CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]

CHANGE THE BAD BOY [•Blackbangtan•]
Parent?


__ADS_3

Jimin membuka pintu rumahnya dengan santai. Lelaki itu sadar akan kehadiran sang Ayah yang nampak sudah menunggunya.


"Dari mana lagi? Main lagi?" sang Ayah bangkit dari duduknya.


"Kenapa peduli? Oh iya, Mama gimana? Udah dikasih makan?" tanya Jimin santai sambil melepaskan sepatunya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Jimin" tegur Seo Joon.


Jimin merotasi matanya malas.


"Mama dikasih nasi atau bubur? Mama gak suka bubur lho" Jimin mengangkat sepatunya lalu berjalan menuju kamarnya.


"Park Jimin!" lantang Seo Joon.


Jimin hanya acuh tak acuh lalu membuka pintu kamarnya dan langsung masuk tanpa peduli dengan sang Ayah.


Seo Joon hanya bisa menghela nafasnya jengah dengan sikap anaknya yang pembangkang ini.


Sedangkan Jimin, lelaki itu selesai mengganti pakaiannya. Ia mengambil ponselnya lalu berbaring malas diatas kasur.


Jimin tersenyum miring, dengan usil mengirimkan pesan pada gadis gembul si tukang makan. Hanya sekedar usil, tidak lebih.


Jimin


Mbul


Neng Gembul


Asem lo!


Jimin terkejut. Ada apa dengan gadis gembul ini? Diumpat sebelum mengatakan apa apa? Benar-benar mengejutkan.


Neng Gembul


Sorry, Jim! 🙏


Gue salah kirim!


Jimin


Oh


Jimin terkekeh pelan. Gadis yang sungguh lucu, bagi Jimin.


...🌻🌻🌻...


Lisa berlari memasuki gerbang sekolah yang segera ditutup.


"Please! Jangan tutup dulu!" gumam Lisa cemas dengan kakinya yang semakin cepat berlari.


"Lah! Pak eee!" jerit Lisa menahan tangan Pak satpam yang akan menutup gerbang sekolah.


"Maaf, Neng, udah waktunya" tolak Pak satpam.


"Lah! Pak! Lilis beliin jengkol deh, Pak! Please!" Lisa memohon.


Namun Pak satpam itu tidak peduli dan membiarkan Lisa diluar gerbang sekolah sendirian.


Sungguh miris nasib Lisa kali ini.


Gadis itu berjongkok didepan gerbang. Tak ada cara yang ia dapatkan untuk memasuki sekolah.


Ditambah, hari ini mereka akan melakukan Penilaian Harian untuk kelas 10 MIPA 2.


"Aaa!" tangis Lisa pasrah.


Sangat tidak mungkin jika gadis itu harus pulang dan mengirimkan surat izin.


"Woy!" panggil seorang lelaki berdiri dibelakang Lisa.


Lisa mengangkat kepalanya lalu menoleh.


"Apaan? Mau ketawain Gue? Iya?" tuduh Lisa lalu bangkit dan membersihkan roknya yang kotor.


Lelaki itu merotasi matanya lalu pergi begitu saja.


"Lah? Jongkok! Mau kemana lo?" teriak Lisa mengekori lelaki itu, Jungkook.


"Kamfret! Nama Gue Jungkook, bukan Jongkok!" ucap Jungkook tak terima.


"Yee... Mirip jugaan" elak Lisa.


Lisa hanya terus mengekori Jungkook yang berjalan mengelilingi sekolah.


"Lo mau kemana, Kook?" tanya Lisa heran.


"Sekolah" jawab Jungkook berhenti lalu berbalik dan menatap Lisa.


"Apa?"


"Ini jalan punya Gue sama geng Gue. Cuma lo yang tau" jelas Jungkook sambil menunjuk tembok yang tak terlalu tinggi.


"Wait! Biasanya-"


"Shut! Buruan naik, Gue bantu naik" ujar Jungkook.


Lisa terbelalak. Apa? Naik keatas tembok? Lalu bagaimana dengan rok yang ia gunakan? Benar-benar gila.

__ADS_1


"Gue lebih memilih-"


"Gak sekolah? Absen lo kosong, gak dapet nilai Penilaian Harian Matematika, dan lo diamukin Bu Yuri. Iya?" sela Jungkook membuat Lisa tertegun.


"Buruan naik! Udah bel noh!" santai Jungkook.


...• • •...


Jennie terus melirik kearah pintu kelas. Berharap sahabat berponinya itu akan segera datang.


