Cinta Aldara

Cinta Aldara
Bab 4


__ADS_3

"akhirnya si beban keluar jugak dari rumah kita" ucap mama Vina lega sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa.


"beban mama bilang? justru kita yang kehilangan satu pembantu kita, dan sekarang dia hidup enak di rumah besar dan mewah itu," balas metta kesel sambil mendarat bokongnya dengan kasar ke atas sofa.


"sudah lah metta, yang penting kita bebas di rumah ini, apa lagi kita akan dapat uang dari dara,belum nikah aja kemaren udah di kasih uang, apa lagi sekarang" ujar mama senang.


"lagian 1 pembantu udah cukup,dara cuma kita kerjain aja kan, " sambung nya lagi santai.


"tapih mah, aku gak Terima, kalau dara senang² di sana apa lagi suami nya tampan dan kaya, aku jadi nyesal udah nolak nikah sama dia kemarin" balas metta dengan muka kesal sambil menyilang kedua tangan nya di dada.


"apa maksud kamu metta? tanya mama Vina melotot ke arah nya.


" iyah mah, aku nyesel, harus nya aku yang jadi istrinya evan, bukan dara"ujarnya lagi.


"bukan nya kamu udah punya pacar yang jauh lebih kaya dari evan suaminya dara? tanya mama Vina bingung.


" aku boong mah, aku belum siap nikah, apa lagi sama duda, tapi kalau aku tau duda nya tampan, gak mungkin aku nolak, aku jadi menyesal".


"salah kamu sendiri metta, siapa suruh boong sama mama dan nolak mentah² perjodohan itu tanpa ketemu dulu sama orang nya".


" sudah lah metta, dia udah jadi suami nya dara, kamu bisa cari yang jauh lebih kaya dari suaminya dara, "lanjutnya lagi.


" tapih aku mau nya evan mah, gimana dong? "tanya metta santai dengan wajah seriusnya menatap mamanya.


" apa maksud kamu metta? "tanya mamanya terkejut sekaligus bingung.


" aku akan rebut evan dari dara, lagian mereka baru sehari menikah, pasti belum ada cinta buat dara dari evan,"ucap metta percaya diri.


"terserah kamu lah metta, mama pusing mikirin kamu, kamu lebih cantik dari dara, pasti banyak pria kaya yang belum nikah, dan mau sama kamu, kenapa kamu kejar yang bekas,"


"aku suka nya sama evan, sudah lah mah, ini urusan ku" balas metta kesal.

__ADS_1


"sudah lah mama capek, mau istirahat dulu, "sambil bangun dari sofa meninggalkan metta yang tengah kesal.


***


"kamu yakin akan pindah sekarang van"? tanya mama rosa pada evan,setelah makan malam dan sekarang sedang duduk di ruang keluarga.


" iyah mah, mama gak apa kan? "tanya evan pada mamanya.


" ya sudah tidak apa², ini lebih baik buat kalian berdua saling mengenal, dan cepat memberikan cucu buat mama", ucap mama rosa tersenyum. sontak dara dan evan terkejut mendengar ucapan mamanya, evan sekilas melirik ke arah dara yang berada di samping nya, begitu pun dara.


"ehem, mama jaga diri ya, sesekali kita bakal Jengukin mama dan nginap di sini" ucap evan mengalihkan pembicaraan.


"iya van, lagian minggu depan adek kamu pulang, "


mendengar ucapan mertua nya, kening dara bertautan, dara bingung, evan punya adek? dara sama sekali tidak tau, kalau evan punya adek, mertua nya pun tidak pernah kasih tau yang dara pikir evan anak tunggal. mama Rosa tersenyum melihat ekpresi dara yang tengah bingung, karna mama rosa pun belum sempat kasih tau dara.


"kamu pasti bingung kan? tanya mama rosa pada dara,yang di balas dengan anggukan oleh dara.


"ya sudah mah, evan pamit sekarang ya", ucap evan bangkit dari sofa meraih tangan mama rosa untuk diciumnya, yang di susul dengan dara.


" kalian berdua hati² ya, "pesan mama rosa pada evan dan dara, mereka mengangguk dan melangkah pergi.


***


akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana, dara sempat berfikir, kenapa evan membawanya ke rumah yang sangat sederhana ini, apa evan akan betah,karna dara pun sama sekali tidak keberatan,


evan tersenyum dalam hati, evan sengaja beli rumah sederhana khusus untuk dara karna ingin menguji kesabaran dara sampai mana, evan yakin dara tidak akan betah, evan fikir dara menikahi nya karna rumah mewah yang di miliki nya.


mereka pun telah masuk kedalam rumah sederhana itu, di dalam nya terdapat dua kamar, 2 sofa kecil dan sebuah TV kecil, dara melangkah menuju dapur untuk sekedar melihat nya, ternyata di dapur sudah lengkap dengan perlengkapan masak, karna evan sudah menyiap kan sebelumnya,meskipun tak luas, tapih cukup rapi.


"bagaimana apa kamu senang dengan rumah baru mu dara,? tanya evan sedikit tersenyum, evan ingin melihat seperti apa ekpresi dara.

__ADS_1


" aku sangat senang, makasih ya karna telah memberikan rumah sederhana ini buat kita berdua "ucap dara tersenyum polos, tidak mengerti maksud pertanyaan evan yang sedang menyindir nya.


evan yang melihat wajah senang dara tiba-tiba kesal dan geram, dia pura-pura polos atau emang polos, evan berkacak pinggang di hadapan nya.


" serumah bukan berarti sekamar, ingat ituh"tunjuk evan pada dara. membuat senyum dara memudar


"di sini ada dua kamar,satu untuk kamu dan satu nya untuk aku, mengerti" ucap evan sambil berlalu meninggal kan dara.


dara yang masih berdiri menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan, "sabar dara, pasti suatu saat evan akan berubah" gumam dara menyemangati diri. jujur dalam hati dara sangat senang, karna mempunyai rumah kecil dan tinggal bersama suaminya, walaupun belum dapat cinta dari suaminya,


dara bersyukur karna udah keluar dari rumah yang selalu mengekang nya,walaupun ada mama dan kak metta, tapih dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah,karna di perlakukan semena mena. dara akan berusaha mencintai evan dan mengambil hati nya evan . dia akan melupakan masa lalu demi suaminya, dara akan melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri.


dara pun melangkah masuk ke dalam kamar yang begitu luas, tapih rapi dan pasti nya nyaman untuk di tempati, dara pun mengeluarkan baju² dari dalam koper, untuk memasukkan ke dalam lemari yang ada di dalam kamar nya. setelah semuanya selesai dara pun bangkit menuju ruang tamu.


"aku akan keluar dan pulang agak larut, jadi kamu tidak usah menunggu ku," ucap evan tiba-tiba sambil keluar dari kamarnya.


"apa ada pekerjaan,? tanya dara serius.


" bukan urusan mu", jawab evan cuek.


"kenapa, bukan kah kamu suami ku?,


" iya, suami di atas kertas"jawab evan berlalu meninggalkan dara, tapih langkah nya terhenti karna panggilan dara.


"suamiku",ucap dara gugup.


" apa?, kamu panggil aku suamiku? ulang evan lagi.


"lalu aku harus panggil apa, tidak sopan kalau manggil suami pakek nama, kalau say_"


"sudah cukup, terserah kamu saja" potong evan cepat.

__ADS_1


lalu dara meraih tangan suaminya dan mencium nya dengan takzim, hati evan tersentuh saat dara mencium tangannya. dia merasa di hormati sebagai suami. tapih itu hanya akting, pikirnya.


__ADS_2