
“Bagaimana tadi pengajiannya Sha? Jelas banget yaa ustadz ngejelasinnya,” ucap Zahra antusias setelah selesai pengajian.
“ Emm iyaa,” jawab Aisha singkat sambil melihat ke atas langit, melihat bulan purnama dan gemerlap bintang memberi kesan yang mendalam baginya.
“ ka Aisha!?“ Seorang perempuan berjalan menuju Aisha melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
“ Eh Dwi yaa?“
Perempuan dengan tubuh yang cukup tinggi dengan mengenakan jilbab berwarna coklat dan gamis berwarna hitam mendatangi Aisha dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
“ Apa kabar Ka Aisha? udah lama nggak ketemu,” ucap perempuan itu setelah sampai di hadapan Aisha.
“ Alhamdulillah Dwi aku sehat kok, kamu sendiri gimana?“ Perempuan itu mencium tangan Aisha dengan tiba-tiba membuatnya terkejut.
“ Alhamdulillah sehat juga kak,” jawab perempuan yang bernama Dwi dengan senyuman yang belum hilang di bibir nya, entah mengapa wajah perempuan itu amat ber seri-seri kedua bola matanya menunjukkan kegembiraan yang amat sangat, seolah sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
“ Oh iya Dwi, ini temanku namanya Zahra, ini namanya Dwi Ra,” ucap Aisha memperkenalkan keduanya, mereka langsung bersalaman dan memperkenalkan dirinya masing-masing.
“ kamu udah lama pulang dari pesantren?“ tanya Zahra kepada Dwi.
“ Belum lama kok kak, sekitar tiga hari yang lalu,” jawab Dwi dengan suara yang antusias.
“ Kak Alvin juga..“
“ Kamu sama mamah emng?“ Belum selesai Dwi berbicara Aisha langsung memotongnya.
“ Iyaa itu mamah lagi ngobrol, kakak mau ke mamah?“ Tunjuk Dwi ke arah mamahnya berada.
“ Emm nggk deh ini lagi buru-buru pulang soalnya mau bantuin Nisa ngerjain PR,” ucap Aisha sambil melirik ke arah Zahra yang sedang pokus mendengarkan percakapan mereka berdua.
“ Oh iyaa kabar Nisa bagaimana kak, nanti salamin yaa dari Dwi Azzahra gitu,” pinta Dwi sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah Nisa juga sehat,“ tutur Aisha.
“ Pipinya masih tembem nggk kak hehe,” canda Dwi sambil tertawa kecil yang kemudian di ikuti dengan tawa kecil Aisha.
__ADS_1
“ Eh kita pamit dulu yaa Dwi salamin aja ke mamah yaa.“ Aisha kemudian pamit kepadanya, mereka lalu saling bersalaman dan saling mendoakan setelah itu mereka berpisah.
“ Hati-hati di jalan ka Aisha ka Zahra,” ucap Dwi setelah keduanya meninggalkannya, mereka tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
......................
Aisha dan Zahra berjalan menuju kampung Rambutan bersama malam yang mulai larut, namun purnama yang bersinar terang masih setia menemani mereka.
“ Alvin siapa Sha?“ tanya Zahra penasaran ketika ia mendengar percakapan antara Aisha dan Dwi.
“ Bukan siapa-siapa,” ungkap Aisha sambil terus melangkahkan kakinya ke depan.
“ Jadi nggk kamu beli seblak?“ tanya Aisha sesaat setelah berjalan cukup lama.
Terlihat di depan terdapat sebuah warung yang menjual seblak dan bakso dan berjejer di depannya penjual makanan dan minuman, tempat ini biasanya di sebut pasar simpang tiga oleh masyarakat setempat karena memang terletak di per tigaan jalan.
“ Beli dong, aku kan belum makan.“ Dengan bergegas mereka berdua berjalan menuju penjual seblak, terdapat beberapa orang yang sedang menunggu pesanan, Dwi kemudian memesan seblak yang kemudian diikuti oleh Aisha setelah itu mereka berdua duduk menunggu pesanan mereka.
“ Dwi emangnya mondok di mana Sha?“ tanya Zahra penasaran.
“ Aisha gmna soal pertanyaan ku kemaren?“ Zahra menggeser tempat duduk nya mendekati Aisha. Ia hanya terdiam sambil menatap kosong ke depan, menatap harapan yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan.
“ Gmna Sha?“ Desak Zahra kepadanya.
