
Ini kisahku, Kisah seorang anak laki laki yang ditelantarkan kedua orang tuanya. Aku hidup dijalanan, mungkin semenjak umur 2 tahun..
Aku ingat Saat itu aku pergi ke Kota Bandung bersama kedua orang tuaku, sepanjang jalan Ibu? tidak bukan, dia bukan ibu ku. Mana mungkin seorang ibu tega menelantarkan anaknya diKota Orang, Karena yang ku tau dari pengalamanku selama ini dijalanan. Mereka yang disebut "Ibu" adalah sosok malaikat untuk anak anaknya.
Aku sering melihat seorang anak kecil yang sedang menangis terus menyebut nama "Ibu", "Ibu" pun selalu datang untuk menenangkan atau memeluk anaknya. Tapi dia "Ibu" ku saat aku memanggilnya, menangis dipinggir jalan Kota Bandung.... kedinginan, Dia tidak datang sampai hari ini.
"Ibu" dan "Ayah" ku mengajak ku mengunjungi Kota Bandung 15 tahun yang lalu, aku bisa menghitungnya ketika aku sudah belajar berhitung dari Pa Dewa, seorang tukang sapu jalanan yang perduli pada anak anak jalanan seperti aku dan teman teman..
"Ibu" ku berkata bahwa dia akan berkunjung kepada sanak saudara disini, Aku setuju saja karena sudah lama aku tidak pergi berjalan jalan bersama kedua orang tuaku..
"Ibu"ku menggendong ku naik ke mobil, duduk samping "ayah" yang mengendarai mobil. Aku ingat waktu itu hari sudah malam , "Ayah" ku berkatanya agar tidak macet saat diparjalanan maka aku dan mereka pergi dimalam hari ..
Aku duduk dipangku "Ibu", "Ibu" bilang Tenang saja kembalilah tidur, saat sudah sampai nanti "Ibu" bangunkan.. Tidur anak ku sayang..
Hancur hati ketika mengingat kata kata terakhir yang "Ibu" katakan, Aku bahkan menjadi membencinya sejak hari itu hingga aku yang beranjak dewasa..
-------------------
Ah aku lupa nama ku Juna, begitulah Pa Dewa memberi nama untukku. Hidup di Kota Bandung sebagai pengamen jalanan, mengamen dari satu angkot ke angkot lain atau dari Satu bus ke bus lain, Ditemani temanku Gilang.
Aku bertemu dengan nya ketika aku berjalan untuk pulang kerumah Pa Dewa, Dia kabur dari rumah ketika orang tua nya memutuskan untuk bercerai, Gilang tak pernah menerima keadaannya dan memutuskan untuk pergi begitu cerita yang ku dengar darinya..
Aku merasa kami sama, tapi mungkin kami dipersoalan yang berbeda.
Umur 2 tahun aku di asuh oleh Pa Dewa. Dia mempunyai 2 orang anak, Istrinya memiliki hati yang baik. Mereka merawatku hingga umur ku sekarang...
Pa Dewa membawaku saat aku sedang menangis mencari "Ibu", saat itu Pa Dewa sedang membawa gerobak sampah hendak pulang ke rumahnya.. Dia melihatku dengan tatapan simpatik..
" Nak" Kata Pa Dewa melangkah mendekatiku
"Ibuuuuu" Kata Juna yang menangis
__ADS_1
"Ibu? Ibu kamu dimana? kenapa kamu sendirian? tersesat?" Kata Pa Dewa mencoba mencari tahu
"Ibuuuu" Kata Juna
Saat itu Pa Juna membawaku ke kantor polisi, tapi Pa Dewa membawa ku pulang karena merasa tak tega.. Setelah sekian lama Tidak ada yang mencariku atau khawatir kepadaku.
Usia 15 tahun, Aku merasa terlalu repot untuk Pa Dewa dan Istri nya untuk membiyai hidup ku sampai aku lulus sekolah.. Mereka memang tidak keberatan, tapi sudah terlalu banyak hutang budi yang aku peroleh dari kebaikan mereka.. Aku memutuskan untuk pergi, menjadi pengamen jalanan dengan persetujuan mereka, bagaimana pun Mereka adalah bagian terpenting dalam kisah hidupku ini.. Mereka memang melarangku, apalagi Bu Wati istrinya, Dia menangis melarangku untuk pergi.. Tapi aku memberikan pengertian, dan aku akan pulang sesekali.
