CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]

CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]
Dinner With Friends


__ADS_3

[Jimin Pov]


Ini masalah atau apa? Sialan bener nih cewek! Gue mau bolos dia malah dateng! _-


"Park Jimin!" teriak cewek itu lantang.


Untungnya Taehyung yang lagi manjat tembok sekolah gak jatuh karena kaget. Berani bener tuh cewek usik idup Gua!


"Lo siapa?" tanya Jungkook sambil ngerutin dahinya. Gue yakin si kelinci ini mulai kesel. Abis lo!


"Gue? Gue Guru ketertiban Jimin--ralat. Guru ketertiban kalian" si cewek itu songong. Duh! Gue kagak tau namanya.


"Hehe... Cewek waktu itu kan?" tanya Taehyung turun dari atas tembok.


Kalo dipikir-pikir, mending Taehyung turun dari pada jadi laba-laba diatas tembok.


"Hm..." jawab cewek itu angguk kepala sambil senyum ramah ke Taehyung.


Gilaa! Dia gak pernah senyum seramah itu ke Gue! Tunggu, maksud Gue, dia gak pernah ngomong lembut atau ramah ke Gue.


Lah ke Taehyung? Ramah amat...


"Lo kenal, Tae?" tanya Jungkook dengan muka polos. Duh! Pengen cubit jadinya.


Taehyung senyum kecil sambil natap si cewek, "Temennya Jennie Kim?"


Gue liat si cewek pirang itu kaget sampai matanya membulat kayak donat. Jadi pengen makan donat, dehh.


"Lo tau Jennie?" tanya si pirang mendekat.


Hah! Kenapa deket-deket an**ng?!! Gue gak mahoo! Nanti dikira modus.


"Jennie selalu bilang kalo dia suka Gue" balas Taehyung.


Gue mendengus kesel. Nih anak mau bolos atau mau gibah? Gak bener emang si Harimau V ini.


"Udah! Cukup! Gue mau bolos!" sela Jungkook kesel karena liat si pirang.


"Tau tuh! Ayo, Kook" ajak Gue.


'Srett'


Kepala Gue muter tentunya. Taehyung hanya diam sambil senyum manis kearah Gue. Dia biarin Gue ditarik sama si cewek pirang ini? Bangsul!


"Gue harus apa biar lo nurut?" si pirang ngomong ke Gue.


Gue cuma diam terus nepis tangan dia pelan. Gak mungkin Gue nepis kasar kan?


Gue pakai tatapan tajam Gue ke dia. Cewek yang ikut campur ini.


"Lo bisa gak... Jangan reseh!" ketus Gua jengkel karena cewek sotoy pirang ini.


Btw, udah berapa julukan dari Gue ke cewek ini? Mungkin lebih dari 2 kan?


"Ikut Gue!" titah si cewek tanpa nama itu sambil gered Gue yang lebih tinggi sekitar 6 cm dari dia.


What The F*ck!? Cuma 6 cm??! Nih cewek tiang amat dah... Atau Gue yang emang pendek?


"Heh!" ketus Gue terus narik lengan kirinya kasar.


'Grep'


Gue kaget sendiri, bajigur! Kok bisa sedekat nadi gini sih? Bodo amat lah!


Tae sama Kookie cuma diam. Laknat! MEREKA DIAM-DIAM LARI DARI KENYATAAN PAHIT, ASEM!


"Bi-Bisa lepas?" si cewek mundur sedikit.


Gue gak mau tau. Gue terus narik lengan kirinya sampai muka kita deket banget.


[Author Pov]


Wajah Jimin dan wajah Rose sudah sangat dekat. Rose tidak bisa melawan kekuatan lelaki dihadapannya lagi. Perlahan, Rose melihat wajah Jimin yang tampak garang.


"Siapa nama lo?" tanya Jimin santai dengan wajah garangnya.


"Ro-Rose... Roseanne Park" jawab Rose gugup.


"Ingat! Gue lebih tua dari lo!" Jimin menekan setiap suku kata dengan tatapan tajam.


Rose merasa sesak. Bukan karena saluran pernapasannya tersumbat air sungai. Melainkan karena ia takut dengan Jimin.


Rose menahan nafasnya. Padahal tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Author jamin akan hal itu. (Eaaa :v)


Kedua remaja itu hanya diam dengan jarak dekat ini. Rose bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung Jimin. Namun Jimin tidak merasakan udara yang keluar dari alat pernapasan gadis itu.


