
"AKU BERBOHONG!!!"
Ingin kuteriakkan kalimat itu. Namun aku akan tetap merahasiakannya kawan, walaupun itu kepada ibuku sendiri. Semua karena ku tak ingin kematianmu ini menambah kesedihan bagi keluargamu. Menambah hancur hati seorang ibu disana, dan agar namamu tetap terjaga samapi waktunya, kawan..
"Sudah makan dulu. Kayanya dari pagi kamu belum makan",
kata ibuku sambil menarikku ke meja makan disamping mushala keluarga didalam rumah.
Kumasukkan suapan-suapan nasi dari piring beling bercorak mawar. Ku teteskan air mata, menambah asin bumbu sayur dipiringku.
Senja sangat indah namun tetap masih diselimuti lara. Yaa.. lara hati seorang sahabat yang rindu akan sahabatnya.
"Bu, setelah isya doni ijin keluar ya, mau cari angin..",
pamit seorang pemuda kota yang selalu ijin kepada ibunya.
"Ya, tapi hati-hati dijalan ya don..",
ibu meng iya kan ijinku.
"Iya bu..",
balasku sambil mencium pipi ibuku.
Wah sangat susah menentukan arah ketika dada ini tak mempunyai tujuan sama sekali.
Kring!!! Kring!!!!! (suara telepon)
"Huh.. mengagetkan saja",
umpatku kembali masuk kerumah dan mengangkatnya.
"Halo dengan doni disini..",
ucapku menyapa.
"Halo doni? Minta antar kemana sekarang, kemana saja siap aku antar. Hahaha.. Aku tahu kau sedang butuh teman sekarang ini. Mending kau datang ke halte ya. Aku tunggu..",
kata suara diseberang telepon.
"Woii.. jangan diam saja. Ini aku bapak bajaj..",
lanjut suara itu.
"Eh.. iya pak, aku kira siapa tadi",
jawabku sambil menutup gagang telepon.
Senang juga kalau ada tujuan, walaupun itu hanya acara main. Aku yakin seribu persen kau tak akan mampu selamanya berdiam diri dirumah tanpa keluar atau main. Kuberjalan menyusuri trotoar menuju pertigaan itu. Belok kanan dan nampaklah bajaj oranye dengan bapak paruh baya berdiri disampingnya.
"Wealaahhh.. dalah.. bapak sudah daritadi disini, kamu kok ngga nongol-nongol don?",
tanyanya dengan logat jawa yang kental.
Sempat aku bingung, kenapa sekarang memakai logat jawa, bukannya tadi pagi logatnya seperti orang jakarta. Ahh.. mungkin cuma perasaanku saja.
"Maaf pak, tadi ketiduran cukup lama. Tapi.. apakah saya membuat janji dengan bapak? Seingat saya, saya tidak membuat janji dengan bapak tadi",
jawabku bingung.
Udara ibukota yang entah kenapa sangat segar walaupun banyak kendaraan yang masih lalu lalang. Malam yang segar seperti udara di puncak tertinggi jawa waktu itu.
"Bukannya kamu tadi sudah bertemu dengan sahabatmu itu? Karena itulah lantas aku menelponmu dengan telepon umum butut ini. Ya sekalian melihatmu, apakah bau baik-baik saja..",
balas bapak bajaj.
Ternyata dimasa kelamku seperti ini masih ada yang memberiku perhatian walapun dari seseorang yang bukan siapa-siapaku. Kenalpun aku belum. Baru tadi pagi aku mengenal pak bajaj ini. Namun perhatiannya padaku melebihi teman-temanku.
Memang susah kalau jadi anak semata wayang, tak ada saudara sekedar teman bercerita atau berkeluh kesah disaat seperti ini. Untung saja diriku mendapat teman seperti bapak bajaj ini. Saat ini pak bajaj mungkin adalah teman sekaligus kakak .
"Dari tadi saya tak tahu nama anda pak, siapa ya?',
tanyaku padanya yang dengan sesekali memoles cat bajajnya dengan kaor bergambar gitar.
"Haha.. namaku ratman, biasa dipanggil man oleh teman atau saudara. Bahkan istriku memanggilku pak man..",
jawabnya dengan tertawa lepas.
Aku pun ikut tertawa lepas padanya. Entah kenapa walaupun bertemu tapi aku bisa tertawa dengan lelucon receh buatannya.
Di ambilnya termos dari dalam bajajnya, dituangkan kopi hitam bekal dari istrinya dirumah. Disodorkan gelas aluminium penutup termos padaku seraya berkata..