Setelah aku pergi dari rumah Pa Dewa, aku hidup dijalanan. Tidur dari satu ruko ke ruko lain. Bertemu teman teman yang mungkin satu nasib denganku, Aku sering bertemu dengan Pa Dewa dia selalu memintaku untuk pulang kerumah karena tidak tega melihat aku seperti ini, mungkin dihatinya dan Istrinya sudah menganggap aku sebagai anaknya.. Dia selalu membawa makanan kesukaan ku cukup banyak, Katanya agar aku tidak menjadi kurus karena keluar rumah. Tapi aku terkadang membaginya kepada teman teman ku yang lain.
Sudahlah cukup perkenalannya, Mari teruskan...
--------------------
Runitas seperti biasa, Mengamen dijalanan....
"Bang ikut ngamen" Kata Gilang izin kepada kenek bus dan sopir
Untunglah beberapa supir angkot dan kenek sangat baik hari ini. Ah tidak tentu saja bang ucok memang baik kepada aku dan Gilang. Tapi terkadang mereka mengusir kami, hingga mendorong kami jatuh ke lantai..
"Assalamm'ualaikum, selamat siang.. Izinkan saya bernyanyi" Kata Juna yang meminta izin
jrengggg... jrenggggg... jrengggg
Gitar yang dibawa oleh gilang pergi dari rumah dipetik nya,
"Kata siapa aku cuek? Apa lagi gak mikirin kamu... Tiap hari aku selalu memikirkan kamu..." Kata Juna bernyanyi lagu Rizky Febian - Cuek (lagi kepikiran aja we atuh ni kumahanya da lagi suka sama rizky febian)
Sambil Juna memainkan Gitar dan bernyanyi, Gilang berkeliling menyodorkan Bungkus permen yang sudah diubah menjadi tempat uang.
"Terima kasihhh, Semoga rezeki Bapa/Ibu, Adik dan Kaka semua tergantikan berkali lipat. Terima kasih. Wassalamm'ualaikum.." Kata Gilang
__ADS_1
Mereka turun dari bus, menaiki bus lain dan angkot dari pagi hingga sore dan terkadang malam.
"Huftttt... Cape ya hari ini.. lumayan." Kata Juna kepada Gilang
"Iya Alhamdulillah, Sholat yu udah Isya." Kata Juna
Ya, mereka taat beribadah.. Pa Dewa mengajari mereka hal itu.. Apapun kegiatan mu, Jika sudah waktunya beribadah maka hentikan dan segera beribadah.. itu yang selalu dikatakan Pa Dewa
"Jun, Juna" Kata Pa Ustad memanggil
"Assamm'ualaikum, Ada apa Pa?"Kata Juna
" Waalaikumsalam, Juna kontrakan yang kemarin Bapa sebutkan sudah ada. Kamu bisa langsung tinggal disana. sama temanmu. Besok kamu kerumah saya ya, saya antar." Kata Pa Ustad, Pa Ustad memberikan Kontrakan Gratis kepada Aku dan Gilang karena telah membantunya merenovasi rumah. Dia juga adalah juragan Kontrakan di Kota Bandung
"Terima kasih Pa Ustad, Saya sangat senang.. Besok saya akan datang kerumah Bapa, Beserta Teman saya. Sekali lagi terima kasih" Kata Juna
"Sama sama nak Juna, Kalau begitu Bapa permisi, Wasalammualaikum" Kata Pa Ustad
"Baik, Silahkan.. Terima kasih.. Waalaikumsalam" Kata Juna
Diikuti Gilang yang dari tadi sudah menggenggam gitar kesayangannya dengan gemas..
"Yes, Kita punya tempat tinggal.. Alhamdulillah ya." Kata Gilang yang bahagia
"Haha, Tadi belum ngitung uang ya.. Itung yu.. Aku laper." Kata Juna
"Wkwk sama yuk!" Kata Gilang
Syukurlah mereka mendapatkan uang lebih hari ini, Mereka bisa menyisihkan uang untuk keperluan mereka dimasa yang akan datang.. Syukur nya lagi mereka mendapatkan Kontrakan gratis yang mereka impikan.. Sehingga jatah untuk menyewa kontrakan yang mereka pikirkan bulan ini. Bisa disimpan terlebih dulu..
Bersambung...
__ADS_1