Cerita Horror

Cerita Horror
Diary Steve - Dosa Duka Dan Nestapa


__ADS_3

Keramaian pasar tumpang menandakan kami sudah dekat dengan kota malang. Keramaian pasar tumpang dengan pertelon atau persimpangannya disertai tugu-tugu tapal batasnya. Selang dua jam kami sampai di stasiun kereta api.


"Mas, kalaupun ada apa-apa, jangan sampai kau membocorkan kejadian diatas, tetap jadi manusia yang benar-benar manusia",


kata suko dalam perpisahan kami.


Dan kami pun menaiki kereta malam itu..


Aku...Aku doni masih tidak percaya sahabatku..


Aku...Aku tak percaya kini harus pulang tanpa dirimu kawan..


"Ayo mas, kita pulang", 


ucap petricia masih menyeka air matanya.


Kami mengantar petricia, teman perempuan kami naik angkutan dengan kode AG biru menuju terminal bus dan pulang ke kota semarangnya..


"Mas, saya balik dulu..", 


pamit petricia.


"Iya.. kamu hati-hati ya..", 


balasku.


Tak banyak yang dikatakan petricia. Yang kulihat hanyalah goncangan hebat hatinya dan peluh yang masih menetes, dan berusaha ia seka agar tak mengalir. 


Kami memasuki stasiun. Masuk diantara ramai ocehan manusia dan aktivitasnya. Suara pedagang asongan dan pengamen jalanan serasa mengucapkan salam perpisahan.


"Hei bung, mari kita jalan kedalam. Habis ini kereta kita datang..", 


ajak salah satu temanku.


"Iya, mari bung", 


jawabku singkat. Sesingkat nasib dan jalan singkat yang ditempuh steve di mahameru.


Kenapa steve?


Kenapa kau lakukan ini padaku sahabat..


Sekuat tenaga aku berusaha selalu menghiburmu kawanku..


Plug kembali menetes..


Seirama air tuhan yang menetes membasahi jalanan..


Air hujanpun seraya mengisyaratkan..


Bahwa aku..


Aku.. sangat kehilangan..


Kuluapkan tangisanku bersama hujan..


"Ayo bung kita pulang",  


kata temanku seraya merangkulku, mengajakku memasuki peron.


Kulewati sekumpulan orang yang hilir mudik dengan kesibukannya. Juru parkir bernyanyi lantang dengan suaranya. Dan pedagang asongan dengan mulut promotor manisnya..


Tutt!!! Tut!! Tuuutttt!!!!!!


Suara klakson lokomotif nyaring menyapu telinga kami. Suara itu mungkin mampu meredam telinga kami, tapi tidak dengan hati kami.


Hati kami yang masih berteriak dan berkoar.Ya Tuhan..


Maafkan kebohonganku..


Maafkan ketidak jujuranku..


Maafkan aku Tuhan..


Kami menaiki lokomotif tua itu. Ya.. seperti katamu kemarin kawan, kotak besi yang bertarif ekonomi. Murah seperti kopaja bobrok yang kau naiki tiap hari.


Kami terlelap, kami sangat kelelahan. Bukan hanya badan yang lelah di diri kami, tapi jiwa, emosi dan duka air mata membuat lengkap kelelahan di diri kami.


Tiba-tiba..


"Hei bung, elu kenapa? Jadi laki kok lemah.. Hahahaha..!!", 

__ADS_1


ucap seseorang. Suara itu tak asing, suara itu dari belakangku, suara seseorang yang sering bercanda denganku.


"Gak usah cengeng lu.. Gua gak suka ditangisi. Selama tinggal kawanku..", 


ucap nya.


Ya, dia..


Sahabatku steven dilorong kereta itu..


Tapi..


Tapi kenapa kau tampakkan wujud itu temanku..


Wujud yang justru membuatku takut..


Kau masih memakai tali yang melingkar dilehermu.Steven sahabatku..


Maafkan aku yang tak mampu menjagamu..


"Bung.. wooiiii.. don, doni!!", 


suara yang ramai.


Sangat ramai memenuhi telingaku. Bau balsem menusuk hidungku sampai mencekik tenggorokanku.


Haahhh??? Aku membuka mata, aku sudah dikelilingi banyak pasang mata. Mata yang memandangku penuh khawatir.


Kuusap bola mataku dan muka kusutku..


"Bung, minum dulu", 


temanku memberikan air minum dengan penuh rasa cemas.


"Kau tidak apa-apa bung?', 


tanya yang lain.


Spontan air kuteguk dan kuhabiskan. Aku yakin aku tidak haus, tapi entah kenapa aku seperti orang yang kehausan dan kepanasan.


Tiba-tiba..


