![CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]](https://asset.asean.biz.id/change-the-bad-boy---blackbangtan--.webp)
Para siswa siswi mulai panas dingin karena berhadapan dengan kertas. Bukankah hanya kertas? Tidak. Kertas itu adalah kertas yang akan menentukan nilai mereka.
Xiaoye melirik BaoLian yang duduk didepannya. Lalu Xiaoye mengalihkan lirikkannya kearah Jiu Er yang duduk diseberang mejanya. Xiaoye menatap kertas ulangan didepannya dengan senyum berharap.
"BaoLian!" tegur sang guru membuat seisi kelas memandang BaoLian.
"Jangan menyontek! Ini ulangan!" tegur sang guru lagi membuat BaoLian menciut.
Xiaoye menarik sudut bibir kirinya lalu mengerjakan soal itu dengan santai.
Soalnya lumayan mudah... Tapi gue harus teliti, BaoLian bisa aja nyontek karena duduk didepan gue" batin Xiaoye.
• • •
Moxi membelalakkan matanya yang sipit itu ketika melihat soal ulangan dihadapannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, berharap bahwa soal itu hanya halusinasinya.
"Astaga... Kenapa ada soal sesulit ini?" keluh Moxi sambil mengerjakan soal soal itu.
"Sayang.. Nomor 3 gimana?" tanya Xiaoming berbisik pada sang kekasih.
"Pak! Ada yang nyontek!" adu Moxi yang bosan dengan panggilan 'sayang' yang setiap saat keluar dari mulut Xiaoming.
"Siapa?" tanya sang guru dengan kening berkerut dan nada garang.
"Moxi nyontek pak!" adu Xiaoming yang tidak mau ketahuan.
"Eh?! Kok gue sih?!" omel Moxi berbalik menatap Xiaoming.
"Ck! Xiaoming dan Moxi! Cepat kerjakan ulangan kalian! Selesai nanti ikut saya keruang guru" tegas sang guru membuat Moxi dan Xiaoming terdiam lalu mulai mengerjakan soal-soal sulit itu.
🌻🌻🌻
Xiaoye menatap heran Moxie yang terlihat sangat lahap.
Bukan hanya Xiaoye, namun Xiaoyu juga memandang heran gadis bermata besar itu heran.
"Eee... Moxie... Lo kenapa?" tanya Xiaoyu mengerutkan keningnya.
"Gue? Apanya yang kenapa?" bingung Moxie menghentikan aktivitas makannya.
"Lo keliatan lebih lahap dari biasanya"
"Ah! Masa?" Moxie tidak percaya.
TianYi hanya diam dan menahan tawanya.
Ia berusaha makan dengan santai seperti biasanya.
"Terus TianYi kenapa?" tanya Xiaoye memandang TianYi.
"Gue? Gue kenapa? Dasar curigaan..!" ketus TianYi sedikit memasang wajah tersinggung.
__ADS_1
"Lah! Lo berdua-"
"CICI!"
Seseorang menghampiri keempat remaja itu sambil melambaikan tangannya. Xiaoyu yang melihat hal itu berusaha mengatur nafasnya. Ia ingin terlepas dari phobianya.
Xiaoye memandang Xiaoyu heran. Dalam hatinya gadis itu bertanya-tanya... Kenapa Xiaoyu tidak menghindar? Apa gadis itu tidak memiliki phobia seperti biasanya?
"Xiaoyu.."
"Gak apa apa... Gue mau coba" ucap Xiaoyu menggenggam tangan kakaknya untuk meyakinkan.
Sang kakak hanya berdehem lalu kembali makan dengan perasaan cemas.
"Ci, gue dihukum!" keluh Moxi duduk disamping kakaknya.
"Lah? Hubungan dan akibatnya ke gue apa?" sinis Moxie malas.
"Gara-gara Xiaoming noh! Kan dia yang nyontek... Kenapa gue yang harus kena hukum, coba?!" rengek Moxi menyandarkan kepalanya pada pundak Moxie.
"Pak JiHang kan? Harusnya lo gak ngomong apa-apa" Xiaoye buka suara.
Moxi menatap Xiaoye kaget dan langsung duduk dengan benar. Sedangkan yang lain hanya bersikap santai, kecuali Xiaoyu yang berusaha menetralkan dirinya.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Moxi menunjuk dirinya sendiri.
