Cinta Buah Simalakama

Cinta Buah Simalakama
Namanya Siti Aisha


__ADS_3

Di sebuah pedesaan yang asri suara air terjun terdengar bergemuruh dari balik pegunungan, burung-burung berterbangan ke sana ke mari dengan kicauan nya yang merdu, beberapa orang pergi ke persawahan untuk memanen padi yang sudah menguning.


"Ayoo anak-anak perhatikan ke depan!" Seorang gadis dengan wajah yang ceria berteriak ke murid-murid yang ada di depannya membuat mereka yang tadinya sedang bercanda riuh menjadi tenang dan memperhatikannya.


"Hari ini kita akan belajar membaca yaaa, sekarang keluarkan bukunya!" ucap gadis itu dengan suara yang nyaring.


"Baikkk buu!" ucap anak-anak itu berbarengan, kemudian mereka mulai mengeluarkan bukunya dari tas mereka masing-masing.


Siti Aisha seorang perempuan yang berusia 20 tahun memulai mengajar di sekolah dasar sejak 6 bulan yang lalu, Dia tinggal di desa yang sejuk nan asri, kehidupannya sehari-hari seperti biasa sebagaimana anak gadis seusianya namun dirinya tinggal di keluarga yang cukup kuat memegang ajaran agama, sehingga seringkali ia merasa dirinya selalu dibatasi oleh orang tuanya.


"Aisha nanti malem mau ikut pengajian gak?" tanya seorang perempuan kepada Aisha sehabis ia selesai mengajar.


"Eh Zahra, insya allah yaa nanti saya izin dulu sama orang tua," jawab Aisha kepada sahabatnya yang sama-sama mengajar di sekolah yang sama.


"Okee Aisha aku tunggu yaaa kabar baiknya, siapa tau ketemu akhi-akhi ya kan," ujar Zahra seraya tertawa. Aisha meletakkan tangannya di mulutnya sambil tersenyum.


"Tuh kan kamu mah kebiasaan, awas nanti salah niat," ucap Aisha.


"hehe nggak ko Aisha," balas Zahra sambil tersenyum lebar.


......................


Siti Aisha Seorang perempuan yang mempunyai wajah yang mempesona, bulu alis nya yang tipis dan warna kulitnya yang natural mempunyai daya tarik tersendiri, hidungnya yang cukup mancung dan bibirnya yang tipis membuat siapapun yang melihatnya akan tertarik kepadanya.


Dia mempunyai seorang adik bernama Annisa, seorang ibu bernama Fatima Rahman dan seorang ayah bernama Haji Yusuf yang merupakan pemuka agama di kampung Rambutan, setiap seminggu sekali memang ada pengajian rutin yang diadakan di kampung Sukacita yang bersebelahan dengan kampung Rambutan.


......................


"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu," salam Aisha ketika memasuki rumahnya yang cukup sederhana. Rumahnya terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan dapur, di ruang tamu terdapat lemari yang di penuhi dengan kitab-kitab agama kepunyaan ayahnya.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu, eh si cantik udah pulang, udah makan belum?" Ibunya menyambutnya, Aisha lalu mencium tangannya dan mengatakan bahwa ia belum makan.


"yaudah sekarang bersih-bersih dulu nanti kita makan bersama yaa bentar lagi Nisa juga pulang."


Aisha lalu pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya serta menggosok kaki dan tangannya dengan sabun, setelah itu di lanjutkan dengan berwudhu. Aisha memang mendawamkan (menjaga) wudhu sejak ia duduk di sekolah menengah, tak heran jika wajah Aisha seolah-olah selalu bersinar dan berseri.

__ADS_1


"Assalamu’alaikum."


Suara yang tidak asing terdengar di telinga Aisha ia tau bahwa adiknya sudah datang, ia pun bergegas keluar dari kamar mandi.


"waalaikum salam," jawab Aisha sambil mencubit pipi adiknya yang sedang meletakkan tas nya.


"Auu sakit tauuu ihhhh, Nisa udah gede kaliii di cubit muluuu!"


"hehe iyaa maaf, lagian pipi kamu tembem banget," ucap Aisha sambil tersenyum.


"Udah ayo siap-siap makan, Nisa cuci tangan dulu," Sang ibu memotong pembicaraan mereka.


"Siapp buu," sahut Nisa lalu pergi ke kamar mandi sambil berlari kecil.


......................


“Bagaimana belajar kamu di sekolah Nisa?“ tanya sang Ibu.


“Hemm biasa aja bu, mungkin bahasa inggris aja yang kurang Nisa mengerti,” jawab Nisa sambil memasukan telur dadar kedalam mulutnya.


“Iya kenapa Aisha?“ balas Ibu sambil menuangkan air ke dalam gelas.