"Ini kopi buatan ibu negara bung. Rasanya tak kalah mewah dengan kopi yang ada di restoran hotel bintang senpuluh. Hahaha..",
__ADS_1
ucapnya sambil tertawa lagi dan lagi.
"Memang kopi nikmat yang sangat nikmat pak mas, aku suka sekali. Apalagi kopi gratisan dari ibu negara ini..",
balasku memuji.
"Sudah kau minum saja bung. Cuma wajahmu jangan sedih lagi, nantik kaya kopi sudah tiga hari",
Katanya
"Kopi sudah tiga hari gimana pak?",
Tanyaku Heran.
"Yaa.. itu namanya kopi tiga hari. Sudah hitam, pahit terus kecut lagi. Sama persis seperti mukamu tadi pagi. Hahaha..",
Jawabnya penuh canda.
Keseruan malam ini tak terasa bagi kami, sampai ada. Ada seseorang yang menghampiri kami dengan setelan parlente..
"Bung, bisa Antar ke kemang?",
katanya pada pak man.
"Waahhh.. sangat bisa sekali bos. Mari.. mari..",
balas pak man sambil membukakan pintu belakang bajajnya.
Yaahh.. Serasa sepi walaupun jalanan lumayan masih ramai oleh lalu lalang kendaraan para pemburu rupiah di jakarta ini. Aku duduk di bangku halte ini yang ber cat abu-abu. Desiran angin menambah dingin tempat ini. Dan..
Kring!! Kring!!!
Suara telepon umum itu memanggilku untuk mengangkatnya, namun..
Apakah mungkin ini panggilan calon penumpan untuk memesan bajaj? Karena tidak siapa-siapa disana selain diriku, membuatku berdiri dan mengangkat gagang telepon umum itu.
"Halo.. dengan siapa dan ingin mencari siapa?',
tanyaku singkat.
Lama tak terdengar suara dari penelpon seberang, membuatku ingin menutup dan meletakkan gagang telepon ini. Tapi, aku yakin telepon disana masih belum dimatikan. Tapi siapa dan harus apa, aku pun tak tahu..
"Doni.. aku minta tolong.."
Detak jantungku seakan berhenti, tanganku seakan bergetar tak terarah, kaki-kakiku seakan lemas tak berdaya..
Itu suaramu kawan..
"Eee.. eeiiyaa kamu minta tolong apa padaku?',
balasku.
Tut.. tut.. tut.. tuuutttttt.....
Hilang, suara itu menghilang dan tak terdengar lagi. Aku meletakkan gagang telepon. Kakiku melangkah lemas kembali ke kursi halte. Bergetar badan ini bagaikan disiram literan air es. Bergetar hati ini mendengar suara yang sudah lama tak kudengar. Entah, apakah aku harus takut atau senang.
"Steve, tolong jangan kau ganggu aku lagi. Jangan kau buat aku makin sedih. Apapun akan aku lakukan agar kau tenang disana kawan..",
ucapku kepada entah siapa itu.
Aku mengucapkan kata-kata kepada orang yang bahkan aku sendiri tak melihatnya. Aku berucap layaknya seorang gila yang tanpa sebab.
"Steven kawanku, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk menolongmu?,
ucapku lagi agar diriku tahu apa maksudmu.
Aku ucapkan kalimat itu agar aku bisa menolongmu kawan.
Treng.. teng.. teng..teng.. teng..
Suara bajaj pak man mambuyarkan lamunanku. Aku senang pak man sudah kembali dari tugasnya.
"Woi bung, sudah ketemu sama temanmu itu?",
tanya pak man lagi-lagi membuatku penasaran kenapa dia selalu tahu apa yang kualami barusan.
Setelah memarkir bajajnya, pak man menghampiriku sambil mengambil gelas almini nya dan menyeruput kopi didalamnya.
"Ya sudah, aku kasih info saja ya. Barusan penumpangku ternyata demit, cuma demit nyata.. haha..",
canda pak man.
"Ternyata dia bos besar yang baru saja membooking cewek kampus. Apa itu namanya? Ayam kampus? Hahaha.. ada-ada saja orang jaman sekarang..",
__ADS_1
jelas pak man.
"Iya.. nanti kita bantu kok. Sekarang kau santai saja menikmati jerat tali dilehermu itu",
kata pak man tiba-tiba entah pada siapa.
Apakah pak man mengajak bicara steve, yang aku pun tak melihatnya? Aku hanya diam ketakutan.
"Pak, tolong katakan pada kawan saya, jangan mengikuti saya",
kataku singkat.
"Hahaha.. dia akan selalu mengikuti kamu bung. Sampai kamu..",
balas pak man sembari membisikkan sesuatu ditelingaku.
