
Kasih sudah keluar dari rumah sakit, dan juga dia sudah pergi bekerja untuk beberapa hari. Syukurnya penelepon itu tidak menghubungi nya lagi.
Sekarang kasih dan Wulan sedang berada di rumah kasih untuk mengobrol.
"Jadi kenapa lo nyembunyiin kalau Pa Hendri adalah kaka kandung lo?" Kata Kasih yang sedang berada di meja belajarnya
Sedangkan Wulan duduk di tepi ranjang milik Kasih, mengambil semangkuk cemilan yang bibi buatkan untuknya dan Kasih.
"Emmmm,,, gak apa apa." Kata Wulan yang memutar matanya karena takut menatap mata Kasih
"Ah dasar, kenapa jujur." Kata Kasih
"yaudah lah lama lama juga lo tau, jadi gw di suruh magang diperusahaan keluarga gw sendiri biar suatu saat gw bisa mandiri. gak ngandelin mereka. Jadi kaka gw dan gw sepakat kalau diluar kita bukan keluarga. makannya gw pindah ke kost kostan. Kemaren aja pas gw pulang kerumah baru ketemu kaka gw nah panik deh dia tentang lo." Kata Kasih menjelaskan
"Ohhh.." Kata Kasih
"Anjing lo, gw ngomong panjang lebar lo jawab ohh aja. Sialan..." Kata Wulan
"Eh santai, santai silahkan dimakan lagi cemilannya. Gw juga mau." Kata Kasih berjalan mendekati Wulan mengambil bagian dari cemilan yang enak itu
"Eh Wulan gw mau cerita, tapi lo boleh percaya atau enggak. Jangan bilang sama siapa siapa juga gw takut ternyata orang itu orang terdekat gw." Kata Kasih yang membantingkan badannya ke kasur hingga posisi terlentang melihat atap langit kamarnya
"Cerita apaan?" Kata Wulan
"Janji gak cerita sama siapa siapa?" Kata Kasih yabg bangun dan hendak nyodorkan jari kelingking tangan kanannya untuk perjanjian.
"Janji" Kata Wulan yang juga menyodorkan jari kelingkingnya
Kasih menceritakan kejadia demi kejadian yang menimpanya.
"*****, Demi apa lo?" Kata Wulan
"Kan gw udah bilang jangan teriak, Beneran. Gw takut tapi untung beberapa hari ini dia gak nelepon gw." Kata Kasih
Mereka berbicara seharian, hingga malam pun tidak terasa. sekitar pukul 10.00 malam Wulan dijemput oleh Hendri yang kebetulan sudah tau tentang Wulan yang keceplosan.
Tokk...Tokk..Tokk
Rendra membukakan pintu.
"Ehhh Pa Hendri, Mau menjemput Wulan ya?" Kata Rendra
"Iya Pa, Boleh dipanggilkan." Kata Hendri
"Gak usah repot repot ka Rendra, Aku udah disini" Kata Wulan yang muncul dibelakang punggung Rendra
"Ah ni ada." Kata Rendra
"Ah ka Rendra aku pulang dulu ya, Kasih aku balik ya. Kamu hati hati. Dahh." Kata Wulan
"Kalau gitu saya permisi dulu pa Rendra, Kasih. Terima kasih sudah mengizinkan Wulan main disini. Marii.." Kata Hendri yang menuntun adiknya kemobil dan Pulang
Rendra menutup pintu nya.
"Ka aku ke kamar dulu ya." Kata Kasih
"De kamu belum makan kan, Makan yu kaka udah masak." Kata Rendra
"Kaka masak? udah lama banget aku gak rasaian masakan kaka. Kasih mau banget. Hayu ka." Kata Kasih
"Yu, Dasar kucing rakus." Kata Rendra
Memang sudah dari kepergian ayah nya, Rendra tidak pernah lagi memasuki dapur. Biasanya Dia akan memasak untuk Ayah dan Adiknya ketika Ayah nya masih ada. Tapi sejak pergi mereka hanya mengandalkan Asisten rumah tangga untuk semua keperluan mereka.
"Ehhhhh masakan kaka enak banget" Kata Kasih yang bersemangat untuk menyantap makanan enak yang kakanya buat
"Sayang ya, Ayah udah gak ada." Kata Kasih Datar
Rendra yang mendengarkan nya tiba tiba menghentikan makannya dan mengerutkan dahi.
"Kan masih ada kaka." Kata Rendra
"Ya Kaka terbaikkkk..." Kata Kasih
"Ngomong-ngomong kayanya Wulan sama Hendri perhatian banget ya sama kamu?" Kata Rendra
"Iya, Pa Hendri kayanya suka sama aku. Kalau aku denger dari Wulan. Tapi aku kan cuma bawahan nya aja." Kata Kasih
"Ohh gitu, Kaka seneng kamu bahagia" Kata Rendra
"Kasih kenyang ka, Kasih cuci piring terus ke atas ya. Ngantuk." Kata Kasih
"Hmm.. Gak usah, langsung tidur aja sana." Kata Rendra
__ADS_1
Kasih mencium pipi kaka kesayangannya dan segera pergi ke atas untuk tidur..
