Cerita Pendek

Cerita Pendek
Ikut atau Tidak (Part 2)


__ADS_3

****Kringg... Kringg.. Kringgg**


Panggilan Tidak Diketahui**


"Apa mungkin dia lagi? Tapi untuk apa?" Kata Kasih menatap layar ponselnya


"Angkat atau tidak ya? Tapi apa ayah? ada hubunganya dengan dia?" Kata Kasih masih tidak bisa menerima kenyataan


"Hallo! Kamu siapa? Beraninya kamu membunuh ayahku. Kamu! Kamu keluar sekarang juga!" Kata Kasih yang emosi


"Ettt... Etttt sayangku, jangan marah marah. Aku berbaik hati menghilangkan nyawa seorang yang sudah bertahun tahun menjadi beban untuk mu dan kakak kamu bukan?Ha..Ha..Ha"


"Kamu beraninya, aku bakal lapor polisi sekarang juga." Kata Kasih


"Lapor polisi? Dengan bukti apa sayang?"


"Kamu!!!!" Kata Kasih


"Tenang sayangg, Kembali saja kepada permainan kita berdua."


"Gak, Gak aku gak akan main lagi permainan bodoh mu. maksud ku kemaren aku tidak ingin bermain dengan kamu. Bukan untuk menjawab permainan bodohmu." Kata Kasih


"Eh.. ehh.. ehhhhh ternyata sayangku ini lebih cantik jika terlihat marah."


"Sialan... Kamu Sialan" Kata Kasih membentak dan memarahi penelepon itu


"Hmmm... Hmmm keluar kamu keluar." Kata Kasih


"Ikut atau tidak?"


"Brengsekk" Kata Kasih


"Ikut atau tidak?"


Kasih hendak mematikan teleponnya, layar nya dia tekan tekan dengan jarinya sambil merasakan panas yang menyatu dengan amarahnya kali ini, tapi semua percuma entah apa yang dilakukan penelepon itu. layar teleponnya tidak bisa untuk di matikan.. Dia bingung.. Dia gelisah.. Bergerutu dalam hati nya "Ingin sekali aku membunuhmu."


Dia menempelkan Hp itu pada telinga nya kembali ternyata penelepon itu terus berkata "Ikut atau Tidak"


"Sial, kau berisik sekali." Kata Kasih


"Ikut atau tidak."


"Baiklah, Aku akan menuruti permintaan mu untuk terakhir kali. Setelah ini aku tidak akan pernah lagi mengangkat telepon dari mu." Kata Kasih merasakan kesal yang teramat sangat


"Ikut atau tidak?"


"Ya saya Ikut!" Kata Kasih


"Ya begitu lebih baik, Sekarang kamu pergi ke arah pertigaan didepan mu. kamu diam di dekat lampu ke tiga. Jika lampu hijau kau diam, Jika lampu merah kau juga diam. Jangan bergerak dan lihat saja.. Setelah sampai aku akan menghitung dari 10 sampai 1. Setuju?"


"Ya.. ya.. ya.." Kata Kasih dengan nada malas


Tapi dihatinya dia Merasakan rasa khawtir dengan ucapan penelepon itu. Dia takut dia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, membuat seseorang terbunuh karena Penelepon tersebut yang tidak sengaja melibatkan dirinya.. Tapi mau tidak mau semoga ini adalah yang terakhir.. Dia mengikuti kemauan penelepon itu. Dia pun berjalan ke tempat yang penelepon itu sebutkan.. Berjalan ke arah pertigaan berhenti dilampu ketiga, hanya berdiam saat tanda merah dan hijau menyala...


"Aku sudah sampai." Kata Kasih


"Aku tau, Aku melihat mu."


Dia melihatku? Maka dia saat ini mungkin saja berada didekatku. Dia mencari kesana kemari. melihat kanan dan kiri. berputar tidak banyak orang disini. tidak ada yang menelpon atau berbicara sendiri. siapa orang ini? aku harus tau atau aku akan lapor polisi kali ini.


"Mencariku?10... "


"Tidak akan ketemu. 9..."


"Diam, 8..."


"Lihat kesebelah kananmu, 7..."


"6"

__ADS_1


"5"


"4"


"Hampir selesai sayang.. 3"


"2"


"Dan."


**Bommmmmm.. (Suara ledakan dijalanan macet lampu berwarna merah)


tuttt..tuttt..tuuuut**


"Ya Tuhan!.." Kasih


"Ledakan?"Kata kasih menangis seketika,


"Pantas dia menyuruhku untuk diam disini. Menyaksikan ledakan yang mengerikan ." Kata Kasih


Seketika dia menangis sejadi jadinya terbujur lemah tal berdaya, merasa bersalah dengan apa yang terjadi.


"Bresekkkk... Sialan.." Kata Kasih berteriak dengan kerasnya


Orang orang berlarian menjauhi tkp kejadian, tapi sebaliknya dia malah merasakan tidak bisa bergerak sama sekali... Dia terus menangis hingga kepalanya merasakan sakit teramat yang membuat akhirnya pingsan...


------------------


Kasih tersadar...


"Hmmm.. Hmmm" Kata Kasih bergumam mulai sadar dari pingsannya


"Awww.. Dimana ini?" Kata kasih bertanya sendiri


Ada orang yang berlari kearahnya, rupanya itu Rendra kakanya..


"Ka, Kasih dimana?" Kata Kasih


"Rumah sakit, Istirahat saja.. Kamu masih syokk melihat kejadian itu.." Kata Rendra


"Kejadian? Oh ya.. Aku inget" Kata Kasih


Tokkk.. Tokkk.. Tokkk


"masukk" Kata Rendra


Oh rupanya Wulan berkunjung melihat keadaan ku kali ini...