"Lo tahan nafas?" tanya Jimin menahan tawa.

__ADS_1


Rose segera mengalihkan pandangannya lalu mendorong Jimin sedikit kencang hingga Jimin mundur beberapa langkah kecil.


Rose menggigit bibir bawahnya sambil menatap sinis Jimin. Jimin yang menyadarinya langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha! Lo beneran tahan nafas tah?" tawa Jimin lalu cekikikan.


"Park Jimin! Itu termasuk penilaian yang gak bagus!" seru Rose lantang sambil memukul Jimin.


Tentu saja Jimin menangkis pukulan ringan dari Rose.


"Hahaha! Ampun, Rose... Ampun!" ucap Jimin memegang perutnya yang terasa ngilu mendadak.


"Ck! Ketawa sebentar aja udah ngilu? Lemah!" sindir Rose tanpa peduli.


Jimin hanya menghiraukan Rose sambil terus memeluk perutnya yang terasa perih.


Rose melirik Jimin. Sepertinya ada yang aneh dengan keadaan Jimin saat ini.


"Lo... Lo apa-apaan? Jangan buat Gue merinding!" ujar Rose gemetar.


Jimin tertawa pelan lalu berdiri dengan tegak. Lelaki itu menatap Rose yang lebih pendek darinya.


"Apa?" tanya Rose sedikit 'nyolot'.


"Lo bisa bantu Gue?" tanya Jimin dengan senyum tipis.


"Jangan senyum! Kalo senyum nanti-"


"Lo naksir? Gak apa-apa... Gue gak punya pacar" sela Jimin membuat Rose terbelalak.


"Lo-"


'Kriiing!'


Sial bagi gadis itu. Bel berbunyi yang menandakan bahwa pelajaran selanjutnya akan dimulai. Rose segera berlari kearah kelas, meninggalkan Jimin tanpa peduli.


...🌻🌻🌻...


Jisoo, Jennie, dan Rose memandang Lisa malas. Ada apa dengan gadis berponi itu? Tersenyum sendiri, tertawa sendiri, bahkan bicara sendiri.


"Bawa dia kerumah sakit jiwa, boleh?" tanya Jennie.


"Ayo bawa, Gue siapin mobil" ucap Rose.


"Iya, Lisa kerumah sakit jiwa, kita bertiga kekuburan gitu?" sindir Jisoo sinis.


"Girls!" panggil Lisa mendekati Jisoo, Jennie, dan Rose.


"Lo ngapain, Nyet!" omel Jennie mendorong kepala Lisa.


"Ish! Maklum, Gue lagi jatuh lope, hehehe" jawab Lisa cengengesan.


"Jatuh cinta? Jangan ngarep! Lo gak dibolehin Tante Minzy pacaran" ingat Rose tersenyum meledek.


Lisa merotasi matanya malas.


"Sadar! Tante Bommie juga gak izinin lo pacaran!" sarkas Lisa membuat Rose tersadar.


"Oke oke... Bukan cuma lo berdua. Gue sama Jisoo juga" Jennie menengahi.


"Mama Chaerin sama Tante Dara juga gak izinin kita pacaran" lanjutnya.


"Ayo pulang, kata Mama Dara, kita mau dinner together" ucap Jisoo merangkul temannya.


"Wow! Masak makanan Italia gak?" tanya Rose bahagia.


"Tentunya ada, Pasta!" jawab ketiga temannya kompak lalu diiringi tawa mereka bersama.


...🌻🌻🌻...


17.38


Sudah sangat sore bagi seorang pelajar untuk pulang sekolah. Biasanya, pelajar di SMA HayoMhaju akan pulang saat jam menunjukkan pukul 2 atau 3 sore.


'Cklek'


Jimin membuka pintu rumahnya dengan malas sambil menenteng sepatunya yang sudah ia lepas.


"Jimin! Dari mana saja kamu!" bentak sang Ayah bangkit dari duduknya lalu mendekati sang anak.


Jimin menatap datar Ayahnya. Tatapannya terlihat datar, namun matanya sangat ingin menunjukkan tatapan kebencian.


"Tadi main dirumah temen" jawab Jimin santai.


"Setiap hari cuma tau main aja! Kamu gak tau kalo Papa ini udah-"


"Udah sakitin aku dengan cara nampar aku? Dengan cara siksa Mama? Dengan cara selingkuh?" Jimin tersenyum pahit.

