Cerita Pendek

Cerita Pendek
Ikut atau Tidak (Episode terakhir)


__ADS_3

Beberapa minggu terakhir aku dan Ka Rendra menjadi lebih dekat.. Bahkan hubungan aku dan Pa Hendri juga semakin menjadi lebih dalam.. Emmm maksudnya semakin saling mengenal..


Malam ini aku, Ka Rendra, Wulan dan Pa Hendri mengadakan makan malam bersama.


"Ka, Mereka belum datang." Kata Kasih


"Iya tunggu saja." Kata Rendra


"Nah itu mereka, Ka Hendri. Wulan sebelah sini." Kata Kasih memanggil Hendri dan Wulan


"Hai, maaf ya telat tadiii.." Kata Wulan yang terpotong


"Tadi, Wulan dandannya lama gitu." Kata Hendri yang memotong pembicaraan adiknya


"Mana ada?, yang ada." Kata Wulan lagi lagi terpotong


"Udah, Udah kita pesen aja. Silahkan Pa Rendra, Kasih duluan." Kata Hendri


Wulan melirik kakanya yang dari tadi seperti salah tingkah dihadapan Kasih.


"Huhh.. Udah ini beliin aku mobil keluaran terbaru ya, Atau aku bilang ayah kalau kaka tadi dikamar mandii." Kata Wulan yang berbisik


"Sttttt,ya ya kaka beliin. Kaka beliin" Kata Hendri yang berkata pelan


Dasar punya adik yang suka masuk kamar orang, gak ngetok pintu dulu lagi.. Gw ketauan kan lagi latihan ngelamar kasih depan cermin.


Setelah makan malam mereka berbincang bincang.


"Pa Rendra, Saya mau berbicara sesuatu yang serius." Kata Hendri


"Maksudnya Pa? Sesuatu apa ya?" Kata Rendra


"Ya, saya ingin melamar Adik Anda Kasih." Kata Hendri


"Ehh, Bagaimana? eh maksudnya terserah kepada adik saya saja. Saya Mendukung apapun yang terbaik adik saya. Kasih Bagaimana?" Kata Rendra


"Eh gimana ya? Kalau bisa mungkin Minggu depan ya." Kata Kasih


"Hah? Serius lo nerima kaka gw. Lo jadi kaka ipar gw gitu? Ah awas lo ya ka nyakitin temen gw. gw hapus dari daftar keluarga." Kata Wulan


"Kalau kamu berani hapus, Kamu juga gak mau mobil baru kan?" Kata Hendri mengancam


"Eh iya ya.. Jangan dong." Kata Wulan


------------------------------


Tempat Kerja.


"Kaka ipar, masih dateng buat kerja ya?" Kata Wulan menggoda Kasih


"Apaan si lo, Eh syukur deh yang.." Kata Kasih terhenti saat ingat bahwa seharusnya dia tidak lagi melibatkan Sahabatnya itu


"Apa? Oh ya syukur deh.. Eh nanti pulang gw gak bisa nemenin lo beli baju. Gw disuruh nemenin mama nyari barang buat lamaran lo." Kata Wulan


"Makasih banget ya! Gak masalah." Kata Kasih


----------------


Hari lamaran


Kasih sudah bersiap dari tadi. Dia gelisah, Dia takut kalau penelepon itu meneleponnya saat ini.


tokk..tokk...tokkk


"De kaka masuk ya." Kata Rendra


"Iya ka." Kata Kasih


"Adik kaka yang cantik, Akan dilamar dan menikah." Kata Rendra yang mengeluarkan air mata


"Kaka jangan nangis, Kasih bakal selalu ada buat kaka." Kata Kasih menenangkan kakanya

__ADS_1


"Waktu dulu Ibu, Terus Ayah, Dan kemudian kamu juga bakal menikah, ninggalin kaka. Kaka sendiri." Kata Rendra yang mengusap air matanya


"Kaka Gak pernah sendiri, ada kasih." Kata Kasih


"Ya kasih selalu ada buat kaka." Kata Rendra yang memeluk adiknya


Kringg... Kringgg...Kringgg


"Eh kamu ada telepon. Angkat dulu, Kaka keluar ya." Kata Rendra


Rendra meninggalkan Adik nya sendirian.


"Apa?" Kata Kasih yang kaget


"Nomber ini lagi, dikeadaan seperti ini? ya Tuhan. Aku harus apa?" Kata Kasih yang gelisah mondar mandir kesana kemari


"Hallo!" Kata Kasih


"Hai sayang, Kamu akan dilamar bukan?"


"Terus apa urusannya sama lo?"Kata Kasih


"Baik aku akan menyerah, Mari bermain putaran terakhir?"


"*******." Kata Kasih


"Oh sayang ku sexy ketika mengumpat. Jadi bagaimana? Ikut atau tidak?"


"Males.." Kata Kasih menutup teleponya


"Hufttt" Kata Kasih, Dia membanting diri kekasur dalam posisi duduk.


Ingin sekali rasanya mengacak ngacak rambutanya. Tapi dia sudah menatanya dengan rapi. Gaun putih untuk lamaran pun sudah sedikit kusut karena terus diremasnya karena geram.


"Oh Tuhaaannnnn!!!!" Kata Kasih berteriak dikamar


kringggg...kringggg...kringggg


"Hallo!" Kata Bu yanti.


Asisten rumah tangga dirumah kami


Kasih berjalan keluar mendengarkan bu yati yang sedang menelpon. Ntah mengapa hati nya belum saja tenang karena penelepon.


"Oh baik, Sebentar." Kata Bu Yati


Bu Yati melihat ke arah atas tepat aku berdiri.


