Cinta Buah Simalakama

Cinta Buah Simalakama
Ibu


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi tepat di depan Zahra yang diam mematung karena panik, dengan sigap Dean langsung menarik tangan Zahra sehingga mereka berdua terjatuh tepat di pinggir jalan, mobil itu masih melaju dengan suara klakson yang memekakkan telinga. jika Dean tidak bergerak sigap kemungkinan akan terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Ra kamu nggak apa-apa kan?" ucap Aisha seraya memeriksa keadaan Zahra yang sekarang sudah duduk di atas trotoar jalan dengan bersimbah debu di pakaiannya, terdapat beberapa goresan luka di tangan dan kakinya. Sementara Dean terlihat sudah berdiri sambil membersihkan debu-debu yang menempel di baju dan celananya.


"Sakit Sha," ujar Zahra seraya memegang lengannya yang terluka.


"Nanti kita obatin ya," ucap Aisha. Kemudian, ia membersihkan debu yang menempel di pakaian Zahra.


"Nanti selepas dari pos, kita ke Apotik dulu ya buat beli obat," tutur Dean sambil merapihkan pakaiannya.


"Terima kasih ka," ucap Zahra kepada Dean, karena telah menyelamatkannya dari kecelakaan, Dean hanya mengangguk pelan.


"Pelan-pelan berdirinya Ra." Aisha dengan sigap membantu Zahra berdiri.


"Kamu kuat nggak buat jalan?" tanya Dean sambil menatap Zahra.


"Insya Allah kuat ka," jawab Zahra sambil merapihkan pakaiannya, mereka lalu melanjutkan berjalan menuju kantor pos yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.


......................


Sesampainya mereka di kantor pos, Dean memberikan dua lembar kertas dan pulpen kepada mereka berdua. Setelah itu, Aisha dan Zahra dipersilakan menulis surat untuk keluarga yang ada di kampung Rambutan.


...----------------...


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.


Ibu, Ayah dan Nisa....


Mohon maaf sebelumnya Bu...karena Aisha sudah berbohong kepada ibu. Sebenarnya Aisha izin ke kota untuk ikut seleksi vokal sholawat.


Maafkan Aisha bu karena sudah berani membohongi ibu....


Aisha janji nggak bakal ngulangin lagi bu...


Kalau ayah sudah pulang, sampaikan permohonan maaf kepada ayah..


Maaf Aisha belum bisa menjadi putri yang diinginkan dan diharapkan ayah....


Nisa... kakak kangen banget sama Nisa...


Maaf yaa kakak nggak ngabarin Nisa kalo kakak pergi ke kota, kakak janji setelah pulang kakak bakal ngajak Nisa makan seblak di kampung Sukacita...

__ADS_1


jangan terlalu mengkhawatirkan Aisha...


sekarang Aisha sedang di pondok pesantren untuk sementara...karena ada satu dan dua hal....


Mungkin ini saja surat dari Aisha....


Salam rindu buat kalian semua...


Wassalamualaikum....


...----------------...


Setelah menulis alamat lengkap, Aisha dan Zahra lalu menyerahkan surat itu kepada Petugas pos.


Namun, Aisha dan Zahra sadar bahwa mereka tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengiriman.


"Jadi totalnya berapa?" Dean menanyakan biaya pengiriman kepada petugas lalu menyerahkan uang yang di minta. Setelah itu, mereka keluar dari kantor pos setelah semua urusan selesai.


"Ka Dean, terima kasih ya," ucap Aisha sambil menatap Dean yang sedang berjalan di depannya.


"Iya nggak apa-apa ko," balas Dean sambil tersenyum kepadanya.


"Maaf ya, jadi ngerepotin Ka Dean," sambung Aisha masih merasa tidak enak kepadanya.


"Di depan ada apotik, kita beli obat dulu buat luka Zahra, biayanya aku yang tanggung jadi nggak usah khawatir oke," ucap Dean sambil menatap mereka berdua. lalu, berjalan menuju tempat Apotik yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Setelah sampai di Apotik, Zahra kemudian di periksa oleh seorang perawat dan memasuki sebuah ruangan khusus pemeriksaan, sementara Aisha dan Dean duduk di ruang tunggu Apotik.


"Kegiatan kamu biasanya apa kalo di kampung?" tanya Dean memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Biasanya ngajar ka di sekolah dasar," jawab Aisha.