"Mas sudah ya, iklaskan.. itu jalan yang dia pilih, jangan salahkan dirimu. Dia sudah dapat yang dia inginkan, ikhlaskan..", 


Timbul banyak tanyaku terhadap lelaki tua itu. Tapi lagi-lagi aku tak mendapatkan jawaban. Perjalanan kurasakan begitu lama dalam kotak besi ini. Aku tak bisa tidur lagi. Hanya bisa memandang pemandangan dari balik jendela kotak besi tua ini.


Sampai kurasa..


Akhirnya kami tiba di pasar senen, jakarta. Was-wasku kembali beradu. Apa yang akan kukatakan pada keluarga sahabatku"


Mulutku membisu..


Nyaliku hanya sebesar debu..


Aku tak tahu apakah aku mampu..


Mampukah aku mengabarkan berita duka ini?


Takut..


Takut.. 


Dan takut..


Aku mati rasa..


Bahkan membayangkan ekspresi mereka saja aku tak sanggup..


Ya tuhan aku harus apa..


Aku naik bus kopaja bobrok menuju rumah keluarga sahabatku. Ya.. melewati jalanan metropolitan. Jakarta masih sama, kawanku. Kota yang keras dengan keadilan yang tak merata.


Benar katamu kawan.. Ibu kota, surga bagi yang bergelimang harta dan kuasa, tapi neraka bagi mereka yang tuna wisma. Banyak yang datang mencari peruntungan di ibu kota, tapi sayang sekali hanya diperkosa oleh ketidakadilan..


Ibu kota..


Sama saja..


Tempat mereka..


Tempat celoteh dan candaan yang mengaku berwibawa..

__ADS_1


Ya.. kota ini keras dan angkuh layaknya petinggi di istana sana..


Benar ucapanmu kawan..


Sampailah aku di rumah sahabatku. Rumah kecil dengan teras yang tidak terlalu luas. Rumah dipinggiran ibu kota, rumah sederhana di sudut kota jakarta.


"Permisi..", 


salamku pada orang dirumah itu.


"Iya.. sebentar..", 


balas seorang wanita yang belum terlalu tua. Ya, itu mama dari sahabatku steven.


Paras yang masih terawat tapi mulai banyak keriput diwajahnya. Pernah kudengar beliau banting tulang menjadi buruh rumah tangga orang kaya,


ya orang kaya tapi tak sekaya beliau dulu. Sangat sedih melihatnya, melihat keadaan keluarga steve akibat ulah papa steve yang menjadikan mereka seperti ini. Jatuh miskin dan terbatas ekonomi.


"Ehh.. nak doni, steven mana",


tanya mama steve. Dengan panggilan nama lengkap, khas panggilan seorang ibu kepada anak nya.


"Emm.. tante doni minta maaf sebelumnya...",


jawabku dan tiba-tiba dipotong oleh mama steve


"Hahh.. kenapa? Ada apa dengan steven don?",


tanya mama steve penuh bingung.


"Sebentar tante, saya mau bicara soal steve dulu", 


kataku kepada ibunda sahabatku, beliau hanya membalas dengan anggukan kepala.


"Saya kamari ingin mengabarkan tentang steve. Steve tante.. Steve hilang di semeru..",


jelasku lesu sambil hanya bisa menunduk dan penuh rasa bersalah. 


"Kamu jangan bercanda don..", 


kata mama steve terkejut dan lemas seketika.


"I..ii..iya tante, kami dan relawan sudah menyisir serta mencari keberadaan steve, tapi belum ketemu tante..", 


sambungku berat dan semakin merasa bersalah.


Orang tua mana yagn tak sedih..


Ibu mana yang tidak syok..


Semua orang akan sedih dan terpukul jika menghadapi kabar seperti ini. Maafkan aku kawan membohongi ibu yang telah melahirkanmu, tentang keadaanmu, tentang apa yang sebenarnya terjadi di semeru


"Steven!! Steveennn!!!", 


teriak mama steve.


Mama steve lemas masuk kedalam rumah. Seketika tangispun pecah. Pecah menjadi seisi rumah. Lagi-lagi aku tak kuasa melihat kesedihan..


Maafkan aku sahabatmu..


Tanpa pamit aku meninggalkan rumahmu kawanku..


Langkah goyah penuh resah..


Langkah seorang yang penuh dengan dosa, kesedihan dan kehilangan..


Sudah lama sahabatku.. Sudah lama kusimpan rahasia ini didalam sebuah brankas tua tanpa ada satupun manusa yang mengetahuinya. 


Maaf kawanku, aku terpaksa membongkar setiap guratan tinta diary mu..


Steven.. kawanku.. sahabatku..


Maafkan kawan dan sahabatmu ini..


Aku masih merindukanmu sahabat..


Sampai kapan kau akan tetap abadi dalam kenanganku..


Kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku..


Dari sahabat yang selalu merindukanmu..

__ADS_1


Doni


BERSAMBUNG


__ADS_2