"Hm, gak mungkin gue ngomong sama hantu"
"Mundur, lo bisa senggol makanan gue" tegur Xiaoye mendorong wajah Moxi.
Moxi menarik kedua sudut bibirnya dengan senang membentuk senyuman manis. Moxie, TianYi dan Xiaoyu yang melihat hal itu berekspresi muntah. Sedangkan Xiaoye mengerutkan keningnya lalu kembali makan.
"Tian Xiaoye, bisa-"
"Mau gue minta maaf kan? Kalo gitu sorry... Waktu itu gue gak sengaja" cela Xiaoye menatap dingin Moxi yang duduk disamping Moxie.
Moxi menutup mulutnya rapat. Pupus sudah harapannya untuk berteman dengan gadis dingin dihadapannya itu.
🌻🌻🌻
'Plak!'
"Sshhh.."
"Kamu itu gak bisa menghargai Papa apa?!! Papa udah bilang kan?! Belajar! Gimana kamu bisa kasih Papa muka dengan nilai begini!!"
"Pa..." ringis BaoLian hendak meraih lengan sang Papa.
"Kamu berhenti! Kalau masih dapat nilai rendah begini, kamu Papa usir!!" bentak sang Papa membuat BaoLian amat sangat terkejut.
"Pa!" tangis BaoLian semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Kamu itu anak gak tau diuntung! Udah beban keluarga, masih aja pamer sana sini! Kamu bully siswi kan?!!"
"Ma-Maksud Papa..?" tanya BaoLian cemas.
"Berarti bener... KAMU BULLY ANAKNYA TUAN YIYANG!!!" marah DaChun meninggikan suaranya.
BaoLian membulatkan matanya tak percaya. Siapa anak dari Tuan YiYang? Pikir BaoLian mulai menebak-nebak.
"Pa... Koko yang bilang ke Papa?" tanya BaoLian dengan suara serak.
"Koko mu itu gak tau apa-apa! Dia cuma bisa membanggakan orang tua dan sopan sama semua orang! Kamu itu berbeda 270 derajat sama kakak kamu!" bentak DaChun.
"Pa! Koko tau semuanya! Koko-"
'Plak!'
"Papa bukan tau dari Koko kamu... Papa tau dari Nyonya Tian!"
BaoLian membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak tau sama sekali siapa anak dari keluarga Tian. Bahkan anaknya dibully BaoLian? Siapa?
"Pa" panggil seorang lelaki membuka pintu kamarnya.
DaChun dan BaoLian segera menoleh dan mendapati Jiang Nan yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Aku juga dapat nilai rendah..." ujar Jiang Nan menundukkan kepalanya.
"Gak apa-apa... Biasanya kamu dapat nilai tinggi. Kamu istirahat aja" ucap sang Papa lembut sembari tersenyum.
"Pa! Aku anak Papa juga!" marah BaoLian tidak terima.
"Kamu itu aib keluarga! Sekali lagi kamu bully orang, Papa coret dari KK!" tegas DaChun sambil menunjuk wajah BaoLian lalu pergi.
BaoLian menatap kakaknya yang hanya diam didepan pintu kamar. Begitu juga dengan Jiang Nan. Ia merasa kasihan pada adiknya. Namun disisi lain, ia sangat ingin memarahi BaoLian karena banyak hal.
"Ko..."
"Masuk kamar, belajar. Besok masih ulangan" ucap Jiang Nan lalu kembali memasuki kamarnya.
BaoLian meneteskan air matanya lalu melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.
"Tian? Siapa yang gue bully? Marganya 'Tian'?" pikir BaoLian sambil mencoret bukunya.
"Tunggu!" BaoLian meletakkan pulpennya lalu membulatkan matanya.
"Yang gue bully kan... Xiaoye sama Xiaoyu..." gumam BaoLian mulai merinding.
"Nama Xiaoye... Tian Xiaoye. Terus Xiaoyu... Xiaoyu adiknya Xiaoye, dia juga bilang kalo dia ada sesuatu sama Papa..." ucap BaoLian dengan detak jantung tak karuan.
"Gak gak! Gak mungkin!" ucap BaoLian memegang kepalanya.
"Gak! Gak mungkin mereka anak dari pengusaha terbesar Beijing!" seru BaoLian membenturkan kepalanya pada meja belajarnya.
__ADS_1
"Gak..."