“ Nggk tau Ra, aku bingung juga soalnya belum bilang ke orang tua,” keluh Aisha sambil memainkan kedua kakinya di atas tanah jalan membuat sedikit debu berterbangan.
“ Kamu itu punya bakat Aisha, suara kamu bagus banget loh sayang kalau kamu nggk memanfaatkan nya,” timpal Zahra sambil menatap wajah Aisha dengan tatapan iba.
“ Mau bagaimana lagi Ra lagian kalau izin ke ayah pasti nggak bakal di bolehin tau sendiri ayahku bagaimana,” rengek Aisha balas menatap wajah sahabatnya itu.
“ Apa salahnya kamu nyoba dulu, besok penyeleksian nya nanti aku temenin deh,” tutur Zahra sambil menggenggam tangannya.
“ Aku nggk bi...“
“ Harus pokoknya!“ potong Zahra, “ aku yang bakal temenin kamu ke kota buat penyeleksian,” sambung Zahra meyakinkan Aisha, ia hanya menunduk membayangkan entah apa respon ayahnya nanti kalau tau dirinya ikut penyeleksian vokal sholawat.
__ADS_1
“ Ini pesanannya ka.“ Pedagang itu menyerahkan tiga bungkus seblak kepada mereka, Zahra langsung menerimanya dan membayarnya lantas mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu keduanya melanjutkan perjalanan pulang.
Purnama bersinar bagaikan harapan yang selalu di idam-idam kan, namun sesekali datang awan hitam yang menutupinya, menjadikan cahaya terangnya hilang tertutup kegelapan awan. namun, dengan bantuan angin awan hitam itu tertiup dengan cepat dan mengembalikan cahaya terangnya kembali.
......................
“ Sampai nanti ketemu di sekolah ya,” ujar Zahra sesampainya mereka di depan rumah Aisha, rumah Zahra terletak tidak jauh dari
kediaman Aisha hanya butuh beberapa menit saja.
“ Okee Zahra,” sahut Aisha sambil berjalan menuju arah rumahnya.
“ Jangan lupa pikirin lagi yaa kata-kata yang tadi!“ seru Zahra sambil tersenyum kepada Aisha meyakinkannya.
“ Iyaa Zahra doa terbaiknya aja,” ucap Aisha sambil tersenyum kecil, Zahra pun pamit kepadanya lalu mengucapkan salam setelah itu pergi meninggalkannya.
Aisha menghela nafas pelan kakinya terasa lelah. kemudian, ia berjalan menuju pintu rumahnya dengan perlahan, terdengar suara cicak dan kelalawar yang seolah sedang sahut menyahut memecah keheningan malam, ia kemudian membuka pintu rumahnya dengan mengucapkan salam.
“ Waalaikum salam kak.“ Nisa sedang duduk di ruang tamu sambil menulis sesuatu di bukunya.
“ Ibu udah tidur Nis?“ tanya Aisha lalu meletakan seblak yang Zahra berikan di atas meja.
“ Wah seblak, Nisa makan yaa kak,” pinta Nisa lalu mengambil mangkuk di dapur.
" Kayaknya udah sih kak, soalnya di dalam kamar," sambung Nisa sambil meletakkan seblak ke dalam mangkuk.
......................
Aisha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia menuangkan air di telapak tangannya kemudian berkumur lalu memasukan air ke dalam hidungnya yang mancung, dengan lembut ia membasuh wajahnya yang bersih dengan air yang ia tuang dari tangannya. lalu, mulai membasuh kedua tangannya sampai area sikut, ia mulai membasuh sedikit dari rambut kepalanya dan telinganya, diakhiri dengan membasuh kedua kakinya sampai mata kaki.
Aisha menegakkan punggungnya dan menghadapkan wajahnya ke arah barat, dengan perlahan ia bertakbir dengan khusyuk, Aisha yang mempunyai mimpi menjadi seorang penyanyi lagu religi sejak kecil harus tertahan dari impiannya itu karena ayahnya yang merupakan seorang tokoh agama yang melarangnya.
“ Suara wanita itu harus di jaga, karena itu adalah kehormatan bagi seorang wanita, suaranya saja harus di jaga apalagi wajah dan seluruh badannya dan kamu ingin menjadi seorang penyanyi?“ terngiang suara ayahnya di telinganya. namun, ia masih memegang impiannya itu dan bertekad untuk menjadi seorang penyanyi lagu religi entah bagaimanapun kelanjutannya.
...****************...
__ADS_1