Memang sedari kecil, Rendra selaluenjaga Kasih dengan penuh perhatian bahkan setiap saat Rendra selalu mengirim pesan kepada Kasih untuk selalu berhati hati. Hingga saat dewasa seperti sekarang, Tapi kebiasaan berkirim pesan dengan sang adik mulai memudar sejak mereka berdua sibuk dengan perkerjaan masing masing. Kaka yang mengurus perusahaan Ayahnya dan Adiknya yang bekerja diperusaan lain, Untuk bertemu saja terkadang mereka berdua tidak sempat.
----------------
Dikantor!
"Pagi Kasih." Kata Wulan
"Pagi, Udah nyampe duluan aja yang punya...." Kata Kasih terpotong setelah wulan menempelkan jari telunjuk di bibir Kasih
"Sttttt.... jaga rahasia dong." Kata Wulan
"Baik bu bos, Kenapa ada apa?" Kata Kasih
"Liat ini" Kata Wulan menunjukan Pesan singkat yang diterima nya Pagi ini
"Jangan ikut campur urusan gw dan Kasih?" Kata Kasih membaca pesan di hp Wulan
Mereka berdua saling menatap.
"Ahemm.. Hemmmm waktunya kerja tolong jangan ngobrol apa lagi main hp." Kata salah satu senior dikantor
Wulan langsung meninggalkan meja kerja kasih untuk kembali ke tempatnya.
-------------
Sekitar jam setengah Satu siang.
"Permisi Mba Wulan, ini ada kiriman paket atas nama Mba Wulan." Kata Security
"Tapi, Saya gak pesen paket. Apa lagi dikirim ke kantor." Kata Wulan
"Saya hanya menyampaikan mba." Kata Security
"Oh, Makasihh.." Kata Wulan yang menerima paketnya itu
Security pun meninggalkan kantor..
Wulan penasaran dengan isi dari paket tersebut...
*Klakk.. Klakk*
"Aaaaaaaaaaaaaaaa...." Kata Wulan berteriak sekeras kerasnya dan menangis sejadinya
"Apa kenapa?" Kata karyawan lain
Kasih menghampirnya..
"Apa kenapa?" Kata Kasih yang memeluk Wulan karena tau Wulan sangat ketakutan
"Ituuuuu... Ituu isinya." Kata Wulan yang menangis menunjuk kearah kotak paket yang diberikan oleh security tadi
"Apa???" Kata Kasih yang berjalan pelan pelan sambil memeluk Wulan dan melihat isinya
"Astaga... Itu kan... Itu kan Miaw Kucing kamu kan." Kata Kasih kepada Wulan
"Iya dia mati Kasih, Siapa yang ngelakuin nya..." Kata Wulan yang terus menangis
"Panggil Security yang tadi kirim paket, cepat cepattttt tolong." Kata Hendri yang sebelumnya tau kejadian yang menimpa adiknya
"Kakak... Kakak Miaw kaka... Wiaw" Kata Wulan yang berlari memeluk Hendri berpaling dari Kasih
"Iya, Iya Tenang tenang.." Kata Hendri
Kasih yakin, pembunuh itu adalah orang yang mengancam Wulan pagi ini... Benar saja mungkin pembunuh itu ada disekitar Wulan dan Kasih sepanjang masa.
Security itu pun datang dengan Tangan bergetar dan Hati yang tegang...
"Per, Permisi Tu..Tuan ada apa?" Kata Security
"Kamu yang mengatar paket kepada Wulan?" Kata Hendri
"Iyyyy,,, Iya Tuan." Kata Security
"Dari mana paket nya? Siapa yang kirim?" Kata Hendri
"Saya menemukannya di Pos satpam Tuan, Ja... jadi saya berfikir itu pa..paket yaa.ngg maaau dii kirim keee mbba Wuulan Tuuaaan" Kata Security yang terus terbatah batah
"Ok kamu kembali bekerja." Kata Hendri yang tegas kepada karyawannya
"Semuanya bubar, Kecuali kasih ikut saya sekarang." Kata Hendri memberi perintah
__ADS_1
Mungkin Hendri akan marah kepada Kasih karena sudah melibatkan Adik kesayangannya..
Wulan beristirahat diruang medis, Sedangkan Kasih sedang di introgasi oleh Hendri untuk menanyakan detail kejadian hari ini.
"Kasih, Saya Kaka Wulan. Dan kamu tau itu. Saya memang tertarik kepada kamu tapi kenapa adik saya jadi seperti ini." Kata Hendri menjadi tegas layak nya kaka yang sangat menyayangi adiknya
"Maaf Pa,, Eh ka .. Eh Pa ini salah saya." Kata Kasih
"Salah Kamu? Maksudnya?" Kata Hendri
Kasih menjelaskan semuanya, Yang terjadi padanya beberapa hari belakangan dan kejadian hari ini secara detail termasuk Wulan yang diberi pesan oleh orang asing.
