![CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]](https://asset.asean.biz.id/change-the-bad-boy---blackbangtan--.webp)
Rose berjalan memasuki gerbang sekolah sendirian. Jisoo sudah lebih dulu kesekolah, Jennie masih menunggu Lisa dirumah Lisa.
Dan kini, Rose memandang para siswa-siswi yang sibuk sendiri. Itulah aktivitas mereka disekolah pada pagi hari.
Ada yang membersihkan kelas, menyiram bunga, membaca buku, mengelilingi sekolah, atau bahkan gosip dipagi hari.
Rose sedikit melayangkan pandangannya kearah jam 2. Kening gadis itu berkerut, menunjukkan ekspresi bingung.
"Jimin?" gumamnya.
Gadis itu mendekati seorang laki-laki yang sedang duduk sambil melamun.
"Hei!" sapa Rose riang membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya.
"Apa-apaan?" cibir lelaki itu mengalihkan pandangan sambil tersenyum tipis.
"Ayolah! Pagi hari itu harus senyum!" Rose menarik kedua sudut lelaki itu untuk tersenyum lebar.
"Apaan sih?" heran lelaki itu namun tersenyum.
"Jimin, lo tau? Senyum itu seindah pelangi.." ucap Rose.
"Hm?"
"Tapi senyum lo seindah kotoran ayam, hahaha!" ledek Rose lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Asem lo! Gue senior lo, asem!" umpat Jimin kesal lalu merengut.
"Hehehe... Ya kalik senyum lo seindah pelangi... Ngarep!"
Jimin merotasikan matanya, malas dengan sikap Rose. Rose mengulurkan tangannya untuk menarik Jimin berdiri.
"Apa?" heran Jimin.
"Knock knock... Five minute again" ingat Rose sambil menunjuk arlojinya.
Jimin terdiam sambil memandang Rose. Tangan Rose yang masih terulur itu terasa letih karena Jimin tidak menerimanya.
"Kita-"
"Gue bolos" potong Jimin.
Rose membulatkan matanya dengan sempurna.
"Lo-"
"Gue tau kalo Gue beban keluarga, tapi Gue gak tahan" sela Jimin lagi.
Rose mengerutkan keningnya lalu berdiri dengan tegak membuat Jimin yang menatapnya harus mendongak lebih parah.
"Kenapa bolos? Alasan paling jelas?" tanya Rose dengan nada kecewa.
"Bolos itu untuk happy-happy, makanya Gue bolos" jawab Jimin santai lalu berdiri.
Sedikit menepuk bokong celananya yang kotor, Jimin menatap Rose yang lebih pendek darinya.
"Tolong kumpulin tugas Gue ya? Udah Gue kerjain" pinta Jimin.
"Gak, Gue gak mau dan gak akan pernah mau" tolak Rose.
"Sebagai Guru, Gue bakal awasi setiap gerakan gak bener lo dan ubah itu" ucap Rose menepuk bahu Jimin.
"Kumpul tugas lo sendiri, Gue disini sebagai Guru, bukan temen lo"
"Ahh! Dan juga, untuk mengundang nilai baik ke laporan pendidikan lo" sambungnya.
"Gue males"
"No males males. Orang males masa depannya gelap" nasihat Rose.
"Tapi Gue liat masa depan Gue terang kayak matahari" elak Jimin.
"Hehe.. Lo peramal? Cenayang? Gak ada yang tau masa depan, bege!" ketus Rose mengusap wajah Jimin agar sadar.
"Lo"
-"Hm?"
"Gue bilang 'lo' ya lo"
-"Maksud lo?"
"Lo bodoh! Dasar kutu ketertiban!" ejek Jimin tersenyum santai.
"Mana ada kutu ketertiban?!!" elak Rose mendorong kening Jimin membuat lelaki itu tertawa.
Jimin sedikit membungkuk sambil menatap Rose untuk menyamakan tinggi mereka.