'Tap.. Tap.. Tap..'


Jennie memajamkan matanya ketika mendengar suara langkah yang mendekati kelas mereka.


"Selamat pagi..." sapa Bu Yuri, Guru yang memasuki kelas tersebut.


Brrrh! Jennie merasa kasihan pada sahabatnya yang satu itu.


'Brukk!'


"Selamat pagi, Buk! Maaf terlambat!" seru seorang gadis membuat Guru dan seisi kelas memandangnya heran.


"Kamu terlambat?" tanya Bu Yuri.


"Uhm... Iya, Buk" jawab gadis itu sembari merapikan poninya yang berantakan.


Jennie yang melihatnya tersenyum. Itu Lisa, gadis yang selalu menggunakan make-up sebelum sekolah. Karena itulah gadis itu terlambat.


Baru saja Lisa memasuki kelas, Jungkook ikut memasuki kelas tanpa menyapa.


"Jeon Jungkook" panggil Bu Yuri sabar.


Jungkook memutar kepalanya menatap sang Guru. Wajah polos dan tatapan datar, itu yang Jungkook gunakan sebagai ekspresinya.


"Selamat pagi.." sapa Bu Yuri.


Jungkook hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sapaan sang Guru lalu segera duduk ditempatnya.


Seisi kelas terbiasa dengan hal itu, namun tidak bagi Bu Yuri, Guru Killer.


"Jeon Jungkook, nilai sikap kamu saya kurangkan" ucap Bu Yuri lalu membuka buku.


Jungkook terlihat santai dan masa bodo dengan hal itu. Lisa dan Jennie yang melihatnya tertegun. Benar-benar seorang Bad Boy!


...🌻🌻🌻...


Jisoo meneguk minumannya dengan santai sambil memperhatikan Lisa yang sedang bicara.


"Dia bilang tempat itu khusus buat gengnya. Jadi Gue harus tutup mulut" ujar Lisa mengambil makanan Rose.


Rose menepis pelan tangan Lisa,


Lisa merotasi matanya malas.


"Make-up cuma butuh waktu beberapa menit. Tapi nunggu bokap keluar dari kamar mandi itu butuh waktu berjam-jam!" Lisa nyolot.


"Yah.. Terserah lo aja sih" Jennie bersuara.


"Tapi, Lis.." Jisoo menaruh gelas minumannya diatas meja.


"Apa?"


"Lo terlambat, lo masuk kearea sekolah lewat tembok, dan lo udah masuk kedaftar murid terlambat hari ini" Jisoo menatap Lisa.


"Kamplang! Masih mending Gue sekolah!" elak Lisa dengan tatapan tajam.


"Bukan... Bukan soal mending lo sekolah... Tapi soal ketertiban" sahut Rose dibalas anggukan oleh Jisoo dan Jennie.


Diam seribu bahasa. Lisa tertegun untuk kesekian kalinya hari ini, lebih tepatnya pagi ini.


"Lo bahkan diangkat jadi Guru sama anak Bangtan karena mereka liat lo juga kayak kita, kalem" ujar Jennie meneguk minumannya.


"Yaa... Udah dong" Lisa cemberut.


"Makanya! Biasakan diri untuk gak make-up!"


"Idih! Sape lo ngatur ngatur Gua?" sinis Lisa.


"Sister lo, hahaha!" tawa Jisoo usil.


...🌻🌻🌻...


Pulang sekolah...


Ketika semua siswa-siswi sudah pulang kerumah mereka, nampak beberapa remaja masih berada dilingkungan sekolah.


Kelas 10 MIPA 1


"Yoongi mana?" tanya Jennie datar.


"Jangan terlalu formal, panggil Suga aja" tutur Jin.


"Suga mana?" tanya Lisa menatap sinis 6 lelaki didepannya.


"Haih... Dia disuruh pulang sama orang tuanya, ada masalah sama tetangga" jawab Taehyung malas.


"Oke, pertama, alasan tahan kelas?" tanya Jisoo membuka pulpen dan buku.

__ADS_1


"Kita semua sama, karena... Hal yang kalian tau" jawab Namjoon.


"Nilai sikap rendah.. Nilai pelajaran?" tanya Rose.


"Kita pinter kok" jawab Jungkook dengan sombong.


"Ngayal!" ketus Lisa menarik sebuah kursi.


Lisa menyusun 4 kursi didepan kelas. Kini mereka akan menjadi Guru bagi 6 remaja yang dinilai bodoh dan tidak sopan itu.