"Hallo! Kasih sayang kuuuu..." Kata Wulan


"Cepat sembuhh, Liat siapa yang datang selain aku." Kata Wulan


"Hmm.. Siapa?" Kata Kasih


Dia yang berada diluar berjalan kesamping Wulan...


Pa Hendri, Orang itu Pa Hendri...


"Pa Hendri?" Kata Kasih


"Hi, Kasih! Cepat sembuh. Ini ada sedikit oleh oleh semoga suka" Kata Hendri yang membawa seranjang buah buahan yang biasa digunakan seorang teman yang menjenguk teman lain yang sedang sakit


"Ehh.. Terima kasih, Silahkan duduk pa." Kata Kasih


"Ka ini Pa Hendri atasan aku di kantor, Dia juga yang kasih kepercayaan aku buat jadi sekertaris Bos." Kata Kasih


"Ohh... Ya saya Rendra, Kaka Kasih" Kata Rendra memperkenalkan diri


"Eh Hendri, Atasan Kasih dan Wulan." Kata Hendri bersalaman dengan Rendra

__ADS_1


"Kalau begitu, saya keluar dulu.. Kebetulan ada urusan lain. Wulan titip Kasih sebentar ya." Kata Rendra melangkah keluar


"Kaa.." Kata Kasih


Rendra memalingkan muka ke arah Kasih..


"Ya Kasih?" Kata Rendra


"Hati Hati ya." Kata Kasih


"Ahh pasti." Kata Rendra


Kasih takut dia kehilangan kakanya orang yang saat ini berada disampingnya, orang yang disayangi, dan keluarga satu satunya yang dia miliki..


Kaka nya sudah pergi meninggalkan ruangan Kasih.


"Pa Hendri terima kasih sudah menjenguk saya." Kata Kasih


"Tidak masalah." Kata Hendri


"Kasih, Mau tau gak tadi ya.. Pa Hendri.." Kata Wulan terpotong


"Ehhh Kasih saya akan segera bekerja kembali,, Wulan Mari ikut dengan saya saja pulangnya.. saya permisi." Kata Hendri yang menarik tangan Wulan Pergi dari tempat Kasih


"Ehhh... Baik hati hati dijalan Pa, Wulan." Kata Kasih sedikit berteriak Karena mereka yang sudah lebih dulu berjalan untuk pergi


Pa Hendri tiba tiba baik kepada ku, padahal biasanya dia adalah bos yang Dingin dan cuek kepada karyawannya bahkan gak pernah sedikitpun nengok Karyawan di perusahaan..


"Ah udah lah mungkin karena sempat." Kata Kasih


Dia juga memikirkan penelepon itu, Ada trauma didalam hatinya saat mengangkat telepon. Apa lagi sekarang dia sedang sendiri, bagaimana kalau dia menelpon lagi.. Apa yang harus Kasih lakukan?


Kringg..Kringg..Kringgg


Telepon? Telepon dari siapa?


Kasih merasakan getaran yang hebat didalam hatinya, Jantung yang berdegup kencang sangat takut untuk melihat layar hp yang sekarang ada digengamannya..


Kringg..Kringg..Kringgg


Dia memejamkan mata, Pelan pelan melihat layar hpnya..


"Hmmmm.. Hmmm.. Hmmm" Gumamnya


Wulan


"Hufttt... Wulan, Syukurlah... Hmm Tenang ok!" Kata Kasih


"Hallo! Kasih lama banget ngangkat nya, ngapain aja sih kamu?" Kata Wulan berteriak kepada Kasih


"Maaf... Tadi pipis dulu kebelet masa di tahan." Kata Kasih


"Ok gw maafin, Tadi ya Kaka gw pas gw tau lo dirumah sakit dia khawatir banget, malah minta ikut terus pas dijalan tadi dia beli buah yang tadi dia kasih ke lo." Kata Wulan


"Kaka lo? bukannya lo anak tunggal? Wath... Wath? Maksudnya? Pa Hendri?Ohhhhh jadi selama ini lo tuh adik nya Pa Hendri.. Oh gitu, gak pernah cerita terus tiba tiba bilang gini, okkk." Kata Kasih Kaget sekaligus bingung dengan pernyataan Wulan


"Ehhh, gw keceplosan.. Gw lupa! Abis kaka gw hari ini aneh banget tiba tiba jadi semangat ketemu lo. Dari semenjak lo yang masuk ruang rapat tiba tiba suka nanyai lo. Terus naik jabatan juga dia yang usulin ke bokap gw. Sorry gak maksud gak cerita, tapi gw sama dia emang ada perjanjian tertentu. Lo jangan bilang bilang siapa siapa ya.. Pleaseeee.. Gw Traktir deh nanti." Kata Kasih memohon kepada Kasih sahabat nya dari bangku kuliah


"Oh jadi lo mau nyogok gw gitu? Jadi sekarang Lo mau belajar nyogok... Ok gw sedia di sogok sama lo... Tapi, Traktir nya ditempat yang enakkkkkkkk banget ya." Kata Kasih


"Huhh, Lo dikirain gak mau taunya mau juga.. Yaudah gw tutup ya sampai ketemu pas lo sembuh." Kata Wulan


"Bye!" Kata Kasih


Wulan menutup teleponya, sedangkan Kasih masih memikirkan penelepon itu.. Berfikir siapa orang yang akan mengancamnya sedemikian rupa dan membunuh orang orang yang tidak bersalah..


Apa selama ini dia mempunyai musuh atau ada orang yang iri kepadanya? Kasih memikirkan semuanya...


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2