"Emm jadi ibu guru dong," canda Dean sambil tersenyum.


"Iyaa.... ibu-ibuan," balas Aisha sambil tertawa kecil.


"Suara kamu indah banget Aisha," ucap Dean sambil menatap kedua bola mata Aisha yang indah.


"Biasa aja ka," tutur Aisha sambil memalingkan pandangannya ke jalan raya.


"Sampaikan terima kasihku pada ibumu yang sudah melahirkan seseorang yang bisa meramaikan hati yang selalu kesepian," ucap Dean sambil terus menatap Aisha walaupun ia sudah memalingkan pandangan darinya, Aisha hanya terdiam mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Jangan kamu sia-siakan ibumu selagi masih sehat Aisha," lanjut Dean, Aisha hanya mengangguk dan mengiyakannya.


Zahra keluar dari ruangan sambil tersenyum kepada Aisha, Aisha lalu berdiri menghampirinya.


"Bagaimana Ra?" tanya Aisha khawatir, "Apa kata Perawatnya?" sambung nya.


"Nggak apa-apa Sha, katanya cuma kena goresan sama tangan aku terkilir doang," jawab Zahra menenangkan sahabatnya.


Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke pondok dan tiba tepat setelah Dzuhur. Dean izin pamit kepada mereka, tidak lupa mereka mengucap terima kasih kepadanya karena sudah banyak membantu mereka, ia hanya mengangguk dan tersenyum.


......................


"Kalian udah sampai," ucap Hipjiah setelah membalas salam dari Aisha, ia sedang merapihkan pakaian di depan lemari baju.


"Iyaa ka," balas Aisha ramah.


"Kalian mau makan?" tanya Hipjiah kepada mereka.


"Emm boleh ka," jawab Zahra sambil menatap ke arah Hipjiah.


"Boleh....tapi bantu aku rapihin baju dulu," tutur Hipjiah sambil tersenyum lebar, dengan semangat Zahra membantu Hipjiah merapihkan baju dan mencuci piring yang di temani oleh Aisha.


Setelah semua selesai di rapihkan, Hipjiah datang membawa nasi dengan lauk tempe, Zahra dengan mata yang girang langsung menyambut makanan yang ada di tangan Hipjiah.


"Masya allah Zahra pelan-pelan atuh," ucap Hipjiah dengan logat suara gadis sunda. Zahra hanya terkekeh sambil tersenyum malu. lalu, mereka pun mulai menikmati nasi dengan lauk tempe goreng yang sangat nikmat.


......................


"Ka Hipjiah, boleh nanya nggak?" Aisha membuka suaranya.


"Iyaa, kenapa Aisha?" tanya Hipjiah.


"Maaf sebelumnya, kenapa ya Ka Dean sering kali membicarakan ibu," tanya Aisha penasaran, Zahra mengiyakannya dengan rasa penasaran.


"Maksudnya bagaimana?" ucap Hipjiah sambil menaikkan sebelah alis nya.


"Iyaa ka, Ka Dean suka menyinggung soal ibu, bahkan tadi ketika di jalan tiba-tiba ka Dean menanyakan apakah kami punya ibu apa nggak, kan aneh ka," tutur Zahra sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Emmm begitu," ucap Hipjiah sambil menatap ke arah Zahra, ia hanya mengangguk.


"Hem.. aku pun nggak terlalu tau sih," lanjut Hipjiah, "Yang aku tau, sekarang ini ibunya Dean sedang di rawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang lumayan besar, sedangkan ia dari keluarga yang kurang mampu," sambung Hipjiah. Membuat wajah mereka berdua terkejut, padahal Dean lah yang tadi membiayai mereka ketika mengirim surat lewat pos dan ketika berobat ke Apotik.

__ADS_1


"Setahu aku ya, Ka Dean emang sudah di tinggalkan oleh ayahnya ketika masih kecil, makanya sekarang ia suka ikut kegiatan dan kepanitian yang menghasilkan uang, ia juga sering membantu mengangkat barang di pasar untuk membiayai ibunya," tutur Hipjiah dengan suara yang tenang. Namun, detak jantung Aisha dan Zahra sepertinya sedang tidak tenang, mereka berdua saling tatap menatap dengan perasaan yang tak karuan.


...****************...


__ADS_2