"Lo bakal ngerti suatu saat nanti"
'Kriiiing!'
__ADS_1
...🌻🌻🌻...
Jennie menopang dagunya sambil menatap lelaki yang duduk diseberang mejanya. Gadis itu hanya menatap lelaki itu sambil meminum minuman yang ia pesan.
'Dukk!'
Jennie tersentak kaget hingga tersedak jus yang gadis itu pesan. Dengan segera, Jennie menoleh kesamping kirinya dengan tatapan garang.
"Apaan sih?!" ketus Jennie kesal.
"Hehehe... Kenapa bengong, Jen?" tanya Jisoo nyengir kuda.
Jennie merotasi matanya, malas. Lalu gadis itu kembali menopang dagunya. Kesal karena Jisoo mengganggu pemandangan indah disamoingnya.
"Suka banget apa?" Rose bersuara.
"Hm.."
"Gue bilangin?" tawar Lisa lalu menarik pelan nasi goreng Jennie.
Bukannya menahan, Rose malah ikut melahap makanan Jennie bersama Lisa. Jisoo hanya sanggup menggelengkan kepala.
"Tapi girls... Dia banyak yang suka?" tanya Jennie mengalihkan pandangan.
"Lah kamplet! Nasi goreng Gue!" pekik Jennie kesal lalu menarik piringnya.
"Lah, Jen... Pelit amat dah" cibir Lisa.
"Lagian berbagi itu indah..." bujuk Rose yang didukung anggukan oleh Lisa.
"Dasar! Baksonya kurang apa?" Jisoo bersuara.
"Sangat kurang, Jis" jawab Lisa dan Rose kompak lalu nyengir kuda.
Jennie memandang malas kedua gadis absurd itu. Sedangkan Jisoo hanya bisa menggelengkan kepalanya, pening.
"Eh, tau gak?" Jisoo bersemangat.
"Apa? Lo mau ajak kita kepesta ganja?" Lisa penasaran.
'Plak!'
Tentunya Lisa langsung di'tampol' oleh ketiga temannya.
"Sembarang lo kalo ngomong!" sarkas Jennie melahap nasi gorengnya ganas.
"Tadi apa, Jis?" tanya Rose beralih ketopik awal.
Jisoo menatap Rose dalam membuat Rose terdiam, seolah tau akan apa yang hendak Jisoo beritahu.
"Siapa? Bang Chanyeol? Atau Bang Suho?" Lisa bertanya asal bunyi.
"Atau Bang Kai?" sambung Lisa.
"Hng... Jung Jaehyun" jawab Jisoo membuat keheningan dimeja itu.
Keempat remaja itu hanya diam. Jisoo, Jennie, dan Lisa menatap Rose lalu saling menatap.
Tiba-tiba...
'Dukk'
"Ahh!"
Seorang lelaki duduk disamping Lisa lalu segera melahap makanannya dengan santai.
"Lah! Gak ada tempat lain apa?!" ketus Lisa kesal.
Lelaki itu melirik Lisa sekilas lalu kembali melahap makanannya. Lisa merasa kesal dengan lelaki tidak sopan itu.
"Jungkook!" lantang Lisa.
"Hm?" sahut lelaki itu, Jungkook.
"Astaga... Temen lo kan?" tanya Jennie sambil menunjuk ke meja seberang.
Jungkook mengangkat kepalanya lalu melihat kearah yang ditunjuk Jennie. Seperkian detik kemudian lelaki itu mengangguk.
"Napa gak bareng mereka, sat!"
"Mereka Bad Boy" jawab Jungkook santai.
"Sadar diri dong! Lo juga Bad Boy" sambar Rose.
"Idih! Santai aja kalik, Mbak.." ucap Jungkook melirik malas Rose.
...🌻🌻🌻...
Rose yang sedang melangkah mendekati temannya itu menjadi terhenti.
Sebuah tangan terulur dihadapannya hingga Rose terperanjat kaget.
__ADS_1
"Napa lo?" sinis Rose heran.