__ADS_1


"Kamu! Kamu berani-beraninya membantah!" seru sang Ayah.


"Biasa aja, Pa... Mama lagi sakit" Jimin berlalu pergi kemudian membuang sepatunya sembarangan.


Sang Ayah membeku dengan ucapan Jimin. Rasanya, ada ribuan pedang menikam hatinya. Nyatanya, hanya sedikit teguran ringan dari sabg anak.


Jimin mengintip dari pintu kamarnya. Ayahnya terlihat lelah, berdiri sambil memijit pangkal hidungnya.


Pandangan Jimin turun pada perutnya yang terasa sakit. Jimin memegang perutnya lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Haih... Kenapa harus kumat?" Jimin merebahkan dirinya diatas kasur.


"Mana didepan cewek lagi.." lanjutnya sambil menekan perutnya.


"Ada PR Matematika sama Fisika... Gue kerjain yang mana dulu?"


...• • •...


Rose yang sedang melahap makanan dihadapannya menjadi terhenti ketika Jisoo bicara.


"Ma, Pa, Tante, Om, Rose baik hati loh" puji Jisoo mengundang tatapan pada mereka berdua.


"Iya?"


"Rose mengalah untuk duduk sama Bad Boy dikelas kita, dia juga jadi Guru ketertiban untuk-" belum selesai Jisoo bicara, Rose sudah menginjak kakinya.


"Hahaha... Jisoo.." tegur Rose pelan sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.


"Apa? Gue bilang aja yang sejujurnya kan?" ungkap Jisoo tanpa sadar.


Rose memelototi Jisoo dengan pipi mengembung karena penuh makanan.


"Udah lah, Jis... Kalo Rose keselek kan gak funny" ledek Jennie dengan senyum joker.


"Senyum lo menyeramkan, Jen" sahut Lisa menyuap makanan untuk dirinya sendiri.


"Oh iya, gimana di SMA?" tanya Ji Yong, ayah Jennie.


"Gak ada yang istimewa selain Jennie yang sering ngekorin kakak kelas" bocor Rose dengan senyum usil.


Jennie melotot kaget lalu melihat respon 8 orang tua yang duduk bersama mereka. Terutama respon Bunda Chaerin dan Ayah Ji-Yong.


"Iya? Jennie udah suka sama kakak kelas?" tanya Bommie terlihat senang dengan topik.


"Sayang.." tegur Seung-Hyun lembut.


"Halah bro! Tumben lembut!" cibir Dara, Ibu Jisoo.


"Loh? Emang Om Seung-Hyun kasar gitu?" tanya Lisa polos.


"Bukan kasar, tapi ngeselin" ungkap Rose dengan laknat.


Sang Ayah hanya senyum paksa dengan kejujuran sang anak. Ingin rasanya ia menelan anak gadisnya itu. Namun takut dengan sang Istri yang sudah menatapnya dengan tatapan 'golok'.


"Oh iya! Bang Chanyeol mana, Tante?" tanya Jisoo menyuap mulutnya.


"Chanyeol? Katanya lagi fokus kuliah" jawab Seung-Hyun.


"Tapi, Om, Jisoo nanya sama Tante Bommie, bukan Om" Jennie bicara dengan dakjal.


"Astaga, Jennie!" tegur Chaerin terkejut.


"Hihihi... Sorry, Mom" cengir Jennie mengecup pipi sang Bunda.


Begitulah mereka. 4 keluarga yang berteman dekat selalu membuat acara kecil-kecilan disalah satu rumah mereka.


Mereka tinggal berdekatan, orang tua mereka juga adalah sahabat dekat, banyak tetangga yang tau tentang mereka.


__________________________________________________________


Biar Author perjelas sedikit tentang orang tua mereka (Asal Ship, nama Ayah & anak gak sama).


Jisoo : Sandara & Ji-Won


[Sandara Park '2NE1' - Eun Ji-Won]


Jennie : Chaerin & Ji-Yong


[Lee Chaerin/CL '2NE1' - Kwon Ji-Yong/G-Dragon 'Big Bang']


Rose : Bommie & Seung-Hyun


[Park Bom '2NE1' - Choi Seung-Hyun/T.O.P 'Big Bang']


Lisa : Minzy & Daesung


[Gong Minzy '2NE1' - Kang Daesung 'Big Bang']

__ADS_1


__ADS_2