Aku paham dengan apa yang dimaksud beliau dibisikannya, namun apakah aku mampu melakukan semuanya. Bahkan membayangkannya saja aku tak sanggup dalam beberapa hal yang memang aku tak mengetahuinya.
"Kalau begitu saya pulang saja dulu pak. Biar nanti saya susun cara agar garis besar yang harus saya lakukan bisa terwujud",
pamitku ke pak man.
Bagaimana mungkin aku yang hanya seorang doni tanpa punya kemampuan apapun bisa mengendalikan situasi yang sangat pelik ini. Ah.. lagi-lagi biarlah waktu yang menjawabnya dan mengabulkan apapun permintaan akan tolong itu padaku..
"Iya, kamu pulang saja dan jaga selalu kesehatanmu. Masih banyak tugas yang harus kau selesaikan selain urusan kawan kamu itu..",
jawab pak man.
Kuberanikan diri untuk berjalan kembali kerumah. Trotoar yang tadi ramai akan hiruk pikuk pejalan kaki, sekarang menjadi sepi mencekam. Bahkan cahaya lampu jalan seakan menyipitkan cahayanya dimalam yang mendebarkan ini. Kupercepat langkahku dan, lagi dan lagi..
Kudengar tangisan pilu mengiringi jejak langkahku. Tangisan kesakitan bagaikan teriakan namum tertekan. Tangisan yang membuat sayatan hati bagi setiap orang yang mendengarnya..
Aku tahu..
Itu kau kawan, sahabatku..
Tangisan entah akan kesedihan atau tangisan akan rasa sakit yang amat dalam..
Akhirnya sampailah aku di depan gerbang rumah putihku. Kupercepat langkahku memasukinya. Bahkan suara krieettt!!! pintu pagar membuat bulu kudukku sontak menegang akan rasa takut. Kubukan pintu dan kubanting pintu rumah itu.
Ya aku takut akan semua memori dikepalaku. Walau aku berusaha untuk tidur, aku tidak dapat menghilangkan memori steve dari kepalaku. Entah sampai berapa lama hingga akhirnya mata ini terlelap dalam pelukan hunia tuhan.
Seruan adzan membangunkanku dari peraduan yang katanya akan memberi kesegaran kepada siapapun yang merebahkan diri disana. Aku bangun dari kasur kapuk yang sangat nyaman ini. Kuangkat kedua lenganku sambil kuucapkan syukur kepada tuhan yang telah memberi kesegaran dan kehidupan dipagi ini.
Ritual pagi kulakukan dikamar mandi dengan ubin birunya. Kuambil air untuk menyucikan tubuh ini. Aku sangat sadar dengan air ini aku akan mempersiapkan tubuh dan jiwa ini untuk sujud padamu tuhan. Kuberlaku atas ijinmu..
Sarapan pagi..
Apapun istilahnya hal ini penting untuk metabolisme tubuh manusia. Karena dalam setiap kalori yang terkandung, didalamnya mampu menggantikan semua tenaga maupun sel dalam tidurku semalam.
Kusendok nasi dengan sayur lodeh buatan ibuku dengan rebusan telur didalamnya juga.
Setelah sarapan dan seteguk air mineral digelasku, aku merasa lebih segar dan siap untuk melanjutkan hari dan perjalananku untuk menggapai asa yang entah sampai mana. Kukeluarkan motor yamaha 80'ku, kupacu menuju kampus tercinta walau pagi masih memangku dagu..
Kuparkir motorku dibawah pohon asem belanda. Kulangkahkan kakiku menuju lantai dua fakultasku.
"Sepi sekali ya. Apa mungkin aku yang terlalu pagi? huff..",
gerutuku dalam hati.
Kubuka pintu kelas..
"Hai.. sudah ada orang rupanya disini. Kapan kau datang..?",
tanyaku pada teman disudut kelas itu.
Sambil terus memunggungiku, dia menoleh kepadaku dengan hampir tak menggerakkan badannya.
Hanya kepalanya saja yang menoleh kepadaku kearah punggungnya
Perlahan..
Dan perlahan..
Dia menengok kepadaku..
"Waahhh.. ngga bener ini. Kamu demit ya bung?",
tanyaku santai.
Kenapa, kenapa sekarang ku tak takut. Bahkan aku terkesan biasa saja walau melihat teman dipojokan kelas dengan darah hitam dimulutnya yang mengering.
"Hahaha,, tenang saja bung, aku bisa melihatmu sekarang. Dan aku tak takut lagi dengan demit model sepertimu itu. Hahaha..",
__ADS_1
ucapku yang tiba-tiba merasa senang dengan ketidak takut an ku..
BERSAMBUNG