"Mba Telepon!" Kata Bu Yati


"Iyyyy..Iya." Kata Kasih


Kasih menuruni tangga memakai sepatu tinggi, Memakai gaun putih bersih yang indah.


"Huftttt kenapa Hendri dan Wulan belum sampai." Kata Kasih didalam hati


Dia takut mereka kenapa kenapa, Apa lagi penelepon adalah orang yang sangat misterius


"Haaaallo?" kata Kasih


"Kamu menutup teleponku sayang? Kamu tau kenapa Hendri belum datang? Aku yang mengaturnya. Sekarang kamu memilih untuk Ikut atau Tidak? Jika kamu ikut kamu akan menyelamatkan nyawa mereka."


"Hmm.. sialan aku diancam lagi..." Kata Kasih di Dalam hati


"Baiklah, Aku ikut." Kata Kasih


"Karena hari ini adalah hari kamu dilamar, dan aku sudah bosan dengan permainan kita. Maka akan aku Beri tahu siapa aku. Tapi kamu harus mengikuti arahanku. Kita akan bertemu. Sampai jumpa!"


Ting....


pesan masuk dari seseorang tidak dikenal.

__ADS_1


"Aku akan bercerita sedikit cara membunuh Ayahmu!


Hari ini aku dan Ayah mu pergi untuk bertemu klien di restoran pelangi. Makan Malam bersama klien disana.. setelah selesai aku mengantarkan Ayah mu pulang. Kami segera masuk keruang kerja karena kata Ayahmu ada sesuatu yang harus dibicarakan. Ternyata Ayahmu sudah tidak tahan dengan hidupnya, katanya mungkin beberapa hari atau bulan lagi dia masih hidup.


Kamu tau apa yang lebih menyebalkan?


Dia membagikan harta warisannya!


Dan apa yang terjadi? Dia membagi mu lebih banyak dibanding kakamu sendiri!!! Dia beralasan bahwa Kakamu sudah mempunyai perusahaan sendiri. Menyebalkan bukan?


Maka dari itu aku menyimpan racun tak berbau dan berwarna diminumannya...


Aku tidak salah bukan? Dia juga akan mati cepat atau lambat.. Aku hanya membantunya.. Tak ku sangka racun untuk jantung nya berjalan dengan cepatttt.. Aku sangat bahagia..


Sudah bisa tertebak siapa aku? Tunggu Masih ada selanjutnya!"


"Hah? Kak Ka? Bohong ini semua gak bener. Dia mau adu domba aku sama kaka. Gak mungkin.. Gak gak mungkin kaka kan?." Kata kasih


"Kaka.... Kaka" Kata Kasih memanggil nama Kakanya


"Bi, Kaka dimana Bi." Kata Kasih


"Ruang kerja mba." Kata Bi Yati


Kasih tampaknya sangat terkejut, Panik bercampur aduk perasaannya..


Dia menangis, sejalan sambil memanggil nama kaka yang sangat dia cintai..


Dia tidak menemukan kakanya, Dia hanya menemukan selembar kertas.


"Oh adikku tersayang, kamu pergi keruang kerjaku? Maka sangat penting bagimu untuk mengetahui alasan alasan aku melakukan ini. Oh oh Jangan repot memikirkannya ... Aku Akan memberitahumu..


Pertama, Kau adalah penyebab kematian Ibu ku.


Kedua, Kau merebut Posisi ku sebagai anak kesayangan Ayah.. Aku sedih sekali melihat ayah begitu menyayangimu..


Ketiga, Aku fikir setelah Ayah mati, Hanya ada aku yang perduli padamu.. Taaappiii.. Hendri Dan Wulan ternyata menyayangimu, Aku tidak suka itu. Kamu mengambil semuanya.. Aku?? Aku tidak mendapatkan apa apa.. Ketika Kamu melihat bom meledak, Aku yang meledak Kannya, Dan menjadi pahlawan untuk adikku tersayang.. Keren bukan???


keempat, Kau akan menikah dengan orang lain??? Aku sediri disini..Aku kesal kau dilamar oleh orang yang kau cintai, ***sedangkan aku? Orang yang kusayangi tidak pernah mencintaiku. Bertapa beruntungnya kamu. Maka dari semua alasan yang ku jelaskan!!!


Kamu harus Mati***!!"


"Hah? Hehhh Hehhh Hehhh" Nafas Kasih terengah engah


"Kaka.. Kaka.. Aku sangat mencintamu.. Kakak Kaka" Dia berteriak didalam ruang belajar


"Kaka.. Kaka.. Kaka aku mencintaimu" Kata Rendra yang berjalan ke arah Kasih


"Kaka, Kaka kenapa? Kaka marah sama kasih?" Kata Kasih polos


"Marah? Tentu, Bertahun tahun aku menanggung beban menjaga mu. Menemanimu.. Kau tau? Ayah memberikan warisan mu lebih besar dari warisanku.. Aku kira kau akan menderita setelah ayah pergi.. Aku akan menjadi orang satu satu nya menyayangimu sehingga aku bisa memanfaatkanmu.. Tapi???? Kamu dikelilingi orang orang yang menyayangimu. Apa itu adil?" Kata Rendra


"Kaka.. Kaka Kasih sayang kaka.. Semua orang sayang kaka." Kata Kasih


"hah! terlambat Aku lebih suka melihat mu mati...." Kata Rendra yang menyodorkan pistol ke arah Kepala kasih dari jarak satu Meter


"Mari berhitungg, 5 hingga 1 dan permainan ini berakhir" Kata Rendra


"5"


"4"


"3"


"2"


"1"


Dorrrrrrrrrr!


•Tamat!•

__ADS_1


__ADS_2