"Baik saya mengerti, Saya percaya sama kamu. Saya akan mendukung kamu." Kata Hendri
"Makasih pa." Kata Kasih
"Seandainya tidak ada orang, Panggil saya Ka Hendri, Mas Hendri, Sayang juga boleh.. Jangan terlalu formal karena saya akan mengejar kamu dan melindungi kamu." Kata Hendri yang keceplosan
"Ahem ahemm jadi Adiknya gak akan dijagain lagi ya, mentang mentang punya calon pacar dan istri adiknya dilupain." Kata Wulan yang tersadar dan menguping pembicaraan Kasih dan Kakanya
"Emmm emmmm... Oh udah lah saya mau keluar dulu. Kasih tolong jaga adik saya." Kata Hendri yang berjalan pergi meninggalkan ruangan
Kasih menjaga Wulan sepanjang hari, dan meminta maaf atas kejadian yang menimpa nya sehingga melibatkan dirinya..
Kasih pun mengantarkan Wulan pulang kerumahnya..
Diapun berjalan sendirian di dekat rumah Kasih untuk menenangkan diri.
"Hufttt.. Hari ini berat" Kata Kasihh berbicara sendiri seperti biasa
Kringgg...kringg...Kringgggg
Lagi lagi nomber ini, Dia meneleponku lagi.
Tapi aku harus memberi perhitungan dengan orang ini yang sudah melibatkan Wulan keurusannya...
"Hallo! Kamu! Kamu yang bunuh kucing kesayangan Wulan kan! Kamu keterlaluan!" Kata Kasih
"Ehhh ehhh ehhhh tenang sayangg jangan marah marah, Sepertinya kamu sudah menerima hadiah yang aku kirimkan bukan? Eh bukan Hadiah untuk sahabat tersayang mu Wulan."
"Kamu Brengsek,, Tujukin diri lo kalau lo berani. Gak usah ngelibatin orang lain. Kalau lo mau bunuh? bunuh gw depan mata gw sendiri!!!" Kata Kasih memenuhi amarahnya
"NO NO NO bukan sekarang waktu aku membunuh kamu.. Akan ada saatnya nanti tenang sayangku.."
"Sekarang lo dimana!!!!" Kata Kasih
"Dimanapun! Sekarang mari bermain 2 putaran terakhir? Setuju!"
"Tidak setuju!" Kata Kasih
"Ouhh lumayan berani, Ikut atau tidak sayangku!"
"Blablablabla,,,gw gak denger." Kata Kasih
"Ikut atau tidak?"
"******* lo! Ikut, apa yang mau lo lakuin? masih berani apa lo sama gw" Kata Kasih berteriak
"Waw berani sekali Sayangku kali ini.. Emm tenang aku bakal ngasih permainan yang menyenangkan kita tebak tebakan kalau kamu berhasil menebak tempatnya, semoga kamu tidak terlambat sayang."
"Bacot lo!" Kata Kasih kesal
"Oh tidak aku akan terbunuh,,, Disebuah Tempat yang sangat menyenangkan rumah besar, Taaapiii ibuku.. Ibuku meninggalkan ku saat aadiikku dilahirkan... Aku sangat menyayangi adikkuuu."
"Kaka,,, Ka Rendra. Lo apain ka Rendra?" Kata Kasih yang berlari kembali menuju rumahnya untuk melihat kaka kesayangannya
"Kaka... Kaka... Kaka dimana... Kaka Kaka" Kata Kasih berteriak dirumanya memanggil kaka kesayanganya
Dorrrrrrrr..
"Kakaaaa." Kata Kasih berteriak berlari ke arah ruang belajar tempat ayah dan kakanya biasa bekerja
"Kaka.. Kaka Kaka" Kata Kasih mrangkul kakanya yang tertembak dibagian perutnya
"Tolonggg... Tolonggg Bibi Bibi cepatan." Kata Kasih berteriak
"Kaaa.. Kaa... Kasihhh kaka... kaka sayang kamu." Kata Rendra yang pingsan karena kekurangan darah
"Kaka hayu kerumah sakit hayuuuu.." Kata Kasih yang sudah menopang kakanya pergi kerumah sakit
Keesokan harinya, Polisi datang mengolah tempat tkp. meng introgasi kasih dan melakukan penyelidikan sepanjang hari hingga 2 minggu lamanya. Polisi tidak menemukan apapun sebagai bukti. hanya ada kaca yang pecah karena peluru dan peluru yang tersisa ditempat mungkin orang itu berdiri, sepertinya pelaku adalah orang propesional sehingga dengan mudah membersihkan barang bukti..
Beberapa minggu kemudian juga Kakanya sembuh dan dapat beraktivitas kembali...
__ADS_1
Bersambung...