“Aisha boleh nggk nanti malam ikut pengajian di kampung Sukacita sama Zahra?” tanya Aisha sambil menatap wajah ibunya.


“Boleh aja tapi jangan pulang larut malam, Ayah kan masih di luar kota buat mengisi pengajian di sana,” jawab Ibu kemudian meminum air yang ada di dalam gelas.


“Oke bu, Aisha nggk bakal pulang larut malam kok,” ucap Aisha dengan gembira, lalu ia mulai menyantap makanan yang ada di depannya dengan nikmat.


“ka Aisha,” ucap Nisa


“Iyaa Nis kenapa?“ tanya Aisha


“Nanti bantu kerjain PR yaaaa,” rengek Nisa kepada kakaknya, dengan suara yang lucu.


“Haha iyaaa Nisaa, sehabis kakak pulang dari pengajian yaa,” ucap Aisha kemudian ia menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya.

__ADS_1


......................


Malam harinya setelah sholat maghrib Aisha pamit kepada ibunya untuk pergi ke pengajian di kampung Sukacita bersama Zahra, dibalut dengan jilbab berwarna biru muda dengan gamis yang menutupi tubuhnya ia dan zahra pergi menuju kampung Sukacita berjalan kaki.


Suasana malam itu terlihat cerah karena bulan purnama menampakan dirinya, sesekali terdengar suara burung hantu dan suara kelalawar, beberapa anak kecil pergi ke mushola dengan membawa juz amma di tangannya, terdengar suara ustadz yang sedang mengajar anak-anak membaca Al-quran.


“Kamu udah makam belum?“ tanya Aisha kepada Zahra memecah keheningan di antara mereka.


“Emmm belum Sha,” jawabnya sambil tertunduk lesu. Memang Zahra memanggil Aisha dengan panggilan Sha.


“Tadi aku bantu-bantu orang tua bikin kue hemmmm, Tadinya mau makan dulu tapi nanti aja deh kalau kita pulang sekalian aja aku beli seblak hehe,” ucapnya sambil nyengir kepada Aisha menunjukkan giginya yang rapih dan berwarna putih.


“Jangan keseringan makan seblak Zahra nggak baik buat kesehatan tau!“ Ucap Aisha menasihati Zahra.


“Iyaa nggak, lagian pakai nasi ko Sha.“


Mereka kemudian berjalan melewati sebuah jembatan, di bawah terdengar deruan air sungai yang cukup keras, arusnya datang dari gunung Rahong di arah timur dari kampungNya meskipun belum masuk waktu isya suhu di kampung itu sudah lumayan dingin karena tempatnya tepat di bawah kaki gunung Rahong.


Setelah cukup lama berjalan sedikit demi sedikit terlihat Masjid Jami yang cukup besar, di dalamnya sudah banyak jamaah yang mengikuti pengajian, sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu dan sebagian dari mereka membawa anak-anak nya, sesekali terdengar suara teriakan anak kecil yang sedang bercanda, suara riuh pun terdengar dari ibu-ibu yang sedang bergosip.


Aisha dan Zahra kemudian duduk di pojok sebelah kanan di dalam masjid bersama para ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang dengan seru.


“Iyaaa bener ustadz nya baru katanya,” ucap salah satu ibu-ibu.


“Denger-denger sih katanya ustadz nya masih muda loh,” balas ibu-ibu yang lain, Kemudian diikuti oleh guyonan salah satu dari mereka.


“Eeee malah ngomongin ustadz nyaa mentang-mentang masih muda, inget umur yantii.” Ibu-ibu dengan jilbab merah berkata kepada orang yang di samping nya, di susul dengan suara tawa ibu-ibu yang lain.


“Eh itu ustadz nya udah datang,” ucap ibu-ibu yang ada di barisan depan.


Seorang ustadz dengan peci hitam dan baju putih datang dengan membawa kitab di tangannya, Ibu-ibu yang tadinya berisik berubah menjadi tenang dengan kehadirannya, ia kemudian mengucapkan salam kepada para hadirin, suara nya yang lemah lembut membuat telinga nikmat mendengarnya.


Perawakannya yang tinggi dan kulitnya yang putih serta hidung nya yang mancung dengan bola mata yang indah menjadikan ustadz muda itu favorit para gadis yang hadir di pengajian malam ini, suara nya yang nyaring dan enak di dengar membuat ustadz muda itu di sukai oleh para gadis, apalagi pembahasan agamanya sangat mendalam membuat siapapun ingin menjadikannya imam di masa depan mereka, namun tidak dengan Aisha ia hanya tertunduk dan membayangkan sesuatu yang terjadi padanya tiga tahun yang lalu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2