"Lo mau pulang?"
"Kalo gak pulang, Gue ngapain disekolah, hah?"
"Nanti Gue anterin"
Rose memandang malas lelaki bernama Jimin dihadapannya.
"Lo mau apa? Bisa to the point kan?" Rose melipat tangannya didepan dada.
"Gue.. Pokoknya Gue lagi perlu!" seru Jimin membuat ketiga teman Rose menoleh.
"Napa lo berdua?" heran Jisoo.
"Gue pinjem sister lo" jawab Jimin segera.
"Eh?!! Mana ada?!" seru Rose tak terima.
"Oke, nanti kita sampaikan ke Tante Bommie sama Om Seung-Hyun" ujar Jennie mengedipkan sebelah matanya.
"Idih, amit amit" cibir Lisa.
Tanpa izin, Jimin langsung menarik Rose pergi dari sana menuju tempat parkir.
Saat sampai ditempat parkir, Jimin membuka pintu mobil untuk Rose lalu menyuruh gadis itu untuk segera masuk.
"Apa-apaan?!" sarkas Rose.
"Diam dulu, masuk" titah Jimin mendorong Rose untuk masuk kemobilnya.
Setelah Rose masuk, lelaki itu segera membuka pintu bagian sebelah dan memasuki mobil.
Rose menatap sinis dan tajam Jimin,
"Tujuan?"
"Lo bisa kasih saran?" tanya Jimin menatap tangannya.
"Hah? Saran? Saran apaan dah!"
"Saran... Keluarga" jawab Jimin lalu menatap Rose.
Rose terdiam. Dengan satu jawaban saja Rose menjadi mengerti akan sesuatu.
"Uhm... Lo mau?" tanya Rose ragu.
"Gue sebenarnya gak-"
"Soal orang tua" sela Jimin.
Rose kembali terdiam. Entah kenapa, Rose merasa sakit dengan permintaan Jimin. Apa dia tidak sedekat itu dengan orang tuanya?
"Masalahnya?" tanya Rose.
"Euhm.. Sepupu Gue, dia minta saran karena orang tuanya sering bertengkar" alibi Jimin.
"Owh... Kirain elo" ujar Rose merasa sedikit lega.
"Emang kalo Gue kenapa? Lo khawatir?" goda Jimin dengan tatapan hangat.
Rose menatap malas Jimin lalu bersandar dengan malas.
"Kasih nomer HP lo aja, nanti Gue hubungi" putus Rose sambil menyodorkan benda pipih persegi panjang.
Jimin menatap Rose dan ponsel gadis itu bergantian. Lelaki itu tersenyum simpul lalu mengambil ponsel itu dan mengetikkan beberapa digit angka.
"Gue tulis 'Chimmy' untuk nama kontak Gue" ujar Jimin mengembalikan ponsel Rose.
"Kek orang narsis, tau gak?" sarkas Rose lalu menyimpan ponselnya didalam tas.
"Gue mau pulang"
"Gak ada yang tahan"
"Ya lo bilang mau anterin..." elak Rose.
"Kita baru ngomong sekitar lima menit, tadi temen lo jalan dari kelas terlalu lambat. Jarak dari kelas ke gerbang sekolah sekitar 10 meter, ditambah lagi jalannya liku-liku"
Rose menganga tak percaya. Apa ini benar-benar Jimin? Biasanya, Jimin tidak pernah menjawab pertanyaan mudah dari para Guru atau pun temannya. Lalu ini..?
Sudah lah! Tak mau ambil pusing, Rose segera membuka pintu mobil milik Jimin.
"Loh?"
Rose sedikit tersentak. Kenapa Jimin ikut keluar dari mobil?
"Lo ngapain?" heran Rose.
"Masuk, Gue anterin" ujar Jimin.
__ADS_1
"Lah! Tadi seolah-olah suruh Gue-"
"Buruan masuk! Lo arahin Gue biar bisa anterin lo kerumah lo"