnya. Memberikan kesempatan bagi tubuhnya untuk melemaskan semua urat yang menegang dan ketidakwarasan. Tinggal diriku seorang yang terbangun akan malam, tak khayalnya bintang tanpa sinar.


"Mas Doni, aku mau istirahat dulu ya. Jangan jauh-jauh dari kami..", 


pinta Petricia


"Iya mas, kalau bisa sampean tidur juga, istirahat", 


kata Suko terdengar mencemaskanku.


"Aku tahu kawan, kalian cemas. Tapi tenang, aku masih mampu mengontrol diriku kok.. terimakasih..", 


jawabku singkat.


Dinginya malam diselimuti kabut tebal..


Tiba-tiba..Kulihat sahabatku steven merangkak dari dalam semak itu..


Takut.. setengah mati aku melihatnya..


Apakah dia Steve..


Tapi kenapa dengan wajahnya?


Wajah yang rusak bagai habis digerogoti anjing hutan..


Mulutnya tetap menjulurkan lidahnya yang tak tampak merah lagi..


Liurnya..


Liurnya yang selalu menetes..


Bahkan hidungnya mengeluarkan ingus hijau pekat..


Kenapa dengan baumu..


Kenapa dengan dirimu..


Berhenti!! Jangan kau teruskan!! Alammu berbeda dengan alamku dan teman-temanku. Pergi sekarang.


kata Suko tiba-tiba berada disampingku dan menyadarkanku.


"Ke.. kenapa dia hidup? Atau memang aku tak..",


ucapku terbata-bata melihat steve atau apapun yang menyerupai dirinya.


"Bukan mas, dia bukan temanmu. Kami menyebutnya awe-awer. Sebangsa demit hutan yang berusaha menarik perhatian dan nantinya akan menyesatkan korbannya",


ucap Suko seakan memahami semuanya. 


Malam berganti pagi..


Sang surya tak segan mengusir kabut kelam.Hangat mulai menyuguhkan keindahan akan semua sejauh mata memandang.


"Ayok.. cepat kita bereskan tenda, bersihkan bekas perapian. Aku ingin pulang..",


pinta dan rengek Petricia.


Dia, Petricia adalah wanita yang teguh nan teduh. Tak ada sedikitpun rasa kesal dan payah dalam dirinya..


"Semangat bung, ayo kita pulang sekarang",


ucapku pada mereka semua.


Aku berusaha tegar hari ini. Berusaha merencanakan pengakuan tentang keadaan sahabatku Steve. Pengakuan penuh kebohongan. Tak kubiarkan mataku memandang kebelakang. Tak kubiarkan ingatanku mundur kebelakang. Aku bertekad menemukan jawaban tanpa kebenaran.

__ADS_1


Empat jam kami turun. Entah kenapa lama sekali, padahal kami gunakan jalan tercepat kami. Secepat semut menemui gulanya. Di akhir perjalanan kami, di gerbang Semeru, sekali lagi Suko berbicara dengan penuh makna.


"Seumpama hidupku hanya sehari, aku akan selalu berarti bagimu dan bagiku. Aku akan memberi tanpa melukai, aku akan mengangkat kalian tanpa mencelakakan. Aku akan berubah menjadi apapun yang kalian inginkan.. asal satu, kalian bahagia", 


ucap Suko dengan tetes air matanya.


Kami semua berangkulan. Saling memberi kehangatan, saling memberi kekuatan, dan saling memendam rahasia dibawah batang tumbuhan yang menjulang.Terima kasih para kawan. Tanpa kalian aku tak sekuat ini menghadapi kehilangan yang teramat menyakitkan.


Di pos 1 ranupani, kami langsung mengabarkan akan teman kami yang hilang, hilang tak tentu arah. Pertanyaan apa dan kenapa sebagai satu kesatuan sebab dan


Tetap..


Kami mengatakan..


"Teman kami hilang.."


Petugas dibantu masyarakat sekitar mencari dan mencari keberadaan temanku yang bernama steven. Kami menghabiskan waktu selama dua hari disana, tetap dengan rasa cemas dan was-was. Takut kebodohan dan kebohongan kami terungkap.


"Kalian saya sarankan pulang kedaerah asal. Kalau ada kabar nanti kami beritahu. Dan tolong kabari orang tua teman kalian kalau anaknya masih dalam pencarian..", 


kata petugas pos tersebut.


Mbah Dipo pun terlihat cemas saat menemui kami, dan beliau berbisik kepadaku,


"Wis tak peringatno yo koncomu iku..",


bisiknya


"Maaf mbah, saya kurang ngerti dengan bahasa Jawa", 


balasku.


"Sudah sekarang kalian bali (pulang). Biar kami yang mengurus teman kalian.." 


kata mbah Dipo lagi.


Mengurus apa? Apa yang akan diurus? Pertanyaanku yang tak dapat jawaban dari nya yang mengetahui seluk beluk gunung ini. 


Siang setengah sore kami lanjutkan ke pangkalan jeep untuk bergegas meninggalkan ranupani menuju stasiun malang. 


Diperjalanan itu..


Kucoba menahan tangisku..


Dikejauhan kulihat dengan jelas, ditanah berpasir itu.Ku melihat Steve sahabatku, melambaikan tangannya padaku, lambaian tangan yang menandakan perpisahanku dengannya..


Lambaian tangan bila saatnya nanti..


"Sudah lihat dia mas? Ikhlaskan saja, biar dia tenang disana",


kata Suko yang duduk disebelahku.


"Dia berbisik tadi padaku, bila waktu nya tiba, dia berjanji akan membuat bapaknya bersimpuh dan berlutut padanya. Pada dia yang moksa di Mahameru..", 


tambah Suko.


"Apakah kau tahu bung, dia senang ataukah sedih saat ini?", 


tanyaku.


"Tak dapat kujawab, karena aku bukan Tuhan. Aku tak bisa melihat segalanya, atau aku tak mampu mengatakan sesuatu hal yang belum pernah dilalui waktu", 


terang Suko.


Semua perbincangan kami lakukan seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi pada kami.


Hingga..

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2