"Tapi Gue penasaran... Kalian gak tanya soal kapan kita tahan kelas?" tanya Taehyung membuat 9 pasang mata menatapnya heran sekaligus bingung.


"Maksud lo?"


"Biar Gue jelasin" Taehyung berdiri dari tempatnya.


"Hm... Harusnya Jin, Suga, J-Hope, sama Namjoon udah kelas 12. Gue, Jimin sama Jungkook udah harus kelas 11" jelas Taehyung tanpa disuruh.


"What do You mean?" Jisoo tak tertarik.


"Kita semua pernah tahan kelas"


"Lo bilang kalo lo harusnya udah kelas 11, dan sekarang lo kelas 11, belum puas?" tanya Rose sedikit tajam.


"Bukan... Bukan itu maksudnya, Rose" sela Jimin tak ingin para gadis marah.


Keempat gadis itu merotasi mata mereka malas lalu menatap Taehyung.


"Gue sekolah 2 tahun lebih dulu dari pada Jimin. Gue gak naik kelas waktu... Kelas 6"


'Aduh... Please, dech! Ini mau belajar atau mau curhat?' keluh Rose dalam hati.


"Gue tahan dikelas 5" Jin menyela.


"Suga sama J-Hope juga tahan dikelas 5, bareng Gue" sambungnya.


"Taehyung tahan kelas dikelas 6, makanya dia seangkatan sama Jimin and Jungkook" lanjut J-Hope sendu.


Keempat gadis itu saling memandang. Apa mereka harus mendengarkan curahan hati keenam lelaki ini? Mungkin iya.


"Gue tahan kelas waktu kelas 9... Gue terlambat SMA" ucap Jungkook parau.


Jisoo menghela nafas jengah.


"Jadi, tujuannya? Kalian gak bisa seenak jidat jadi Bad Boy" Jisoo menulis sesuatu pada secarik kertas.


"Pertama, apa masalahnya? Kenapa jadi Bad Boy?"


Keenam lelaki itu saling memandang. Benar juga... Apa masalahnya?


"Mungkin... Keluarga?" gumam Jimin pelan dengan tatapan kosong.


"Keluarga.." Rose menulis pada buku yang masih bersih.


"Keluarga adalah pengaruh pertama perkembangan dan interaksi kita. Perubahan kita biasanya dibuat oleh keluarga" Rose menjelaskan.


"Lingkup pertemanan?" tanya Jennie memangku tangan.


"Teman?" Jungkook membeo polos.


"Teman adalah orang kedua setelah keluarga. Kalau ada masalah sama temen, kalian pasti akan terbawa arus sampai kekeluarga" jelas Lisa.


"Tolong perhatikan sekitar, jangan hanya diri sendiri!" tegas Jisoo pada keenam lelaki itu.


Keenam lelaki itu terdiam sambil menatap Jisoo. Apa ini salah satu ketertiban? Pikir mereka.


"Karena masalah kecil, kalian bisa terbawa sampai ke masalah besar" ujar Rose.


"Contoh?"


"Contoh? Ehm... Mungkin dari pengaruh keluarga" ucap Jennie.


'Deg!'


Jimin menunduk. Tubuhnya terasa hilang tenaga karena kata Keluarga yang terus keluar dari mulut gadis-gadis itu.


Jimin berdiri sambil memakai tasnya,


"Bisa lanjut besok? Gue capek"


Yang lain memandang heran lelaki itu. Yang benar saja! Jimin lah yang mengajak mereka untuk belajar ketertiban bersama. Kenapa dia yang mundur duluan?


"Oke, lo anterin Gue" ucap Rose menyimpan peralatan tulisnya.


"Eh? Gak bareng kita?" tanya Lisa kecewa.


"Kalian bisa lanjut pelajaran ketertiban. Ada sesuatu yang harus Gue bahas dengan Jimin" Rose tersenyum meyakinkan.


...• • •...


Kini Jimin dan Rose sudah duduk didalam mobil. Rose mengambil pena dan bukunya lalu memangku kedua alat tulis itu.


"Bukannya mau pulang?" tanya Jimin sambil menyalakan mesin mobil.


"Hm, tapi ada beberapa pertanyaan buat lo"


"Apa?"

__ADS_1


Jimin menatap Rose sambil memegang setir mobil dengan kedua tangannya. (Gaya-gaya doang)


"Orang tua?" tanya Rose tiba-tiba.


__ADS_2